Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Anak koki


__ADS_3

...Banyak dari kita yang diam-diam menaruh rasa kepada seseorang....


...Tanpa pernah berani mengatakannya dan berterus terang....


...Dan mereka menyebutkan nya, Cinta dalam diam....


...♡♡♡♡...


"Arin! kan aku sudah bilang kemarin, bekalnya di banyakin dong!. Lihat nih si Febby makan lebih banyak dari aku," ketus Nari yang mendapati jatah makan siang nya di gasak Febby


"Mianhae, Nona muda. Tadi pagi aku nggak sempat sarapan," ujar Febby cengengesan sembari memegangi perut kenyangnya"Perut kenyang hati pun senang, masalah Nari yang masih lapar, dia bisa beli makanan di kantin sekolah," pikir Febby sembari senyam-senyum. Memang egois nih anak kalau urusan makanan, dia paling anti dengan yang namanya kelaparan.


Berbeda dengan Nari yang sekarang berwajah masam"Hick----perut aku masih lapar rasanya," keluhnya memegangi perut yang rata.


Belum sempat Nari melanjutkan rengekannya kepada Arin, sebuah kotak makan di sodorkan seseorang kepada Nari.


Seorang cowok berambut model caesar cut, poninya yang cenderung sedikit di sisir ke samping dan ke depan secara natural, dengan senyum manis bak bulan sabit menyerahkan kotak makan siangnya kepada Nari"Nih makan bekal aku aja."


"Aku perhatikan setiap hari kalian rebutan kotak makan itu, perasaan kalian orang mapan deh, memangnya masakan ibu aku nggak cocok sama selera kalian ya?," celoteh lelaki kece itu yang tidak lain adalah Ikbal, anak bibi Ijah si koki kantin sekolahan.


"Kamu belum pernah ngerasain bento yang di bikin ayah Arin," sungut Nari memutar-mutar kotak makan yang di serahkan Ikbal kepadanya.


"Makanannya jangan di putar-putar, coba nikmati aja bekal aku itu," ucap ikbal lembut, begitu tenang meredakan rengekan Nari. Kini dia duduk di samping Nari dengan menarik kursi di meja sebelah"Ayo dicoba dulu."


"Tapi Ikbal, kalau ini aku makan terus kamu makan apan? lagian ini sama aja kan dengan menu yang ada di kantin, aku bisa pesan makanan kantin kok," gadis manis itu menyodorkan kembali kotak makan kepada sang empu.


"Beda Naria! ini beda banget malah. Boleh jadi yang di kantin itu masakan ibu aku, kalau ini masakan aku sendiri," seraya membuka tutup kotak dan aroma sedap langsung menyeruak menyerang indra pencium, aroma menggiur kan itu men-candu lidah mereka untuk mengecap rasa dari masakan itu.


Konsetrasi seseorang yang sedang bermain ponsel tiba-tiba ambyar"Serius ini masakan kamu, Bal?," tanya Arin takjub. Di masukannya sang ponsel ke dalam saku, sambil menelan saliva mencium aroma yang menggoda.


"Wuah~~~, aku mendadak lapar lagi!!," pekik Febby bersemangat. Aroma itu sangat memancing selera dan membuat Febby tergoda ingin segera mencicipi suguhan istimewa dari Ikbal.


"Nooo!! ini punya aku," Nari menjauhkan hidangan spesial itu dari dua kucing lapar, yang hendak menerkam hidangan istimewa miliknya.


"Bagi atuh Nar, Jangan curang dong!," Febby memasang kuda-kuda hendak menyambil alih bekal milik Ikbal.

__ADS_1


"Aku juga mau Nar, sini dong bebs," bujuk Arin pula.


"Nonono!, ini punya aku," Nari bersikeras melindungi bento Ikbal dengan kedua tangan nya. Sepasang mata bulatnya melirik lengan Ikbal dan menariknya menjauhi mereka.


"Ayo, kamu pasti belum makan siang kan. Kita makan bareng ya." Atas kendali Naria, di bawanya Ikbal ke taman sekolah dan duduk bersama di kursi taman yang teduh. Ini seperti kencan dadakan, alhasil seluruh mata tertuju kepada dua insan manusia yang nampak seperti pasangan kekasih itu.


"Waw!!," Nari berseru mendapati hidangan yang memiliki aroma sedap itu ternyata juga memiliki tampilan yang menarik.


"Aku cobain ya?," ujarnya seraya hendak menyuap ayam goreng tepung, yang di masak kecil kecil oleh Ikbal.


"Iya silahkan. Pelan-pelan ya makannya," tutur Ikbal di iringi senyum. Helai rambut Nari bergerai menutupi pipi berisinya, Ingin rasanya Ikbal menepikan anakan rambut itu ke daun telinga sang gadis. Namun dia tak berani besikap selancang itu. Nari memang ramah tapi bagi ikbal nggak harus ber-kontak fisik sejauh itu.


Ekspresi puas Nari ketika mengunyah masakannya, membuatnya senang bukan kepalang. Wajah cantik itu begitu menggemaskan di mata Ikbal.


