Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Daya tarik Bae


__ADS_3

Memiliki dua Abang, jangan berharap kamu akan mendapatkan perhatian yang lebih. Alih-alih menghujanimu dengan limpahan kasih sayang, Naria justru kerap mendapat perlakuan nggak meng-enakan dari dua saudaranya itu. Pagi ini, jari yang sudah terluka di buat kembali terasa sakit karena ulah Bae, putra dari Abang keduanya. Bocah itu tersenyum nakal melihatnya meringis kesakitan, dan kekesalan itu semakin bertambah karena Papah dari bocah itu ikut tertawa.


Oke, kalau Abang kedua nggak mau membela setidaknya masih ada Abang pertamanya. Tapi sayang sungguh sayang, Abang kedua pun nggak berniat memberikan dirinya pembelaan. Yah...ini bukan murni kesalahan si kecil Bae sih, Nari yang memantik api pertikaian di antara mereka. Intinya, nggak ada yang kalem di kediaman Charlotte ini, semuanya mendapatkan jatah kesabaran minim, dan jatah keusilan di atas rata-rata, jahil semuanya, termasuk Bae yang masih sekecil kecambah itu.


Mengadu pada sang kekasih, Nari mengirimkan foto jari manis yang terluka. Plester kartun Monica si gigi tonggos masih melekat di jari tersebut.


"Kenapa baru bilang sekarang?" Kai membalas pesan sang kekasih yang sedang dalam perjalanan ke sekolah. Setelah mendapatkan kembali uang jajan dan semua fasilitasnya, Kai nggak lagi rutin mengantarnya sekolah. Namun untuk pulang sekolah, Kai masih kerap menjemput sang kekasih hati.


"Baru sehari nggak di jemput, kamu sudah luka. Gimana kalau aku berhenti jemput kamu pulang sekolah?."


Tersenyum dengan wajah bersemu, begitulah Nari kalau sedang berbalas pesan dengan Kai.


"Si Zaid tuh, keasikan ngobrol sama Adek ketemu gede kamu. Akunya di tinggal sendiri pas lagi potong daging Ayam."


"Oh, Greta sama kalian?. Terimakasih sudah menerimanya sebagai kawan. Sejujurnya kami mengkhawatirkan dirinya sejak tinggal terpisah dengan Ayah."


Seharusnya, Kai dan keluarga memberikan hukuman pada Greta, karena Victoria telah memisahkan mereka dari Hanan. Tapi entah kenapa, ketulusan Greta menyayangi Hanan melembutkan hati mereka. Nenek Letta yang awalnya kurang menerimanya, kini mulai sayang padanya. Cleo yang semula berdebat perihal usia pun, kini mulai bisa menanyakannya kabar Greta pada sang Ayah.


"Dia gadis yang baik, sebenarnya" balas Nari pada pesan Kai.


"Tapi kamu gadis terbaik bagiku" begitu Kai membalas pesan Nari.


Meronta, tingkah Nari mengejutkan Mr.Zak.


"Non, kenapa?" ujarnya bertanya. Nari heboh sendiri, tertawa malu memandangi ponselnya.


"Ah, enggak kok Mr. Biasalah, pesan dari Ayang" nyengir sambil memperlihatkan ponselnya pada Mr.Zak, yang sedang meliriknya melalui kaca depan.


Mr.Zak tertawa seraya menggelengkan kepala"Kirain kenapa tadi Non."


Sebelum Naria sampai di sekolah, Hendro tengah melarikan diri dari kejaran seseorang. Niat hati berangkat pagi-pagi biar bisa menyambut kedatangan Nari, kakak kelas cantik itu. Tapi bukannya Nari yang di jumpainya, justru Rika sang kakak kelas dengan dandanan menor.


"Tungguin, aku cuman mau ngasih kamu ini!!" teriak Rika. Demi Neptunus, Hendro bukan nggak mendengar suara Rika, dia hanya berpura-pura tuli saja.

__ADS_1


"Ash!!!, kamvret tu bocah. Susah banget di deketin" Rika menarik napas, kemudian bersandar di dinding lorong sekolah. Memiliki kaki jenjang sungguh membantu Hendro dalam pelarian kali ini, langkah lebarnya mampu membangun jarak di antara mereka dalam sekejap. Di tambah Hendro seraya berlari, kaki pendek Rika bukanlah tandingannya.


"Lepas lagi?" Udin hadir di belakang Rika.


Melirik cowok itu tajam, rasa kesal di dalam dada semakin memuncak"Sok akrab!!."


"Hilih, pe-de banget sih. Aku cuman mau ngasih tau, dari pada capek mengejar Hendro, mending kamu beli kaca deh."


