Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Hukuman menanti


__ADS_3

Ketenangan dan kedamaian, tengah singgah di sebuah ruangan yang cukup besar. Di lantai teratas dari sebuah bangunan kokoh itu, di sanalah ruangan tempat Tuan Charlotte bekerja. Usai meeting bersama para petinggi di perusahaan, rasa lelah itu sejenak menghampiri, namun sejurus kemudian perlahan sirna usai menyesap secangkir kopi.


Memutar kursi kebesaran sambil menatap lautan bangunan tinggi di sekitarnya, pria paruh baya itu menarik napas dalam. Jung.... bagaimana kabar sang putra pertama itu? apakah dia merasa betah di kediaman William?. Ada sedikit sesal di dalam dada, telah memisahkan putra-putri nya itu, meski hanya untuk beberapa waktu. Tengah memikirkan para keturunannya, sang gawai nampak bergetar. Oh, dia lupa mengaktifkan mode dering pada sang gawai.


"Halo?," sahut Tuan Charlotte. Mulanya, wajah tua yang masih tersirat gurat tampan itu nampak tenang. Tapi....


"Hah??, Naria bolos sekolah?," Tuan Charllote mencoba memastikan  kabar yang baru saja dia terima. Dia enggak menyangka si bontot berani bolos sekolah. Lama-lama ni anak bisa bikin dia naik darah.


"Iya Tuan. Ada siswa yang melihat dia meloncati tembok belakang sekolah," suara Pak Ibrahim terdengar jelas di ujung telpon.


"Loncat tembok??, maksudnya...Nari memanjang tembok??," kali ini dia semakin terkejut dengan kelakuan anak gadis nya.


"I---iya Tuan. Maaf kami lengah dalam menjaga siswa dan siswi kami," Pak Ibrahim merasa gagal dan kecolongan karena ulah Rivan dan Nari hari ini.


Tangan kiri Tuan Challote mengelus dada, berusaha menenangan detak jantung yang mulai cepat"Terimakasih atas informasinya, Pak. Silahkan berikan dia hukuman besok, ketika masuk sekolah kembali."


"Tapi Tuan----."


"Nari memang bandel, saya nggak akan membela dia kalau memang salah," Tuan Charllote tau betul bahwa Pak Ibrahim, merasa nggak enak hati kalau harus memberikan hukuman kepada Nari. Meskipun itu bukan sekolah yang dia dirikan, namun donatur terbesar dari sekolah itu adalah Tuan Charllote sendiri.


Setelah menyakinkan Pak Ibrahim untuk menghukum Nari, Tuan Charllote menelpon Nyonya Sook yang sekarang jelas sudah berada di toko bunga.


"APAAAA ??!," pekikan Nyonya Sook melambungkan Ghina, yang berada nggak jauh darinya.


"Nenek kenapa?," melihat Mamahnya hampir terjungkal, karena kaget dengan pekikan sang Nenek, si kecil Bae mendekati Nyonya Sook dengan tatapan penuh tanya.


"Tante kamu, dapat ilmu baru dia," lenguhnya seraya menenangkan diri. Sama seperti sang suami, dia menepuk-nepuk dadanya menahan amarah"Nariaaaa, nakal banget sih jadi anak cewek!!," menggeram, dengan suara tertahan.


"Kencang amat Mah teriak nya, kaget Ghina. Memang Nari kenapa lagi."


"Bolos sekolah," tangan nya sibuk mencari-cari ponsel. Dia berniat menghubungi nomor Nari, anak gadis gesrek yang berulah lagi itu. Tuan Charlotte pasti akan mengadakan ceramah gratis lagi di kediamannya! khususnya untuk mencuci telinga anak gadis yang Kelakuannya sangat keterlaluan. Joen sama Jung saja nggak pernah bolos, giliran dia pake acara manjat tembok pula! kerasukan setan cicak apa gimana sih tu anak!.


"Buset!! sejak kapan Nari berani bolos sekolah, salah informasi kali, Mah," kedua mata Ghina berkedip cepat. Wajah kaget nya membuat bibir nya membentuk huruf ' O ' besar.


"Pihak sekolah yang ngasih tau. Ada saksi juga yang liat Nari manjat tembok sekolah. Heran deh tu anak manusia apa cicak sih!."


