Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Kelakar Fay


__ADS_3

Jawaban serempak mereka membuat Tuan Charllote geleng-geleng kepala. dasar anak muda, memandang sebuah kebahagiaan hanya dari wajah cantik saja. Ckckckckc


"Yank, temenin Bae dulu ya. Aku ada kerjaan," Ghina mengejutkan Joen yang sedang menonton drama percintaan, dari balik ruang keluarga.


"Mau ngapain, Sayang?."


"Mau lapor sama komandan somplak," sahut Ghina dengan tawanya.


Joen mengerutkan kening, nggak mengerti dengan tingkah sang istri. Belum sempat menuntut penjelasan, Ghina sudah pergi ke lantai atas, meninggalkan Bae bersama sang Ayah.


"Ckckck Mamah mau ngapain sih, Bae?."


Bae hanya menggeleng. Dia pun nggak mengerti apa yang hendak di lakukan sang Mamah.


Di dalam kamar, Ghina sedang melaporkan keadaan rumah kepada Jung. Yah, Ghina menjadi agen rahasia di kediaman ini, khusus mengintai gerak-gerik, situasi dan kondisi si Nona muda, tentu semua itu atas perintah Jung. Ternyata Jung peduli banget sama si bontot. Setelah mendengar kekacauan kembali terjadi, secepat kilat dia melesat ke kediaman Charllote demi menyelamatkan Nari. Omelan sang Papah sangat menyayat hati, Jung sangat paham akan hal itu. Meski terkadang menyebalkan, tapi Naria tetaplah adik kecilnya, rasanya nggak tega kalau Nari kembali bersedih karena omelan sang Papah. Tapi kalau dirinya yang membuat Nari menderita, bahkan sampai menangis kesal, itu sih justru sangat menyenangkan bagi Jung.


Kembali ke ruang tamu, Kevin yang awalnya banyak diam saja di tengah berdebatan para sahabat sekaligus rivalnya, teringat misi mereka yang sebenarnya"Anu Om, sebenarnya kita ke sini ada maksud yang lebih penting dari pada berdebat sama om," dia memberanikan diri buka suara. Perdebatan para rekannya sudah membaut kepalanya pusing, ocehan mereka juga seperti nggak ada habisnya.


"Ngomong juga ni anak!," gumam batin Zaid.


"Kami mewakili Rivan mau jemput Nari ke acara ulang tahun teman SMP-nya Rivan, Om." Penuh keyakinan, Kevin berbicara dengan lancar, seolah semua ini memang atas permintaan Rivan. Padahal...

__ADS_1


"Lho!! katanya Rivan nggak baik buat Nari, sekarang kalian malah jadi jongosnya Rivan. Nggak jelas banget kalian ini!," sentak Tuan Charllote merasa di permainkan para bocah. Dari awal obrolan ini di buka, wajah-wajah kesal mengiringi penilain terhadap Rivan sangat nggak sedap di pandang. Juga sangat jelas terlihat bahwa mereka bukan pendukung Rivan, tapi sekarang?? apa-apaan ini?!.


"Yah...apa hendak di kata sih Om. Rela nggak rela, si Nari sudah Om jodohin sama Rivan kan. Asalkan masih bisa temenan sama Nari, kita-kita rela deh ngejemput Nari buat ketemuan sama Rivan," ujarnya bersilat lidah. Seandainya dari awal Kevin aja yang bicara, emosi Tuan Charllote nggak perlu memuncak, hingga membuat tengkuknya sakit. Meski terlihat bandel, tapi tutur kata Kevin masih sopan ketimbang Fay, yang langsung nge-gas ngomong sama Tuan Charlotte.


Zaid, Fay, Hendro menahan diri dengan segala ucapan Kevin. Demi Nari mereka rela menelan kata-kata manis Kevin depan calon mertua.


Sementara ekspresi Nari berbeda jauh dengan mereka, hanya dia yang nggak mengerti dengan rencana para bucin.


"Ada yang nggak beres" desis Tuan Charllote.


"Kalian lagi ngibulin saya kan?."


"Hm..., ingat ya, kalau kalian bohong saya akan laporin sama orang tua kalian, bahwa kalian berusaha menculik anak saya!!," ancam Tuan Charllote.


"Kaga Om!! ya elah sampe nyulik segala," sahut Fay. Seperti biasa, tanpa aba-aba Fay hendak langsung berdiri, dan lagi-lagi Ikbal menahan gerakannya. Bisa bahaya Kalau emosi Tuan Charllote semakin melonjak naik.


"Apa perlu saya telponin Rivan yang edan itu, om??" tantangnya setengah hati. Zaid dan Hendro bergidik dengan ucapan Fay. Kevin malah sampa berhenti bernapas sejenak, saking ngerinya kalau Tuan Charllote memang mau di telponin Rivan.


"Edan kok bilang edan!, kalian pikir tingkah kalian ini nggak edan? berbondong-bondong ke kediaman kami mau bawa anak gadis saya."


"Naria kan ramah tamah Om, jadi banyak temennya," sahut Fay"Jadi gimana Om, mau ngomong sama Rivan nggak?," Ikbal kesulitan menelan saliva. Si Fay percaya diri banget pengen menelpon Rivan. Perasaan ini nggak ada dalam rencana mereka deh.

__ADS_1


"Nggak usah!!, kalian boleh pergi tapi jangan kelewat malam. Bilangin sama Rivan kalau nggak jagain Nari aku pecat dari calon mantu," ujarnya tegas.


Sedikit terhuyung, Fay membuang napas lega, untung si O'om percaya aja. Nggak kebayang kan bingungnya Rivan kalau tiba-tiba di telponin calon mertu pake nomor Fay, si musuh bebuyutan.


Di tengah obrolan mereka datanglah si Dosen edan"Memang manjur tu kata-kata edan itu, baru juga di ucapain sudah nongol aja sang empu gelaran," andas Ghina yang kembali menonton drama remaja, bersama Joen dan Bae.


"Hus!!, bisa ngoceh juga mulut kamu, Sayang," tegur Joen.


"Istri itu berkaca pada suami, kan kamu sendiri yang sering memanggil bang Jung dosen edan," sahut Ghina dengan ujung mata melirik, mengejek pada Joen.


"Oho, jadi...kamu begini karena aku julid sama bang Jung?," tanya Joen bersiap menggelitik tubuh Ghina.


"Kwkwkkw makanya kalau depan anak sama istri kasih contoh yang bener, Sayang," ujar Ghina beranjak naik ke atas bersama Bae.


"Wwww Papah julid," tambah Bae pula.


"Bae, kok jadi ikutan ledekin Papah?!," Joen berseloro sembari ikutan nimbrung ke ruang tamu.


To be continue...


~~โ™กโ™กHappy reading. jangan lupa like, vote, fav dan komen. sorry nggak panjang episodenya, penyakit M sedang melanda ๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…๐Ÿ˜…

__ADS_1


__ADS_2