Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Temu rindu


__ADS_3

Musibah membawa berkah. Mungkin itulah yang sedang terjadi saat ini. Setelah kejadian yang hampir merenggut nyawa Hanan, lelaki tua ini mendapatkan kembali ingatannya. Hantaman keras di kepala memicu ingatan yang telah lama terkubur muncul kembali. Begitu nyata ingatan itu kembali, bahkan kejadian sebelum terjadinya kecelakaan terdahulu, dapat Hanan ingat dengan jelas.


Namun, di balik kebahagiaan itu ada hati yang telah hancur berkeping-keping, dialah hati kecil Victoria. Rasanya ingin pergi sejauh mungkin, dengan membawa Hanan dan Greta dari tempat ini. Untuk bertatap mata saja Hanan nggak mau, bagaimana bisa dirinya membawa lelaki ini?!.


"Victoria----."


"Pergilah Sook. Apa kalian sudah puas?, menghancurkan hidupku kembali?!. Aku sudah pernah jatuh terpuruk, dan aku berhasil bangkit lagi karena Mas Hanan."


"Tapi dia bukan suamimu!!."


"Dia suamiku!" hardik Victoria menyambar kata-kata Sook.


"Dia suamiku kalau kalian juga berkata begitu!!. Apa salahku kepada kalian, sampai kalian menghancurkan kebahagiaanku?." Banjir air mata, wajah cantik meski di usia senja itu kini sangat basah. Karlina menahan diri, sejatinya keluarganya yang sangat tersakiti saat ini, bukan Victoria.


"Mencuri kebahagiaan orang untuk kebahagiaan mu!!. Begitu yang kamu mau?" Charlotte meninggikan nada bicara, sekali lagi menampar Victoria dengan kenyataan.


Bersama Naria dan Udin, Greta di papah pergi dari hadapan Victoria. Mereka berdua nggak bisa membiarkan Greta terus menyaksikan kegilaan sang Mamah, sebab Greta sudah sangat teramat malu. Untuk memanggil Hanan dengan sebutan Papah pun, Greta nggak berani lagi.


Taman rumah sakit, menjadi saksi tangisan pilu Greta. Berkali-kali Udin mendapat cubitan dari Nari, memintanya untuk meredakan tangisan Greta. Serba salah, Udin dengan ilmu percintaan yang cetek, bahkan berpacaran pun nggak pernah, bingung apa yang harus dia lakukan.


Mata bulat Nari memberi kode, seraya mempraktekkan mengusap pucuk kepala Greta. Udin pun segera melakukan hal itu, dengan sangat lembut.


Punggung yang semula bergetar kini perlahan tenang"Kamu nggak sendirian, Greta" spontan Udin berucap.


Alih-alih semakin tenang, Greta kembali menangis. Dan kali ini tangisannya semakin menjadi.


Nari terkejut, hal ini di luar dugaannya.


"Kamu apain? kamu cubit ya?."


"Enggak!" Udin menjawab seraya menggeleng cepat.


"Tapi kok semakin menangis?!."


"Mana ku tau!" suara Udin tertahan. Sebab ada beberapa orang di taman itu yang melihat mereka. Pasti karena tangisan kencang Greta.


Grab!!, Greta memeluk Udin. Membenamkan wajahnya di dada pemuda ini. Seperti patung, dengan kedua mata memelotot. Nari mengulum bibir melihat ekspresi itu, lucu namun dirinya nggak boleh ketawa, takut Greta semakin menangis.

__ADS_1


Lagi, Nari memberi isyarat agar Udin memperlakukan Greta dengan lembut, seperti mengusap kepalanya seperti tadi.


"Di gituin malah nangis kan" bisiknya sepelan mungkin.


"Enggak akan. Dia hanya terharu!" Nari balas berbisik.


Baiklah, demi kedamaian tempat ini. Udin mencoba bersikap hangat. Sedikit berdehem sebelum memulai aksinya"Ehem!, sudahlah, jangan nangis terus. Nanti mata kamu bengkak."


"Aku nggak punya Papah" lirih Greta, kini mulai melepaskan pelukan dari tubuh Udin.


Buk! buk!, Udin menepuk dada bidangnya"Ada aku. Aku akan jagain kamu, seperti Papah kamu jagain kamu."


Buk! buk, Nari pun melakukan hal yang sama"Aku juga, aku akan selalu merhatiin kamu seperti Papah kamu merhatiin kamu."


