
Suasana kedai sangat ramai sore itu. Hujan membawa berkah untuk keluarga Arin. Sebagian besar orang yang berteduh di luar kedai, tergiur mencium aroma roti yang baru selesai di panggang.
"Memang legenda ini kedai. Untung saja kita dapat tempat duduk ya Bae."
Si kecil Bae nggak menghiraukan ucapan Andrea. Dia terlalu sibuk melahap roti isian keju miliknya.
"Pelan-pelan sayang," remahan Roti berhamburan di tepi bibir Bae. Andrea dengan telaten menyeka sisa-sisa remahan itu.
"Andrea?," seorang pelanggan menyapa Andrea. Awalnya dia ragu, namun ketika menatap Andrea lebih dalam barulah dia memberanikan diri untuk menyapanya, dan ternyata dia benar-benar Andrea.
"Ng..??," meski tampak bingung, Andrea tetap melempar senyum kepada orang yang mengapanya.
"Anak kamu? wahh!! ganteng sekali."
Bae turun dari kursinya dan memberikan salam kepada orang tersebut"Hallo, saya Mishal Bae Charlotte."
Orang itu semakin gemes melihat keramahan yang di tunjukan Bae.
"Hai...kamu ganteng sekali," tanpa permisi jemarinya memegangi dagu Bae dan mencomot-comot pipi mulus Bae. Anak itu nampak risih hingga perlahan mundur dan kembali menaiki kursi nya dengan bantuan sang Bunda.
"Gimana kabar kamu?," tanya Andrea. Paling bisa deh Andrea ini, dia berusaha friendly padahal belum ingat betul siapa wanita yang sedang menyapanya ini. Wajahnya nampak nggak asing tapi ingatan nya belum jelas.
"Baik. Heem, maaf ya Ndre. Aku menyesali perbuatan ku dulu. Sebenarnya aku yang memporak-porandakan lemari penyimpanan mu. Aku juga yang merusak sepatu olah ragamu," wanita itu menunduk, sebagai bentuk rasa penyesalan.
Otak Andrea berusaha mencerna ucapannya, apakah cewek ini mantan tukang buli?di dengar dari pengakuan nya begitu mengejut kan, siapa saja yang mendengarnya mungkin akan langsung menilai jelek padanya.
"Hem," Andrea kembali melempar senyum. Belum terpikir sahutan apa yang akan dia lontarkan, dalam benaknya masih mencari-cari siapa gerangan wanita ini.
"Ini anak kamu!," tanya Andrea.
Dia mengaguk"Kasih salam sayang!," ujarnya pada gadis kecil sebaya Bae.
"Halo, saya Sisilia Wilson."
Wilson!! di pandanginya lekat-lekat wajah wanita itu lagi. Andrea ingat sekarang, dia adalah Alina wilson, teman semasa SMP. Dan seingat Andrea mereka nggak sedekat ini, sebab Alina adalah gadis yang pendiam.
Cerita punya cerita mereka pun mengenang kembali masa-masa sekolah dahulu. Ternyata Alina menyimpan benci dalam diam kepada Andrea ketika remaja.
Pembawaan Andrea yang ramah dan mudah bergaul mengundang iri dengki di hati Alina yang cenderung kesepian, dulu dia nggak pandai bergaul.
"Aku benar-benar meyesali kepicikan dulu, maaf Andrea," berkali-kali Alina mengungkit masalah itu.
"Sudahlah Alina, sekarang kita sudah dewasa. Dan hidup kita sekarang baik-baik saja, bukan? sudah nggak ada benci dan iri lagi," dan berkali-kali pula Andrea menjelaskan ikhlas hatinya mendapat perlakuan buruk dari seorang Alina.
Tak terasa hujan pun reda. Setelah puas bercakap ria Alina bersiap pamit diri dari hadapan Andrea dan Bae.
"Sayang?," dekapan Jung mengejutkan Andrea.
