Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Nyanyian merdua Naria dan Rivan


__ADS_3

Suasana malam di kediaman Charllote.


Pasangan palsu yang tertangkap basah duduk bersebelahan dengan wajah tertunduk. Entah kenapa mandangin ubin-ubin di kediaman Charllote terasa lebih menarik bagi Rivan, ketimbang mengangkat pandangan lurus kedepan. Kenapa?


Sebab tatapan Sang Papah yang setajam belati siap menghujam jantung Rivan. Pria paruh baya itu duduk tepat di hadapan Rivan, sudah hampir tiga puluh menit sejak kedatangan Nari dan Rivan, namun tak sebait kata pun yang terlontar dari mulut mereka yang hadir di sana. Mereka menunggu pasangan nakal ini membuka suara, mengakui kesalahannya dengan segera.


Joen dan Ghina seperti biasa, mereka menonton drama si Nona muda dari lantai atas. Bagaimana dengan si dosen??sayangnya kabar terciduknya si Nenek sihir tak sampai pada telinganya kali ini. Kalau dia tau, mungkin akan bergegas datang. Entah untuk membantu Naria, atau justru mentertawakan keteledoran hingga terciduk sang Mamah.


Di tengah hujaman tatapan yang siap menghantam mereka, Nari yang mulai lelah duduk terdiam menyenggol kaki Rivan yang juga mulai lelah dalam diam.


"Apaan??" seakan bertanya Rivan melirik Nari sekilas.


Nari berbicara isyarat dengan menaikan dagunya. Rasa takut membuatnya kehabisan kata-kata. Dia sadar, kasus kali ini sangatlah fatal, sebab mendustai banyak orang, yang tentunya pada orang tua.


Pria di sebelahnya mengerti, Nari mendesaknya agar angkat bicara. Sama seperti Nari, Rivan pun sama takutnya untuk sekedar angkat bicara. Saling mengirim sinyal melewati tatapan mata, dua bocah ini mendadak mengerti bahasa kalbu. Telah di putuskan bahwa Rivan akan berbicara.


Sebelum buka suara Rivan menarik nafas dalam-dalam kemudian menghembuskannya lagi.


"Anu----"


"Anu apa!!?" sentak Papahnya.


Astaga!!, baru juga bilang Anu, si Papah main sambar aja. Kelihatan banget kalau gerak-gerik mereka sedang di awasi. Karena Rivan telah menciut sebelum menjelaskan kejadian itu, Naria angkat bicara. Tentu dengan keberanian di ujung tanduk"Pah" perlahan Nari akhirnya angkat bicara.


Nampak raut wajah penuh kekecewaan terlukis jelas di wajah Tuan Charllote. Keningnya nampak berkerut"Siapa cowok yang ada di foto ini??" tunjuknya pada potret sang putri yang terlihat sedang bercengkrama  dengan pria lain.


Nari terdiam. Nggak mungkin dia mengatakan siap pria yang sedang bersamanya itu. Ujung matanya melirik pada sang Mamah.


Wanita terhebat di keluarga Charllote mendapati lirikan sang putri. Dengan tangan menopang dagu dia berucap pada Nari"Mau Mamah yang kenalin tu cowok sama Papah kamu?."


Nari menggeleng cepat.


Tangan Nyonya Sook terulur, mempersilahkan Nari mengungkapkan siapa pria yang sedang bersamanya itu.

__ADS_1


"Itu-----Pacar Nari Pah!!" matanya memejam kuat. Jemarinya saling bercengkraman saling menguatkan. Andai dia punya kekuatan menghilangkan diri, yah....seandainya...


Tuan Charllote menepuk wajah menahan malu, terlebih pada Tuan Heru dan istrinya Sina"Maaf Her, aku gagal mendidik anak gadisku" ujarnya parau. Sungguh rasa penyesalan itu membuat wajahnya nampak lebih tua. Nggak terlihat wajah tegas Tuan Charlotte seperti biasanya.


Heru menggeleng pelan"Nggak Charllote, Rivan kayanya juga punya pacar. Ya kan Van?."


Bagaikan menelam biji kedondong Rivan bersusah payah menelan salivanya. Ternyata bukan hanya Nari yang terciduk, dirinya pun sama!"Sejak kapan Papah jadi cenayang??kok nebaknya kena banget," pikirnya dalam diam.


Brak!! "Ngomong Rivan!!" Tuan Heru menggebrak meja di ruang tamu keluarga Charllote. Dia lepas kendali, rasa gregetnya sempat membuatnya nyaris kehilangan kesabaran.


