
"ANDREA!!"
Gadis yang menggendong Bae itu menatap pada sumber suara, seraya menyerahkan Baby montok itu ke pangkuan Nyonya Sook.
Manik indah sang gadis coba mengejar sorot mata Jung, sepasang mata elang yang sangat dia rindukan. Hanya saja, Jung bukannya mendekat, pria tinggi menjulang itu malah berbalik naik ke kamarnya.
"Jung!!, panggil Andrea."
Pemuda itu tak menoleh sedikitpun. Dia semakin mempercepat langkah menuju kamar, menguncinya rapat.
"Dor dor!! Jung!!, Jung," panggilan Andrea mengundang Ghina dan Joen keluar dari kamar. Betapa terkejut mereka akan kehadiran sosok Andrea.
Lantas Ghina mengulas senyuman menatap Sahabatnya"Dre, kapan kamu datang?."
"Kemarin malam," sahutnya saling mengusap telapak tangan, keraguan dalam hati menyeruak saat itu juga, kenapa Jung melarikan diri darinya?.
"Sepertinya kehadiranku bukan harapan nya," lirih Andrea pelan. Dia tersenyum namun dalam keadaan hati yang lara, senyum itu malah terlihat masam.
Maju beberapa langkah, Joen menggedor pintu kamar Jung sembari berteriak"Bukain nggak!? atau Andrea nya di usir pulang aja?."
Cekrek~~~ perlahan daun pintu terbuka, dalam hitungan detik Andrea tertarik ke dalam kamar pria itu. Meninggalkan Joen yang mematung di depan pintu kamar si abang jamet.
"Nah!! seperti itu deh rasanya waktu kamu membanting pintu di depan wajah bang Jung, kemarin. Enak?," ledek Ghina menutup mulut, tertawa cekikikan.
"Andrea, kalian belum halal. Jangan mau di buka segel!," jerit Ghina lagi. Tak mendapat jawaban dari dalam sana, Ghina mengajak Joen untuk pergi.
"Ayo sayang, biarkan mereka bicara dari hati ke hati."
"Lantas, hati aku gimana? kamu meledek ku barusan. Hati aku sedang nggak baik-baik saja sekarang, sayang."
Ghina gemas dengan ocehan manja Joen, dia pun menyeret sang suami untuk kembali ke kamar mereka.
Suasana di dalam kamar Jung masih sama seperti terakhir kali Andrea ke sana. Jung memang nggak pernah memakai seprai berwarna-warni, dia lebih menyukai warna putih untuk tempat tidurnya. Hanya saja tirai kamarnya berganti warna hitam. Eh!! kok hitam, bukannya dulu berwarna putih?
"Sayang, nggak salah nih ganti warna hitam," jemarinya menyentuh tirai jendela kamar Jung.
"Aku yang minta, biar cahaya yang masuk terasa panas," sahut Jung sembari mengambil handuk ganti dan masuk ke kamar mandi.
Sikap Jung terasa dingin. Dalam ingatan Andrea, Jung memanglah seorang pria yang dingin tapi itu dahulu, sebelum dewi amor meluluhkan hati sang dosen padanya.
Sikap Jung sungguh membingungkan Andrea, sebenarnya yang hilang ingatan dirinya atau Jung? kenapa sikap pria itu biasa-biasa saja? padahal hampir dua tahun jarak dan waktu memisahkan mereka? apa dia nggak merindukan Andrea? apa dia nggak berniat sekedar memeluk Andrea?. Gadis itu duduk terpekur di tepian tempat tidur sang kekasih.
Meskipun Jung masuk ke kamar mandi, tapi suara air mengalir nggak terdengar dari dalam sana. Jung ngapain?
__ADS_1
Dug!! dug!! dug !!! Jung mencoba menenangkan detak jantungnya. Dia duduk di kloset dan terus tersenyum"Akhirnya dia kembaliiii!!" sorak sorai hati Jung begitu ramai di dalam dada.
Menahan diri agar tak bersikap memalukan, padahal mati-matian dia menahan kebahagiaanya. Gengsi dong habis di omelin sang papah, tiba-tiba berjoget ria karena bahagia atas kedatangan sang kekasih hati.
Sadar terlalu lama merenungi tingkah aneh dirinya, Jung mengusap wajah. Malu karena salah tinggah di hadapan Andrea. Juga, kenapa dia ninggalin Andrea di saat dia yang membawa gadis itu masuk ke kamarnya?.
"Ash!! Pabo!! pabo..!!," mengumpat kesal pada diri sendiri dengan suara yang tertahan.
Merasa Jung diam di kamar mandi Andrea pun mengetuk pintu"Jung, are you ok??."
"I---iya, ini aku lagi mandi, sayang," sahutnya. Andrea pun kembali duduk, setidaknya Jung masih memanggilnya sayang, itu sudah cukup menandakan bahwa prianya nggak marah.
Selesai membersihkan diri Jung keluar dengan bertelanjang dada"Ehem!! bisa nggak kamu pake baju dulu sebelum keluar? aku gadis normal, roti sobekmu itu bisa bikin aku mimisan."
"Hehehe, jadi kamu masih Andrea yang centil??" tanya Jung berlalu ke ruang pakaian.
"Memangnya kamu mau Andrea yang mana lagi?."
"Andreaku cuman ada satu, mau Andrea yang seperti gimanapun aku akan terima apa adanya," sahutnya terdengar lembut di telinga Andrea.
