
"Bye," Kai melambaikan tangan pada Nari yang tersenyum manis mengantar kepergiannya. Gadis cantik itu kini berada dalam genggamannya lagi, entah rencana apalagi yang semesta siapkan untuk mereka, yang pasti kali ini Kai nggak akan lari dari kenyataan lagi.
"Non, di cari Tuan dari tadi. Cepetan masuk deh," Mr.So sang satpam memberikan kabar darurat kepada Nari.
Deg!!", jantung Nari tiba-tiba berdegup kencang. Kenapa nih? jangan-jangan kencannya ketahuan sang Papah. Seketika keringat dingin bercucuran, telapak tangan Nari seketika berkeringat"Marah-marah ya Mr??" tanya Nari sambil menormalkan detak jantungnya.
Sang satpam mengangguk cepat.
"Waduh, bakal rame deh ini malam" seloro Nari bersiap masuk ke kediamannya.
"Nona kemana sih??, Tuan besar nggak marah sih, cuman kayanya mumet aja sama para cowok-cowok yang lagi nungguin Nona di dalam. Berisik banget mereka, Non!". tandas Mr.So sekaligus menghentikan langkah Nari.
Kedua alis Nari bertaut naik"Cowok-cowok??," pertanyaannya di angguki sang satpam.
"Siapa sih Mr??" desak Nari penasaran. Ini satpam kok jadi rada misteri begini. Bikin Nari makin deg-degan.
"Masuk deh, Non!," dari pada lelah menjelaskan, Mr.So meminta Nari menyaksikan sendiri apa yang sedang terjadi di dalam sana.
Langkah cepat membawa Nari seketika berada di teras kediamannya. Nampak si Hendro sedang duduk memegangi dadanya, berdiri di sebalik pilar besar penopang kediamannya"Ya elah!! si bocah," bisik hati Nari.
kedatangan Nari mengundang ke-legaan di wajah Hendro"Dari mana sih, Nar!! Fay ngobrol ramah banget tuh sama Papah kamu,"celotehnya.
Gadis itu tak menjawab, hanya seulas senyum sumringah dia lemparkan kepada Hendro.
"Ponsel aku sampai kehabisan daya gegara nelponin kamu mulu!!," tambah Kevin dengan nada khawatir"kamu jalan sama siapa?? Rivan?? atau ada cowok lain selain kami??."
Nari berkacak pinggang menghadap Kevin yang berceloteh tanpan henti"Ngebut banget ngomongnya! selow dong, aku udah balik kan," ujarnya menarik kedua pipi Kevin dan membentuk senyuman di sana, dengan menarik naik ujung bibir nya.
"Uwww!! nyengir-nyengir, Fay mulai berlagak akrab sama Papah kamu tuh," tandas Kevin menepis kedua tangan Nari.
__ADS_1
"Tau nih, di dalam panas banget tau!!," lanjut Hendro lagi masih dengan nada khawatirnya.
Nari merasakan aura panas di sini, dari nada bicara Hendro pasti yang terjadi adalah kebalikan dari kata-katanya. Sepertinya sebuah bom siap meledak.
Dan benar saja, tiga bucin sedang beradu argumen dengan sang Papah.
"Ayolah om!! masih kecil masa main nikah aja," terdengar suara Fay dari ruang tengah. Nari pun bergegas masuk dengan Hendro dan Kevin yang mengekor di belakangnya.
"Nah!! si biang kerok dateng" ujar Nyonya Sook menghampiri Nari, yang berjalan dengan langkah gontai. Selain maju perlahan dia nggak mungkin menghindari hal ini, meskipun dia pengen banget memutar balik langkahnya dan sekalian kabur bersama Kai.
Ujung mata Tuan Charllote melirik Nari, kedua tangan yang semula berdiam sejajar kini terlipat di depan dadanya. Pertanda sang empu sedang menahan emosi.
"Sini!!" ujung telunjuknya mengarah kepada Nari, seakan menghujam jantung sang Nona muda. Tatap matanya sungguh mampu membuat bulu kuduk Nari seketika berdiri tegak.
"Buset dah! mereka ngomong apaan sama Papah!!," pekik hati kecil Nari, tangannya mengusap belakang tengkuk, mencoba menepik rasa gelisah di dalam dirinya.
"Kalian ngapain ke sini??," tanya Nari sambil bersandar di sofa.
"Ponsel kamu mana??," Zaid balas bertanya.
Nari meraba kedalam tas kecilnya"Nih!," dia mengulurkan ponselnya pada Zaid.
"Lah ini ada, kok pesan kami nggak di balas??."
"Telpon Papah di kacangin!!," ucapan Zaid langsung di sambung Tuan Charllote.
"Nih!!, para lelaki ingusan ini dari tadi nguliahin Papah masalah perjodohan kamu sana Rivan," lanjut Tuan Charllote.
"Si bocah ingusan ini yang paling ngotot, dia bilang hidup kamu bakal mengenaskan kalau menikah dengan Rivan," dia lanjut benunjuk ke arah Fay. Yang di tunjuk masih memasang tampang cemberut pada calon mertua dalam mimpinya.
__ADS_1
"Nggak ngotot kok om, memang kenyataannya kok."
"Jadi maksud kamu Rivan nggak cocok sama putri saya??."
Fay mengangguk.
"Oh...., kalau begitu siapa yang cocok?,kamu yang cocok??".
"Yoi om!!," sambar Fay bangga.
"Enak aja!!," Hendro menyangkal ucapan Fay."Kang gombal dia om, entar Nari banyak madu nya, saya aja om yang setia."
Mendengar ucapan Hendro, Ikbal nggak mau tinggal dia"Saya dong om!!, bisa masak Nari di jamin pasti kenyang sama saya."
Zaid menunjuk dirinya sendiri"Saya!! sudah punya usaha Om!!, sudah punya penghasilan."
"Saya om---, mencintai Nari dengan seluruh jiwa dan raga saya!,"Kevin ikutan menyuarakan jeritan hatinya.
Kepala Tuan Charllote menjadi pusing kembali. Kedatangan Nari menambah keberanian mereka untuk merebut hati sang calon mertua"Apa sih yang kalian suka dari putri saya?."
"Cantik!!," jawab mereka serempak.
To be continued...
~♡♡ Happy reading, jangan lupa like, vote, fav dan komennya guys 😙
Kamis 16 Februari 2023. Pangkalanbun, tepian sungai arut.
Kotawaringin barat, Kalimantan tengah.
__ADS_1