
"Cepatlah tidur, jangan melamun terus. Kalau Papah di hinggapi jin alay Greta nggak bisa bantu."
Sudut bibir Hanan menukik naik. Selalu seperti itu, gadis kecil ini selalu membuatnya tertawa di tengah hati yang lara. Namun, hingga detik ini dia nggak tau karena apa sang hati menjadi lara. Semua baik-baik saja, entah mengapa ketenangan ini seolah menyimpan bom waktu yang mungkin bisa meledak kapan saja.
Hidup berdampingan dengan orang yang sangat mencintainya, meski nggak memberikan timbal balik atas perasaan cinta itu, Hanan selalu mendapat perlakuan terbaik. Seharusnya Hanan menerima saja semua kenyataan ini, membawa sang hati untuk meyakini bahwa Victoria dan Greta benar-benar istri dan putrinya. Sekali lagi, sang hati menolak untuk berdamai.
Usai meminum obat, pelupuk mata Hanan perlahan terasa berat. Pria paruh baya ini meminta sang perawat untuk membawanya ke tempat tidur. Nggak perlu waktu lama, beberapa detik kemudian alam mimpi pun telah terbuka untuknya.
"Papah, apa Papah sudah tidur?." Tanya Greta.
"Papah" panggilnya lagi.
"Sepertinya begitu Nona" ujar sang perawat, melihat hembusan dan tarikan napas yang teratur dari sang Tuan besar.
"Selalu begitu, apa ada obat tidur di antar obat yang rutin di minum Papah?."
Sang pengawal mengangguk"Iya Nona. Untuk menenangkan Tuan yang selalu resah."
"Haruskah begitu?, dia seperti di paksa untuk tidur."
"Nyonya yang memintanya Nona. Agar di saat bangun tubuh Tuan terasa segar dan bugar. Begitu kata Nyonya."
Greta mengangguk. Namun di dalam hati gadis ini sedikit nggak rela. Mengapa harus di paksa untuk tidur, dirinya bisa menemani sang Papah mengobrol panjang hingga akhir kantuk itu datang. Akh! hati kecil gadis ini merasa kesepian.
Sejatinya saat di sekolah dirinya mempunyai banyak kawan, itu pun karena dirinya selalu menjadi ATM berjalan kawan-kawan nya. Sempat dahulu, bisnis yang di geluti Victoria mengalami masalah keuangan, hal itu berdampak pada jatah uang jajan nya. Pengurangan uang jajan itu membuat Greta mengurangi aktivitas traktir pada temannya, baik di sekolah atau saat sedang nongkrong dan berbelanja. Perlahan para sahabat itu membangun jarak di antara mereka, dan mendekat kembali saat keuangan Greta kokoh kembali. Kalau sudah begini nggak ada salahnya bukan kalau Greta bertingkat seperti bos di antara mereka? memberikan perintah ini dan itu kepada mereka? sebab hampir semua pengeluaran saat berkumpul selalu Greta yang menanggungnya, padahal mereka semua anak orang kaya raya.
Di belahan bumi yang lain...
Rivan sedang sibuk di bengkel, berkutat dengan oli di wajah dan tangannya. Ternyata bekerja di bengkel itu nggak mudah, namun pemuda ini nggak pantang menyerah, toh gaji yang di berikan Zaid sangat mampu membuatnya menjadi sosok mandiri, sejak di berikan hukuman nggak pernah sekalipun meminta uang pada kedua orang tuanya.
Dering ponsel di sudut ruangan, membuat Zaid yang sedang bermain game menjadi kesal, konsentrasinya pecah karena hal itu.
"Rivaaannnnn!!!, ponsel mu bunyi!!!"teriaknya dari dalam ruangannya.
__ADS_1
Teriakan Zaid terdengar jelas oleh Rivan, sang rekan kerja segera menariknya dari bawah sebuah mobil"Buruan, bos kecil sedang main game!. Pasti suara ponsel mu menggangunya."