Gadis itu tersipu malu. Nggak perlu waktu lama kekasih hatinya sudah berada tepat di hadapannya.
Jung merentangkan kedua tangannya"Sini aku peluk," dan Andrea berjalan kedalam pelukannya. Aoma khas Jung tercium jelas ketika Andrea membenamkam wajah pada dada bidang Jung.
"Aku kangen, kuanggeeennnn buangettt!," lirihnya terdengar sendu, mengangkat kepala mendongak jauh ke atas. Apalah daya tubuhnya tak jauh berbeda dengan tinggi badan Ghina.
"Aku Andrea Ananda Wiliam, apa kabarmu wahai kekasihku tersayang."
lengannya yang kecil memeluk erat tubuh tegap Jung.
Jemari Jung menangkup wajah Cantik Andrea"Aku Jung Charlotte, kekasihmu yang menahan berjuta rasa kerinduan untukmu. Kabar ku baik, bahkan sangat baik. Terlebih lagi kedatanganmu membawa melodi baru kedalam hatiku yang terasa sepi."
...💖💖💖💖...
Seorang remaja me-dribbel dengan tergesa- gesa. Banyak lemparan yang melenceng hari ini. Kinerjanya sangat buruk"Ah!!, aku istirahat dulu, nggak fokus nih." Dia hempaskan benda berwarna orange itu sekuat tenaga. Bola nggak berdosa itu jadi sasaran kekesalan.
Anggota yang lain tak ingin ikut campur dalam masalah yang sedang di hadapinya. Kalau nggak mau terlibat masalah, maka biarkan dia mengatasi emosinya sendiri.
"Kalian kuliah di tempat Baba(Nenek) ya. Onty Rena ikut suaminya dinas. Kan kasihan kalo Baba tinggal sendiri," perkataan mamah Daniza pagi ini membuat si kembar kehilangan konsentrasi. Dengan kesal Alex merebahkan dirinya di pinggir lapangan basket.
"Tinggal beberapa bulan, argghh!!..mamah nggak asik!!," nafasnya masih beradu ketika mulutnya komat-kamit nggak jelas pada diri sendiri.
__ADS_1
Sikap anehnya mengundang tanda tanya dalam benak para sahabatnya, namun nggak ada satupun dari mereka yang berani mengkonfirmasi, masalah apa yang sedang melanda sang idola di lapangan basket.
"Kasian tuh, bolak-balik kaya ikan di jemur. Samperin gih, siapa tahu sama kamu dia mau cerita," Dimas memilih Arkan untuk mempertaruhkan nyawanya kepada Alex.
"Nggak!!kamu pikir aku kucing yang punya 9 nyawa. Kamu aja yang maju," permintaan Dimas di tolak mentah-mentah oleh Arkan.
"To, kamu deh. Aku ikutan nyesek deh lihat dia kaya ikan kurang air begitu," kali ini Dito si adik kelas yang di minta mengorbankan nyawanya lagi.
Lagi??
Kemarin sore pas latihan basket Dito mendapat serangan bertubi-tubi dari Alex gara-gara gagal slam dunk. Ya... akhir-akhir ini mood si pengusaha lapangan sedang merosot ke dasar bumi.
"Ka Dimas lupa kalo aku kemaren jadi ring basket?," Dito juga menolak mentah-mentah titah dari Dimas.
"Duh, masa aku yang maju breehh??kalian kan tau Fisik aku nggak sekuat kalian," dengan terpaksa Dimas maju mendekati Alex yang uring-uringan sambil tengkurap.
Para lelaki nggak bernyali di belakangnya memberikan semangat dan dukungan, bersorak pelan layaknya cheerleader memberi semangat kepada pemain basket yang sedang bertanding.
"Lex...'' ketar-ketir perasaan remaja berkaca mata itu, ikut merebahkan diri di samping Alex.
"Ng!!," sahutnya singkat.
"Are you ok?".
"Kalau nggak bisa bantu jangan banyak tanya. Kamu pengen gelud??" sumpah, kalau lagi kesel kesabaran Alex setipis tisu.
Alamak!!Dimas menggigit bibirnya"Ya enggak lah, sikap kamu aneh tau. Uring-uringan seperti orang putus cinta."
"Belum jadian kamu udah nyumpahin aku putus cinta??."
"Beh, nyerah deh aku. Terserah kamu deh Lex. kamu mah kebiasaan kalau ada masalah nggak mau cerita. Sok kuat tapi kamunya bertingkah childish kek gini breh," entah dapat keberanian dari mana mulut Dimas dengan lancar mengungkapkan kekesalannya atas sikap sang kapten.
"Aishhh!!kalo aku nyebelin kan tinggal cuekin aja. Kamu bikin aku makin kesel tau!!'."
Arkan pelan-pelan ikut gabung obrolan mereka"Anu Lex....,kita kan teman. Masa senangnya doang yang kamu bagi, kalau ada masalah cerita dong, siapa tau kita bisa bantu."
"Nggak akan bisa bantu. Pergi aja deh. Latihan lagi sana, kalian nggak usah kepo."
Arkan, Dimas dan Dito nggak berhasil mengulik masalah Alex, akhirnya mereka sepakat meminta pertolongan si Nona muda dari keluarga Charlotte yang di bucinin Alex.
...----------------...
To be continue...
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗
Salam anak Borneo.