Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Damai sejenak


__ADS_3

Ponsel Jung berdering berkali-kali. Dua perempuan bergantian menghubungi nomor si dosen namun tak satu pun mendapat respon.


"Ni orang kabur kemana sihhh?," pekik Andrea kesal terhadap Jung.


"Biji jagung!, mau mamah ledakin jadi popcorn kamu yaaa!," gerutu Nyonya Sook. Ponsel tak berdosa pun menjadi sasaran, di remas dan di banting ke sofa.


"Maaf Nyonya, Tuan Jung nggak ada di taman," lapor Mr.zack. Demi bertahan hidup, dia akan sangat berbakti kepada majikan pertama yang memerlukan pertolongannya.


"Anu Nyonya, Tuan Jung juga nggak terlihat meninggalkan kediaman ini," lapor Mr.Jae, selaku penjaga gerbang di kediaman Charlotte.


"Itu artinya dia berada di rumah ini, sembunyi di mana cecunguk itu," berjalan mondar-mandir seperti setrikaan rusak, Nyonya Sook menjelajahi setiap penjuru rumah dalam memori otaknya. Menerka kira-kira di mana tempat yang aman untuk bersembunyi.


"Kalian periksa kamarnya, di balkon kan ada tangga yang menghubungkan ke lantai paling atas, periksa di sana," perintahnya. Dan langsung di laksakan para pelayan dengan sigap.


"Ckckck, seperti nyari buronan aja, emang bang Jung kenapa sih??maen petak umpet sama mamah?," Nona Naria baru tiba di rumah, mendapati para pelayan yang sibuk mencari keberadaan si dosen edan itu.


"Bang Jung hilang. Sepertinya ngambek sama mamah," sahut Ghina sembari membawa Bae berjalan keluar rumah, mereka berniat ke taman. Yah meskipun nggak bisa membantu banyak karena sambil ngemong si Bae, setidaknya Ghina bisa bantu mengawasi pekerjaan para pelayan.


"Uluh-uluh~~~ponakan ounty, sini deh. Ounty kangen," Nari menghentikan langkah Ghina"Sama aku aja Bae nya," ujarnya lagi.


"Ya sudah, nih ajak guling-guling di kamar, asal jangan di cekokin permen ya! entar di geplak papahnya lho kepalamu," serah terima si Bae pun terlaksana.


"Kamu pikir aku nggak bila bales? kecil begini kalau urusan geplak aku jago kok," Nari mengepalkan tangan, memamerkannya di hadapan Ghina.


"Heh! kamu tu cewek. Urusan berantem kok jago sih. Buruan bawa Bae ke kamar, kamu Ghin...., periksa kamar kamu juga ya. Siapa tahu nyempil di balik pintu kek, bi bawah kasur kek, di dalam lemari kek, aish! gemes banget sama tu anak!," sang Nyonya menggeram, seandainya Jung berada di hadapannya, sudah pasti akan di jambak sampai menjerit-jerit.


Melihat emosi sang mamah, Nari gegas melarikan diri. Sementara Ghina melakukan perintah sang ibu mertua. Meskipun nggak mungkin Jung sembunyi di dalam lemari, atau pun di bawah kasur kan. Apalagi ngumpet di balik pintu"Iya mah, Ghina periksa dulu."


"Sut!! tungguin," Ghina menyusul Nari dan Bae naik ke lantai atas.


"Aku jadi ikutan gemes sama bang Jung," sungut Ghina.


"Bukan bang Jung namanya kalau nggak nyebelin." Sahut Naria.


"Nar kalo di ajak naik ke tempat tidur Bae nya di jagain ya, takut loncat indah ke bawah. Tahu aja kan ponakan kamu altlet olah raga sejak dini," ujarnya pada Nari.


"Hohoho, siap mamah. Bae main sama ounty yang cantik ini dulu yaa!," celoteh Nari seolah-olah Bae yang bicara.


Jadilah Ghina ke kamar nya dan Nari juga ke kamarnya"Pyuhh, Ounty nyalain lampu dulu ya Bae, Nari melepaskan Bae yang mulai merangkak ke karpet berbulu nya.


"bcjskxbxjdkdjzksjzk," celoteh Bae.


Selain dengan Jung, Bae pun kerap menghabiskan waktu bersama Nari, nggak heran jika ada beberapa mainan Bae di kamar ini"Hmm? iya deh. Mainannya jangan di maem ya, Ounty cuci kaki dulu," Sahut Nari sembari berjalan ke kamar mandi.


Tertawa lebar"Hehe..xnshjdhrkxnskdbbdj," si kecil Bae mulai bermain-main di sana. Tentu dengan teriakan nggak jelas seperti biasanya.


"Seneng amat sih, Bae," seru Nari"Tunggu Onty sebentar ya."


Selesai dari mencuci kaki di kamar mandi, Nari meraih tasnya dan mengambil ponsel. Menyalakan Televisi dan mencari cari film kartun untuk tontonan Bae.


"Hup!!, ayo naik ke sini Bae!," ajaknya pada Bae. Namun tampang Bae seperti tersita pada satu titik di sudut kamarnya.


"Bae..!!Bae..!!"Panggil Nari. Dan si kecil nggak merespon.

__ADS_1


"Bae..!!yuhuuu!," panggilnya lagi.


"Hihi blzbsbdhdheoebwb," tawa Bae meledak lagi, Nari turun dari tempat tidur dan berniat menggendong Bae naik ke atas tempat tidur..


Namun--KYAAA!!


PLETOOKKK!!, Nari mengambil mainan di tangan Bae, dan melemparkan benda itu pada Jung.


