Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Senandung Naria


__ADS_3

" 🎢🎡🎼🎡🎢 Du ~ Du ~ DU ~ .."


"Hem hem ~~~ ". Nari bersenandung kecil sembari menyisir helai rambutnya yang kini nampak semakin panjang.


"Rambutku mulai panjang, apa harus ku potong sepundak lagi?," gumamnya memantau keseluruhan badannya di cermin Fullbody berbingkai ungu.


"Non, sarapan sudah siap," suara bibi An terdengar sayu dari balik pintu kamar.


"Oke bi!," sahutnya. Sepertinya semangat Nona muda Charllote sedang bagus-bagusnya pagi ini. Ada apakah gerangan?.


🐧 Flashback tadi malam 🐧


πŸ“© :"Selamat malam kak Nari," sebuah pesan tanpa nama masuk ke aplikasi gelembung hijau.


πŸ“¨ :"Selamat malam juga," balasnya tanpa banyak bertanya. Palingan juga adek kelas, Kan bilangnya kak Nari.


πŸ“© :"Kak Nari ramah banget, nggak pengen tau siapa aku?."


πŸ“¨ :"Adek kelas kan."


πŸ“© :"Kok tahu kak!?." Sang pengirim pesan menyematkan emot ikon dengan ekspresi terkejut.


πŸ“¨ :"Santai aja emotnya, memang ada yah temen sekelas manggilnya kakak?."


πŸ“© :"Ekh, benar juga tu kak. Hehehe belakangan aku sering gagal fokus sih. Pikiran sama badan sering misah-misah."


πŸ“¨ :"Eh buset!! Kamu orang apa bukan? Manusia mana yang pikiran sama badan bisa misah? please! jangan horor deh."


πŸ“© :"Hehehe, maksudnya nggak sinkron kak. Itu hanya kata kiasan doang. Intinya semenjak melihat kak Nari aku sering gagal fokus kak."


πŸ“¨ :"Hebat ya! belum kenal sudah ngegombal, anaknya siapa kamu?."


πŸ“© :"Anaknya calon mertua kak Nari, nanti di masa depan."


BUAKAKAKKA!! Nari ngakak dengan melempar ponselnya. Gila anak-anak jaman now!!.


"Ngapain Nek? tolong dong kalau ketawa volumenya di kecilin dikit. Si Bae baru aja bobo ganteng, noh!," tegur Joen yang kebetulan aja lewat depan kamar Nari yang nggak di tutup.


"Nek !! Nek!!, nggak tau kan kalau setiap hari fanboys Nari makin nambah," gerutunya kesal.


"Lagian Si Bae udah bisa bobo ganteng segala. Jangan di ajarin yang aneh-aneh deh bang, kasihan cewek-cewek masa depan entar di PHP-in Bae melulu!."


"Lah, memang anakku ganteng kan? huh! nggak bangga di kasih ponakan super imut, unyu-unyu, ganteng dan baik hati seperti si Bae!," Joen kini nangkring di depan kamar Nari. Niatnya mau ke dapur buat ambilin Ghina minum malah tertunda.


"Baik hati dari mana? ganas begitu. Tapak dewanya aja bisa bikin abang menjerit kan."


"Sudahlah, buruan pergi! Nari lagi tebar pesona di dunia maya. Nggak mau Nari sedih-sedih lagi, kan?," Nari mendorong tubuh Joen menjauh dari muara pintu.


"Eleh!! berlagak sok kasih nasehat supaya Bae jangan tumbuh jadi cowok kang PHP, lah sekarang kamu apaan coba?. Aku dapat laporan dari teman kantor,katanya kamu Php-in adeknya," sanggah Joen di depan pintu.


"Hah? siapa bang!," tanya Nari. Waduh! masa dalam jangka waktu satu tahunan doang dia sudah terkenal jadi kang PHP sih. Dia nggak sejahat itu kali.


Joen meletakan jari telunjuknya di kening, seolah lagi mikir keras"Heem, adeknya Budiman. Tapi lupa-lupa ingat gitu nama adek nya."


"Di ingetin aja Kak jangan di lupain!," paksa Nari. Penasaran banget siapa sih yang bilang dia kang Php.

__ADS_1


"Udin!," jawab Joen.


Nari melengus kesal"Oh, si udin sekomplek. Bilang suka aja kaga pernah!, mending seperti Fay and Friends terus terang sama perasaanya. Udin mah memang sering nyengir-nyengir kalau Nari senyumin. Ya elah di gituin doang udah di bilang Kang PHP. Cemen dia mah."


"Eh, sebucin apa sih para orang gila yang naksir kamu?," Joen mendekati Nari. Dia membolak balik wajah Nari kekiri dan kekanan.


"Oi sinting!! ini muka, bukan ikan kering berjemur, pake di bolak-balik," tegur Nari kesal.


"Muka pas-pasan gini kok banyak yang suka tu lho, aneh!," Joen menoyor pipi Nari.


"Ini udah malam ya bang Joen, jangan sampai kita berantem lagi," ibarat gunung, Kepala Nari sudah mau meletus nih gegara nahan emosi di rendahin Joen. Padahal mereka satu pabrik kan, kok doyan hina-hinaan sih.


"Kasih bukti dong!!," Joen masih nyolot.


