
...~ Aku tak bisa menemukan cara untuk membuktikan bahwa cinta itu semu....
...Aku ingin menyerah hingga akhirnya bertikai dengan diriku sendiri....
...Berpura-pura tak peduli, dan berpura-pura sibuk di setiap hari....
...Tapi aku tak bisa menahan diri lagi,...
...Aku begitu ingin tahu apa yang sedang kau lakukan sekarang ini~...
...๐๐๐๐...
Jung nggak bisa diam saja melihat kepasrahan Nari. Di perjalanan pulang dia langsung menghubungi Kai. Menceritakan panjang lebar perihal rencana pernikahan Nari dan Rivan, yang akan di gelar setelah mereka lulus sekolah.
"Jangan sampai kamu hidup dalam penyesalan, Kai. Terus terang aku lebih setuju kalau Nari sama kamu, dari pada sama Rivan," Jung mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang. Kala itu Kai baru selesai membersihkan diri dan berganti pakaian. Demamnya sudah turun, namun perutnya masih terasa sedikit ngilu.
Kai terkejut, secepat itu Nari menemukan jodohnya. Tapi entah kenapa kali ini hatinya berontak untuk menerima kenyataan itu. Sangat berbeda dengan dahulu saat dirinya mengambil langkah mundur, seolah membiarkan Nari jatuh ke pelukan Alex, atau Aron.
"Nari ada di rumah kok Kai, samperin gih. Sumpah demi Neptunus!! aku nggak rela kalau dia beneran jadi Nyonya nasi rames itu!!," di saat seperti ini, otak Jung masih sempat berimajinasi dengan nama panjang Rivan. Ckckckck!!
"Kok nasi rames sih Pak" sela Kai. Si dosen yang gemar memaksa ini, memang sering ngomong nggak jelas deh. Kai yang jarang bergaul mana mengerti arti candaan receh yang di lontarkan Jung.
"Ckckc kamu polos banget sih, Kai. Itu plesetan, nama panjangnya si Rivan tuh Rivan Rames Mahendra. Sekalian aja aku panggil dia nasi rames," jelas Jung panjang lebar.
Mulut Kai membentuk huruf O besar. Tanda dia mulai paham dengan ucapan dosen populer di kampus itu.
"Memang saya punya apa Pak?, di banding Rivan saya hanya butiran debu. Nggak ada apa-apanya."
"Ngerendah aja! sekalian tengkurap di tanah aja kamu. Mebanyakan cing-cong, serah deh!!. Aku sudah ngasih bocoran ya, keburu Nari di halalin Rivan baru dah merana seumur hidup."
Tut tut tut!!, Jung memutus panggilan. Kesel juga lama-lama. Kai lemot banget dalam bertindak, keburu di salip orang baru dah nyaho. Mana yang naksir Nari pada ngantri pula, para anak sultan pula. Jung jadi heran, apa sih menariknya si Nari? sampai cowok-cowok di sekolah menyukai dia.
Mendapat desakan dari Jung akhirnya Kai memberanikan diri untuk menemui Nari. Secepatnya bersiap diri, kaki jenjangnya berlari di gang sempit meuju jalan besar untuk mencari taksi.
"Langit mendung, kasih aku waktu sebentar lagi. Please jangan hujan dulu!!," desisnya di bawah langit yang sebentar lagi akan menurunkan hujan.
Kegelisahan semakin menguasai diri Kai, ketika sampai di depan jalan raya tak satupun taksi yang melintas. Dia berlari mencoba menakhlukan waktu, beruntung saat itu sebuah taksi yang sangat dia harapkan nampak di tikungan depan.
__ADS_1
Hujan pun turun dengan derasnya ketika Kai telah berada di dalam taksi"Perumahan Cherry blossom Pak, tolong di percepat ya."
"Oke mas nya, lagi darurat ya mas," tanya kang supir taksi.
Kai mengatur napas terlebih dahulu barulah menjawab pertanyaan kang supir"Iya Pak, lagi mengejar masa depan saya."
"Ceweknya mas? atau... cowok juga?."
"Ya kali Pak, saya lelaki normal gini. Masa iya masa depan saya sama laki-laki. Pisang ketemu pisang dong!!," balas Kai pula. Kang taksi rada-rada deh sepertinya.
"Siapa tau sih mas!" sahutnya nyengir. Pengen marah takut dosa, Kai hanya bisa ikutan nyengir deh sama si kang supir.
...โฃโฃโฃโฃ...
"Lho...bukannya lagi sakit?," ujar Nari mencoba bersikap sesantai mungkin. Demi apa?? jantungnya berdetak nggak karuan di dalam sana. Untuk sejenak dia melupakan sakit karena di tinggalkan Kai setahun lalu. Iya, dialah Kai, merubah hati Nari layaknya bunglon, yang bisa merubah suasana hati Naria setiap kali melihatnya.
