Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Wedding day


__ADS_3

"Nah, sudah selesai," ucap Selena terdengar bersemangat.


"Waw!," gumam Andrea terpesona dengan wajahnya sendiri"Ini beneran aku, Sel?."


"Memang siapa lagi Dre?," Selena balik bertanya.


Andrea tersenyum, sangat puas dengan hasil make up di wajahnya, Selena memang pantas di acungi jempol"Terimakasih banyak!!," seru sang calon mempelai wanita, dirinya meraih jemari Selena, saking senangnya.


"Sama-sama," sahut Selena dengan senyuman"Ngomong-ngomong, yang sekarang akan nikah sama kamu si cowok impian? yang sudah lama kamu kejar itu?."


"Hihihi, iya. Inilah buah dari kesabaranku," ujar Andrea dengan wajah bahagia.


Selena Bramantyo, anak tante Kinan Wijaya dari suami pertamanya. Juga sahabat dekat Andrea sedari kecil. Baru dua tahun ini Selena kembali ke Indonesia, setelah mengasah ilmu di negeri tetangga sebagai MUA. Dia nggak menyangka akhirnya Andrea menjadi salah satu pelanggannya kali ini.


"Makasih ucapannya, Sel. Kita tukeran nomor ya, sejak balik ke Indonesia baru sekarang kan kita ketemu lagi," ajak Andrea sembari meminta ponselnya kepada Hana.


"Kamu pasti bingung kan karena nomor lamaku nggak bisa di hubungi?."


Andrea melirik Selena"Nah!! itu salah satu pertanyaan yang mau aku tanyakan padamu hari ini. Kenapa dengan nomor ponselmu?."


"Aku, sedang berusaha move on dari seorang pria," ada nada kesedihan saat Selena bicara, dan Andrea sepertinya sangat tahu siapa pria yang Selena maksud.


"Om Tunder?."


Selena tersenyum masam"Mendengar namanya saja sudah membuat hatiku berdebar."


Andrea gegas menarik Selena ke dalam pelukan. Dia sangat tahu kisah cinta Selena dan Om Tunder itu. Perbedaan umur yang cukup jauh, menjadi sebuah alasan atas penolakan Tunder terhadap Selena. Namun karena cinta yang bersarang di dalam hati adalah cinta buta, membuatnya terlalu sulit untuk merelakan pria dewasa itu menjauh darinya. Terlebih sang Om ini bekas selingkuhan sang kakak, ujian cinta mereka pasti sangat berat jika bersama, orang tua Selena pasti sangat menentang hubungan mereka.


"Lantas, karena itu kamu mengganti nomor ponsel? takut dia yang menghubungi mu, atau...."


"Aku takut nggak bisa menahan diri, kamu pun sudah dapat menebak, pasti aku yang akan menghubungi dia, bukan?," sambar Selena.


Andrea menarik napas panjang, kemudian membuangnya kasar"Semoga saja badai perasaan ini cepat berlalu. Kamu cantik, baik, mempesona, sudah seharusnya kamu mendapatkan lelaki terbaik, bukan lelaki buaya darat seperti om Tunder itu."


Ocehan Andrea membuat Selena tertawa, ya! sepak terjang Tunder di dunia pecah perawan bukan rahasia lagi. Beruntung pria berusia 39 tahun itu sangat tampan, juga kaya raya, jadi kelakuan bejat nya termaafkan.


"Eh, dulu aku sempat kembali ke negara ini, tapi kata mamah kamu di Amsterdam."


"Yah, begitulah Sel, jalan hidup kita nggak selalu lurus. Aku mengalami kecelakaan bersama Jung. Dia mengalami patah kaki dan cukup lama nggak bisa berjalan, sedangkah aku kehilangan sebagian ingatan, terkhusus ingatan tentang Jung. Mengingat hal itu sangat menyesakan dada, aku nggak tega membayangkan wajah Jung yang aku acuhkan, kabarnya dia selalu memperkenalkan diri nya di hadapanku, sedangkah aku menolak nya," ucap Andrea lagi.