"Ayah!!," seru Bae senang. Tangannya menggapai-gapai minta di gendong Jung.
"Nggak bilang mau nyusul," pekik Andrea membetulkan rambutnya.
"Tadi mampir ke depan, ayah lihat anak kesayangan Ayah ini lhooo," Jung mengkitik-kitik tubuh Bae hingga membuatnya tergelak renyah.
"Suami kamu?," bisik Alin pelan.
"Akh..sayang, kenalin ini teman SMP aku. Nggak sengaja ketemu di sini jadi nya kita reuni mendadak deh," Andrea mengenalkan Alin dan Jung.
Mereka berjabat tangan dan mengobrol sebentar .
"Alina Wilson---."
__ADS_1
"Jung Challote," ucap Jung tersenyum.
"Oh...., anda Tuan muda keluarga Charllote?, pantas saja rasanya nggak asing mendengar nama putra anda."
"Iya, itu aku," sahut Jung lagi.
Alin yang awalnya hendak pulang jadi betah berbincang bersama Jung.
"Pantas saja anaknya cakep gila. Bapaknya pangeran gini!," hati Alin bergema mengagumi ketampanan Jung.
...........
"Haduh, baru juga dekat sedikit sudah di kasih klakson," gerutu Hendro. Tubuhnya jumpalitan nggak karuan di sofa ruang tengah kediamannya.
"Kenapa kamu, dek?," tanya sang mamah. Hendro adalah bontot dari tiga bersaudara, dia memiliki dua kaka perempuan yang masing-masing sudah berkeluarga.
Si bontot menggeleng, telalu lelah untuk menjawab pertanyaan sang mamah.
"Gagal lagi?," tanya kakak sulung.
Hendro kembali mengangguk.
"Sabar, kalau jodoh nggak akan kemana kok," ujarnya. Namun ucapannya malah mengundang tatapan aneh dari si bontot.
"Jodoh gimana kak? aku baru kelas 10 juga. Jangan PHP-in adek dong," Keluhnya manja.
"Kwkwkk, PHP-in gimana? memang salah ya mah kakak bilang begitu?. Kalau memang berjodoh mau dia cuek seperti gimana pun, akhirnya akan jadi milik kamu kan," celetuk sang kakak lagi. Meski terlihat nggak akur, namun mereka ini nyatanya sangat akrab lho. Kerap kali Hendro curhat tentang Nari pada sang Kakak.
"Benar itu, dek. Lagian mana sih anak nya yang bisa bikin kamu galau tingkat dewa begini?," mamah mendekati sang Anak, mamun dia mendapat penolakan.
"Syuhh, syuuhh~, usir Hendro.
Hendro masuk ke kamar meninggalkan mamah dan kakaknya yang terkekeh geli"Nggak terasa dia sudah besar, sudah mulai naksir cewek," pikir sang mamah.
...****************...
Pagi ini hujan kembali melanda. Nari mendapat tugas menyusun buku-buku yang baru masuk ke perpustakaan kemarin sore.
"Neng, abang bantuin ya!," Kevin mendadak nongol di belakang Nari.
Plak!!, Nari berbalik dan spontan menepuk pundak Kevin"Ikh!! jalan nggak pake suara, kaget tau!."
"Kamunya aja yang terlalu fokus bekerja. Sini abang bantuin," Kevin mengambil beberapa buku dari paketan kardus besar.
Nang neng, bang beng. Kita seumuran kali," sungut Nari sambil menyambut buku-buku dari tangan Kevin.
"Biar aku rada tua-an gitu dari kamu."
"Apa hubungannya?," Nari berhenti bekerja. Kini fokus menatap Kevin.
Terlihat merapikan kerah bajunya"Ehem..!!sebagai cowok, aku kan harus lebih dewasa dari kamu Naria. Biar kesannya aku lebih bisa ngemong kamu gitu."
