Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Yohan


__ADS_3

"Bagaimana keadaannya?" seorang pria muda bertanya kepada dokter, perihal keadaan sang Kakak.


"Sejauh ini belum ada perkembangan baik, Tuan Yohan."


Menilik dari raut wajahnya, Yohan terlihat biasa-biasa saja. Namun jauh di dasar hatinya, dia sangat mengkhawatirkan keadaan sang Kakak.


Datang dari keluarga kaya raya, tanpa adanya kasih sayang kedua orang tua yang gila kerja, Victoria tumbuh menjadi sosok keras kepala. Kasih sayang itu di gantikan dengan uang, uang dan uang, membentuk pola pikir seorang Victoria berpatokan kepada uang. Apalagi saat kehamilan tanpa suami, membuatnya di kucilkan dari keluarga, namun nggak lepas dari sokongan uang yang melimpah. Enggak mengapa, selagi ada uang maka semua masalah akan terselesaikan.


Pertemuan dengan Hanan juga tekad untuk bertahan hidup meski sudah beruang banyak, Victoria nggak mau berleha-leha saja menikmati uang tersebut. Menyibukkan diri dengan menjadi pebisnis di bidang sayuran, buah-buahan, bunga-bunga mahal dan jual beli tanah perkebunan, rasanya cukup menarik. Keberuntungan di bidang bisnis sangat memuaskan, namun sayang keberuntungan itu nggak di temukannya dalam urusan pasangan hidup.


Sejatinya Victoria berperangai baik selama suasana juga baik, dia akan mendadak gusar dengan emosi tak terkontrol ketika apa yang dia inginkan nggak terwujud.


Hidup bergelimang harta, tanpa adanya dukungan kasih sayang dari orang tua, tak mengapa. Asalkan ada Hanan bersamanya. Dan kini, waktu kebersamaan mereka telah usai, Hanan telah kembali kepada keluarganya. Kejadian itu membuka luka di hati yang selama ini tertahan. Luka hati karena tak memiliki teman, luka hati karena di kucilkan keluarga, luka hati menghadapi persaingan bisnis, semua kekecewaan itu meledak di saat bersamaan. Nggak mampu menahan semua tekanan itu, Victoria menjadi ling-lung. Untuk beberapa saat dia bisa tertawa sendiri, untuk beberapa saat kemudian dia akan menangis, bahkan tak jarang dia berteriak histeris. Ya! Victoria telah gila. Penyakit di hati telah berpindah ke otaknya.


Selalu mendapat perlakuan nggak baik dari Victoria, karena Yohan selalu mendapat perhatian dari kedua orangtuanya. Tak menjadikan seorang Yohan sombong dan angkuh. Hanya saja sejak di musuhi sang Kakak, karakter pemuda ini terbentuk menjadi sosok yang tak banyak bicara, dingin dan nggak suka bergaul.


"Aku akan membuatmu sembuh, Kakak" batin Yohan. Menyaksikan linangan air mata di wajah Victoria, sungguh menyayat hati. Dia sangat tau obat terbaik bagi Victoria adalah Hanan, namun dirinya masih waras, nggak akan menambah kesalahan yang telah di lakukan sang Kakak.


"Tolong rawat dia dengan baik" pinta Yohan penuh kesungguhan kepada dokter dan para perawat yang mengurusi Victoria.


Meninggalkan rumah sakit jiwa itu dengan hati yang retak, Yohan berusaha menguatkan diri. Siang ini dia berniat menjemput Greta, dirinya ingin melihat lingkungan sekolah sang keponakan.


Sudah banyak para sopir dan orang tua yang menunggu di pintu gerbang sekolah elit tersebut. Masing-masing dari mereka akan menjemput anak, para Nona dan Tuan Muda mereka. Tak terkecuali Yohan kali ini.


Lama memperhatikan pintu gerbang tersebut, atensinya tersita pada dua sosok muda-mudi. Dialah Greta dan seorang anak laki-laki.


Saat Yohan keluar dari mobil tersebut para gadis kecil berdecak kagum. Meskipun bukan pemandangan aneh sekolah itu kedatangan pria, ataupun wanita berparas menawan, kehadiran Yohan tetap saja membuat mereka penasaran, apa maksud dan tujuan si tampan ini ke sini.

__ADS_1


"Sudah ngobrolnya?. Ayo kita pulang" datar, begitulah Yohan menyapa Greta.


