Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Bolos perdana


__ADS_3

"Wuuaah!!!, seumur-umur baru kali ini aku ke pantai tanjung gerimis! kapan-kapan ajakin Mamah sama Papah akh," Nari seperti orang nggak pernah piknik. Setelah kurang lebih dua jam perjalanan, akhirnya mereka telah sampai di sebuah pantai bernama Tanjung gerimis. Sebuah pantai yang terletak sedikit jauh dari pantai pesisir nipah, dan pantai sungai kembang.


"Norak nih cewek, muka nya segitu sumringah ngeliat pemandangan laut," gumam Rivan yang sedang menikmati sepucuk rokok, di atas mo-ge berwarna merah.


"Van, kamu sudah sering ke sini?," tanya Nari setelah puas ber"Waw" ria dengan pemandangan sekitar. Sebuah taman yang di bangun pemerintah di bibir pantai, menjadikan suasana santai mereka semakin mengasikan. Meskipun terletak di ujung pelosok namun para penjual dan pengunjung nggak kalah ramai dengan dua pantai sebelum nya. Warga sekitar yang sibuk melakukan aktivitas kerja melaut pun menambah suasana pantai semakin terasa. Sangat berbeda jauh dengan suasana hiruk-pikuk perkotaan tempat tinggal mereka.


"Sering sih ke sini. Kalau lagi males ngerjain PR, yah aku bolos ke sini deh," jawab Rivan mengepulkan asap rokok nya ke udara.


"Mulut seperti cerobong asap, kamu sendirian ke sini?."


"Jangan komen mulut aku, entar aku sosor lho," Rivan berlagak seperti akan mencium Nari, yang langsung mendapat tabokan di jidat nya.


"Nguhhh!! untung cakep," keluh Rivan memegangi Jidat.


"Ke sini sendiri?," ulang Nari.


Puk, puk!!, Rivan menepuk mo-ge merah itu"Sama red motor aku. Panglima di jalanan nih, sumber duit ku juga," ucap nya bangga. Itu motor memang sumber duit Rivan di kala kepepet, kalau nggak di kasih uang jajan sama Mamah nya. Dia paling anti meminta uang jajan sama sanng Papah. Di kasih sih, tapi harus melewati ceramah agama tujuh hari tujuh malam, pusing kan kepala. Jadi bersama si mo-ge itulah Rivan ikut taruhan balapan liar dengan geng motor kampung sebelah. Kemenangan selalu dia kantongi, ketika sedang bergelud membelah jalan dalam balapan. Membuat nya sangat menyayangi si mo-ge dan memberi nya julukan Panglima jalanan.


"Itu barang!! maksud aku orang, manusia!!," hardik Nari. Ingin rasanya nabok jidat ni cowok lagi, tapi kasihan sih. Lama-lama kalau di pandang si Rivan oke juga di mata Nari. Hohoho, sepertinya Nari menyukai cowok yang bandel seperti Rivan.


"Sendiri dong. Baru kamu nih cewek pertama gang aku boncengin, kamu harus bangga yaaa."


Nari melirik Rivan datar"Biasa aja mas bro!. Seperti nggak pernah jalan sama cewek aja!."


"Memang Nar, baru kamu nih cewek yang aku ajakin jalan."


"Kamu ajakin bolos, lebih tepat nya!," sindir Nari. Deras angin pantai beberapa kali membuat Nari menepikan anak rambut nya ke daun telingan"Akh!! nggak ada jepitan rambut. Ini rambut mau di botakin apa! ribet banget deh," gerutu Naria.


"Tuh ada kang mainan, yuk beli jepit rambut atau sejenis nya deh. Kalau nggak ada juga, biar aku pinta-in plastik es cekek sama kang cendol," tangan Rivan meraih tas Nari dan tangan yang lain menunggu sambutan Nari untuk bergandengan tangan.


"Aku bisa jalan dengan tegap Rivan, nggak usah pake gandengan segala," langkah Nari mendahului Rivan yang segera mengekornya ke trotoar taman.