"Kwkwkkw," Nari terkekeh, lucu deh pikiran si Kevin ini.
"So? memang kamu mau ngurusin aku? mau jagain aku?."
"Iya lah!, cewek manis binti cantik seperti kamu tu harus ada yang jagain. Biar aman dari godaan para syaitonirrojim yang berseliweran di sekitar kamu tuh," sahut Kevin merapikan kuncir rambutnya, ckckck nggak kapok ni anak di omelin pak Harto gegara rambutnya yang gondrong.
"Termasuk kamu dong," Zaid muncul dengan seabrek buku-buku yang lebih tebal.
"Aigooo, bakal lembur nih," keluh Nari.
__ADS_1
"Tenang, ada Zaid," sahut Zaid menepuk dadanya.
"Abang Kevin juga ada neng!."
"Cih, ngapain seliweran di dekat Nari?, aku bacain Yasin nih biar kamu binasa."
"Gile!," Kevin melirik Zaid kesal"Cakep begini di samain ama syaiton."
"Lah, kamu kan yang bilang para shaitonirrojim."
"Situ ngerasa deketin Nari terus?," tukas Kevin melipat tangan di dada.
"Aku sih nggak munafik ya, aku memang demen sama Nari. Sementara kamu?," serang Zaid balik juga melipat kedua tangan di dada. Kini tatapan tajam dua pemuda itu bertemu.
"Sama!! aku juga," sahut Kevin nggak mau kalah. Tatapan tajam mereka seperti aliran listrik yang berkilat-kilat.
"Sudah!!, kalian nggak dengar bel sudah bunyi?," sentak Nari, coba meredakan adu mulut itu.
"Aku capek tiap hari kalian rebutin, rasanya sudah putus urat maluku gegara tingkah kalian. Cewek cewek juga pada nyinyir sama aku!."
"Kamu mau aman? kamu tinggal pilih salah satu dari kami," cetus Kevin.
"Aku nggak niat pacaran. Sudah aku umumkan sejak berabad-abad yang lalu ya. Kalian kalau mau temenan aku layanin, tapi kalau mau lebih, sorry, aku nggak bisa!," Nari pergi meninggalkan mereka berdua dengan kaki menghentak.
"Hais!! ini gara-gara cowok bernama Kai itu kan!!," sentak Kevin membuang permen karet dari mulutnya.
"Mungkin, tapi nggak tau juga sih. Memang Nari aja yang susah di takhlukin. Kak Alex lho bintang di lapangan basket, di tolak bro," Zaid tau betul kisah Nari dan Alex, sejak lama dia memantau mereka dalam diam.
"Sepertinya Nari lebih senang friendzone ya."
"Iya," perkataan Kevin di angguki oleh Zaid.
"Memang kamu rela Kita di gantung seperti ini?."
"Enggak kali Vin, orang Nari dengan jelas menolak kok."
"Hah, aku sih selama dia nggak jadian sama orang lain aja. Selama masih bisa selalu dekat sama dia itu sudah cukup kok buat aku," ucap Kevin berbesar hati. Dia sadar bahwa bukan hanya dirinya yang merasakan sayang dan cinta kepada Nari.
"Kamu mau lanjut kerja nih?, sudah bel kan," Zaid meletakan buku-buku dan menulis namanya di buku absen perpustakaan.
Kevin baru nyadar, cowok ganteng itu buru buru-ngacir ke kelas di susul oleh Zaid pula.
To be continued...
~~โกโกHappy reading.jangan lupa like vote dan komen ya teman ^,^
Salam anak Borneo.
**Nama:Wang kevin Atmadja .
tinggi: 1'76 M.
Kelas:12 IPA
Motto: *Usahlah engkau menimba ilmu terlalu dalam, karena di dalam sumur sesungguhnya tidak ada pengetahuan."
(Motto hidup ala Kevin)
๐ ๐ ๐ ๐ ...
__ADS_1