Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Sekilas di masa lalu


__ADS_3

Meletakkan sang ponsel di atas meja belajar, Kai berkali-kali menghela nafas berat, rasanya sangat nggak rela membiarkan Naria dekat dengan Rivan malam ini. Apalagi dia juga mengetahui bahwa kekasihnya itu bersama dengan teman-teman cowoknya. Karena Nari nggak ingin membuat prasangka di dalam hati Kai, gadis itu kerap menceritakan tingkah para teman lelakinya di sekolah. Nari juga menegaskan bahwa hubungan mereka hanyalah sebatas teman, sebab mereka juga telah mengetahui sosok Kai, lelaki yang nggak pernah terganti di dalam hati Kai.


Mereka teman-teman sekolah Naria, ditilik dari sekolah saja sudah diketahui bahwa mereka yang bersekolah di situ adalah anak-anak orang kaya. Sangat berbanding terbalik dengan dirinya yang hanya seorang anak penjual kue.


Namun wajah terkejut sang nenek saat mendengar nama Tuan Charlotte, menyisakan tanya di dalam benak Kai. Apakah sang Nenek juga mengenal pengusaha itu?. Tapi mengingat bahwa Tuan Charlotte ini memang sudah sangat terkenal di negeri ini, justru aneh kalau sang Nenek nggak mengenalnya.


Meninggalkan Kai yang sibuk dengan bermacam dugaan di dalam benaknya, saat ini Karlina sedang termenung memandangi langit malam itu. Ucapan sang Ibu mertua masih terngiang di telinga"Charlotte adalah sahabat dekat Hanan. Aku nggak menyangka bocah itu menjadi pengusaha sukses sekarang. Aku masih ingat, betapa ngototnya dia meminta Hanan merancang gaun pengantin untuk calon istrinya."


"Mas, aku merindukanmu," bisiknya pada angin malam.


Entah mengapa rasa rindu itu begitu menggebu malam ini. Setelah mendengar nama Charlotte, Nenek Letta menceritakan dua sahabat itu ketika mereka masih sama-sama kuliah. Kenangan demi kenangan dibuka kembali malam ini, membuat Karlina tersenyum membayangkan tingkah laku suaminya, yang di nilai badung oleh Nenek Letta.


"Aku pernah mendapat laporan dari seorang tetangga, mereka berdua mencuri bunga mawarnya yang baru saja mekar. Sebagai pecinta bunga, memetik bunga mawar tanpa seijinnya itu sebuah kejahatan. Tetangga itu datang padaku sembari mengomel-ngomel. Dan setelah ku tanya, bunga itu akan mereka berikan pada kekasih mereka. Sungguh memalukan" celoteh Nenek Letta tersenyum kecil.


Sudut bibir Karlina tersenyum mengingat cerita dari Nenek Letta, sejatinya bunga itulah yang diberikan Hanan untuknya waktu itu. Sementara Charlotte, bunga itu juga telah dia berikan pada seorang gadis. Karlina hanya mengetahui bahwa kekasih Charlotte adalah seorang gadis berdarah Korea.


"Apa kamu ingat Villa milikku yang ada di pegunungan sana. Charlotte pernah minggat dari rumah, membuat keluarganya gempar mencarinya. Hal itu karena dia menolak perjodohan yang telah diatur oleh kedua orang tuanya, dan selama pelarian itu ternyata dia pergi ke Villa itu untuk bersembunyi. Sementara Hanan saat ditanya oleh kedua orang tua Charlotte, dia mengatakan nggak tau. Eh ternyata dia berbohong. Aku langsung marah kepada Hanan dan menjewer telinganya hingga memerah" orang tua itu tertawa usai bercerita. Mengingat itu lagi-lagi Karlina tertawa. Telinga Hanan sampai membengkak, dia datang pada Karlina seperti bocah, mengadukan sikap sang Mamah padanya.


Usai tersenyum sejurus kemudian Karlina nampak sedih. Karena hutang yang ditimbulkan oleh Hanan, Villa tersebut kini telah dijual untuk membayar hutang tersebut.


"Ibu, kok belum tidur," Kai datang. Menarik betis Karlina dan memijatnya.


Sorot mata Karlina menatap sendu kepada Kai"Nak, kamu yakin akan meneruskan hubungan dengan Naria?," ujarnya bertanya dan pertanyaan itu sontak membuat Kai mengerutkan kening.

__ADS_1


"Ibu, jangan bilang dugaanku benar, apa kita mempunyai hubungan dengan keluarga itu?" ujar Kai balik bertanya.


