
Di kediaman William...
Setelah sang putri semata wayang menikah, Tuan Wiliam menjalani hari-hari dengan sendrian.
Sedih? pasti dong, namanya juga anak atu-atu nya. Tapi Andrea adalah anak cewek, setelah menikah dia sudah menjadi hak suaminya seutuh nya.
Namun telepon di pagi buta yang datang dari sahabat sekaligus besannya itu, mengejutkan Tuan Wiliam.
"Jangan-jangan Andrea berulah di sana.."
"Apakah Andrea yang ngebet minta pulang?."
"Mereka berantem??."
Bermacam prasangka berkecamuk di dalam pikiran pria paruh baya itu.
" Aku hampir gila setiap pagi harus menjadi wasit di tengah pertempuran anak-anak ku, yang sudah dewasa tapi berjiwa childkids ini".
Mendengar itu ada rasa lega di hati Tuan Wiliam, berarti kesalahan bukan datang dari putrinya.
"Hemm, aku senang. Apa kamu tau betapa merana dan kesepiannya aku setelah Andrea menikah?," curhat colonganlah Tuan Wiliam itu. Perbincangan mereka terus berlanjut hingga beberapa menit kedepan.
"Bibi Ida, bersihkan kamar Andrea. Mereka akan tinggal di sini untuk beberapa waktu. Nanti siang mereka akan tiba."
Perintah Tuan Wiliam mengundang kegaduhan di dapur"Iya Tuan, siap laksanakan!!," seru bi Ida penuh semangat.
"Ibu!! Tuan Jung akan tinggal di sini, guys!," pekik Imah bahagia.
"Waduh! aku harus sering-sering pake skincare nih," kata Bi Ida memegangi wajahnya.
"Bu---," tegur Imah berwajah datar. Emak-emak kalau mendengar bakal kedatangan cowok ganteng, langsung lupa sama umur. Imah, sebagai anak merasa nggak di anggap, lantaran emak nya mendadak ngerasa muda lagi.
"Hohoho, ini demi kebaikan ibu juga kan, Mah. Santai song, Ibu nggak akan nikung Nona Andrea. Lagian nggak mungkin banget, kan?!."
"OMG, sepertinya akan heboh tiap hari," Hana yang sedang mengepel lantai ikutan nimbrung.
"Harus cari tau menu kesukaan Tuan Jung."
Perkataan Atun ada benar nya. Mereka sibuk membayangkan wajah Jung yang akan mereka lihat setiap hari. Imah dan Atun jejeritan seperti kucing kejepit pintu. Kehebohan mereka mengundang perhatian para pekerja laki-laki di sana.
Selain Tuan Wiliam dan para bibi-bibi gaul, di kediaman Wiliam juga ada para pekerja lelaki yang siap siaga.
"Heboh amat!," tegur Tono. Kedatangannya mengejutkan Atun, sang kekasih.
"Si ayang bebep nongol nggak bersuara, aku kan jadi deg-degan," sahur Atun salah tingkah. Jangan sampai Tono mendengar ocehan bucin mereka tentang Jung barusan, bisa cemburu nanti.
"Huh, sok manis. Itu mulut kiloin aja sama kang madu sono," lenguh Tono, rupanya ocehan mereka sudah sampai di telinga Tono, hatinya pun menjadi kesal.
"Hahahha, kapok kamu, Tun," ejek pekerja lelaki lain.
"Eh, makan apa kita pagi ini?," si satpam duduk manis di meja dapur.
__ADS_1
"Sayur asem and friends," sahut Bi Ida.
"Panggil yang lain deh, hari ini kita kedatangan Nona muda, jadi makan yang banyak biar full stamina dalam menyambut kedatangan Nona kita," titah Bi Ida.
Mereka jelas sangat merindukan Andrea. Bukan mereka nggak pernah bertemu lagi semenjak Andrea menikah, hanya saja Andrea jarang menginap di sana.
"Iya, Tuan sudah bilang tadi sebelum berangkat," sahut Udin.
Kebersamaan mereka di meja makan dapur layaknya keluarga besar yang sedang makan bersama. Tuan Wiliam adalah majikan yang sangat baik dan menghargai kerja keras orang-orang nya. Mereka rutin makan tiga kali sehali, dan di minta menjaga rumah layak nya rumah sendri. Keramahan nya patut di acungi jempol.
...๐๐๐๐...
Nari duduk termenung di perpustakaan.
"Mulai hari ini bang Jung sama kak Andrea akan tinggal di kediaman Om Wiliam," terdengar berat Nari membuang napas panjang. Seperti ada beban berat banget di dalam hati nya, ucapan sang papah dua hari yang lalu terus terngiang di kepala.
"Naria, sudah ku bilang kan, kalau ada masalah berat bagi sama aku aja masalah nya," tepukan hangat mendarat di pundak Nari, Fay si biang kerok berseliweran lagi di sekitar Nari.
Nari cuek, dia membuang muka ke luar jendela. Nampak anak-anak basket sedang beraksi di lapangan outdor.
"Iya tau, Zaid cakep maksimal."
"Muka oke, dompet tebel, tubuh tegap, pokok nya boyfriend material banget kan." Celoteh Fay sarkas, sebenarnya nggak rela memuji rival cintanya itu.
"Apaan sih, nggak nyambung," sungut Nari beranjak dari duduk nya.
"Eh, kamu berdiri mereka bubar lho," ujar nya lagi.
