Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Nge-reog


__ADS_3

Tawaran endorse semakin bertambah, baik Kai atau pun Nari. Pundi-pundi uang pasangan ini semakin bertambah, dan mereka semakin giat bekerja.


Seperti yang pernah Charlotte katakan, dia berniat mengajak Gibran untuk bekerja sama. Melebarkan sayap di bisnis kosmetik pria dan wanita, selain Gibran, Charlotte juga telah lama melirik Kai.


Keinginan ini di ungkapkan kepada Hanan terlebih dahulu. Sang Ayah menyerahkan keputusan kepada Kai, jika itu baik maka dia akan selalu memberikan dukungan.


"Papah, kok nggak pakai Jung aja" si dosen, sudah banyak uang masih melirik ladang usaha orang lain. Nari langsung mencubit lengannya, karena berniat mengambil kesempatan untuk Kai.


"Kasar banget sih. Untung cewek, kalau kamu cowok sudah lama Abang geprek."


"Papah!!. Abang pikir Nari Ayam mau di geprek!!" melaporkan kejahatan Jung langsung pada sang Papah, rasanya ada sensasi menyenangkan tiada tara.


"Bercanda doang!" lekas Jung meralat laporan Nari.


Charlotte melirik tajam pada mereka berdua, entah sampai kapan bocah-bocah ini berselisih. Jarang sekali akur.

__ADS_1


"Pah, kok kasih ke Kai?" Jung mengulangi ucapannya tadi.


"Karena Kai lebih cocok. Kalau muka kamu keputihan!!."


Entah itu hinaan atau pujian, Jung tersenyum masam menanggapi perkataan sang Papah. Memang, tone kulitnya paling putih di dalam keluarga ini. Sedangkan Kai, sedikit gelap dan terlihat lebih sehat. Karena ini iklan kosmetik pria, maka Charlotte menjatuhkan pilihan kada Kai. Kalau ini iklan kosmetik wanita, mungkin Jung yang akan menjadi model nya.


"Udahlah Bang!. Abang sudah sangat terkenal. Kasih jalan buat Kai dong!!."


menahan gemas"Si cebong!!. Bisa diam nggak sih?!!." menggeram Jung di hadapan sang Papah.


Pusing melihat tingkah mereka, Tuan Charllote memilih angkat kaki dari sana. Terserah merema mau berantem, jambak-jambakan, atau gigit-gigitan, dia sudah terlalu pusing menghadapi putra putri doyan berkelahi.


"Papah!!" bukan Nari, tapi Jung yang berteriak meminta pertolongan. Nari seperti zombie menggigit lengan Jung tanpa ampun. Kedua mata Jung memerah namun Nari nggak peduli.


"Bilang ampun nggak?" hardik Nari. Meski kecil pengalaman membekalinya dengan berbagai ilmu beladiri nggak jelas. Dalam sekejap Jung berhasil di lumpuhkan, entah bagaimana cara Nari menggelung Jung dengan selembar syal panjang. Dari tubuh hingga ke tangan, Jung kewalahan meladeni Nari yang bar-bar.

__ADS_1


"Aku yakin Kai bakal lari tunggang langgang kalau melihat kamu berubah jadi Nenek lampir seperti ini" Ghina datang sebagai penolong Jung.


"Bodo amat!. Abang tuh pengen ambil job Kai, dia nggak mikir nanti yang ngasih makan aku siapa kalau bukan Kai?."


Usai mengomel, Nari pergi dari kamarnya. Menenangkan diri di bawah guyuran shower.


"Masih bocah, SMA aja belum lulus, udah mikirin jatah makan nanti setelah menikah" lirih Jung.


"Abang kayak nggak tau Nari. Dia kan cinta mati sama Kai. Sudah tau kalau marah bakal nge-reog, Abang malah pengen gangguin usaha Kai. Untung Ada Ghina. Andrea sama Mamah lagi di taman, ajak main Bae. Nggak tau deh Abang bakal jadi apa."


"Huh!! awas aja. Aku bakal balas Nenek lampir itu" alih-alih menyesal, Jung malah berniat balas dendam.


"Akh!! terserah deh" Ghina segera pergi dari hadapan Jung.


To be continued..

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.


Salam anak Borneo.


__ADS_2