Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Kencan Niki dan Rivan


__ADS_3

"Ih demi apa aku kok mau kamu ajak ke sini Van!! ini udah sore kamunya ngajak ke kolam renang" Niki tersungut-sungut dengan mulut terus menggerutu.


"Dari pada aku ajakin ke pantai, jauh lho ntar ngeluh sakit pinggang lagi kelamaan boncengan di motor". Cerocos Rivan berusaha menenangkan keluhan Niki yang super cerewet.


"Dih mending pantai dari pada di sini, ini mah bukan tempat kencan. Tuh orang-orang yang datang pada bawa anak, kita belum setua mereka kali Van". Tunjuk Niki pada beberapa keluarga kecil yang asik bercengkerama bersama.


"Niki, setiap kejadian itu pasti ada hikmah nya."


"Kejadian apaan Rivan, oh lord apa sih isi otak ni cowok." Gadis itu melenguh membuang kesal.


"Yah kita jadi tau gimana cara ngajak main anak-anak." Sahutnya ngotot nggak mau di salahkan dengan pilihan tempat kencannya.


"Astaga!, kok aku baru ngeh kalau kamu tu masih aneh aja."


Tangan Rivan menarik Niki untuk duduk di kursi panjang, depan toko jajanan yang punya kolam renang "Anggap aja kita di sini lagi pelatihan Ki, lihat deh tingkah keluarga kecil itu, kelak kita bakalan kaya gitu juga kan".


"Eh buset!, belum lulus kucrut!! main ngebayangin punya anak aja. Di kira ngelahirin anak itu gampang."


"Nggak deh, berhenti berpikiran terlalu jauh. Heran deh kamu makannya apa sih kok punya pikiran kayak begitu." Niki menggeleng menentang perkataan Rivan.


"Ya elah ngebayangin doang Niki, biar nanti kalau udah nikah kita nggak kagok lagi."


"Asli, otak kamu udah miring, Van!. Sudah deh jangan mikirin nikah dulu, urusan kamu sama Nari tuh diselesaikan dulu," Niki mengingatkan pertunangannya dengan Nari. Mengingat itu emosi sang gadis jadi semakin bergelombang bak lautan luas, naik turun dan siap menenggelamkan Rivan kalau sampai salah ngomong di depan dia.


"Iya yah, bantu mikir dong gimana cara ngasih tau Papah aku."


"Yang tunangan siapa?."


"Aku" telunjuk tu cowok pada dirinya sendiri.


"Itu Papah siapa?." Tanya Niki lagi.


"Aku."


Brak!! Niki menepuk pelan meja"Nah pikir sendiri dong gimana cara ngadepinnya."


"Aduh Nikiiiiiii, pacar kamu di tunangin sama cewek lain lho, kamu nggak takut aku di nikahin sama Nari?."


Seketika sebuah kepalan Niki arahkan tepat di depan hidung RivanxCoba aja! aku retak-kan ginjal kamu."


"Ini juga, mau aku majuin ke dalam hidung kamu?" ancam gadis berambut panjang itu lagi.

__ADS_1


"Yeee cemburuuuu". Goda Rivan. Dia senang bukan main, jadi begini rasanya di cemburuin.


"Igh!, bangga ya kamu." Sebuah cubitan Niki lancarkan di lengan Rivan, dia jejeritan menahan sakit. Gile aja si Niki sekali ngubit kecil banget.


"Ampun Niki, ampun!!."


"Awas aja berani macam-macam, kamu tu sudah aku kontrak seumur hidup sama yang maha kuasa, jangan ngimpi buat berpaling dari aku."


Rivan semakin besar kepala mendengar kecemburuan Niki, senyumnya lebaaaaar banget saking senangnya.


Di tengah candaan mereka ponsel Rivan berdering dengan Nyonya Sook sebagai penelpon.


"Camer nelpon ki, permisi bentar."


Ciaaattt!! Niki menarik rambut Rivan, membuat cowok itu kembali menjerit.


"Aw aw!!!, botak aku Ki, lepasin pleasee!!." Biji mata Rivan melotot menahan sakit. Berasa mau loncat keluar tu bola mata saking sakitnya.


"Terima di sini aja!!, jangan pake rahasia rahasiaan!" sentak Niki masih dengan tangan menjambak rambut Rivan.


"Oke! oke, lepasin dulu Niki sayang. Bisa copot kepalaku!!." pinta Rivan dengan rengekan.


Gadis itu melepaskan cengkeramannya, nampak beberapa helai rambut Rivan melekat di telapak tangannya"Ups!!, makanya sampoan biar akar rambut kamu tu kuat, baru juga di jambak kek begitu udah rontok aja, Ckckckck," seloronya cuek tak berperasaan.


