Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Surprise!!!


__ADS_3

Saat pusat kehidupan tengah terjebak dalam angan-angan semu, mampukah bertahan menyaksikan sepasang manik yang meng-embun itu semakin sendu?.


Greta kembali menyeka air mata sang Mamah. Beberapa detik yang lalu wanita paruh baya itu menanyakan sang Papah. Mengatakan bahwa keadaan sang Papah baik-baik saja, sempat mengukir senyum di wajah sang Mamah. Namun, saat menyadari bahwa Hanan bukanlah suaminya, Victoria kembali histeris. Jemari bergetar sang anak gadis, menyeka anakan sungai yang jatuh tanpa permisi itu. Sungguh hatinya sangat sakit, mengapa kebodohan sangat nyaman bersarang dalam diri sang Mamah.


Meraih jemari sang Mamah, kedua matanya menatap kosong. Menghabiskan beberapa waktu bersamanya, sudah berkali-kali Greta menyaksikan ekspresi yang berbeda-beda


"Apa kamu makan dengan baik?" kesadaran kembali singgah padanya, dan bertanya tentang keadaan sang putri.


Lekas menyeka air mata itu"Iya, tentu Mamah. Lihatlah, aku sehat dan bugar kan. Aku makan dengan baik, sampai aku mengkhawatirkan berat badanku." Bohong!!. Tubuhnya mengalami penurunan berat, di gerogoti beban dalam pikiran.


"Nak, maafkan Mamah. Jadilah gadis yang kuat, pilih jalan terbaik dalam hidupmu. Jangan tersesat seperti Mamah ya Sayang."


Nasihat Victoria bertepatan dengan usainya jam mengunjungi pasien. Sempat tertegun akan sikap normal sang Mamah, nyatanya saat di giring kembali ke dalam Victoria tertawa terbahak-bahak.


Menyusuri halaman rumah sakit jiwa yang terletak jauh di ujung kota. Greta bahkan tak mengabari Yohan kali ini. Meski di terima baik oleh keluarga sang Papah, juga mendapatkan sahabat-sahabat yang baik seperti Nari dan teman-teman. Nyatanya sosok sang Mamah tak pernah menghilang dari pikirannya. Selalu ada rindu terselip di dalam kalbu, meski sikap dan kesalahannya di masa lalu telah menjatuhkan air muka Greta.


"Naik ojek ke sini, sepertinya kamu punya uang yang banyak ya." Sosok tinggi tegap itu mengejutkan Greta.


Semilir angin sore menyapa paman dan keponakan itu. Melambaikan surai mereka dengan sangat lembut, bersama gemerisik pepohonan di sekitar mereka. Sepasang manik indah Greta menatap Yohan lekat. Sejujurnya, rasa percaya pada sang paman belumlah sepenuhnya, mengingat perlakuan berbeda Kakek dan Nenek nya pada sang paman dan Mamahnya.


"Paman, boleh aku memelukmu?."


Tanpa menjawab, Yohan merentangkan kedua tangannya. Greta langsung masuk dalam pelukannya, dan menangis sejadinya.


Pundak gadis itu bergetar hebat, dan Yohan membiarkannya terus menangis. Senyum yang selalu menghiasi wajah seorang Greta, ternyata hanyalah topeng belaka. Di balik semua itu ada hati yang terkoyak, hati yang menjerit di balik gelak tawanya.


...****************...


Memasuki mobil milik keluarga Charlotte, Hanan dan Marina di haruskan memakai penutup mata. Amir sempat keberatan, saat melihat Charlotte hendak menutup kedua mata Hanan dengan kain berwarna gelap.


"Aku nggak mungkin mencelakai pria sebaik Hanan" sangat tau betapa Amir menjaga sang Tuan, meski tak lagi kaya raya, Charlotte memaklumi sikap Amir padanya.


Hanan tertawa tanpa suara, jawaban Charlotte pasti membuat Amir kehabisan kata-kata. Dan sepertinya itu benar, sebab nggak terdengar lagi suara Amir di belakangnya.


Nenek Letta sempat merasa khawatir, takut kejadian naas di masa lalu terjadi kembali. Saat Hanan terjebak hutang piutang, ada banyak penagih berbadan besar dan bertutur kata kasar menyambangi kediaman mereka. Menculik Hanan secara terang-terangan di hadapannya. Dan saat pulang, Hanan sudah babak belur.


William membisikan rencana mereka pada Letta. Rasa tenang kini mengikis rasa takut"Maafkan aku yang sempat meragukan kalian."

__ADS_1


Bisikan Nenek Letta di angguki William.


Setelah sampai di pusat kota, terdengar riuh rendah suara pemakai jalanan. Terdengar pula suara musik dari berbagai aliran, silih berganti di sepanjang perjalanan mereka setelah sampai di pusat kota. Hanan menanyakan akan kemana mereka, Charlotte hanya mengatakan"Teruslah bertanya, aku nggak akan mengatakan hendak kemana kita."


"Charlotte---- kalian merencanakan sesuatu bukan?."


