
Di taman kota Nari sedang menunggu kedatangan Kai. Mereka berencana menghabiskan waktu bersama di malam minggu ini.
Jam 17:00, Nari mulai gelisah.
17:45, nomor ponsel Kai nggak bisa di hubungi.
19:30, Nari lelah menunggu. Dia kesal dan meninggalkan tempat itu.
Sesampainya di rumah dia mencoba menghubungi nomor Kai lagi, dan masih nggak bisa di hubungi.
Esokan harinya nomor Kai sudah dapat di hubungi, namun sikap Kai berubah drastis. Dia yang semula hangat berubah dingin, juga terkesan ingin cepat menyudahi obrolan singkat dengan Nari di telepon kala itu. Sebagian wanita yang menjunjung tinggi harga dirinya, Nari nggak ingin memaksaka Kai buat bersikap hangat lagi padanya, toh dia sudah bertanya namun Kai selalu bilang semua baik-baik saja.
Tak terasa lima hari sejak petemuanya gagal itu terjadi. Dan sejak saat itu pula hanya beberapa kali mereka berbalas pesan. Itupun jika bukan Nari yang memulai mengirim pesan, maka si Kai itu nggak bakal duluan menghubungi Nari. Ssemesta seakan memberikan Nari hukuman, seakan ingin memberikan pelajaran kepada Nari tentang bagaimana rasa kerinduan.
Mood bagusnya perlahan menghilang, dia menjadi Nona Nari yang semakin pemarah dan garang. Apalagi terhadap dua pembuat onar di kediamannya.
"Duhai Nona Nari yang cantik jelita, jika ada resah dan gelisah sudikah anda membaginya kepada saya?," layaknya seorang dayang, Arin berlenggak-lenggok sambil bicara di depan Nari.
"Lebay, !aku nggak pa-pa." Perkataan Nari berbanding terbalik dengan sikap nya. Membuat Arin semakin penasaran, pasti ada sesuatu yang terjadi dengan Nona muda ini.
"Aku kamu anggap apa sih??," tiba-tiba Arin bertanya dengan nada kesal.
Nari yang sudah sangat tertekan semakin merasa terpojokan. Terdengar helaan napas berat, sebelum akhirnya Nari mulai berbicara jujur"Aku memang nggak baik-baik saja. Aku menahan beban yang sangat berat Rin," beban itu mulai di bagi pada sang sahabat, semoga saja dapat mengurangi risau di dalam dada. Gundah da gulana sang hati tercurahkan kepada Arin, dan Arin menyimak dengan seksama.
"Jadi, kamu terserang penyakit MALARINDU toh," lagak Arin mendiagnosa sang Nona muda.
Dengan wajah sendu Naria mengangguk.
"Tahu kan sekarang, gimana rasanya waktu si kembar kamu cuekin?."
"Akh!!! ayolah Rin, jangan nambahin beban di dada aku dong. Iya deh aku nyadar kalo aku salah, terus aku harus apa?," dadanya terasa sesak, terasa sulit untuknya bernafas.
"Begitulah Rindu. Kan udah di bilangin sama babang Dilan, kalau rindu itu berat guyyss!."
Nari membenarkan perkataa Arin. kutipan dari babang Dilan memang nggak salah.
__ADS_1
"Coba deh kamu telpon sekarang," usul Arin bersandar bokong di sudut meja, dengan tangan di lipat di dada.
"Malu."
Arin terkekeh dengan sebuah kata yang keluar dari mulut Nari.
"Ya udah. Terus aja Malu, gengsi, jaim, atau segala perasaan apalah itu. Biar kamu nggak bisa tidur, biar kamu uring-uringan---."
Mata Nari mendelik menatap tajam sahabatnya"Kamu nyumpahin aku?!."
Seketika Arin tertawa"Ya kaga sih, Non. Kamu sih pake sok kalem. Seharusnya kamu harus maju! diam di tempat nggak akan mengantarkan kamu kepada tujuan. Orang," timpal sang konsultan cinta abal-abal ini.
Otak kecil Nari berpikir dengan keras, setelah di telaah ada benarnya juga ocehan si Arin.
"Aku coba telpon ya, tapi kalo di angkat aku ngomong apaan?."
"Bilang aja kangen."
"Heiisshh!!," Nari nyaris menjitak kening ukhti sintingnya.
"Seriusan dong, Rin,!," Nari menghentakan kaki saking kesalnya.
"WOI!!," si manis Febby nongol,"Di cariin sampe ke seluruh penjuru sekolah!! aku juga rela mampir ke perpustakaan yang menyeramkan itu demi nyariin kalian. Aku hampir saja mencari kalian lewat pengeras mushola sekolah."
"Dasar manusia anti buku!!," celetuk Arin menepuk bahunya bokong Febby. Sedangkan gadis itu, tertawa nyengir saja.
"Ya elah!, nambah lagi satu si biang kerok. Kalau nggak bisa bantu mending kamu angkat kaki dari sini," keluh Nari.