Menegakkan badan kemudian berkacak pinggang, Rika tau Udin pasti akan menghinanya. Saat hendak membalas ucapan Udin, tiba-tiba Rivan muncul di antara mereka. Lebih tepatnya di belakang Rika.


"Kamu kira aku miskin, sampai nggak punya kaca?!."


"Oh, jadi kamu udah punya kaca?. Bagus deh, kacanya di pake buat ngaca kan?. Kamu sama Nari, cantikan Nari jauh lah!!."


"Kurang ajar!!."


Udin langsung mengambil langkah seribu, dia berhasil membuat api amarah Rika menyala.


"Nggak usah di kejar!. Nggak akan bisa. Kamu kan pendek!" giliran Rivan yang menyerang Rika.


Tersenyum smirk"Ya terserah sih mau bilang apa. Aku punya kaca, dan aku cukup sadar diri bahwa Nari bukan jodohmu. Sekarang aku sudah punya pacar, nggak kayak kamu masih ngejar-ngejar Hendro."


Rika hendak memukul Rivan dengan setumpuk kartu undangan, Rivan dengan gesit berkilah"Heit!!. Jangan main tangan. Aku punya kaca dan kaca aku bisa bikin kamu malu hari ini. Owh, nggak cuman hari ini sih, mungkin untuk beberapa hari kedepan."


Rika merasakan aura nggak bagus. Gadis ini memperhatikan sepatu yang di pakai Rivan. Ngomong-ngomong tentang kaca, Rika melihat kaca kecil di ujung sepatu lawan bicaranya. Owh!! ini bencana!.


Gegas mengambil kaca itu yang dia selipkan di ujung sepatu, Rivan pun mengambil langkah seribu.


"Yakk!!! Rivannnnnn!!!!." teriakan Rika membuat burung-burung bubar berterbangan dari dahan pohon. Murid-murid yang lain mentertawakan Rika. Melihat kaca di tangan Rivan, pasti pakaian dalam Rika telah terekspos oleh biang onar itu.


Kembali menampakkan diri di ujung lorong"Rika pake warna biru!!!." Rivan berteriak seperti Tarzan.


Tawa para murid-murid pun pecah tak tertahankan lagi.

__ADS_1


Arghh!! Rika kesal setengah mati. Dengan wajah merah padam gadis ini menuju ruangan guru. Haiya~~~, pagi sekali Rika membuat laporan pada guru BP. Ckckck.


Duduk manis pada barisan pertama. Bae nggak merepotkan Ayahnya yang sedang bertugas di atas podium. Namun kehadirannya membuat atensi para mahasiswa pecah. Ini kali pertamanya ikut ke kampus, pesona seorang Bae sungguh nggak main-main.


Berkedip seperti bola lampu soak, Bae tersenyum saat seorang gadis cantik menoel pipinya.


Bocah ini nggak protes saat gadis lain mengusap kepalanya. Biasanya saat sedang keren seperti ini, Bae akan protes saat penghuni kediaman Charlotte menyentuh rambutnya yang sudah tertata rapi.


Jung merasa di abaikan. Banyak dari mereka yang lebih memperhatikan Bae ketimbang dirinya.


"Ehem!. Apa saya sudah nggak tampan lagi di mata kalian?." Pertanyaan Jung, sontak membuat ruangan itu riuh.


"Dia menggemaskan sekali pak" ujar salah seorang gadis, yang berada di dekat Bae.


"Oh ya. Apa kalian mau melihat dia marah?."


"Mau!!" ujar mereka serempak.


"Riko, coba kamu usap kepalanya."


"Dia malah akan tertawa pak. Dari tadi saya ngusapin rambutnya nih" gadis cantik itu melakukan apa yang Jung perintahkan pada Riko. Dan benar saja, Bae tertawa senang.


Jung juga ikut tertawa. Dasar bocah!! kecil-kecil sudah mengerti dengan lawan jenis.


"Itu karena kamu perempuan. Coba kalau cowok yang pegang kepalanya. Dia akan langsung marah."


Riko jadi penasaran. Dia melangkah mendekati Bae, namun belum sempat dia memegang rambutnya bocah itu sudah melompat turun dari kursi yang di duduki.


"Bweekkk!!" Bae bahkan menjulurkan lidah kepada Riko, meledeknya dengan wajah menggemaskan. Melenggang seperti pinguin menghampiri Jung.


Seisi ruangan kembali riuh, mereka mentertawakan tingkah lucu Bae.


To be continued...

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.


Salam anak Borneo.


__ADS_2