"Manjat-----," Ghina semakin terperangah. Naria memang kelewat nakal kali ini"Otak nya geser kali tu anak," batin Ghina berkata-kata .


"Onty nakal?," tanya Bae.


Nyonya Sook menganggu saja. Rasa terkejut itu masih membuatnya shock.


"Sabar," menepuk tangan Nenek yang sedang kalang-kabut karena telepon nya nggak tersambung kepada Nari.


"Nenek sabar kok Bae. Bae main lagi ya," sebisa mungkin dia tersenyum kepada cucu semata wayangnya. Dan dengan patuh Bae kembali sibuk bermain sendiri."


"Bolos sendiri, Mah?."


"Nggak tau nih, Ghina. Ck! si Nari kok matiin ponsel nya sih. Wah bosan hidup nih anak. Pengen Mamah ulek-ulek rasanya!."


...✒✒✒✒...


"Parah kamu, Van!! Kamu juga, Nar. Kok mau aja di ajakin bolos sama ni anak, Beh! gimana kalau orang tua kamu tau?. Yakin nggak di omelin nih?," ujar Bisma sembari menarik sepucuk rokok yang di biarkan Keano, tergeletak di saung pinggir pantai tempat mereka berkumpul sekarang.

__ADS_1


"Entahlah, Bis. Semoga nggak di laporin sama Papah aku deh. Baru sekali ini juga. Lagian Rivan nih ngajakin bolos mulu. Di Instagram nggak ada komentar lain, selain ngajakin bolos, aku kan jadi penasaran."


"So? gimana rasa nya. Biasa aja kan?. Lain kali jangan di ulangin ya, kalau kamu di hukum gimana dong?."


"Kunyuk!! asap nya jauhin dong! Kasihan Nari nih kena asap rokok kamu!," Keano menegur Bisma yang santai ngeroko di sebelah Nari.


"Angin kenceng begini bro, sebelum kena Nari asap nya keburu di tiup angin kali," Bisma nggak bergeming dari tempat nya.


"Sok ngasih wejangan, seperti dia nggak bolos juga," cibir Rivan. Dia merebahkan diri  dan menatap langit biru nan cerah. Sesekali dia menyibak rambut yang tertiup angin pantai.


Pletak!!


"Kita kan laki, cok!. Bandel dikit nggak pa-pa," bogem mentah mendarat di kepala Rivan.


"Pe'ak!! mulut boleh kek tong sampah, nggak maen fisik juga kali, Nyet," sentak Rivan.


"Suka-suka Nari dong mau gimana-gimana. Sok perhatian, cih!," decih Rivan dengan tatapan tajam.


"Besok Nari pasti di hukum, gila!!. Kamu memang racun nih, otak di pake buat mikir, bukan buat menuhin kepala doang," ketus Keano.


"Sok perhatian!," cibir Rivan cuek bolak-balik di dipan saung.


"Ish!! sudahlah, Kean. Besok kita bakal di hukum bareng kan, jadi aku ada temen nya kok. So, kita nikmati aja bolos hari ini," seperti nggak ada beban si Nari santai sekali berbicara.


"Nah bener tuh, ayo kita cari makan. Tinggalin deh dua manusia sok bersayap putih ini. Pengen muntah denger perhatian palsu nya." Rivan beranjak duduk dan menyambar tas Nari, dia siap melarikan Nari dari hadapan Keano dan Bisma.


"Serah congor kamu deh Van, mau ngoceh seperti apa," Bisma cuek menikmati sepucuk rokok itu.


"Jangan maruk kamu!!, aku juga pengen deket-deket Nari, tau!," gumamnya di depan wajah Rivan. Bau-bau persaingan mulai tercium.


"Aku yang ngajakin, enak aja pengen ikutan gabung!," decih Rivan kasar.


"Bukan pacar kamu juga kan!!."


"Bentar lagi jadi pacar aku, somplak!!," Rivan balas bergumam di depan wajah keano.


Mereka terus berargumen dalam bisik-berbisik.


"Bis, Kita aja deh yang cari makan. Sepertinya mereka berdua lagi mesra banget tuh," sarkas Nari.


"Amit-amit, say," Rivan bergidik.


"Cih kayak kamu cakep aja," balas Keano.