"Gimana jalannya kalo aku di suruh angkat kaki?, terbang? ilmu Kanuragan ku belum khatam!."
Arrrghh!!!Nari bertambah frustasi"Nggak sanggup deh, aku menyerah saja. Nih kamu aja deh Rin yang nelpon, serah deh mau ngomong apa. Itu juga kalo di angkat," benda persegi panjang itu terlempar ke pangkuan Arin.
"Kok aku sih!!!," jerit Arin.
Mereka yang sedang duduk santai di taman sekolah sedikit menarik perhatian beberapa siswa yang lewat. Tampang Nari yang biasanya ceria kini berubah muram, mendadak jadi bahan gosip cewek-cewek julid yang anti kepada Nari.
__ADS_1
...****...
Di lain tempat, seseorang yang di rindukan Nari sedang terbaring di sebuah kamar yang sepi. Sebuah kecelakaan menimpanya beberapa hari yang lalu.
Kai mengalami kecelakaan dalam perjalanan menemui Nari. Sebuah truk menyerempet nya, menyebabkan Kai hilang kendali dan akhirnya motor pun oleng, menabrak tiang pembatas jalan.
Kai mengalami cidera di kakinya, dia perlu menggunakan tongkat sebagai alat bantu untuknya berjalan. Sayangnya jemari tangan kanannya mengalami keretakan, dalam kejadian itu tangannya tertimpa stang motor dengan keras.
"Trttt!!," Nari calling.
Lagi, Kai hanya memandang panggilan itu. Memangnya dia harus ngomong apa?, sudah jelas Nari akan mengomel dan memakinya. Terlebih saat sang dia bercerita tentang Nari pada sang ibu, wanita itu mewanti-wanti Kai untuk berkaca"Siapa yang tidak tahu dengan Nona cantik itu, namun kamu harus tahu diri, kita bukan lagi orang terpandang. Semua berubah setelah ayahmu tiada."
Seperti mendapat tamparan keras, Kai seketika sadar pada hati siapa cintanya hendak berlabuh, dan rasa sesal semakin merajai diri Kai ketika menyadari keadaan tangannya, dia bisa apa dengan tangan yang cidera itu?? menggenggam jemari Nari? hei!! jangan berharap terlalu indah!.
Lantas, bagaimana dengan Kuliahnya??.
Lantas, bagaimana dengan kerja paruh waktunya??.
Jika bukan dia yang bekerja, siapa yang akan menanggung hidup ibu, adik dan neneknya?. Ada begitu banyak pikiran yang berdesakan si kepalanya.
Untung saja pihak penabrak bersedia bertanggung jawab, biaya rumah sakit dan perbaikan motornya di tanggung mereka. Mereka juga memberikan uang kompensasi atas bencana yang menimpa Kai.
Sekali lagi ponsel degan layar retak itu kembali berdering"Akh!! apakah ini teguran dari semesta, benar kata ibu, aku nggak berkaca sebelum akhirnya benar-benar jatuh hati sama kamu, Nar," perasaan insecure itu datang menghantui Kai lagi.
Pemuda ini dulunya anak seorang pengusaha kaya, namun sejak sang ayah meninggal, kemerosotan terus menggerogoti kehidupan mereka. Terlebih ternyata sang ayah memiliki sejumlah hutang, mau tidak mau ibunya membayar hutang tersebut demi meringankan beban sang suami yang telah tiada. Banyak harta yang di tinggalkan, banyak pula hutang yang harus mereka tanggung, beruntung sang nenek masih bersedia menampung mereka, yang tiada tempat untuk bernaung lagi. Rumah yang mewah, kendaraan yang banyak, semua habis tak bersisa.
Seiring berjalannya waktu, Kai kecil bertekad untuk menjadi orang sukses seperti mendiang sang ayah, dengan menjadi orang terpelajar tentunya. Belajar dan belajar, itulah yang kerap Kai lakukan di sela-sela waktu luangnya, hingga terbentuklah seorang Kai yang memiliki otak cerdas. Dia kuliah di Universitas Charlotte dengan beasiswa. Demi mengejar keinginan untuk bersekolah, dia rela kuliah sambil bekerja paruh waktu demi menambah uang sakunya.
Kai bekerja sebagai kurir pengantar paket. Dia sering mengantar paket buku-buku ke perpustakaan di sekolah Nari, dan saat itulah awal mula Kai jatuh hati kepada Nona muda dari keluarga Charlotte.
Nari seperti bintang yang bersinar terang di langin nan tinggi, karena ketamakan atas nama cinta Kai memberanikan diri untuk meraihnya. Tanpa dia sadari bintang nan bersinar terang itu memiliki pantulan cahaya yang dapat membutakan kedua matanya.
To be continued...
~~**♡♡Happy reading.jangan lupa like,vote dan komen**
__ADS_1
Salam anak Borneo.