"Ngomong-ngomong minta plastik sama kang cendol, buat apaan!," Nari berbalik menatap Rivan, mendongakkan kepala"Wuah, tinggi juga ni cowok. Apa semua cowok tinggi nya rata-ata segini?, cowok-cowok yang dekat sama aku semua nya tinggi menjulang. Hendro yang bocah aja tinggi banget. Ck! nasib jadi cewek kerdil," keluh nya dalam hati .


"Buat ikat rambut kamu," ujung rambut Nari di tarik Rivan dengan sembarang.


"Somplak!!, sekalian aja nih di botakin. Main jambak seperti bini tua ketemu bini muda jalan sama suami!!."


"Hahaha, korban drakor poligami nih. Tapi tenang Naria, aku nggak akan poligami kamu kok," goda nya lagi. Mereka semakin dekat dengan kang mainan bocah.


"Wuuu yang mau kamu nikahin juga siapa, kunyuk!!," mulut Nari monyong-monyong, menatap Rivan yang terkekeh dengan raut wajah Nari.


"Monyong sekali lagi beneran aku sosor deh tu mulut, pengen banget di enakin."


"Ajigile!! di enakin kepala kamu!!. Ugh~~~buruan dong jalan nya, ngoceh terus!," Nari mulai emosi. Bukan karena guyonan Rivan, cuaca terik siang itu menguji kesabaran nya. Dia bukan tipe cewek yang tahan panas-panasan ya. Oke lah selama di perjalanan mereka di bawah terik matahari pagi, sekarang sudah jam setengah dua belas siang. Matahari sedang gagah-gagahnya di atas sana.


"Cerewet banget sih. Aku lamar juga kamu Nar!," celetuk Rivan mempercepat langkah nya.

__ADS_1


"Mati berdiri kamu ngadepin dua ajudan aku di rumah!," ujar Nari, mengingat dua abang super edan nya itu.


Sesampainya di depan kang mainan, Nari sibuk memilih jepitan rambut unyu-unyu yang membuat nya bingung menentukan pilihan.


"Eh, Van itu bukan nya anak sekolahan kita?."


Rivan yang jongkok di samping jualan kang mainan, berdiri dan menyusuri arah yang Nari tunjuk.


"Oh, sama seperti aku. Mereka memang sering ke sini juga," ucap nya santai, kembali jongkok dan mematikan puntung rokok.


"Makasih ya, kang," Nari telah selesai membeli jepitan and friends. Biasalah, cewek kalau beli barang tuh nggak bakal satu, pasti ada aja perentelan lain yang menggelitik naluri belanja di luar rencana.


Si akang mainan nyengir kuda di senyumin Nari, mimpi apa dia tadi malam dapat senyuman manis.


"Samperin yuk, bolos juga dong mereka. Kita gabung aja," Nari begitu bersemangat dengan acara bolos perdana kali ini.


"ih, kamu aja deh. Males banget."


"Songong banget sih, mau punya temen nggak??, katanya sering sama-sama ke sini. Biar lain waktu kalau bolos ke sini kamu nggak sendirian lagi!," hahahha bukannya melarang, malah merencakan bolos di lain hari bersama Rivan.


"Ogah!!, aku ngekor aja deh," Rivan males banget. Demi Nari doang nih dia ngekor dengan langkah berat, melangkah mendekati dua cowok yang sedang duduk santai di kursi taman.


"Hai!!," Nari menyapa mereka yang spontan menatap ke arah Nari dan Rivan.


"Yaa??," sorang cowok melirik datar kepada Nari. Dia seperti sedang memperjelas pandangannya.


"Pucuk di cinta ulam pun tiba!!," pekik cowok yang lain.


"Eh----, neng Nari? kok di sini?," tatapan nya berubah teduh. Namun mendadak dingin ketika menangkap sosok seorang Rivan, berdiri dengan malas sedikit jauh dari mereka.


"Ya salam!! kok temenan sama kang bolos?!," cibir mereka.


"Hati-hati neng kalau milih temen. Kok kesasar temenan sama Rivan sih? kang balap liar juga tuh," celoteh cowok satu nya.


