
Carlos, Ayahanda Arin sungguh sibuk di kedai. Dirinya hanya bisa memberikan resep untuk membuat sup, sedangkan untuk mengajari membuatnya dia nggak bisa. Bagaimana dengan Hanggini? Ibunda yang satu ini sedang bersama Manda, menghadiri acara kumpul-kumpul bersama Mamah-Mamah kece lainnya. Tentu Nyonya Sook juga ikut di dalam acara itu.
Awalnya Manda nggak akan hadir di acara tersebut, karena sang putra sedang sakit. Tapi kabar bahwa Nyonya Arabella akan mengeluarkan perhiasan model terbaru, hal ini sungguh sangat sayang untuk di lewatkan. Setelah mengecek keadaan Fay, yang nggak begitu parah, Manda pun menjemput Hanggini dan berangkat bersama ke acara itu.
Lantas bagaimana dengan anak-anak??.
"Arin meminta resep sop ayam pada Ayahnya. Aku sangat tau bahwa dia nggak bisa masak."
"Dan kamu mengkhawatirkan hal itu?. Kalau kamu ikut ke acara Arabella lantas siapa yang akan mengajarinya memasak?." Manda tersenyum seraya memperbaiki dandanan. Saat itu dirinya telah berada di kediaman Hanggini.
Wanita itu mengangguk, membenarkan perkataan Manda.
"Kamu tau kan, kami nggak mempekerjakan pelayan untuk memasak. Sebab Carlos melarang hal itu."
"Kalian beruntung, di sela kesibukan di kedai, Carlos masih mengurusi perut kalian, bahkan sangat memanjakan kalian. Hidangan yang di buatnya selalu enak, sangat berbeda dengan Prana. Dia cuman bisa masak air."
Hanggini tertawa, dengan telapak tangan menutupi mulutnya. Sangat anggun, sayangnya keanggunan Hanggini nggak menurun pada Arin. Gadis itu lebih condong pada sang Ayah, dengan kadar kesabaran setipis kertas.
"Sesekali, biarkan Arin mencari jalan keluar. Aku nggak keberatan kalau putraku harus memakan sop yang rasanya unik" Manda memainkan kedua alisnya turun dan naik, menggoda Hanggini.
Mereka kembali tertawa. Baiklah, hari ini biarkan Arin berkreasi dengan masakan perdananya.
Berjalan beriringan di area sayur dan daging. Para Nona muda tanpa ilmu pengetahuan di bidang memasak ini nampak bingung berjamaah.
"Ini nih, daun sopnya. Kan mau bikin sop, jadi harus pakai daun ini" Nari mengambil seikat daun berwarna hijau.
"Masukin sini!" Arin membawa keranjang belanja menuju Nari.
"Ini Ayam."
"Iya, sahut Greta.
"Besar sekali."
"Itu Ayam bangkok."
Sontak mulut Nari membulat. Nggak berniat membaca, Nari mengangguk saja. Begitu pula dengan Arin. Sementara Febby sedang memilih rempah-rempah.
Setelah berkeliling, masih ada beberapa bahan yang nggak mereka temukan. Bukan nggak ada, hanya saja mereka nggak mengerti bahan yang di maksud. Pusing berkeliling, Febby justru mengajak mereka rehat sejenak, menikmati es krim sepertinya oke juga.
Menitipkan troli belanjaan di dekat kasir, sungguh semena-mena para Nona muda ini. Power of wajah. Nari tersenyum saat pekerja di supermarket itu mengenalnya. Di sana juga sedang mengadakan promo kopi yang sedang dia endorse, alhasil Nari pun berfoto di sana dengan kemasan kopi itu. Pastinya para pekerja di sana juga ikut berfoto.
__ADS_1
Meninggalkan supermarket, mereka berjalan di dalam Mall besar itu menuju sebuah restoran. Menu Ayam krispi, burger, kentang goreng, sungguh menggoda. Tak ketinggalan es krim yang sedari tadi mereka mau.
Sebuah meja di restoran itu menjadi tempat mereka berdiskusi.
"Panggil Ikbal aja deh" Arin teringat dengan anak koki kantin sekolah mereka.
"Ya elah!! kok baru kepikiran sekarang!" Nari menepuk keningnya.
"Mikirin Kai melulu sih!" tandas Febby.
"Hilih! kayak kamu udah bener aja. Gayanya memilih rempah-rempah, ku pikir dia tau. Eh ternyata nggak tau sama sekali."
Febby tertawa, mereka kan sama-sama nggak tau dengan urusan di dapur.
Ikbal sedang bersama Zaid. Sang ketua OSIS itu sedang pamer kendaraan baru. Kesal dengan tingkah songong Zaid, Ikbal begitu senang saat mendapat panggilan dari Nari dan teman-teman.