"Yang, ngapain sih?," Ghina yang risih mendengar obrolan unfaedah mereka menegur Joen.


"Kamu lupa kasih obat laki kamu, Ghin? eror lagi nih otaknya," sahur Nari kesal.


"Kak Ghina!! panggil dia kak Ghina!!," tekan Joen.


"Kami seumuran mas bro!," Nari balas menekankan kepada Joen.


"Aduh, entar bang Jung keluar lhoo. Sudah deh Yang, lagian aneh tahu kalau Nari manggil aku kaka," Ghina menarik lengan Joen"Aku haus, buruan ambil minumnya."


"Untung Tuhan maha adil, bang Joen di kasih bini waras. Coba kalau di kasih bini edan juga, bisa berabe papah sama mamah ngurusin kita."


"Sana deh!!," buru Nari lagi.


"Ugh!!, cepetan lulus sekolah, cepetan punya laki. Biar aku aniaya laki kamu," gemas Joen dengan langkah terseret ke dapur.


Tring!!, notif aplikasi gelembung hijau berbunyi lagi.


"Korban baru?," lirik Ghina pada ponsel Nari.


"Iya," sahutnya senang.


"Ckckck, sekali-sekali pacaran lagi deh, Nar. Masa hanya karena si Ka---."


"Stop!!, tolong jangan sebut cowok yang nyama-nyamain nama member Exo itu. Please !!".


Ghina tertawa geli. Nari yang sempat terluka karena cinta kini ceria kembali, karena saran gila dari dia sendiri. Sebenarnya waktu itu Ghina hanya asal bicara, ternyata Nari serius menanggapinya.


"Aku nyesel ngasih kamu saran dulu, Nar," celetuk Ghina.


"Oi, tidak ada penyesalan datang dari awal. Hihihi, aku justru makasih banget lho, kamu sudah kasih saran bagus begini. Aku jadi banyak teman yang ngertiin aku, Ghin. Meskipun aku tahu mereka niatnya buat merebut hati aku doang," ada sedikit kesedihan terpancar dari raut wajahnya.


"Hus hus!!, jangan mewek!," tegur Ghina.


"Sudah akh! aku balik ke kamar."


"Makasih kakak Ghina," goda Nari.


"BWEEEKKK!!, geli tahu!," sahut Ghina dari depan pintu kamarnya.


...🍁🍁🍁...

__ADS_1


"Kok nggak di balas ya?," pikir seseorang yang lagi duduk melamun di balkon kamar.


"Apa sudah ketiduran?," di liriknya arlogi yang melingkar di tangan kiri.


"Baru jam sembilan, alim banget kak Nari kalau jam segini sudah bobo cantik."


πŸ“© :"Jangan bawa-bawa mertua. Harus jelas nih kamu cewek apa cowok? aku nggak mau ya, kalau calon suami aku di masa depan ternyata cewek!."


"Ahahah, receh juga ni cewek," ujarnya setelah membaca pesan balasan Nari.


πŸ“¨ :"Di jamin lelaki tulen kok kak."


πŸ“© :"Perkenalkan diri baik-baik ya adek manis."


"Ciah kalau begini aku rela jadi bucinnya selama sisa hidup ku," melihat di sebut manis oleh Nari, pemuda itu berseru girang.


πŸ“¨ :"Perkenalkan kak, aku Hendro. Anak kelas 10 bahasa."


πŸ“© :"Ow, anak bahasa ternyata."


πŸ“¨ : "Memang kenapa kak? Ada story sama anak bahasa juga?."


πŸ“© : "Enggak sih, sama aja kita."


πŸ“¨ : "Kirain kak. Mungkin sudah takdir kita satu jurusan kak."


πŸ“© :"Maksudnya?."


πŸ“¨ :"Biar nggak susah ngungkapin perasaan kita lewat berbagai kata kak. Cukup pandang-pandangan aja kita akan mengerti pikiran satu sama lain. Itulah yang namanya bahasa cinta."


"KWKWKWKWKKW!!!," gelak tawa Nari kembali pecah. Kali ini Jung yang terusik dengan gelak tawa Nari.


Dor dor dor!!! pintu kamar Nari di gedor kasar.


"Somplak!! ngakaknya ngeri amat. Lagi berubah wujud jadi Nenek sihir ya?," teriak Jung dari depan pintu.


"MIANHAE!!," balas Nari berteriak. Dia sangat malas membuka pintu, pasti Jung akan mengunyel-unyel mulutnya deh, seperti yang biasa Jung lakukan kalau sebel liat Nari ngomel-ngomel.


"Awas kalo berisik lagi! Besok pagi aku balas berisik kamu!," ancamnya.


"Enggak Oppa!! jinja mianhae." Bisiknya di sela pintu yang dia buka sedikit. Nampak Jung dengan rambut berantakan, menatap dingin kepadanya .


Tangan abang tertua itu mengambang di atas kepala"Ugh!! gemes pengen geplak congor kamu!."


"Hehehe, sorry!!," Nari cengengesan dengan pose tangan membentuk huruf V.


To be continued...


~~β™‘β™‘Happy reading . Jangan lupa like , Vote , Fav dan komen ya teman ^,^


Salam anak Borneo.


...Hendro...


__ADS_1


__ADS_2