"Memang kalian nggak bolos?," selidik Nari. Dia sedikit nggak suka dengan ocehan mereka berdua tentang Rivan. Mau dia ikut balapan liar pun, asalkan nggak gangguin orang, nggak masalah bagi Nari.


"I---iya sih. Tapi----," mereka garuk-garuk kepala yang nggak gatal.


Ngomong-ngomong, aku belum kenalan sama kalian," Nari mengulurkan tangan pada mereka berdua.


"Kamu doang yang belum kenal, kita mah sudah kenal sama kamu," ucap pemuda tadi.


"Oh ya? kok bisa sih?."


"Kamu sih seperti roti manis. Kebanyakan semut item yang ngerumunin, kita-kita jadi sungkan mau deketin kamu di sekolah," sambut cowok yang pertama menatap Nari.


"Aku Keano, anak IPA," ujarnya memperkenalkan diri.

__ADS_1



"Aku Bisma, sama sih kita sekelas," ujar nya dengan senyum pasta gigi. Seraya menunjuk dirinya dan Keano.



"Van!!, sini dong!," panggil Nari pada Rivan.


"Ngapain, sayang?," sahut nya sok macarin Nari.


"Aku ikat juga tu lidah. Sayang pala kamu peyang!!," gerutu Nari"Ayok gabung sama mereka," ajakan Nari membuat raut wajah Rivan cemberut. Bukan hanya Rivan, Keano sama Bisma juga cemberut. Tapi demi bersama Nari, dua cowok itu memaksakan diri setuju dengan ajakan Nari.


"Kamu gandengan sama aku, baru deh aku mau gabung," rengek Rivan sok manja.


"HUWWWEEEKKKK!!!, dasar genderewo sok manja!!. Biasanya gahar mau sok lemah lembut, bikin mual!!," cebik Keano kesal. Mendingan Rivan bandel aja deh, dari pada mendadak kalem seperti itu. Aneh banget di mata Keano dan Bisma.


"Pasti dia kesurupan setan banci, tuh," seru Bisma nggak kalah sewot.


"Normal aja Van! tampang seperti kamu nggak cocok jadi cowok kalem, apalagi cowok manja. Kasihan neng Nari entar muntah lho!," seru nya lagi.


"SEMVUCK!!," umpat Rivan yang terpaksa gabung dengan mereka. sedangkan Nari terkekeh dengan celotehan Bisma.


"Oh!! harus di hina dulu baru nurut ni orang," ujar Nari tertawa pada Rivan.


"Ya Allah, Nar. Senyum nya adem banget. Hina aja aku Nar!! hina sepuas hati kamu," demi apa?! wajah Rivan merona seperti kepiting rebus. Membuat Keano dan Bisma benar-benar ingin muntah .


"Parah ni orang. Oii sadar woiii!!," sentak Bisma pada pundak Rivan.


"Diam deh, cebong!," sentak Rivan.


"Sama aku aja, Nar," Bisma berjalan di samping Nari.


"Kunyuk!! nggak pantes banget, pe'ak!!," Rivan menyentak tangan Bisma agar menjauhi Nari.


"Apa sih ulekan cabe?? memang kamu pantas, hah?," Keano mendorong Rivan menjauhi Nari.


"Oh Lord!!," kalau kalian nggak berdamai aku pulang nih. Pake ojek kek, pake pesawat kek! pokoknya aku pulang sekarang juga!," ancam Nari dengan kedua tangan berkacak di pinggang.


"Makanya neng, jangan cakep-cakep jadi cewek. Mumet kan sama cowok-cowok nya,"  seru kang cendol yang sedari tadi merhatiin tingkah mereka.


"Hehehe, bisa aja kang cendol," Nari malu-malu di tegur begitu. Sebab hampir seluruh mata kini tertuju kepada mereka.



To be continue...


~~♡♡Happy reading . Jangan lupa like vote Fav dan komen ya teman ^,^.

__ADS_1


Salam anak Borneo.


__ADS_2