
Malang tak dapat di tokal, mujur tak dapat di raih. Kemanapun engkau lari, sesuatu yang telah menjadi takdirmu tetap akan datang sendiri. Di sinilah akhirnya Rivan dan Hendro berada. Merajuknya seorang Rivan dapat di takhlukan dengan bayaran harus bergabung dengan Tim basket sekolah. Pak Ibrahim sendiri yang membujuknya dan nggak gengsi untuk meminta maaf. Mendapatkan permintaan maaf dari guru galak itu, rasanya seperti meminum minuman mineral, ada manis-manisnya gitu. Sementara Hendro, Ikbal tentu sangat tau harus melakukan apa.
"Nona Naria, bujur Hendro untuk gabung lagi ke dalam Tim basket sekolah. Tolongin dong. Kalau nggak lambung ku bakal di sentil Pak Ibrahim. Kamu nggak kasihan cowok secakep aku mendapat teguran dari Bapak paling ramah sejagad halu itu?. Kamu nggak kasihan nama baik ku tercoreng hingga menggoyahkan tahta cowok tercerdas di sekolah ini?. Kamu nggak kasihan kalau gara-gara gagal mengajak itu bocah gabung Tim basket lagi bakal bikin aku di keluarin ----."
"Stop!!. Oke Ikbal yang cakep sejagad halu, aku akan bujuk Hendro buat balik lagi."
Seketika senyum menarik terbit di wajah Ikbal. Dan seperti biasa, saat tersenyum maupun tertawa, kedua mata cowok ini akan membentuk bulan sabit"Terimakasih Nona Naria!!!" berseru dengan tangan meraih jemari lentik Nari. Ini di kantin, sontak interaksi mereka mengundang atensi para siswa yang lain. Tak terkecuali Greta, yang baru memasuki area tersebut.
Rasa sayang terhadap keluarga barunya, membuat Greta berani pasang badan kalau ada yang jahat dengan mereka, termasuk dengan Kai. Langkah cepat itu membawanya seketika berada di antara Nari dan Ikbal"No!!!. Ngobrol bareng boleh, tapi jangan ada kontak fisik di antara kalian!" seraya melepaskan pegangan tangan mereka berdua.
"Heh! nyai ronggeng!! kamu kenapa sih!?." Hardik Ikbal. Demi apa coba, dia cuman pegang tangan Nari, tapi kok cewek satu ini langsung naik pitam. Apakah dirinya telah menggeser posisi Udin di hati Greta??. Memikirkan hal itu membuat Ikbal senyum sejenak, pesonanya memang nggak terbantahkan.
"Ini calon kakak ipar aku!. Jangan sembarang pegang!."
Owh!!. Jawaban yang di berikan Greta sontak mengikis rasa percaya diri seorang Ikbal. Wajah yang semula sempat tersenyum kini berubah masam.
Menunjuk Greta tepat di wajahnya"Kamu tuh ya, di suruh Kai buat mata-matain aku ya?."
Menepis jari telunjuk Kai"Bukan cuman kamu, tapi semua cowok!. Abang nggak nyuruh aku buat mata-matain Nari kok, aku sadar dengan saudara harus saling jaga."
__ADS_1
Jawaban Greta mengundang rona di wajah Nari. Tersipu malu gadis cantik ini, sungguh kentara sebab rona itu menjalar hingga ke daun telinga. Seraya menurunkan rambut yang tersemat di daun telinga"Kamu cinta banget ya sama Kai itu" tukas Ikbal lembut.
Nyaris Greta menepuk lagi jari Ikbal, kalau nggak keburu cowok itu menarik tangannya usai menyentuh rambut Nari.
"Iya. Cintaaaaa banget!" sesungguhnya Greta ada rasa geli mendengar pernyataan cinta Nari, tapi apa hendak di kata, dirinya pun kerap mengungkapkan rasa cinta seperti itu kepada Udin. Sumpah, cowok dingin sekalinya luluh bisa bikin ceweknya kelepek-kelepek sendiri. Dan sekarang Greta sedang berada di tahap itu, sentuhan lembut Udin di pucuk kepalanya pun rasanya nggak mudah di lupakan. Akh!! dasar cinta!!.