Air mata semakin deras mengaliri kedua pipi Greta, kali ini nggak sekencang tangisan tadi"Kalian---baik sekali. Sedangkan aku selalu jahat sama kamu Nari." Ujarnya beralih pada Nari.


"Hei!! jangan ngomong kayak gitu. Semua itu sudah kami lupakan, sejak kita semua menjadi teman."


Greta sungguh nggak menyangka, betapa besar hati seorang Naria. Selama ini dirinya telah salah menduga, Nari bukanlah gadis yang menyebalkan. Benar kata Niki, Nari adalah gadis yang baik.


Kai nggak beranjak sedikit pun dari hadapan sang Ayah. Di haruskan beristirahat, Hanan seperti usai melakukan perjalan panjang, berceloteh tanpa henti. Mengajak Karlina berwisata dalam kenangan masa lalu. Tentang Kai yang dulu masih pendek, tentang Cleo yang dulu masih bayi, namun kini dua jagoan itu telah tumbuh besar, tinggi dan menjulang.


"Enggak, anda harus tidur dengan sendirinya, tanpa bantuan obat" sungguh kelegaan memenuhi ruang hati Hanan. Memegang jemari Kalian, Hanan yang memang sangat lelah akhirnya tertidur pulas. Cleo memainkan kakinya di atas ubin rumah sakit, seraya memandangi wajah sang Ayah. Tragedi kecelakaan dahulu, saat dirinya masih sangat kecil, hingga wajah sang Ayah nggak begitu membekas dalam benaknya. Hanya melalui foto saja, dan ternyata sekarang sang Ayah sudah sangat berumur, dirinya seperti melihat Kai dalam versi tua.


"Apa yang kamu pikirin?."


"Aku punya Ayah" sahut Cleo.


"Kamu senang?."


"Tentu saja."


"Aku lebih senang" Kai terkekeh.


Melirik sang abang dengan ujung mata"Kenapa?."


"Sebab wajah kami sangat mirip."

__ADS_1


Cleo memberengut"Ibu~~~" suaranya mulai serak, karena telah beranjak dewasa. Dalam suara serak itu dirinya memang kerap bersikap manja pada sang Ibunda, Karlina tertawa melihat sikap si bungsu.


Charlotte mengusap pucuk kepala Cleo"Kamu lebih mirip dengan Karlina, Ibunda kamu."


"Oh ya?."


Sook mengangguk"Coba lihat sendiri." seraya memberikan cermin kecil. Bukan suatu keanehan saat wanita membawa bedak, selain untuk memperbaiki dandanan, cermin pada kemasan bedak itu sangat berguna, seperti saat ini contohnya.


Karlina juga mengangguk, dan sejurus kemudian Cleo pun tertawa.


Sementara itu, Victoria belum juga beranjak dari rumah sakit. Meski Greta sudah di perbolehkan untuk pulang, dirinya masih ingin berdekatan dengan Hanan. Charlotte sudah menyuruhnya pergi, dengan begitu urusan mereka selesai. Namun, cinta itu sungguh menguasai dirinya, ancaman di bui seolah bukan apa-apa asalkan berdekatan dengan Hanan.


Sook menutup pintu lebih rapat saat melihat Victoria di muara pintu, hingga wanita itu duduk kembali di kursi tunggu.


"Aku kasihan padanya."


"Marina! dia wanita gila." Sook nggak terima Karlina mengasihani Victoria, wanita yang di kendalikan cinta gila.


"Setidaknya dia merawat Mas Hanan sangat lama. Aku akan rela kalau dia ingin berbicara dengannya sebelum pergi."


"Aku nggak yakin dia akan pergi semudah itu" tukas Charlotte.


"Sudahlah, setelah Hanan sehat kembali aku akan menempatkan banyak pengawal di kediaman kalian."


"Itu nggak perlu, Charlotte."


"Apa kamu mau Hanan di bawa Victoria?" penuh penekanan, Charlotte paham betul dengan kerasnya pendirian seorang Victoria.


Karlina kehabisan kata-kata, ucapan Charlotte memang benar.


"Lantas, bagaimana dengan dia?" Tuan Charlotte menunjuk Amir, pemuda ini terlihat memejamkan mata di ranjang yang berbeda, namun mereka di tempatnya pada ruangan yang sama, atas permintaan Charlotte. Perawat ini sepertinya orang baik, buktinya dia membantu rencana pelarian Hanan subuh itu.


"Mas Hanan ingin kita membawanya." Ujar Karlina.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗.

__ADS_1


Salam anak Borneo.


__ADS_2