
...~Aku sedang menikmati waktu kita yang telah terlewatkan....
...Hingga detik ini aku belum bisa menerima kehilanganmu....
...Beberapa menit kita bersama,...
...Terasa begitu nyata dan kuharap untuk selamanya....
...Kenapa di antara jutaan manusia aku hanya bisa melihat dirimu?...
...Cinta...., bisakah kau datang ketika aku memanggil??...
...Cinta...., berapa lama kau akan bertahan di hati kecilku??...
...Seandainya dulu kau tak katakan cinta kepadaku,...
...Tak peduli seindah apa dongeng cinta itu,...
...Aku tak akan tergiur untuk mencicipinya....
...Apa yang harus kulakukan agar terhindar dari takdir ini??...
...Sedangkan hatiku masih menunggumu,...
...Masih menginginkamu,...
...Masih sangat mencintaimu~ Naria...
...❣❣❣❣...
"Seriusan Nari bakal di kawinin sama Rivan?. Gila aje tu hukuman!. Tau gitu mending aku aja yang ngajakin neng Nari bolos kemarin," seorang Fay, nggak rela banget dengan hukuman yang justru menjadi anugerah bagi Rivan.
Zaid merenung bersandar pada tiang penyangga tangga"Mimpi apa si Rivan, enak banget tinggal kawin. Kamvret!! dasar manusia durjana," mengumpat kesal. Mana
kabar itu datang dari Joen pula, sudah pasti itu kabar nggak di ragukan lagi kebenarannya.
Febby dan Arin menatap Nari yang sudah lima belas menit berjemur di bawah mentari pagi. Mereka nampak sedih melihat sahabatnya mendapat hukuman.
"Nari bandel sih!," Arin bergumam.
"Hick hick, Nariaaaa!!!," pekik Arin dengan tangan menggapai angin ke arah Nari di bawah sana.
"EHEM!!!," Pak Budiman berdiri dengan kedua tangan bertaut ke belakang, menghadap punggung para siswa yang sedang menonton Nari Cs di lapangan.
"Eh Bapak," ujar Zaid melirik, setelah mendengar kode keras dari sang guru killer.
Dengan kumis setebal sapu ijuk, Pak Budi memasang wajah datar di hadapan mereka yang sudah berbalik arah padanya"Mau sampai kapan mantengin mereka yang di jemur?, kalian mau ikutan di jemur?, atau telinganya mau saya gantungin botol?, nggak dengar bel masuk jam pelajaran sudah bunyi?, apa kurang nyaring suara bel nya??," rentetan omelan Pak Budiman begitu panjang dan lebar.
"Main Domino kali di gantungin pake botol," gumam Fay, memegangi telinga.
Zaid langsung menyenggol tangan Fay"Diem please!! mau nemenin Nari di bawah kamu??."
"Aku mah oke-oke aja selama sama Nari, bro," jawab Fay pede gila.
"Ngomong apa kamu, Fay?," hardik sang guru.
__ADS_1
Fay menggeleng cepat"Nggak ada Pak!."
Mendengar ucapan cupu Fay, Zaid mencibir"Munafik ni bocah!!," desisnya.
Fay berpura-pura tuli. Matanya berlarian kesana kemari menghindari tatapan Zaid.
...****************...
Akhirnya para siswa masuk ke dalam kelas, meninggalkan Nari Cs yang masih menunggu kepastian kapan hukuman mereka berakhir.
"Kamu nanti malam ke rumah ya, sama kedua orang tua kamu," jarinya menunjuk tepat di wajah Rivan lagi.
"Beneran di kawinin, bang?," tanya Rivan.
"Jangan bang!. Bisa hancur masa depan Nari, ini anak murid paling aktif dalam dunia bolos dan bandel," Keano nggak rela si Nari jatuh ke tangan Rivan.
Joen mendatangi Keano lebih dekat"So, siapa yang harus bertanggung jawab sama Nari?, nggak ada pilihan lain. Papah bilang Nari harus di kawinin sama yang ngajak bolos."