"NARIAAAA!!," pekik Jung tertahan, seraya memegangi dahi usai mendapat serangan dari si nenek sihir.


Namun sejurus kemudian Jung membekap mulut Nari"Mamahppffg!," teriakan Nari terhenti.


Bae sempat melongo, melihat pembantaian di hadapannya. Bocah itu mengambil kembali mainannya dan mengoceh nggak jelas.


Sekuat hati Nari meronta berusaha melepaskan diri dari Jung.


"Diam," hardik Jung dengan suara tertahan.


"Hmmphh!," Nari berontak.


Kaki panjang Jung mengunci tubuh Nari.


"Mau aku lepasin?," ujarnya setengah berbisik.


"Hmmhh," Nari mengangguk.


"Janji jangan teriak!!"


"Aku udah bantu nyariin Kai kemarin kan, please kali ini bantuin aku!."


"Aifpsss!!hmmhhh!!," pekik Nari sangat kesal.


Jung melepaskan Nari dan...


"GILA!!!


"SINTING.!!!


"EDAN!!.


"MAU BUNUH AKU!!?"


"AKU RETA'KAN GINJAL KAMU BANG!!."


"KADAL BUNTING NGGAK NGOTAK." Bermacam sumpah serapah lolos begitu saja dari mulut Nari.


Jung menahan diri demi enggak menoyor kepala Nari"Duwajuseyooo," Jung merengek kepada Nari. Dengan dua tangan mengantup di dada.


Emosi menggebu-gebu Naria seketika padam"Wae??" tanya nya penuh rasa kasihan"Jelasin biar Nari paham!."


"Mamah jahat, Nar," Jung pun bercerita panjang lebar kepada Nari, dia benar-benar terpojok kali ini.


Gelak tawa Nari pun pecah setelah memahami masalah Jung.

__ADS_1


"Tolong kunci kamarnya dong, aku nggak akan menemui mamah sampai dia bersedia mengganti MUA nya," pintanya. Wajahnya terlihat sangat memelas, mengharap belas kasihan dari Salah satu musuh bebuyutannya di rumah ini.


"Tapi bang, mamah nggak akan menyerah dengan mudah. Abang tahu kan."


"Yang penting aku usaha dulu deh Nar, ayolah Nar tolongin."


Nari beranjak dari duduknya di tempat tidur"Okey, sekarang kita impas ya. Bersyukur lah karena kemarin bang Jung bantuin Nari ketemu sama Kai," ujarnya sembari menekan knal pintu dan menguncinya.


"Gomawooo, btw apa kabar si lelaki pujaan kamu itu??".


"Udah jinak dong," sahut Nari bangga.


"Udah jinak apa di paksa jinak?," lirik Jung curiga, sebab obrolan terakhir yang Jung dengar di taman kemarin seperti sebuah ancaman bagi Kai. Nari menggunakan nama sang papah demi menundukan Kai di hadapannya.


"Sama aja!, toh sekarang Kai nya udah jinak sama Nari," jawabnya acuh.


"Terus si kembar?."


Bibir Nari manyun"Au ah, gelap!."


"Lhaa, eh jangan gitu sama hati orang. Memang kamu doang yang punya perasaan??Alex sama Aron juga manusia kali, Nar!!."


"Nari nggak ada rasa sama mereka---."


"Itu kamu, sedangkan mereka?, mereka kamu gantung kan?."


"Enggak!, Nari sudah sering menolak mereka bang, mereka aja yang ngotot pengen dekat sama Nari," elaknya.


"Sekarang mereka masih sering menghubungi kamu?," tanya Jung sembari menatap ponsel Nari. Gegas Nari mengamankan ponselnya.


"Dih, siapa juga yang pengen ngintipin ponsel kamu," cibir Jung"Tapi ya Nar, kalau mereka masih menghubungin kamu, kamu harus bilang dengan tegas kalau sekarang kamu udah punya pacar!."


"Emang siapa yang punya pacar?," Nari balik bertanya.


"Lho, katanya udah di jinakin tuh babang tamvan kamu. Yang hidungnya begitu lancip seperti junggitan taman TK."


Mendengar Jung memuji pria idaman, wajah Nari menjadi merona"Hem, Nari memang sering bilang pacaran dan negasin ke dia kalau sekarang kita pacaran, tapi dia nya nggak pernah menanggapi," si bontot memilin ujung seprai, jelas terlihat dia sedang gundah.


"Uluh-uluh~~~kasihan banget kamu. Btw, besok Kai kamu ajakin ke sini nggak? sepertinya kalau pakai setelan suit ganteng banget tuh anak."


Nari menatap ke atas, bola matanya bergerak kekiri dan kekanan. Imajinasinya sedang bekerja membayangkan penampilan Kai yang sedang melenggang dengan setelan suit nya.


"Kyaaa!!!, oppa ottokeee!!" tanpa sadar tangannya memukul-mukul lengan Jung dengan wajah yang merah merona.


Si Bae yang jadi saksi perdamaian sementara mereka ini ikutan tertawa, dia mengira Nari sedang bercanda dan menggodanya.


"Anak ayah yang ganteng, jangan ikutan setres seperti ounty Nari ya. Sini main sama Ayah aja," Jung melarikan Bae dari hadapan Nari dan mulai mencari permainan yang menarik untuknya bersama Bae.


To be continued...


~~โ™กโ™กHappy reading.jangan Lupa like ,vote dan komen ya teman ^,^ .jangan lupa tersenyum dan bahagia ya ๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰๐Ÿ˜‰


Salam anak Borneo.

__ADS_1


__ADS_2