"Akh...!!!," pekik Fay memegangi dada.
"Ada yang sakit tapi nggak berdarah. Tolongin dong neng," tangannya hendak menggapai Nari yang menjauh dari nya, sementara Nari sedang malas meladeni pria satu itu.
Nggak menyerah begitu saja dia pun mengejar Nari lagi"Pulang bareng ya."
"Aku di jemput."
"Curang!, kemarin jalan-jalan sama Zaid, masa aku mau pulang bareng nggak mau?!," ujarnya ketus. Terungkap sebuah alasan mengapa Fay terlalu bucin hari ini, kedua tangan nya menyilang di dada dengan wajah tertekuk cemberut.
"Aku lagi nggak mood berdebat ya, Fay. Please tinggalin aku sendiri," Nari duduk lagi di sudut perpustakaan. Dia nampak sedang menanggung beban berat di hati.
"Hm, cerita deh. Aku janji akan normal beberapa saat buat dengerin curhatan kamu."
"Iya deh yang ngaku gila, aku bakal cerita ya."
"Nggak gila juga kali Nar, cuman kadang-kadang otak aku nggak sinkron sedikit kok," sahut Fay nyengir.
"Hihihi..., kamu tuh ya paling bisa bikin aku ketawa," kekeh Nari"Aku nggak pa-pa kok."
"Beneran?, tapi kelihatan banget kamu lagi galau lho. Seperti menahan beban mendalam gitu, seperti lagi nahan rindu sama aku gitu."
"Hahahah," Nari kembali terkekeh"Urat malu kamu sudah putus? PD banget jadi cowok."
__ADS_1
"Urat aku sudah di sumbangin sama paman bakso, lumayan kan buat nambahin beliau bikin bakso urat."
"Nggak lucu, Fay!!," seru Nari memukul lengan Fay, dan mereka terkekeh lagi.
"Eh bebs, kemarin jalan kemana sama Zaid?, hupfhh kamu diam-diam nyimpen foto dia?," ekspresi wajah Fay ini seperti bunglon, detik ini bahagia, detik berikut nya cemberut. Bikin Nari pusing menyesuaikan emosi sama ni anak.
"Aku punya banyak foto kalian kok, bukan cuman Zaid doang. Kalian semua tuh moodbooster aku. Seperti sekarang, kamu bisa bikin aku ketawa-ketiwi."
Seketika wajah Fay berbinar-binar"Berarti kamu punya foto aku juga dong?."
Nari mengambil ponsel nya dan memosting Foto Fay ke laman media sosial seperti yang dia lakukan pada Foto Zaid kemarin.
@Nari_Charllote18_ ..@Fay_Radian yang Uwu abis. Salah satu moodbooster aku nih. Coba kasih nilai, dia ada di tingkat cakep level berapa yaaa?."
"Nih, sudah adil kan sekarang," Nari memperlihatkan Foto yang baru saja dia post di lama Instagram pribadinya.
"Apa----apa aku benar meng-uwu kan hati kamu, Nar?,". Ada apa dengan wajah merona Fay sekarang, itu lucu sekali hingga Nari tertawa gemas.
"Ayolah Fay, wajahnya jangan merona seperti ini. Kamu seperti anak perawan di godain abang-abang tau nggak!," Nari mengacak rambut Fay gemas.
"Waw!!...acak aja Nar, acak sampai ke hati abang juga nggak pa-pa kok," pekik Fay senang bukan kepalang karena kepalanya di belai Nari, meski membuat rambutnya berantakan.
"Astaghfirullah!!," seru Febby dan Arin bersamaan.
"Ini tempat umum ya, di larang bermesraan. Ingat! ini perpustakaan neng Nari!! Ckckckck."
"Sudah seperti pasangan kan," Fay semakin senang karena ucapan Arin barusan.
"Wah bucin parah ni anak. Nggak kebayang kalau ni anak kamu buang, Nar. Bisa gila dia seperti Majnun di tinggal Laila," celetuk febby lagi. Melihat tingkat bucin Fay yang hiper banget, membuat Mereka sedikit cemas.
"Fix bakal gila aku Feb, bener dugaan kamu," sahut Fay tanpa beban.
PLETOK!!!"Somplak, jangan ngomong sembarangan ya. Aku nggak mungkin nikahin kalian semua kan!. Lagian nggak menolak kemungkinan kalau jodoh aku bukan salah satu dari kalian," hardik Nari usai menggeplak kening Fay. Dia kurang setuju dengan cara Fay mengungkapkan perasaannya. Terlalu mencintainya bukanlah sesuatu yang bagus menurut Nari.
Fay cengengesan"Hehehe, iya deh neng Nari. Aku hanya akan mencintai mu secara sederhana, dengan kata yang tak sempat di ucapkan kayu kepada api yang menjadikan nya abu."
Nari dan dua sahabat nya terdiam....
"Hohoho, gimana? uwu banget kan aku," jerit Fay bangga dengan semangat menggebu-gebu.
"Buset, manis banget itu mulut, sini aku plester aja. Nyontek puisi orang, bangga pula!!," seru Nari menghentikan gelak tawa Fay.
"Yang penting kan usaha dulu neng," sahutnya berkedip mata seperti orang kelilipan.
To be continued...
~~โกโกHappy reading . Jangan Lupa like Vote Fav dan Komen ^,^ .
Salam anak Borneo.
__ADS_1