"Ya nggak adil juga kali bang buat Nari. Baru sekali doang kan dia bolos," tandas Bisma, rasanya nggak tega melihat Nari menderita di sisa-sisa hidupnya, menjalani rumah tangga dengan Rivan. Eh!! sampai ke sana lho pikiran Bisma ini. Ckckckkc!.
Bibir bawah Joen manyun kedepan"Keputusan Papah memang nggak sepadan sama kebandelan ni cebong," liriknya kesal kepada Nari.
"Tapi nih ya, kamu tetap harus di hukum. Pokoknya nanti malam si biang kerok ini harus ke rumah. Papah mau ketemu langsung sama cowok yang berani ngajakin kabur putri kesayangannya," Joen demen banget nunjuk-nunjuk depan Rivan. Jadi gemes kan si Rivan pengen gigit jari telunjuk Joen yang kurang ajar itu. Beruntung abangnya Nari, coba aja kalau itu orang lain, bakal di lalap tuh jari telunjuk.
Pak Ibrahim angkat bicara"Nak Joen, hukuman mereka sudah selesai. Sudah makin panas juga, takutnya mereka pada ko'id."
"Memang minta di santet ni guru. Kasihan apa bersyukur sih kita di jemur begini," Bisma mulai emosi. Panasnya mentari mulai memicu amarah di dalam dada. Andai saja yang sedang bicara itu sepantaran dirinya, sudah dari tadi Bisma mengeluarkan ajian congor bebek, bakal di hajar habis-habisan itu orang.
"Gimana---? siapa tadi namanya??."
"Nggak janji bisa datang bareng Papah bang. Kalau sama Mamah----, sepertinya beliau juga lagi marah banget sama saya."
Kedua alis Joen menukik naik meminta penjelasan Rivan"Jadi gimana jelasnya, kucrutt?!," gemas Joen.
Rivan mengendikan bahu memasang tampang pasrah.
Lagian, bakal berabe kalau harus ngajakin kedua orang tuanya. Mereka bakal mengamuk kalau harus terseret lagi dalam masalah yang dia timbulkan. Apalagi Mamahnya, dia juga sudah di hajar sang Mamah habis-habisan kemarin, gegara duit segepok yang dia bawa kabur dari dompet sang Mamah. Apalagi kalau harus bawa-bawa sang Papah. bisa-bisa si Rivan tinggal nama doang.
...❣❣❣❣...
Sebelum berangkat ke kampus, Jung mengantar Andrea ke toko bunga, sekalian nanyain kabar si nenek sihir.
"Dapat ilmu dari mana si nenek sihir pake panjat tembok segala. Pengen aku geprek tu anak," lenguh Jung menggeretakkan jemari.
"Memang ade kamu ayam, pake di geprek!," tutur Nyonya Sook sibuk melayani pelanggan.
"Jeng, cakep amat anaknya. Mantunya juga cantik banget," celetuk si pelanggan.
"Jangan tertipu sama wajah-wajah rupawan mereka," sahut Nyonya Sook melirik Jung, Andrea dan Ghina. Juga si kecil Bae.
"Hahaha Jeng Sook bisa aja, ini cucunya juga gemesin banget," tandas si pelanggan menoel pipi Bae. Itu anak langsung jaga jarak sama tante yang sok akrab kepadanya.
"Hah!!, belum tau aja kamu Jeng. Ini si anak gadis lagi bikin masalah di sekolah, cakep juga tapi kelakuan bar-bar."
"Ehem," Ghina bersuara.
__ADS_1
"Tuh kan, ngebelain komplotan somplak, kan," balas Nyonya Sook menyindir Ghina. Sedangkan Ghina cuman nyengir pasrah bersama Andrea, mereka pura-pura sibuk menata pot bunga.
"Uluh~uluh!! sabar dong Mamah terkasih tersayang tercinta, jangan cemberut gitu. Entar mukanya keriput lho," Ledek Jung. Ghina dan Andrea terkekeh dengan serangan Jung, enggak terkecuali si pelanggan.
"Mulutnya nyumpahin Mamah cepat keriput ya," hardiknya.
