
"Dungu kamu Kai!."
"Kurang ajar!," Kai menoyor kepala Dion yang begitu geram mengomentari curhatannya.
"Kamu sudah membuang emas berlian Kai, apa salah nya sih menjalin hubungan dengan anak konglomerat?."
"Dia baik hati kok, nggak sombong seperti kebanyakan cewek-cewek berduit di luaran sana," tambah Dion lagi.
Kai tertunduk menatap meja kantin.
"Nggak usah pelototin mejanya, semua itu nggak akan merubah keadaan."
"Kamu kok geram sekali, Dion! yang menyerah kan aku, bukan kamu," ujung mata Kai menatap tajam sang sahabat. Baginya Dion sangat ikut campur dalam urusan percintaanya, membuat kepalanya semakin pusing mikirin Nari yang dia tinggal pergi begitu aja.
Setelah di pikir-pikir, nggak seharusnya dia pergi begitu aja. Yah, begitulah penyesalan, dia selalu datang di akhir cerita. Karena Nari memang menghuni hatinya, rasa kehilangan itu nggak bisa di hindari, Kai.... kesepian nggak ada pesan dan telepon Naria lagi.
"Aku tau Kai gimana perasaan kamu ke Nari, makanya aku sangat menyesali langkah mundur kamu."
Dion benar, bukan hanya Dion, Kai sendiri pun menyesali perbuatannya waktu itu. Dia ingin berbalik dan meminta maaf kepada Nari namun Nona muda itu sudah nggak bisa Kai hubungi.
__ADS_1
"Apakah dia mengganti nomor ponsel?," pikir Kai dalam diam.
Menyugar rambutnya kasar"Terus aku harus gimana dong? sepertinya dia ganti nomor."
Dion mengendikan bahu"Meneketehe-----, makanya kalau ada kesempatan jangan belagu! harusnya kamu bersyukur di cintai Nona muda seperti Nari. Biarpun kata kamu aslinya bar-bar, setidaknya dia jinak kalau kamu sayang-sayang."
Beberapa hari yang lalu Kai masih menghubungi nomor Nari namun hasilnya masih sama, nampaknya gadis itu benar-benar kecewa dengan langkah mundurnya itu.
Ck! ucapan Dion membuat semangat semakin merosot ke bumi. Sang dewi amor mulai bermain dengan hati pemuda ini, resah dan gelisah mulai menggerogoti ketenangan jiwa.
Waktu terus berlalu, tahun ajaran baru pun telah tiba. Masing-masing dari mereka menjalani hidup seperti biasa.
Tangan Kai yang sempat cidera akhirnya pulih kembali. Kini dia mendapat pekerjaan di sebuah ekspedisi pesan antar seperti pekerjaan terakhirnya.
Alex dan Aron pindah ke kota B. Tinggal bersama Baba dan mamahnya di sana. Mengingat usia baba yang sudah sangat tua, akhirnya Alex dan Aron menuruti keinginan sang mamah.
Mereka kuliah di universitas yang nggak kalah modernnya dengan universitas keluarga Charlotte.
Sedangkan Nari, kini menjadi kaka kelas yang memiliki banyak Fansboy. Setelah membuka lembaran baru Nari semakin mempercantik diri, semakin ramah dengan orang-orang dan tentunya semakin mempesona para pria. Dia bersama dengan Arin dan Febby bahkan selalu di elu-elukan para adik adik kelas, yang tentunya kepincut dengan kecantikan Nari si ketua geng.
__ADS_1
"Nar, entar kamu kuliah di mana?," tanya Febby sambil menyodorkan bekal Arin yang sudah dia embat habis isinya.
"Di universitas keluarga kami, memangnya mau ke mana lagi. Kalian juga ya!," pinta Nari. Sejurus kemudian gadis ini terperanjat mendapati rantang Arin sudah tak berisi lagi.
"Febyyyy!, aku masih mau makan telur gulungnya!!," pekiknya kesal.
"Ribet amat sih, telur gulung doang kan. Aku pesanin deh," ujar Febby bertanggung jawab dengan kelakuannya. Bento Arin memang selalu menjadi rebutan mereka di jam makan siang, sedangkan yang punya bento, malah dengan senang hati mendapat makan siang berbagai menu, yang di belikan Nari di kantin sekolah. Juga minuman berbagai rasa yang selalu siap Febby belikan untuknya.
"Nggak usah!, kamu kan tahu masakan Ayah Arin nggak ada duanya, hanya masakan dia yang paling sedap," Nari menolak tawaran Febby.
"Besok bawain bekal yang banyak ya Rin, nggak seimbang kan, masa satu bento begini kami bagi berdua, sedangkan kamu makannya banyak banget. Sampai menggunung begitu, rugi dong kami."
Arin menatap Nari dengan kedipan Nakal"Jangan banyak cing-cong, kalau cerewet aku nggak bakal bawain bekal lagi besok!!."
Cih...Febby dan Nari mencibir kepada Arin.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗
__ADS_1
Salam anak Borneo.