Memutar bola mata ke kiri dan ke kanan, Ikbal merasa iri dengan Kai. Di saat dirinya mati-matian mengejar Nari, eh itu cowok dengan santainya datang dan pergi dari hidupan Nari, membuat Nari tergila-gila tanpa dia melakukan apa-apa. Bahkan setelah datang kembali, cinta itu masih ada untuknya, sedikit pun nggak berkurang kadarnya.
Greta sengaja menarik kursi dan duduk di antara Nari dan Ikbal"Jaga jarak!!."
Lagi, Ikbal di buat memutar kedua mata. Cewek kalau udah nyebelin ya nyebelin aja, sayangnya Greta kadang-kadang baik banget, jadi dia nggak bisa melawannya, apalagi dia itu cewek.
Menyusul sang kekasih ke kantin, betapa panas hati seorang Udin. Gegas dia menarik Greta yang duduk di sebelah Ikbal"Sayang, kok duduk dekat dia!."
"Aku duduk dekat Nari kok. Kebetulan aja sebelahan sama dia."
Nari tersenyum melihat Ikbal, meledek dua sejoli itu dengan bibir mencibir.
"Sudahlah, ayo kita cari Hendro" Nari mengajak Ikbal pergi. Sempat saling ledek kemudian perpisah di kantin itu, kini Nari dan Ikbal telah menjumpai Hendro di tepi kolam renang.
__ADS_1
Bocah itu sempat menolak dengan alasan telah bergabung dengan Tim renang sekolah. Nari punya jurus menaklukkan hati lelaki, hanya dengan ucapan saja, tanpa harus meraba tubuh si adik kelas itu.
"Aku kangen liatin kamu di lapangan basket lagi. Kebetulan nanti akan ada lomba, nggak ada salahnya kan kalau kamu ikut tanding. Aku janji akan selalu menonton kamu di lapangan, selama nggak ada halangan."
Dia tersenyum, manis, sangat manis. Hendro jelas sangat sadar bahwa Nari sudah ada yang punya. Tapi kalau gadis ini duduk di kursi penonton demi melihat dirinya, Hendro nggak keberatan kok meskipun dia sudah memiliki kekasih.
Kesepakatan pun terjadi, Hendro berhasil di tarik masuk kembali ke dalam Tim basket sekolah. Dan Nari nggak memberikan bantuan secara cuma-cuma. Mengingat Ikbal cowok yang jago masak, dia pun memintanya untuk membawakan bekal esok hari.
"Oke!. Aku bakal bawain baby cumi-cumi buat kamu."
Nari senang bukan kepalang, sudah lama dia nggak merasakan hidangan spesial Ikbal tersebut.
Sementara itu, di belahan bumi yang lain. Video endorse Nari dan Kai mulai tersebar di dunia maya. Ada banyak wanita yang menanyakan akun media sosial Kai. Kalau Nari masih menjaga Kai agar akun Instagram sang kekasih aman, lain halnya dengan Dewa. Pemuda ini tanpa ragu men-tag akun milik Kai dengan caption"Ini @Ubadah_Khairil, teman satu kampus aku."
Nggak perlu waktu lama. Akun milik Kai kini mendapat serangan followers yang membludak. Ada banyak foto yang telah lama dia unggah mendapatkan komentar dari para Netizen. Banyak yang memuji visual pemuda ini alih-alih menghinanya.
Melihat komentar itu Dewa pun tersenyum kecil. Dia sengaja memunculkan Kai dalam dunia maya yang kejam ini. Respon baik itu membuat Dewa berkata"Kalau banyak cewek yang naksir Kai, otomatis saingan Nari juga banyak. Godaan dalam hubungan mereka juga pasti bertambah. Kalau Nari nggak kuat dengan godaan itu, aku akan siap menjadi sandaran untuknya."
To be continued...
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
Salam anak Borneo.