"Makanya jangan ceramah terus!," sahut Jung nyelongong ke dalam, mencomot cemilan di dalam kulkas. Sebelum berangkat dia ngemil santai dulu duduk depan toko bunga sambil becanda dengan Bae"nenek ngomel terus ya, Bae."
"Hu-um, sepelti aka Upin-Ipin," ucapan Bae membuat mereka terkekah mentertawakan sang Mamah lagi. Memang dah si Bae, benar-benar turunan si Jung.
Obrolan ringan dan candaan mereka berlanjut beberapa menit. Setelah mendapatkan bunga yang di inginkan, sang pelanggan pamit berlalu dari toko bunga Charllote. Jung juga langsung berangkat ke kampus, mengingat jadwal kelasnya sudah semakin dekat.
Sesampainya di kampus Jung mendapati seseorang yang nggak asing baginya. Seorang cowok duduk di bangku taman dengan wajah melongo, tatapannya lurus pada sang gawai.
Bukan Jung namanya kalau nggak kepo, dia berjalan berjinjit di belakang mahasiswa itu dan mengintip ke layar ponselnya.
Tangannya menepuk ujung topi yang di kenakan mahasiswa itu"Ya elah, kirain manyun kenapa, rupanya mandangin si cebong sawah!" sentak Jung mengejutkan sang mahasiswa.
Merasa tertangkap basah sedang memandangi foto adik si dosen, siswa itu tergagap meminta maaf pada Jung.
"Ma---maaf Pak Jung," ujarnya dengan wajah tertunduk "Saya enggak bermaksud lancang mandangin foto Naria, Pak."
Jung menepuk pundaknya"Kai, mau sampai kapan kamu diam seperti ini."
Cowok itu memang benar Kai, atau lebih tepatnya Khairil Ubadah, seorang cowok yang membuat para bucin Nari begitu penasaran.
"Anu Pak----saya ada kelas, pamit diri ya Pak," seperti biasa Kai, akan menghindari Jung. Dia merasa nggak enak hati bertemu dan berbincang lebih lama bersama Jung. Pemuda ini merasa malu atas sikapnya kepada Nari di masa lalu.
"Berhenti menjauhi aku Kai!!. Aku sampai minder lho ketemu kamu. Aku jadi seperti virus gitu, kamu pasti langsung kambur kalau ketemu aku!."
Kai semakin nggak enak hati kepada Jung, ternyata sikapnya selama ini di sadari sang dosen.
"Maaf Pak Jung, saya selalu teringat Nari kalau lihat Bapak," ujarnya memainkan ujung jaket yang dia kenakan.
Senyum Jung semakin lebar dan kini menjadi tawa"Kamu nggak penasaran gimana kabar Nari sekarang."
"Saya yakin dia baik-baik aja Pak," tutur Kai yakin. Selama ini, Kai bahkan nggak berani sekedar mengintip aktivitas di lama Instagram Naria. Pemuda ini menutup diri dari dunia yang bisa membuka kesempatan untuk berhubungan kembali dengan Nari. Rasa sesal itu datang belakangan. Seandainya dia bukan seorang pengecut waktu itu, mungkin sekarang resah dan gelisah nggak akan tinggal begitu lama di dalam hatinya.
Jung langsung menyambar"Salah!! kamu salah besar, Kai."
"Eh??," Kai menoleh ke arahJung di sampingnya. Kini mereka berbagi kursi taman.
"Nari sampai detik ini nggak pernah pacaran lagi, padahal banyak tuh yang naksir tapi dia nggak berniat menerima cinta mereka," jelas Jung mengambil topi yang Kai kenakan.
Setelah memakai nya, keren juga itu topi"Boleh juga ni topi, aku pinjem jangka panjang ya, Kai." Tanpa permisi Jung meninggalkan Kai yang melongo dengan kata-katanya, dia juga membawa pergi topi Kai yang kini terlanjur nangking di atas kepalanya.
Ada yang kangen abang Kai nggak? 😅
Apa udah keburu kesel sama Kai yang menyerah atas cinta Nari??
To be continue....
~~♡♡Happy reading. jangan lupa like, vote, fav dan komen ya teman 😘😘 .
__ADS_1
Salam anak Borneo.