
Tangisan Bae memecah kesunyian pagi itu. Kediaman Charlotte kembali riuh karena teriakan si kecil dengan suara dahsyat. Begitu lengket dengan Jung, meski sudah menghabiskan malam bersama Jung dan Andrea, Bae kesal karena Jung mandi nggak mengajak dirinya.
Mainan berhamburan di setiap sudut kamar Jung dan Andrea. Bocah itu sengaja menyeret troli mainannya, untuk mengacaukan kamar Ayah dan Bunda.
Jeritan Bae semakin kencang, saat Jung terlihat memakai setelan, sepertinya pak dosen hendak menjalankan tugasnya pagi ini.
"Tenangin dong Bang!. Kepagian bikin Bae konser" Joen meminta Jung untuk bertindak. Padahal sejak tadi Jung sudah berusaha menghentikan amukan Bae. Sedangkan Joen, menjaga jarak dari putranya sendiri. Kenapa?. Sebab Bae menggigit lengan Joen, saat hendak memisahkan dirinya dari Jung.
"Sayang Bunda, kita jalan-jalan keluar ya" bujuk Andrea.
"No!!" tolak Bae mentah-mentah.
"Mamah mau ke supermarket. Bae temenin Mamah ya" Ghina mencoba membujuk Bae lagi. Setelah sebelumnya gagal melakukan hal itu.
"No!" ujar Bae lagi.
Joen duduk di lantai, dengan penampilan berantakan. Bagaimana enggak, mimpi itu bahkan belum selesai saat Bae menjerit. Teriakan di sertai tangis sang putra membuat Joen meloncat dari tempat tidur.
Menggendong bocah yang semakin pintar itu"Ayah mau ke kampus. Sebentar lagi Ayah harus sudah berada di sana. Bae tunggu Ayah di rumah ya" Jung memutar bola mata ke atas, sedang berpikir"Hemmm, kurang lebih tiga atau empat jam, Ayah akan pulang."
"No!" mengerti atau enggak dengan waktu yang di katakan Jung, Bae nggak mau berpisah pagi ini dari sang Ayah.
Nyonya Sook darang dengan cemilan yang banyak"Hei tampan. Nenek punya banyak cemilan, semua ini kesukaan Bae kan."
"No!" langsung menolak tawaran Nenek.
Sungguh tak berbantah. Bae berpegang erat di tubuh Jung, takut di tinggalkan.
Melirik arlogi sekilas, Jung akhirnya bersuara"Ghin, mandiin Bae dulu. Biar aku bawa saja dia ke kampus."
"Hahaha" wajah sedih itu kini ceria dalam hitungan detik. Sangat mengerti dengan perkataan orang dewasa, Bae meronta minta di turunkan.
Sebelum di bawa Ghina untuk di mandikan, Bae mengangkat jari kelingking di hadapan Jung"Jangan pergi dulu."
"Ayah janji, nggak akan tinggalin Bae" Jung tersenyum seraya menautkan jari kelingking meraka. Ketika perjanjian telah di sah-kan, jangan coba-coba untuk mengingkarinya. Apalagi janji dengan bocah seperti Bae.
"Mandi sama Papah ya" Joen merasa cemburu. Sebegitu lengket nya Bae dengan Jung.
"No!" lagi, Bae menolak Joen. Akh!! rasanya perih sekali sang hati, mendapat penolakan dari putra sendiri.
Melipat kedua tangan di dada"Ckckck, sungguh malang. Pagi-pagi sudah di tolak." Ledek Jung.
"Hais!!. Pake pelet apa sih Bang, sampai Bae segitu lengketnya sama Abang!."
__ADS_1
"Pelet??. Kamu pikir Bae itu ikan?" wajah menyebalkan ini, sangat mengesalkan.
Sebelum perang terjadi, Nyonya Sook lebih dulu menghentikan pertikaian dua putranya.
"Buruan mandi, atau mau Mamah yang mandiin?."
Joen ngacir dari hadapan Nyonya Sook. Udah dewasa, gila aja mau di mandiin.
Perginya mereka dari kamar itu, menyisakan Andrea dan Jung saja"Pulang dari kampus mampir ke tempat tante Manda ya."
"Order apa lagi?."
"Kamu marah ya aku sering order makanan akhir-akhir ini?." Andrea menekuk wajah, mengambil duduk di tepi ranjang.
Jongkok di hadapan Andrea"Hei, siapa bilang aku marah. Aku cuman mau tau kamu pesan apa. Nanti pas di tanya aku malah nggak tau makanan apa yang mau aku ambil, nggak lucu kan. Nanti aku di cap sebagai suami nggak perhatian sama istri."