"Semua perlu perjuangan, berkat besabaran kalian, hari ini kalian akan menikah," mengusap lembut punggung tangan Andrea, dua wanita ini saling menguatkan untuk menjalani kisah cinta masing-masing.


Setelah bertukar nomor ponsel, Selena pamit ke kamar Jung, untuk memeriksa hasil kerja Marco alias Markonah.


Tatapan kesal Marco, membuat Ghina dan Nari saling pandang"Hehehe ,santai aja mbak kami nggak bakal ganggu. Justru kami bisa bantu-bantu biar kerjaan mbak nya cepat selesai," celetuk Ghina. Marco mendengus kesal. Hari ini dia sangat bersemangat mengetahui calon pengantin prianya begitu tampan, di tambah tadi pas ketemu Joen yang nggak kalah tampan dari si abang, membuat jiwa melambainya meronta-ronta. Sayangnya hasrat lenjeh bin centil harus tertahan karena kehadiran dua cewek yang membuat matanya belekan.


"Oke, kalau kalian ganggu pun, aku nggak jadi merias dia, ya," sahutnya datar, seraya mengibaskan kemeja putih kepada Jung yang saat itu masih mengenakan bathrobe.


"Buka say handuk kimononya," pintanya kepada Jung. Kali ini wajahnya seketika tersenyum, berbeda sekali saat sedang bicara dengan Ghina dan Nari.


"Pake ini mas? eh---mbak," Jung yang sedari tadi diam membisu menahan rasa takutnya, langsung tergagap setelah tanpa ragu Marco memintanya membuka handuknya.


"Iya dong say, masa nikahan mau pake handuk begini," ujarnya dengan kedipan mata.

__ADS_1


Oh lord!!!jiwa Jung rasanya ingin melayang"Oh Tuhan, tolong percepat waktu di bagian ini," pintanya dalam hati.


"Hei, ayo dong, sayang!. Buruan buka, atau mau aku bantuin," goda si pria solehah.


"Mbak, dia bisa kan pake kemejanya sendiri, nggak usah di pakein juga," Ghina angkat bicara, wajah tegang Jung membuatnya khawatir.


"Kalau pingsan kan berabe, Nar," bisiknya, sebelum berucap kepada si Marco.


"Katanya nggak bakal ganggu," mendelik di iringin dengan desisan kesal.


"Dih, kita kasih saran doang mas!," hardik Nari mulai kehabisan kesabaran.


"Mas kerja kok lama amat! buruan! waktu jalan terus ini," tambah Nari dengan kedua mata melotot


"Duh, galak amat non!," Marco merasakan aura-aura mengerikan dari arah Nari.


"Cepetan kerjanya!," hardiknya lagi. Demi menjaga Jung waktu bertemu dengan Kai harus di tunda. Menurut pesan yang di kirim Kai barusan, dia udah sampai di kediaman Charlotte.


"Oke Non, oke!!," sahut Marco tak kalah kesal.


"Sayang, Bae nangis tuh," si babang tamvan yang lain muncul.


"Bawa sini deh, Yang," lirik Ghina penuh makna, nggak mungkin dia ninggalin Jung di bawah cengkeraman si banci kan.


"Atut?!," bisik Joen dari muara pintu, merasakan pandangan manja Marco kepadanya sedari tadi, sungguh menggelikan.


Saat itu Nyonya Sook datang ke kamar Jung, dan mereka semua akhirnya bernafas lega, dia juga datang bersama Selena.


"Hmmhh, kebiasaan deh Marco! kalau sama yang kenyes-kenyes begini pasti di lamain deh," Keluh Selena.


"Jangan nyalahin pelanggan!!," pekik Selena di dekat nya.


"Yah, gimana dong say, di sini surganya lelaki tamvan, nggak konsen aku kerjanya," pekiknya jua dengan mata berbinar.


"Igh, aku aja yang lanjutin. Kamu tungguin di mobil aja. Mempelai wanitanya udah redy Marco," desis Selena, nggak enak sama keluarga Charlotte.


"Santai Selena, acaranya di mulai jam delapan kok," Nyonya Sook menenangkan Selena.


"Maaf tante, dia paling nggak tahan kalau ketemu yang cakep-cakep begini."