Karina lekas tersenyum untuk menyanggah dugaan sang putra"Kai putraku, kita hanya keluarga miskin. Nggak mungkin kita punya hubungan dengan keluarga kaya raya itu."


"Terus kenapa Ibu selalu menanyakan hal itu? Naria selalu menegaskan bahwa di dalam keluarganya nggak pernah memandang harta ataupun tahta."


"Tapi Nak, keluarga mereka sangat terpandang, sedangkan kamu hanyalah anak seorang penjual kue" lirih Karlina.


Kai sempat terdiam meresapi perkataan sang ibunda, tapi kali ini dia nggak akan kembali mengambil langkah mundur, dia akan terus maju memperjuangkan cintanya bersama Naria.


"Mamahnya Nari baik kok bu. Dia menerima Kai datang ke kediaman mereka dengan ramah."


"Baguslah kalau dia cukup menerima kehadiranmu, tapi ingat mereka bukan keluarga sembarangan. Kita nggak tahu halangan dan rintangan apa yang akan terjadi di masa depan. Kalau Ibu ada di posisimu, mungkin Ibu akan mengambil langkah mundur saja, Nak" ucap Karlina seraya mengusap pucuk kepala Kai lembut.


Kai nampak memberenggut, seolah enggak setuju dengan perkataan sang Ibunda, dia pun menghentikan pijatan di betis sang Ibunda. Karlina tersenyum, ternyata cinta itu sungguh mendalam di dalam hati sang putra.


Mungkin akan lain ceritanya kalau keluarga mereka masih lengkap dan masih memiliki banyak harta seperti dahulu.


"Maaf sayang kalau perkataan Ibu membuatmu marah, Ibu hanya takut hatimu terluka."


"Ibu nggak mau putra Ibu yang ceria ini menjadi sedih dan pendiam karena patah hati" ujarnya seraya menarik pelan lengan Kai.


"Ibu, putra Ibu ini sangat kuat, hal seperti itu nggak akan membuat keceriaan ini menghilang. Kai janji nggak akan bersedih meskipun akhirnya kami nggak berjodoh, demi Ibu Kainakan selalu ceria dan bahagia menghadapi dunia ini" ujarnya.

__ADS_1


Sontak Karlina memeluk tubuh sang putra, mengusap punggungnya pelan seolah memberikan kekuatan"Baiklah Nak, Ibu akan mendukung hubungan kalian. Semoga hubungan kalian selalu berjalan lancar ya."


"Beneran bu?!."


Karlina mengangguk seraya mengajak pucuk kepala sang putra. Pemuda ini langsung mengurai pelukan, setelah mendengar Karlina merestui hubungannya bersama sang kekasih.


"Terima kasih Ibu!, kalau begitu boleh kan kapan-kapan aku ajak dia kemari," berucap dengan kedua mata berbinar senang.


"Ya tentu saja, kalau dia nggak keberatan melihat rumah kita yang sederhana ini. Juga melihat kesibukan Ibu yang selalu di dapur ini membuat kue" sahut Karlina.


"Ibu ku yang cantik, percayalah!! dia gadis yang sangat baik. Dia gadis yang sangat rendah hati dan cantik tentunya" ucap Kai tersenyum malu-malu.


Karina tersenyum seraya melempar candaan"Oh ya? jadi dia juga cantik?. Lantas di antara Ibu dan dirinya siapa yang lebih cantik?."


Kai nampak bingung mendapat pertanyaan seperti itu, pemuda ini meletakkan jemari di bawah dagu"Dia dan ibu sama cantiknya namun dalam porsi yang berbeda."


Karlina kembali terkekeh mendengar ucapan Kai. Wajah sang putra terlihat merona hingga menjalar ke daun telinga. Karlina dapat merasakan debaran di dalam dada Kai, saat mereka sedang membicarakan sang gadis pujaan hati.


Saat Ibu dan putra itu sedang mengobrol santai diiringi tawa dan gurauan, ponsel di samping Kai bergetar, menampilkan nama Naria sebagai sang penelpon. Lantas Kai memperlihatkan layar ponselnya ke arah Karlina"Kai permisi dulu ya, bu. Nari sudah menelpon. Selesai ngeteh Ibu langsung tidur ya" ucap Kai sembari bangun dari lantai.


Karlina mengangguk dan masih dengan senyuman, mempersilahkan sang putra pamit diri dari dapur mereka.


To be continue...

__ADS_1


Happy reading, jangan lupa like, Vote, dan favorit...


Salam anak Borneo.


__ADS_2