
Sepanjang berjalannya pesta, mereka yang membawa Rivan ke acara tersebut menghilang bak di telan bumi"Mereka menghilang atau memang sembunyi?" pikir pria se-lengean itu.
"Oi, masih melempem aja tu muka" tegur Niki. Menyadari sedari tadi Rivan mengekor kemanapun langkah kakinya, sambil celingukan menyisir para tamu undangan. Barangkali aja para bucin dan Charllote bersaudara nyempil di antara mereka.
"Eh, kamu tuli ya?!, kenapa mukanya?" hardik Niki gemas di abaikan.
Rivan tersentak"Aku di jual apa di gadaikan sih? setelah ketemu kamu teman-teman aku semuanya menghilang" sahutnya sembari menyugar rambut. Saat itu nampak jelas korsase bernomor undian 12 terikat di lengan Rivan.
Entah mengapa hal itu membuat bibir Niki mengerucut dan napasnya memanas. Melihat nomor itu hatinya jadi kesal, dia pun menyabet Korsase dengan kasar dan membuangnya ke tanah"Kamu nggak di jual, juga nggak di gadaikan. Kamu di kasih sukarela buat jadi babu aku!!,"ujar nya kesal. Rivan merasa akrab dengan suasana sekarang, yah beginilah cara Niki memperlakukannya sejak dulu. Niki selalu mengakusisi dirinya, memerintah dan melarangnya ini dan itu. Nggak ada yang lebih berhak atas dirinya selain Niki, bahkan dirinya sendiri pun nggak bisa berbuat sesuka hati. Kalau melanggar, Niki nggak segan menggigit lengan nya.
Seorang wanita yang sejak tadi memperhatikan Rivan menghampiri mereka, memungut korsase dan hendak memasangkannya kembali ke lengan Rivan.
Plak!!"Ouwhh!" gadis itu menatap Niki dengan tajam. Tangannya terasa perih setelah mendapat tepisan dan pukulan dari sang empu acara.
"Kamu buta?, kamu nggak lihat ada aku sama dia" sergah Niki. Angin apa yang membawa Rivan hadir kembali di hadapannya, dan mengacaukan suasana santai di pesta ulang tahunnya. Kalau sudah begini rasa suka dan bahagiannya akan berubah menjadi kekesalan. Di tambah kehadiran Lisa yang dengan terang-terangan ingin mencari perhatian dari Rivan.
Lisa meletakan jari tunjuk di dagunya, garis matanya menatap lurus ke dalam mata Rivan"Ya elah Niki, kamu segede ini masa aku nggak lihat, hmmm mungkin karena aku terlalu fokus sama cowok inj, jadinya kamu nggak masuk dalam penglihatanku" dia berbicara dengan terus menatap Rivan saja. Jelas ada persaingan ketat sejak lama di antara mereka.
Niki menghela napas jengah, berdebat dengan Lisa hal yang sangat melelahkan baginya"Yuk pergi dari hadapan Raru drama ini" ujarnya menarik lengan Rivan. Ini cowok bener-bener mati kutu di hadapan Niki, sudah seperti kebo di colok hidungnya, dengan manut dan patuh mengikuti segala perintah dan keinginan Niki. Setelah beberapa waktu berjumpa lagi setelah perpisahan bertahun lamanya, keadaan canggung di antara mereka telah sirna. Waktu seakan nggak pernah memisahkan mereka, seolah waktu hampir tiga tahun terakhir nggak pernah menjadi dinding penghalang di antara mereka.
Melihat Rivan hendak berlalu dari hadapannya"Eits!!" Lisa nggak mengalah begitu saja. Dia menarik lengan Rivan yang lain hingga terpancar kilatan persaingan dalam tatapan mereka.
"Aku Monalisa, panggil aja Lisa. Aku pinjem ponsel kamu dong" pinta Lisa.
Spontan Rivan menyerahkan ponselnya ketangan Lisa yang sedang meminta kepadanya"Aku Rivan" ujarnya menambah kekesalan Niki. Sempat-sempatnya membalas ucapan Lisa. Rasa sesal muncul di hati Niki. Semua ini karena Marisa ngasih saran buat ngundang Lisa ke acara ultahnya, pake naksir Rivan pula!!.
Kedua mata Niki melotot, dia hendak menyabet ponsel Rivan sayangnya dia kalah cepat dengan Lisa.
"Hahahahah, lemot sih" Ledek Lisa. Ponsel Rivan yang nggak menggunakan kode sandi dengan mudah di kuasai Lisa, dia mengetik nomornya dan...
"Nih nanti kita teleponan yah" ujarnya sembari memperlihatkan layar ponselnya, yang sudah mendapat panggilan dari nomor Rivan.
Kedua bibir Nikir mengatup geram, matanya bergantian melotot ke arah Lisa dan Rivan.