"Aku ikut!" Zaid nggak mau di tinggalkan. Sejujurnya dia kesepian, sebab Rivan sudah kembali ke kediamannya.
"Kamu yakin mau bawa mobil itu?. Cewek-cewek belanja kebutuhan dapur lho."
"Nggak pa-pa kali" sahut Zaid.
Kedatangan Zaid dan Ikbal, beriringan dengan aroma maskulin, aroma parfum Zaid.
"Buset!!, kebiasaan deh kalau kamu datang aromanya jadi wangi begini. Itu parfum di semprot apa di guyur?!."
Wajah Nari di usap Zaid, namun dengan lembut"Harusnya kamu bangga, punya teman selalu wangi kayak aku."
"Wangi kalau nggak bisa memiliki, apa gunanya?!" lancar sekali mulut Greta. Wajahnya meledek Zaid terang-terangan.
"Ku pikir setelah berteman dengan kami mulutmu bisa kalem sedikit. Ternyata sama aja kayak biasanya. Rasanya pengen aku kepret itu mulut."
"Awwhh!!" ini bukan teriakan Greta karena di kepret Zaid. Melainkan suara Zaid yang terpekik, Febby menjambak rambutnya.
"Febb!!! lepasin!!."
"Kepret!! kepret!!. Kamu berani main tangan sama cewek?." Febby memelotot. Gadis satu ini memang nggak suka kekerasan, tapi kalau dia yang menganiaya para lelaki, baginya oke-oke aja.
"Maaf!!. Keceplosan!!" Zaid memelas. Rambut adalah salah satu kebanggaannya. Memiliki rambut hitam dan lebat, benar-benar menjadi nilai tambah ketampanan yang dia miliki. Kalau sampai botak gegara serangan Febby kan, nggak lucu!.
"Terimakasih Febby" Greta tersenyum manis, dengan kedua mata berkedip-kedip.
__ADS_1
"Sama-sama" Febby ikut mengedipkan mata. Nari dan Arin mengacungkan jempol padanya.
Ikbal tertawa tanpa suara, menikmati kebahlulan Zaid karena berani hendak menyerang wanita. Ckckck!! sepertinya Zaid lupa, bahwa wanita adalah bibit ras terkuat di muka bumi ini, sebelum resmi menjadi emak-emak berdaster dengan senjata sutil dan centong sayur.
Untuk menebus kesalahannya, Zaid di minta membayar belanjaan mereka di restoran itu. Ikbal semakin tersenyum. Dia sudah melarang Zaid untuk ikut, tapi ini anak ngotot mau ikut. Kalau sudah begini bukan salah dia kan.
"Apaan nih??" kembali ke supermarket. Ikbal terkejut memperhatikan belanjaan cewek-cewek.
"Daun sop. Kan kita mau masak sop Ayam."
"Ini bukan daun sop. Ini mah buat bikin salad." Ikbal menepikan daun yang bisa mengobati insomnia itu. Nari diam saja, malu rasanya karena salah mengira. Daun sop saja dia keliru, sungguh memalukan.
"Kalian mau bikin sop Ayam apa sop bebek?."
Arin memicingkan mata, melihat daging dalam kemasan yang sedang di pegang Ikbal. Tertulis jelas di tepian kemasan itu, yang mengatakan bahwa itu adalah daging bebek.
Sontak kedua mata Arin melirik Nari dan Greta bergantian.
"Hahaha, kalian payah. Aku dong, bagian perbumbuan." Febby menyombongkan diri.
"Ini cengkeh kan. Iya dong!" ujarnya bangga.
"Iya tau ini cengkeh. Tapi nggak dua toples juga. Kalian mau bikin sop apa mau ngelinting rokok!."
Sudahlah!!. Nggak ada yang betul dari para Nona muda. Akhirnya Ikbal melanjutkan acara belanja itu, sedangkan mereka mengekor di belakangnya. Menerangkan setiap bahan yang di tanyakan mereka, nyatanya Ikbal jauh lebih tau bahan masakan ketimbang para cewek ini.
"Nanti masaknya di mana?" tanya Zaid saat membayar di kasir.
"Karena kamu yang bayar, masak di bengkel kamu aja aya" Ikbal tersenyum lebar. Sedangkan Zaid melongo. Perasaan dia nggak mau bayarin belanjaan ini deh, dia hanya bayarin makanan di restoran tadi.
"Jangan melongo. Buruan bayar" Nari bersuara.
"Oke, oke. Akh!! demi Fay doang dari kalian sampai aku yang repot. Awas aja itu anak, kalau kelamaan sakitnya bakal aku kepret kepalanya."
"Zaid!" seru mereka bersamaan.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya.
Salam anak Borneo.
__ADS_1