Udin memang sempat berkunjung ke kediaman Greta setelah hari yang lalu, namun saat di sana dia tidak bertemu dengan Yohan. Kemunculan sosok tinggi tampan dan jelas terlihat mapan ini membuat hatinya terasa panas. Apalagi Yohan langsung menarik lengan Greta, yang saat itu hendak meraih lengan Udin, mereka berniat menikmati semangkok bakso dahulu di tongkrongan ujung jalan, sebelum pulang ke rumah masing-masing.


"Om ngapain di sini?" menepis tangan Yohan, Greta berpindah ke sisi Udin.


"Jemput kamu."


"Aku bisa pulang sendiri, aku sudah besar, aku juga bukan anak TK yang harus diantar dan dijemput oleh mu."


"Kita baru hidup bersama, kita harus saling mengenal satu sama lain. Dengan menjemputmu maka hubungan kita akan semakin baik. Kita bisa makan siang bersama dulu sebelum pulang, saling bertukar cerita juga."


Kening Greta dibuat berkerut. Mengapa ucapan Yohan sangat berbeda dengan perkataannya beberapa hari yang lalu, saat mereka baru bertemu.


"Bukannya Om bilang, Om itu orang yang sibuk. Kalau nggak perlu-perlu amat aku nggak akan ngerepotin Om."


"Maksud Om?."


"Kita bicara di dalam mobil saja, ayo pulanglah bersamaku" mengulurkan tangan, Yohan mengajak Greta pergi.


Karena ini menyangkut sang Mamah, mau nggak mau Greta menyambut uluran tangan Yohan. Jemari Udin mengepal menyaksikan hal itu. Meskipun pendiam tapi Yohan sangatlah peka, kepalan tangan Udin menarik atensinya dan kemudian berkata"Aku hanya Om-nya. Kamu nggak usah khawatir, bersama ku dia pasti aman."


Rasa cinta itu memang benar telah tumbuh di dalam hati Udin, dan dia pun sudah mulai mengakuinya. Hari ini usai pulang sekolah, dia berniat untuk mengungkapkan perasaan itu kepada Greta, namun harus gagal karena kedatangan Yohan.


"Aku pulang dulu ya, Din. Sampai jumpa besok" lambaian tangan Greta disambut lambaian tangan pula oleh Udin.


Nggak ingin mencari musuh Yohan pun melambaikan tangan kepada Udin. Karena sikap ramah Yohan, Udin pun membalas lambaian tangan itu.

__ADS_1


Setelah kepergian mobil yang membawa Greta dan Yohan, Udin kini sendirian. Sebuah pemandangan yang menarik bagi para bucin. Bermula dari Zaid yang terkekeh menyaksikan adegan itu dari dalam mobil, kemudian Rivan yang bersandar di samping mobil Zaid"Ehem!, katanya nggak suka. Giliran di bawa cowok lain cemberut."


Awh!!, bisikan menyebalkan mulai terdengar. Udin berniat meninggalkan tempat itu.


Bruk! Kevin datang dan langsung memeluk Udin dari belakang"Kalau kesepian kamu bisa panggil aku kok."


Huwwekk!! rasanya ingin muntah!!. Udin langsung mendorong tubuh Kevin"Orang gila!. Aku bukan kaum pelangi-pelangi di langit kelabu!."


Bukannya marah karena penolakan itu, Kevin justru terkekeh. Rasanya senang membuat Udin kesal seperti itu.


Kedatangan Yohan yang tampan, tentu juga menarik perhatian mantan sahabat-sahabat Greta. Mengetahui pemuda itu adalah Om Greta, kebencian mereka terhadap Greta semakin menjadi.


"Kita bully aja dia!" ujar salah satu dari mereka.


"Coba aja!. Ocehan kalian sudah aku dengar. Bahkan sudah aku rekam" Nari memperlihatkan ponselnya, juga memperdengarkan obrolan mereka mencaci dan memaki Greta.


"Gila ya!. Bukankah kalian berteman akrab dengannya" ujar Febby menelisik penampilan para cewek berhati busuk itu.


Penampilan mereka sangat berbeda dari kebanyakan siswi di sini. Berdandan berlebihan, memakai parfum terlalu menyengat, seperti itulah mereka.


"Ck! gerombolan wanita sok keren datang. Ayo pergi" salah seorang berlagak seperti bos, mengisyaratkan untuk pergi dari hadapan Nari, Febby dan Arin.


To be continued..


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya.


Salam anak Borneo.

__ADS_1


__ADS_2