"Omooo~~~," kamu jago masak ternyata"Hem...., cowok seperti masuk bisa masuk daftar calon suami masa depan aku." Nari begitu santai berkata-kata, dia seolah buta dengan ekspresi terperangah Ikbal, ini bukan tentang pacar, tapi calon suami!!.


"Kamu cakep, juga pintar masak. Fix kamu idaman para cewek-cewek Ikbal. Apalagi cewek yang nggak bisa masak seperti aku."


Se-enaknya kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Nari. Tanpa berpikir efek yang akan di timbulkan oleh ucapannya. Ikbal bisa sesak nafas bahkan jantungan kalau terbawa perasaan terlalu dalam dengan perkataan tak berakhlak Nari.


Dan nyatanya, sekarang hati cowok itu sedang memantul kegirangan kesana kemari. Ikbal merasakan euporia yang nggak bisa di jelaskan dengan kata-kata .


Masih dengan mulut yang menyungah penuh makan siangnya, Nari hanya bisa mengangguk menjawab perkataan Ikbal.


"Nih, cobain sambal goreng cuminya!." spontan dia menyendokkan makanan itu ke mulut Nari.


Dengan cepat Nari mengunyah makananya dan membuka mulutnya untuk mencicipi sambal goreng cumi yang di suapi Ikbal. Begitu dekat dengan Nari, juga wajah menggemaskan sang gadis saat mengunyah makanan, sungguh menambah kadar ketertarikan Ikbal padanya.


Begitu makanan itu sampai pada indra pengecapnya"Heemm~~~~,benar dugaan aku! kamu memang calon suami idalam, Ikbal!."


"Pedasnya pas, manisnya juga," celotehnya senang bukan main. Nari seperti nggak pernah makan enak, tapi mau gimana lagi masakan Ikbal ini memang beda. Mungkin karena di masak dengan cinta kali ya.


"Benarkah?," tanya Ikbal. Dia hampir nggak percaya makanan yang di masaknya ini menjadikan hubungannya dengan Nari semakin dekat.


"Aaaa~~~," pinta Nari membuka mulutnya kembali, Nona ini meminta Ikbal menyuapinya. Begitu patuh, Ikbal seperti pelayan setia memberikan pelayanan terbaik untuk tuannya. Dan Nari sangat menikmati hal itu.

__ADS_1


"Ikbal, tahu nggak aku paling suka makanan guring pedas seperti ini. Rasanya nggak akan kenyang, aku mau lagi. Sekarang giliran kamu, ayo buka mulutnya," kali ini dia hendak menyuapi Ikbal.


"Eh!! kamu makan aja, Nar. Habiskan aja kalau memang suka," pria tampan itu mengikhlas kan semua bekalnya untuk gadis idola di sekolah itu.


"Ayo Ikbal, kita abisin sama-sama," Nari memaksa ingin menyuapi Ikbal. Tangannya menggelayut manja di lengan pemuda itu, hingga dengan terpaksa tapi mau, Ikbal menikmati saja momen makan siangnya bersama Nari dengan saling menyuapai.


Mereka tertawa dan bercanda di taman sekolah, mereka seakan lupa dengan berpasang-pasang mata yang menatap tajam ke arah mereka. Dan tanpa mereka sadari ada sepasang mata menatap gusar kepada Ikbal.


"Ugh!! jadi diam-diam si anak koki naksir kak Nari juga!!," daun bunga matahari yang nggak berdosa menjadi korban kekesalan seorang cowok bertubuh tegap. Meremat dan merobek-robek daun malang itu seperti sedang menguliti Ikbal. Mulutnya terus mengumpat dan memaki Ikbal yang sedang menikmati makan siang bersama Nari.


"Cih!! mereka pikir dunia ini hanya milik mereka? enggak malu apa, suap-suapan di tengah taman seperti itu!!," gerutunya semakin kesal. Nari menyeka sisa makanan di tepi bibir Ikbal, itu membuatnya geram.


"Hendro!!," tegur bu Desi.


Terkaget-kaget Hendro langsung berbalik menghadap bu Desi"Iya bu."


"Apa salah bunga itu hingga kamu tega merobek-robek daunnya?," tanya bu Desi garang. Secara, dia kan pecinta bunga dan segala jenis tanaman hidup.


"Eh---anu bu--- saya nggak sengaja," jawabnya terbata-bata.


"Kamu ada masalah? lagi kesal? gegitu kesalnya sampai mencabik-cabik tanaman itu!," hardik bu Desi lagi. Dia benar-benar nggak rela mendapati tanaman nggam berdosa itu kini tergeletak begitu saja di tanah.


"Maaf bu," sahut Hendro dengan nada menyesal.


"Sudah! kalau saya dapati lagi kamu men-ciderai para tanaman enggak berdosa itu, tangan kamu bakal ibu pites!," ancam bu Desi sembari berlalu pergi, dan perlahan menghilang di tikungan koridor sekolah.


"Haiss!!, tanaman aja ada yang merhatiin. Lah aku siapa yang peduli?," keluhnya gundah-gulana.


...♡♡♡♡♡...



...~Ikbal~...


Bersambung

__ADS_1


~~♡♡ Happy reading . Jangan lupa like , Vote , Fav dan komen ya teman ^,^ .


Salam anak Borneo.


__ADS_2