Kelamaan drama, Panggilan Nyonya Sook jadi nggak sempat Rivan terima"Yah jadi nggak sempat ngejawab deh." Keluh Rivan mengusap kepalanya"Sadis banget sih, kalau aku botak gimana?."


Niki cuek dengan tatapan sedih Rivan"Bodo amat!, toh kamu jadinya sama aku juga. Makanya kalau mau utuh itu badan, kamunya jangan banyak tingkah!!." Ucap Niki membuang muka.


Trrrrrrt!!! Nyonya Sook kembali menelpon calon menantunya lagi.


"Nih aku terima di sini ya." Dia memperlihatkan layar ponselnya. Dari pada di jambak lagi, Rivan memilih duduk manis di samping Niki dan segera menerima panggilan Nyonya Sook.


"Cih pake di namain camer pula!, ih greger pen mutilasi kamu deh!." Gerutu Niki mendengus kesal.


Rada-rada ngeri juga si Rivan mendengar bermacam-ancaman Niki, tapi dia tau semua itu sekedar di mulut saja. Udah dari jaman bahula sampai jaman sekarang, cara Niki menunjukan rasa cintanya ke Rivan tuh tergolong unik, Rivan mah sudah biasa di aniaya Niki dengan cintanya.


"Buruan pulang sekarang, ada hal penting yang mau kami omongin sama kalian."


"Iya Tan, bentar lagi balik kok."


"Kamu sama Nari kan sekarang?" selidik Nyonya Sook.

__ADS_1


Rivan kelabakan"I---iya lah tante, emang sama siapa lagi?!" duh nyerinya ketika mengatakan cuman sama Nari, sementara tatapan Niki seakan hendak mencincang tubuhnya.


Rivan kembali merasakan sengatan cubitan Niki, dan kini pahanya yang menjadi sasaran empuk, matanya berasa hendak meloncar keluar menahan siksaan Niki.


Setelah panggilan selesai Rivan buru-buru mengelu pahanya demi mengurangi rasa sakitnya"Ya Tuhan!!, tangan mulus begini kok tajem  banget sih!."


"Apaan kata camer kamu?." Sindir sang gadis.


"Katanya ada hal penting, aku sama Nari di minta buruan balik ke kediaman Charllote."


"Hah~~~~" gadis itu membuang nafas"Nasib pacaran sama tunangan orang."


"Jangan gitu lah, aku sama Nari akan berterus terang secepatnya."nRivan mendapati wajah sendu Niki. Dia tau sekejam apapun Niki jauh di relung hatinya gadis itu sangat terluka, dengan status pertunangannya bersama Nari.


Jemarinya membelai rambut panjang Niki dan menyematkannya ke daun telinga gadis itu"Kasih aku waktu, secepatnya masalah ini akan terselesaikan."


Ada kesedihan di raut wajah Niki. Entah jenis cinta seperti apa yang sedang mengikat hatinya kepada Rivan, di balik kesadisannya memperlakukan Rivan gadis itu sangat tergila-gila kepada lelaki itu. Dia sangat mencintai Rivan, bertahun berpisah tak seorang pria pun yang bisa menggantikan posisi Rivan di hatinya.


Jemari Rivan beralih merengkuh jemari Niki, di tatapnya lekat-lekat mata bulat dengan bulu mata lentik itu"Kenyataan sepahit apapun aku nggak akan ninggalin kamu, aku nggak akan mengulangi kesalahan yang sama."


Niki mengangguk pelan, dekatnya wajah mereka membuat Rivan berniat mencium bibir merah muda Niki.


1, Rivan mulai memegangi pipi mulus Niki.


2, Jemari Rivan mulai berani menyentuh bibir yang sangat menggoda itu.


3, Dengan yakin Rivan lebih mendekatkan wajahnya dan memutus jarak di antara mereka. Niki nampak terbawa suasana, gadis sangar itu menatap lurus ke bola mata Rivan.


4, "Cup!!" ciuman itu terjadi. Namun...


PLETOKKKK!!!. Bogem mentah mendarat di atas kepala Rivan.


"Enak ya, mau jemput tunangan ngambil jatah tipokan sama pacar dulu. Kembaliin ciuman itu Rivan!!". Tubuh Rivan di guncang-guncang gadis itu, kelakuan mereka menarik perhatian pengunjung yang lain, namun Rivan dan Niki cuek bebek aja.


"Buset dah!!!, satu kecup doang!!." Rivan meringis memegangi kepalanya, tinju Niki lumayan memusingkan kepalanya.


"Lagian gimana balikinnya Niki? ciuman lagi???." Tanya Rivan dengan tampang polos.


"RIVAAANNNNNN!!." Niki kembali mendaratkan cubitan mautnya di lengan Rivan.


To be continued...

__ADS_1


~~♡♡Happy reading, jangan lupa like vote dan komen 😊.


Salam anak Borneo.


__ADS_2