Menangkup wajah sang suami dengan kedua tangan, Andrea kini tertawa"Aku pesan telur daun jeruk."
Makanan apa lagi itu? Jung baru mendengarnya. Pria ini mengusap punggung tangan istrinya, yang masih berada di wajahnya.
"Makanan istimewa. Sangat enak, aku sampai nagih banget sama hidangan itu."
"Baiklah, kalau itu menyenangkan mu, Sayang" meski nggak mengerti makanan seperti apa yang di pesan Andrea, Jung akan tetap mengambil pesanan tersebut. Nggak lama setelah Jung selesai bersiap, Bae pun juga telah selesai bersiap diri. Nggak kalah dari Jung, bocah ini terlihat begitu modis.
Dia memakai kacamata kebesaran, milik Jung.
"Kan sudah besal."
"Belum. Masih perlu beberapa tahun lagi sampai kacamata ini bagus Bae kenakan. Untuk sekarang nggak usah pake dulu ya" Ghina coba membujuknya.
"No!" jemari Bae menunjuk Jung"Mau sama seperti Ayah". Pak dosen kerap mengenakan kacamata saat ke kampus, dan hal itu yang membuatnya begitu ingin memakai kacamata.
"Nanti Papah Joen akan membelikan kacamata yang pas buat Bae. Untuk sekarang nggak usap pake dulu ya" bujuk Andrea jua.
"Ayah jangan pake juga" ujarnya.
Seraya melepaskan kacamata itu, Jung meraih tangan Bae"Oke. Hari ini Ayah nggak akan pake kacamata ke kampus, biar sama seperti Bae."
"Yeeei!!" seru Bae senang.
Dua pria beda generasi itu menuruti tangga, dan menuju meja makan. Di sana sudah ada Nari dan kedua orang tua mereka. Sedangkan Joen menggiring di belakang Jung dan Bae.
Nari menggoda Bae yang sudah rapi sepagi ini. Bocah itu menggigit jari Nari, tepat pada jari yang terkena pisau kemarin. Sontak sang Nona muda menjerit.
__ADS_1
"Hahha, makanya jangan usil sama putraku!" Joen bangga karena Bae nggak mudah di tindas.
Nari menatap tajam pada Joen"Anaknya nakal kok bangga."
"Hus!. Kamu yang usil duluan" kali ini Jung bersuara.
"Abang~~~."
"Stop!!. Bisa nggak sehari aja kita makan dengan tenang?." Ucapan sang Tuan besar, membuat mereka terdiam. Hanya ada lirikan tajam di antara mereka.
...#Flashback kemarin sore#...
Fay memakan sup itu dengan lahap. Ikbal yang mengajari pun nggak kebagian, hanya sekedar icip sedikit nggak di perbolehkan Fay.
"Enak?."
Fay mengangguk. Meski enggak dengan senyuman, tapi mereka semua tau bahwa Fay menyukai masakan Arin.
"Kami belanja bareng lho. Butuh perjuangan banget untuk bikin sup itu. Syukur deh kalau kamu suka."
"Hem, makasih" ujar Fay memutar bola mata, jengah.
"Ambilin minum dong" sengaja, Fay meminta kepada Arin.
"Ikbal kan paling dekat sama minuman. Kok nyuruh aku?!."
"Terus gunanya kamu ke sini apa?." Owh! Arin begitu ingin menjambak rambut Fay. Sayangnya dia masih lemas. Ngomongin rambut, ini cowok meskipun sakit kok masih cakep aja. Rambutnya nggak lepek, natural memancarkan pesona, terlihat semakin menarik dengan bare face nya.
Eh!!. Duhai pikiran!!. Kenapa kamu terpesona dengan seorang Fay!. Arin mendengus, merutuki batin yang meronta memuji Fay.
Terlihat terpaksa, Arin memberikan minuman itu kepada Fay. Senyum itu, sungguh menyebalkan bagi Arin, sebab Fay terlihat merasa puas mengerjainya.
"Ya sudah, ayo kita pulang" ajak Arin.
Para cewek bergegas untuk pulang. Setelah mendoakan kesembuhan untuk sang sahabat, mereka pun undur diri dari kediaman sang pembuat onar, Fay.
Seperginya mereka, Ikbal masih penasaran dengan rasa sup olahan Arin. Secara yang ngajarin kan dia, rasanya nggak afdol kalau nggak ngerasain hasil olahan murid sendiri.
"Huwekkk!!!, asin banget!!!."
"Hahaha, ngotot pengen nyobain sih" terkekeh Fay melihat Ikbal.
To be continued....
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
Salam anak Borneo.