
Musim cinta itu sepertinya telah tiba, sebab kebahagiaan selalu menyelimuti hati Sang Nona muda. Berlari kecil sembari melompat-lompat, Nari terlihat begitu senang saat memasuki kediamannya. Uang jajan kembali terpenuhi, sikap Papah dan Mamanya kembali seperti dahulu lagi, dan abang durjana telah kembali tinggal di kediaman ini, bagaimana sang hati nggak terlampau bahagia.
Euforia kebahagiaan itu masih meledak-ledak di dalam dada, namun karena ini sedang berada di kediamannya, Nari menahan diri untuk tidak meloncat-loncat karena gembira. Dia menggantinya dengan bersenandung, sesekali bernyanyi sebait dua bait kemudian bergumam. Bahkan sang Nona muda ini mendadak menjadi artis kamar mandi, dengan percaya diri mengambil nada tinggi saat bernyanyi di dalam sana.
"Aish!! berisik banget si nenek lampir. Pake konser segala!." Joen melempar ponsel baru itu ke atas ranjang, bergegas melangkah ke kamar Nari.
Buk!! buk!! buk!!, Bukan terdengar seperti sedang mengetuk pintu, ini lebih terdengar seperti orang memukul pintu itu dengan keras"Oi siluman nyai ronggeng, berhenti dong nyanyinya!!. Pales banget!!!."
Nari bukan gak mendengar teriakkan Joen, sebab hal ini memang sudah menjadi kebiasaan. Di saat dirinya bernyanyi, pasti ada saja yang melayangkan protes kepadanya.
Merasa diabaikan, Joen Nggak kehabisan akal. Dia memasukkan Bae ke dalam kamar Nari. Karena tubuh gembul sang putra, Joen sempat terhuyung saat bergegas membawanya ke kamar Nari.
"Bae, mau main nggak?."
Dengan polosnya si kecil Bae mengangguk.
Joen memperlihatkan mainan mobil mini milik Bae"Kita main petak umpet ya. Papah bakal umpetin mainan ini. Kalau Bae bisa menemukannya, Papah bakal beliin mainan mobil pemadam kebakaran. Mau?."
"Mau!!!" seru Bae. Namun dengan segera Joen meletakan jari telunjuk di bibirnya"Syuuttt?!!, jangan keras-keras. Kita sedang menjadi agen rahasia, jangan sampai onty Nari tau ya."
Lagi-lagi Bae mengangguk polos.
"Sekarang tutup matanya, Papah umpetin mainan ini dulu. Awas! Bae nggak boleh ngintip!!."
Jempol sang bocah terangkat naik, tanpa suara. Dia paham betul untuk jangan membuat keributan.
Usai menyembunyikan mainan itu, Joen membiarkan Bae mencarinya, tentu di dalam kamar Nari. Kamar yang terlihat rapi dengan pernak-pernik berwarna ungu.
__ADS_1
"Selamat bertugas agen Bae. Pimpinan Joen akan memantau dari markas sebelah ya" ujarnya mulai berlakon, seperti aktor di film-film laga.
Dan lucunya Bae meletakan tangan di kening"Siap lasanakan" ujarnya setengah berbisik, dengan lidah yang sesekali terpeleset saat bicara.
Pintu di tutup, Joen melenggang dengan riang ke kamar. Melanjutkan permainan di dunia online.
Sementara itu di kediaman Kai. Pemuda ini nampak terkejut saat pulang mendapati kediaman mereka sedang di hias.
"Kita akan merayakan kembalinya Ayah." Nenek Letta beralasan. Sebuah alasan yang masuk akal, sebab sejak kembalinya Hanan keluarga ini memang belum mengadakan perayaan.
Ada begitu banyak bunga-bunga di ruang tamu. Langit-langit ruang tamu juga dihias dengan untaian bunga-bunga yang cantik. Beberapa hidangan juga mulai tersaji di meja, Mereka menggabungkan tiga meja besar, sehingga dapat menampung banyak orang untuk makan bersama. Beruntung kediaman sederhana ini cukup luas, setidaknya mereka masih bisa merayakan kebersamaan ini di dalam ruangan, alih-alih di pekarangan, langit terkadang nggak bersahabat beberapa hari ini.
Cleo datang dengan cemilan di dalam toples, Kai menghentikan langkah. Atensinya tersita pada cemilan itu, rasanya itu bukan buatan sang Ibunda. Dan sepertinya itu cemilan mahal, Kai sering melihatnya di supermarket, dengan banrol harga yang bisa membuat kantongnya menjerit.