"Sudah mendingan kok," sahut Kai kikuk. Waduh!! kemana semangat menggebu ketika dia berlarian mengejar waktu untuk menemui Nari. Ketika sang gadis di hadapannya masih saja bersikap kaku.
Pandangannya turun naik pada tubuh Kai, rambut dan pakaiannya nampak sedikit basah"Sakit kok malah ujan-ujanan" gumam hati Nari.
"Tunggu sebentar ya, silahkan di nikmatin teh hangatnya," ujarnya sebelum meninggalkan Kai sebentar. Tak berapa lama dia kembali dengan sebuah handuk dan memberikannya kepada Kai"Keringin rambutnya, ntar masuk angin, malah makin parah sakitnya."
Melihat kepatuhan Kai yang nggak berubah membuat Nari seakan berwisata di masa lalu.
"Kai---- kamu baik-baik aja selama ini?," tanpa di sadarinya kata-kata itu terlontar begitu saja.
Dan entah mendapat keberanian dari mana kepala Kai menggeleng. Dia yang awalnya menunduk dengan secangkir teh hangat di depan bibirnya kini mengangkat wajahnya dan menatap Nari penuh kerinduan"Aku nggak bisa bernapas lega, setiap malam aku memimpikan seorang gadis. Dia menangis, tangannya memeluk erat sebuah bunga yang ku kembalikan kepadanya. Selama setahun terakhir aku hidup dalam bayang-bayang nya. Setiap hari aku merindukannya, namun aku nggak berani sekedar menatapnya dari kejauhan."
"Jadi?," Nari penasaran. Mengambil duduk di sofa terdekat, dengan sofa yang di duduki Kai.
"Aku memang seorang pengecut, seperti yang gadis itu katakan terakhir kali kepadaku," lanjut Kai. Kini Nari benar-benar yakin bahwa gadis itu adalah dirinya.
Seulas senyum merekah indah di wajah cantik itu"Aku-----," Nari mengantung kata-kata.
"BISAKAH AKU MENJADI PELAYANMU!!,"ucap Kai dalam satu tarikan napas.
Naria tertegun, namun saat melihat wajah Kai, pemuda ini memejamkan mata dan sedikit menunduk saat mengucapkan kata itu. Sudut bibir Naria menukik naik, entah mengapa sikap kai saat ini mampu menghapus segala kekecewaan nya dahulu.
__ADS_1
Terdengar Naria tertawa kecil, membuat wajah Kai merona malu. Tawanya membuat Kai salah tingkah dan, akh!! keberanian itu membuatnya bertingkah bodoh di hadapan Nari.
Dan sungguh tingkah Kai saat ini membuat Nari mengubur segala kekesalannya atas kesalahan Kai dahulu.
"Nggak mudah lho buat jadi pelayan aku lagi. Aku sekarang banyak yang gangguin, yakin kamu bisa ngejagain aku??."
"Aku---aku bisa kok."
"Yang naksir aku banyak lho".
"Ya, aku akan jagain kamu semaksimal mungkin," tandasnya penuh keyakinan.
"Aku sudah punya calon suami, Kai!," kali ini tawanya seketika sirna. Kenyataan menyadarkan Nari bahwa kedatangan Kai sangatlah terlambat.
"Belum sah kan?," tanya Kai. Jung bagaikan agen rahasia, semenjak perjodohan terjadi dia begitu gencar mendorong Kai mendekati Nari. Hingga saat dia membocorkan perihal pernikahan itu dengan yakin dia berucap"Janur kuning nggak akan melengkung, aku mencium aroma aneh dalam perjodohan mereka, ini sangat nggak masuk akal bagiku, Kai."
"Orang tua kami sudah sama-sama setuju," jelas Nari. Gadis dengan rambut sebahu ini memainkan jemarinya dalam pangkuan, mencoba mengusir resah dalam hati.
Sepertinya bujukan dan desakan Jung membuahkan hasil. Setiap perkataanya terus terngiang di ingatan Kai, memacu keberanian yang lama terpendam dalam dirinya.
Dia meletakan cangkir teh dan menatap Nari dengan tajam"Maaf Nar, meskipun kalian sudah di jodohkan aku akan rebut kamu kembali!!," ucap Kai mantap.
Awh!! ada apa dengan hati Naria saat ini?? rasanya ingin meledak!!!.
...โฃโฃโฃโฃ...
...*Setiap saat hanya ada kamu di mataku....
...Di setiap menit aku merindukanmu di hatiku....
...Aku ingin mengendalikan diri dan melupakanmu,...
...Namun, tanpa sadar aku telah menulis tentangmu dalam buku harianku*ย Kai...
To be continue...
~โกโก Happy reading. jangan lupa like, vote, fav dan komen guys ๐๐
__ADS_1
Salam anak Borneo.