"Lanjutin deh mesra-mesraan nya. Yuk Nar kita cari makan," Bisma seperti ketiban duren. Di antara persaingan ketat Keano dan Rivan, ternyata dialah pemenangnya. Dia dan Nari ngacir berdua menyusuri tepi pantai, menuju deretan kedai-kedai yang menjual berbagai menu makanan laut.


"Bisma sialann!!, kamu sih ribet amat ngajakin berantem segala," Rivan kesal dan menendang kaki Keano.


"Hiss!! katanya jangan maen fisik, Cok!!," Keano meradang. Dia balas menendang kaki Rivan pula.


"Akh!!, aku ikutan jadi gila ngumpul bareng kamu!," Rivan ngacir menyusul Bisma dan Nari. Enggak berapa lama Keano menyusul langkah mereka.


Siang itu mereka makan dengan lahap. Menyantap berbagai menu makanan laut. Keano dan Bisma memang lagi hoky hari ini, saat Bisma hendak membayar makanan Nari bilang biar Rivan aja yang bayar.

__ADS_1


"Aku bayarin makan kita bedua aja, sayang," ujar Rivan menarik beberapa lembar uang dari dompet nya.


"Sekalian aja kali, Van. Masa aku doang yang kamu bagi dosa, hari ini kita bagi rata dosa-dosa yang kita lakuin hari ini," ejek Nari teringat dari mana sumber duit segepok yang memenuhi dompet Rivan.


"Bah!! roman-roman nya duit panas tuh, Van," ucap Bisma.


"Congor bebek, sudah di kasih makan juga," sergah Rivan. Dengan terpaksa dia membayar semua makan dan minum mereka di kedai itu.


"Sama ini deh," Keano mencomot beberapa jajanan ringan dan di ikuti Nari dan Bisma.


"Wah sungguh terlalu kalian, Ini mah nama nya aku di rampok."


"Eleh!!, itu kan duit rampokan juga," sindir Nari.


"Ckckckck--- tunggu ye itu bibir, ngoceh mulu bakal aku sosor," ancam Rivan.


"Nih!! coba aja," sanggah Keano dengan kepalan tangan.


Kang kedai tersenyum riang ketika mereka menguras dompet Rivan dengan mengambil bermacam makanan ringan di kedai nya. Nggak peduli mau duit panas atau duit anget, yang penting mereka bayar.


...✒✒✒✒...


"Nari ngapain ya sekarang?," Febby termenung di hadapan Arin. Enggak terasa jam istirahat kedua telah tiba. Mereka benar-benar di buat jantungan hari ini. Dari mereka para sahabatnya, hingga mereka-mereka para fans Nari.


"Kamu nggak neriakin Nari, Hen??," Kini Hendro sang saksi mereka interogasi di sudut sekolah. Sudah seperti preman pasar yang lagi malakin para pedagang nih, mereka berjejer mengelilingi Hendro yang duduk terpaku di sebuah kursi.


Hendro bukan diam karena takut dengan amarah mereka, dia lebih kepikiran dengan keadaan Nari sekarang.


"Gimana kalau Rivan macem-macemin Nari?, itu anak kan otaknya konslet," ujar Zaid khawatir.


"Kamu sih, Hen!!, telat ngasih taunya," rundung Ikbal.


"Bahaya tau kalau temenan sama Rivan. Akkh!!! Nari pasti lagi nangis sekarang," ujar nya lagi menduga-duga.


"Lah nangis kenapa?, Rivan nggak bakal nyakitin Nari kan?," ucapan Ikbal membuat Hendro semakin menyesali keterlambatannya.


"Semoga aja deh," sahut Zaid dengan perasaan ketar-ketir.


"Nomer nya juga nggak bisa di hubungin loh," Fay yang jongkok di pojokan sibuk mengutak-atik ponselnya. Berkali-kali menekan nomor Nari, namun cuman mbak Veronika yang menjawab.


"Nomer Rivan deh, ada nggak?."


"Aku nggak punya, Vin," jawab Fay.


Kevin mengacak rambut nya kasar"Aku denger Pak Ibrahim sudah ngasih tau Papah Nari lho guys, gimana dong?."


Kata-kata Kevin membuat mereka semua semakin khawatir. Terlebih lagi Hendro, kalau saja dia lebih cepat saat itu. Hadeehhh~~~~.


To be continue...


~~♡♡ Happy reading . Jangan lupa like vote Fav dan komen ya teman ^,^ .


Salam anak Borneo.

__ADS_1


__ADS_2