"Ibu yang bikin?" bertanya seraya mencomot cemilan.
Memperhatikan para pekerja itu, Kai merasa familiar dengan mereka. Mereka pelayan di kediaman Charlotte, ya! Kai sangat mengenal mereka"Mr.Zak" ujarnya. Tukang kebun itu menoleh kepada Kai.
"Nak Kai, baru pulang ya?."
Mengangguk dengan hati bertanya-tanya"Anu----apa yang membawa Mr kesini. Maaf, bukan bermaksud apa-apa, hanya saja yang saya tau Mr dan yang lainnya pekerja di kediaman Tuan Charlotte." Ujar Kai melangkah mendekati Mr.Zak, sementara Cleo berlalu meninggalkan ruangan itu.
"Iya, kami diperintahkan Tuan dan Nyonya untuk mendekorasi tempat ini. Ini kan acara sahabat Tuan dan Nyonya, mereka hanya ingin membantu." Sangat lancar menjawab pertanyaan Kai, sebab sebelumnya mereka telah mengatur segala kemungkinan yang terjadi, salah satunya jawaban atas pertanyaan Kai tadi.
Pemuda ini mengangguk"Baiklah, saya mandi dulu. Setelah itu saya akan membantu di sini."
"Oh nggak udah Nak Kai. Lebih baik Nak Kai istirahat saja. Serahkan pekerjaan ini kepada kami, dengan Nyonya Letta sebagai mandornya. Iya kan Nyonya?" ujar Mr.Zak melirik kepada Nenek Letta.
__ADS_1
Nenek Letta tersenyum, kemudian berjalan ke arah Kai, menarik sang cucu untuk pergi dari ruangan itu seraya berkata"Mr.Zak benar. Kamu baru datang, pasti masih capek. Nanti kalau acara akan di mulai kami akan memanggilmu, untuk bergabung bersama kami di sini merayakan kepulangan Ayahmu."
Titah si cantik ini sungguh nggak bisa Kai tolak. Dia pun pamit undur diri, masuk ke kamar dan segera membersihkan diri. Sejujurnya kata lelah itu memang ada. Bahkan setiap hari dia selalu kelelahan. Kuliah di sambi dengan bekerja, berkejaran dengan waktu sudah biasa baginya. Di tambah dengan menyempatkan diri untuk menjemput Nari, sesibuk apapun dia selalu menyempatkan diri, sebab rasa lelahnya akan sedikit berkurang saat melihat senyuman sang Nona muda. Berlari kecil seperti anak kecil menyongsong dirinya, Kai selalu terkekeh menyaksikan adegan itu.
"Bolehkah aku mengundang Greta" tanya Hanan. Saat Kai datang dia sedang membicarakan hal ini dengan Karlina, di kamar mereka.
Karlina bukanlah wanita yang egosi. Kalau harus membawa Greta tinggal bersama mereka, dia nggak keberatan. Tapi karena sudah ada Yohan, niat awal Hanan itu urung di lakukan.
Meraih jemari sang suami"Mas, kamu kepala keluarga. Nggak perlu menanyakan hal itu, kamu pemegang kendali dalam keluarga ini."
"Enggak, kita saling melengkapi, bukan aku yang memegang kendali penuh. Kita harus bicara dan bertukar pendapat sebelum memutuskan sesuatu." Hanan mengusap punggung tangan Karlina, yang sedang menggenggam jemarinya.
"Kamu masih Hanan ku yang dulu. Hangat dan sangat pengertian."
Mengusap pucuk kepala Karlina"Tapi Hanan mu ini membuat kita jatuh dalam kemiskinan."
"Mas! kita nggak miskin. Kita juga nggak kaya. Namun dalam kesederhanaan ini kebersamaan kita sudah cukup membuat kita merasa kaya."
Lagi-lagi air mata itu hendak jatuh, sungguh besar hati seorang Karlina. Rasa penyesalan di dalam dada Hanan seperti nggak ada habisnya. Membawa sang istri ke dalam pelukan, dan berjanji akan menjadi suami yang baik untuknya dan Ayah yang baik pula untuk anak-anak mereka, hanya itu yang bisa Hanan lakukan.
"Undang Greta ke sini, Mas. Dia pasti sangat merindukanmu."
Hanan mengangguk, kemudian berkata"Terimakasih Marina, kamu anugerah terindah yang aku miliki."
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya.
__ADS_1
Salam anak Borneo.