Nyonya Sook hanya tertawa kecil. Joen mundur beberapa langkah ketika Marco lewat di hadapannya.


"Busettt!!!, itu mata warna-warni banget, komposisi warnanya ngalahin pelangi-pelangi," ujarnya setelah Marco menuruni tangga.


"Hus!!nggak boleh gitu," hardik sang Mamah.


Setelah di tangani Selena, Jung tak perlu lama untuk bersiap. Kini dia menjelma menjadi pangeran tak berkuda, membuat Ghina berdecak kagum menatapnya.


"Wuahh, memang ya kalau udah cakep mau di pakein apa aja, pasti cocok," pujinya kepada Jung.


"Biasa aja!," sambar Joen.


"uluh-uluh sayangku, cintaku, negeriku, bangsaku, tanah airku, jangan cemburu dong," peluk Ghina manja kepada Joen.

__ADS_1


"Ash!! mendadak sakit mataku!," pekik Nari.


"Mamah kabur deh," ujar Nyonya Sook. Pasangan Ghina dan Joen ini memang sering mengumbar kemesraan tanpa memandang tempat. Dan sebelum kehadiran Kai, jiwa jomblo Naria sering tersiksa.


08:10 di taman bunga kediaman Charlotte.


Pesta pernikahan sudah di mulai, setelah mengucap janji di depan penghulu akhirnya Andrea dan Jung sah sebagai suami istri.


"Pah," panggil Andrea ketika Tuan Wiliam menatap Jung dalam-dalam.


"Tolong jaga putri tunggalku," ucapnya lirih.


"Saya janji Tuan, eh---Pah," sahut Jung. Dia berniat meraih jemari Andrea dan membawanya ke pelaminan, namun lengan Wiliam mengapit erat lengan putri semata wayangnya. Seolah belum rela melepas Andrea untuknya.


Suasana menjadi haru. Andrea adalah tanda cintanya bersama sang Istri yang sangat di cintainya. Rasanya, William nggak bisa menyerahkan Andrea begitu saja.


Tangis Andrea pun pecah, dia terisak memeluk sang Papah.


"Jangan menangis sayang. Papah menikahkan kamu biar nggak mengenal sebuah tangisan lagi," jemari nya menyeka air mata sang putri.


"Aku yakin kamu bisa membuang Jauh-jauh kesedihan dari putriku," ucap Tuan Wiliam sembari menyerahkan jemari Andrea kepada Jung.


"Jung janji Pah, akan mencintai dan menyayangi Andrea sepanjang hidup. Dan Jung nggak akan membiarkan Andrea merasakan kesedihan sedikit pun."


William menepuk hangat pundah Jung"Cepat kasih papah cucu, biar papah nggak kesepian," bisiknya pada Jung.


"He-----," wajah Jung bersemu.


"Siap Pah," ujarnya lagi dengan tawa.


...****************...


"Sayang, aku kenalin sama mamah papah aku, ya," ajak Nari manja kepada Kai.


"Nggak usah Nar, aku di sini aja," pinta Kai.


"Kamu kenapa sih, kamu udah cakep begini kok."


"Nggak akh, entar mereka kecewa,Nar. Aku udah nurutin mau kamu ke sini ya, please jangan meminta lebih," Kai bersikeras nggak mau bertemu dengan orang tua Nari.


"Kai, memangnya kamu memandang aku gimana sih?," tanya Nari dengan Nada serius.


"Kamu----cantik," jawab Kai.


"Bukan itu, maksud kamu takut orang tuaku kecewa, itu apa? kok kamu ngomongin kasta terus?. Kami nggak kaya gitu lho Kai, menantu pertama di keluarga ini orang biasa, bukan dari kalangan kaya raya," kini pandangan Nari terlihat sendu.


"Nar...," panggil seseorang yang nggak asing bagi Nari.


"Aron," ujarnya"Mana Alex?."


"Belakangan sama Mamah," kini tatapan Kai dan Aron bertemu.


To be continued...

__ADS_1


~~♡♡Happy reading.jangan lupa like vorte dan komen ^,^


Salam anak Borneo.


__ADS_2