__ADS_1
Di tariknya kembali lengan Rivan dan menyerahkan ponsel ke genggaman cowok itu"Bye-bye, hati hati ya bergaul sama cewek pemaksa" seru Lisa berlalu dari hadapan mereka.
"Ih!! kamu kok diem gini sih, Van!!, urat cowok kamu sudah putus? atau kamu memang suka digebetin Lisa seperti tadi," sergah Niki melepas tangan Rivan.
"Kok aku yang salah sih, aku nggak tau kalau dia bakal seagresif itu sama cowok, kirain kamu doa-----" Rivan menahan ucapannya.
"Apa!! aku kenapa??" Niki semakin gusar.
Rivan menggaruk kepala yang nggak gatal, mimpi apa dia semalam tiba-tiba balik ke masa-masa di salahin mulu sama Niki. Dan bahlulnya dia terima aja di gituin sama Niki, baik dulu ataupun sekarang.
Di sudut lain segerombolan manusia yang merasa tanpa dosa, sedang menikmati drama yang sedang di lakoni Rivan.
"Buset dah, galak bener tu cewek, mati kutu tuh si Rivan" gumam Zaid terpana.
"Ngel, begitu yang kamu bilang cinta?" tanya Kevin sambil menyikut lengan Angela, yang jongkok barengan Fay dan Hendro.
"Yah gitu deh, itulah sisi lain tentang cinta. kamu pikir cinta itu mesra-mesraan terus? manja-manjaan teros?? ih ngebayangin cinta yang lebai seperti rasanya mau muntah" sahut Angela.
"Wasalam dah, Kevin harus mundur buat deketin kamu Ngel" celetuk Fay. Dengan mulut embernya bercerita panjang lebar perihal pengetahuannya tentang kisah masa lalu Kevin dan Angela.
"Tau dong! Kevin terkenang kisah kalian terus kali" jelas ucapan Fay membuat wajah Angela merah menahan malu. Nggak kebayang gimana si Kevin nyeritain kasih tak sampai mereka dahulu.
"Cieee, hati kamu tersentuh ya!!. Tau nggak pas cerita si Kevin seperti meresapi banget. seolah-olah---."
PLETOK!!! Bogem mentah Kevin mendarat tepat di ubun-ubun Fay.
"Oh lord, loncat deh jiwa-jiwa gibahnya Fay" Hendro melotot berseru dengan kedua tangan menutup mulutnya.
"Kwkwkkww makanya punya mulut jangan lemes, somplak!!" Timpal Jung yang sedari tadi ngejogrok di pojokan, memperhatikan tingkah para bocah.
Fay manyun sembari mengusap-usap kepalanya"Untung ubun-ubunku udah keras, kalo masih bayi bisa jiun lho aku, Vin".
"Bodo!!" sahut Kevin meninggalkan mereka. Sebisa mungkin dia menghindari pandangan Angela yang terkekeh, menyaksikan kelakuan mereka.
__ADS_1
...๐๐๐๐...
"Aku di pesta ulang tahun ceweknya Rivan" Nari berbicara dengan Kai di ponsel. Mengambil jarak sedikit jauh dari para bucin.
"Hah!!, ceweknya Rivan??" Kai mencoba memastikan pendengarannya.
"Iya, Kai" sahut Nari sembari melirik jam yang dia kenakan.
"Maksud kamu apa sih Nar?, jelasin dong" ujar Kai.
"Nanti aja aku jelasinnya, lagi pula di sini berisik banget, mungkin sebentar lagi aku akan pulang. Aku akan menghubungimu kembali kalau aku sudah sampai rumah ya."
"Kamu berdua doang sama Rivan?," tanya Kai. Seolah nggak rela menutup panggilan. Rasa rindu itu sungguh curang, baru kemarin mereka bertemu tapi sekarang sudah rindu padanya.
"Sama duo Je, terus sama temen sekolah juga."
"Duo Je?" tanya Kai.
"Jung sama Joen" jelas Nari lagi.
"Oh~~~" jawaban Nari seperti angin segar yang menenangkan hati Kai.
"Buruan cebong!! mau balik nggak!!, ih nasibku hari ini apes bener" gerutu Joen yang ternyata ngejagain Nari sedari tadi.
"Sudah ya Kai, nih si kucrut cerewet banget."
"Heemmm, hati-hati ya" sahut Kai di ujung telpon
Setelah panggilan berakhir Nari di tarik Joen ke meja para bucin dan juga Jung"Ya elah bang, gini amat sama adik sendiri, aku bisa jalan kok."
"Kamu kan siluman siput, kalau jalan lambat!!" sahut Joen nggak peduli dengan rengekan Nari.
To be continued...
__ADS_1
~~โกโก Happy reading, jangan lupa like vote dan komen ^^
Salam anak Borneo.