"Akh!!, maaf Charllote. Aku terbawa emosi" segera meminta maaf sempat kehilangan kendali. Memiliki seorang putra dengan modelan Rivan, nggak jarang Kesabaran dan kewarasan di ambang batas. Beruntung di usia sekarang dirinya nggak punya riwayat penyakit jantung.


"Its Ok Her, anak-anak kita sama gilanya ternyata. Kita sebagai orang tua wajar kalau sempat terbawa emosi karena ulah mereka kali ini" Charllote coba menenangkan sahabatnya itu. Dia sangat mengerti dengan perasaan Heru, sebab dia pun tengah merasakan apa yang Heru rasakan.


Tuan Charllote beralih bertanya pada Rivan"Jadi, kamu beneran punya pacar juga Van?" tanyanya dengan nada santai. Dia perlu memastikan langsung kebenarannya.


Rivan nggak kuasa berkata-kata, dia hanya bisa mengangguk pasrah. Tentu tanpa menatap manik calon mertua ini.


"Ini mulut biasanya lemes, ngomongnya juga nyablak, lah sekarang kok kalem banget!!" Jemari Nyonya Sook memelintir bibir Nari hingga sang empu menjerit kesakitan.


"Mamah mpun!!" pekik Nari dengan derai air mata.


"Jangan pake air mata!!, najis!!" sentak sang Mamah.


Rivan yang awalnya iba melihat Nari tersiksa, kini terkekeh mendapati bibir Nari dower dalam sekejap.


"Eh!!, kaya udah bener aja ngetawain orang!!, kamu pengkhianat kelas kakap!!" Mamah Rivan juga melancarkan serangannya pada sang anak. Tampang cengengesan Rivan membuat sang Mamah semakin geram, sontak dia mencubit dan memukul lengan serta pundaknya.


Tak kalah gesit dengan si Mamah,Rivan yang memang jago ngeles berusaha menghindar dari serangan dua jari Sang Mamah.


"Mamah udah dong, ntar jari cantik Mamah berubah jadi jari kepiting lho"


"Oh! kamu nyumpahin Mamah???"

__ADS_1


"Enggak Mah..." Rivan malah semakin terpojok. Niat menukar hati sang Mamah dengan kata-kata manisnya malah menjadi Bumerang.


Joen duduk manis di tepi pagar pembatas lantai atas. Menikmati pemandangan indah di bawah sana. Dua cecunguk itu sedang di kuliti dan itu sangat menyenangkan untuk di lihat"Ambilin cemilan deh, Sayang" pinta Joen pada Ghina.


Ghina memberikan jajanan milik Bae kepadanya.


"Sayang! aku bukan bayi lagi."


"Papah bawel"


Ucapan Bae membuat Joen menaikan dua alisnya"Heiii, kok bilang Papah bawel sih. Ini kan jajan punya Bae, jajan punya Papah ada di dapur."


"Mamah capek" ujar Bae lagi. Ghina merasa senang sebab mendapatkan pembelaan dari sang putra. Bocah itu bersikeras memberikan kue kering itu pada sang Papah, agar sang Mamah nggak perlu ke dapur lagi.


Mau nggak mau, Joen menerima pemberian Bae itu"Oh, oke deh. Drama di bawah terlalu indah untuk di lewatkan mengambil jajan ke dapur. Terimakasih cemilannya Bae."


"U welcome" sahut Bae tertawa.


"Pinter" Ghina berkedip sada bocah menggemaskan itu.


"Onti nangis" ternyata Bae juga memperhatikan drama di bawah sana.


"Karena onty nakal, jadinya nangis. Bae jangan nakal ya."


"Papah nakal" kali ini Bae melirik Joen dengan senyuman lebar. Membuat Ghina tergelak tawa. Bae saja sudah menyadari kejahilan sang Papah yang kerap membuat Nari berteriak histeris. Sedangkan Joen, nggak bisa membela diri, dirinya memang sering tertangkap basah Bae sedang mengerjai Naria.


Suasana ruang tamu di kediaman Charllote masih terdengar ramai oleh pekikan dan jeritan Nari dan Rivan, para Mamah yang gemas dengan prilaku anak-anaknya mencurahkan segala kekesalan mereka dengan mendaratkan cubitan bertubi-tubi pada tubuh sang anak.


Happy reading. Jangan lupa like vote dan komen. Sorry sort bab, Coz kerjaan di dunia nyata lagi membludak banget nih 😅 .


Tetap jaga kesehatan ya guys, 😘


Salam anak Borneo.

__ADS_1


__ADS_2