Senyum Papah dari tiga putra-putri dengan tabiat random itu tak terlihat oleh Hanan, juga Marina. Merasa nggak mendapat jawaban, Hanan dan Marina pun mengikuti jalan rencana mereka. Mereka yakin ini bukanlah hal buruk.


"Naikan kaki mu sedikit" ujar Sook menggiring Marina memasuki ruko baru mereka.


"Awh!" pekik Hanan, sebab kakinya salah melangkah.


"Perlahan saja. Tumben kali ini kamu nggak sabaran sekali" canda Charlotte.


Hanan kembali tertawa.


Nari dan Kai yang semula mengira akan segera di nikahkah, terlebih bagi Nari, kini telah siap dengan terompet pesta mereka.


Nari mencibir saat mengetahui kejutan ini bukanlah tentang pernikahan mereka. Dan Joen, sangat nggak bisa menahan diri. Bibir manyun Nari mendapat sambutan hangat jemari Joen.


Bagaimana bisa Kai membantu, sedangkan yang menyerang Nari ada dua orang, Joen dan Jung. Dirinya yang sendiri bisa apa?. Bisa-bisa dia juga bakal jadi korban kenakalan dua Tuan muda usil.


"Manja!. Ngebet banget pengen nikah. Tau bahwa ini bukan tentang pernikahan kalian, kamu langsung manyun. Kamu nggak senang Ayah dan Ibu mertua bakal mendapat kejutan?." Melihat kedua tangan di dada, seraya bersandar di dinding, Jung sok cakep saat mengomeli Nari.


"Andrea!!."


Andrea mengangkat tangan"Maaf ya bontot. Aku cuman bisa nyenengin suamiku. Sedangkan mengganggu mu adalah kesenangannya."


Senyum jahat Andrea, membuat Nari memberengut.


"Ghina!!."


"Jangankan menjinakan suamiku. Kamu nggak lihat Bae seperti badut kelebihan baterai."


Ya!. Ruangan itu di penuhi balon berwarna-warni, Bae meronta ingin di lepaskan. Saat di lepaskan, Bae menangkap balon-balon itu dan menggigitnya. Alih-alih takut karena balon meledak, Bae justru tertawa terbahak. Andrea dan Ghina sungguh terhibur dengan tingkah Bae yang berbeda dari bocah kebanyakan.


Para generasi muda ini langsung sigap saat para orang tua telah tiba.

__ADS_1


1


2


3


"Surprise!!!" teriak mereka di iringi dengan terompet pesta. Kembang api kertas meletup di udara, menghujani Hanan dan Marina yang sudah tak menggunakan penutup mata.


"Apa ini William?!" tanya Hanan saat melihat nama dari Cafe tersebut. Maha Cafe.


"Marina dan Hanan Cafe" sahut William.


Sook, Charlotte dan William menyerahkan tempat itu kepada pasangan suami istri tersebut. Banjir air mata seketika terjadi. Di awali dengan penolakan Hanan, suasana menjadi haru saat William menceritakan kebaikan Hanan di masa lalu.


Di sambung dengan Charlotte dan Sook yang juga menceritakan kebaikan Hanan. Hingga terungkaplah di hadapan anak-anak, bahwa gaun pengantin yang di pakai Ghina dan Andrea saat menikah, adalah rancangan Hanan. Yang sudah pasti juga di pakai Sook ketika di nikahi Charlotte.


Juga saat Jung kecelakaan. Memiliki golongan darah yang langka. Kecocokan itu di temukan pada golongan darah Hanan. Hanan muda rela melakukan perjalanan panjang demi memberikan darahnya kepada Jung kecil. Mengingat itu derai air mata Sook semakin deras.


"Aku hanya ingin menjadi manusia yang berguna untuk manusia lain. Dan aku nggak ingin menjadi manusia yang mengarapkan imbalan dari kebaikan itu."


Jung baru mengetahui hal ini. Tentang kecelakaan itu masih membekas dalam ingatan, tapi dia tak tau tentang bantuan Hanan.


Bruk!!"Terimakasih Om." Jung langsung memeluk Hanan.


Mengusap pucuk kepala Jung"Aku hanya perantara, semuanya adalah kuasa sang maha pencipta."


Sungguh berbudi mulia. Para anak muda nggak menyangka sebesar itu kebaikan Hanan untuk keluarga mereka. Juga Andrea, dia baru tau bahwa Hanan penyambung cinta sang Papah dan mendiang sang Mamah.


Lagi-lagi ingin menolak, Jung dan Andrea gegas meminta Hanan untuk menerima hadiah tersebut.


Setelah melalui drama panjang, surat menyurat kepemilikan ruko itu di berikan kepada Hanan dan Marina. Rasa syukur itu tak henti-hentinya mereka ucapkan kepada sang maha pencipta. Apa yang kau tanam, akan kau tuai di lain hari. Jika itu kebaikan, maka bersiaplah untuk menerima kebaikan di kemudian hari. Dan jika itu keburukan, makan keburukan pula yang akan di terima di kemudian hari.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.


Salam anak Borneo.

__ADS_1


__ADS_2