Rivan terkekeh pada Bang Bram, rekan kerjanya di bengkel"Aku tinggal dulu ya Bang."
"Nggak pa-pa, tinggal ini doang. Sisanya biar aku yang lanjutin."
"Terimakasih Bang" ujarnya adu jotos pelan pada Bram.
Memasuki ruangan Zaid, yang sedang duduk menekuk kaki di atas kursi kebesarannya.
"Berisik banget sih, pake teriak kayak anak perawan di jambret."
"Ponsel mu yang berisik!" sahut Zaid. Jemarinya bermain dengan lincah di atas keyboard, sebentar lagi kemenangan akan di raih.
Usia menemukan sang ponsel, Rivan membuka aktivitas panggilan di dalam ponsel tersebut. Ternyata Niki yang menelponnya, gadis itu juga mengirimkan beberapa pesan.
"Aku on the way ke bengkel." Pesan ini di kirim beberapa jam yang lalu.
"Ck! Rivan!!!, hari mulai gelap!. Jalanan di sini sepi!!!".
Satu panggilan tak terjawab....
"Rivan kamu di mana sih???."
Satu panggilan tak terjawab....
"Aku jalan kaki aja, di ujung tikungan ada abang-abang ojek kan?, jemput aku kalau masih sempat."
Satu panggilan tak terjawab....
"Rivan tolong, aku di kejar orang mabuk."
Satu panggil tak terjawab, dan ini adalah panggilan terakhir Niki.
__ADS_1
"Yay!!! aku menang!!" teriak Zaid. Alih-alih ikut bersorak seperti biasa, wajah tegang Rivan membuat Zaid terdiam.
"Oi, kenapa?, ada masalah?" sangat peka, bahkan terhadap teman cowok pun Zaid dapat membaca situasi dengan cepat.
"Niki di kejar orang mabuk" Rivan gegas meraih jaket kulit. Hanya dengan dalaman kaus buntung, celana jenas sobek-sobek di penuhi noda oli, bahkan di wajahnya pun ada noda oli, pemuda ini berniat langsung menyusul Niki.
"Ayo naik ke mobilku" ajak Zaid gegas menuju mobil sport miliknya.
Membelah jalanan dengan gesit dan secepat kilat, Zaid yang lihai dalam berkendara menemani Rivan menjemput Niki. Menjemput??, ya! semoga saja hanya menjemput tanpa harus mencarinya terlebih dahulu. Sedikit lagi sampai di gerbang kota itu, apesnya mobil yang di kendarai Niki mengalami mogok. Dan tepat di depan mereka ini simpang L, tempat yang katanya akan di tuju Niki untuk mencari ojek.
Sempat bertanya berbekal foto sang kekasih, nyatanya nggak ada yang melihat Niki sampai di area tersebut. Owh, keresahan sungguh memeluk diri Rivan saat ini. Di tambah nomor ponsel gadis nya nggak bisa di hubungi.
"Bang, di sini ada perkumpulan yang sering mabuk-mabukan ya." Tanya Zaid, teringat pesan yang di kirim Niki.
"Di perumahan terbengkalai sana, ngak jauh dari sini. Tepi jalan kok."
Ya Tuhan!!, rasanya Rivan ingin menangis. Niki memang bar-bar tapi kalau lawannya laki-laki dia pasti nggak bisa berkutik.
"Kenapa dek? kalau ada masalah kami bisa bantu."
Rivan menarik Zaid untuk gegas mencari Niki. Namun Zaid nggak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, tawaran bantuan dari abang-abang ojek itu nggak boleh di lewatkan. Melawan orang mabuk bukanlah hal mudah, mereka kerap gelap mata sebab kehilangan akal sehatnya.
Zaid pun menceritakan kejadian itu dengan singkat.
"Wah!! ini masalah besar. Ayo kami bantu, kami juga udah kesal sama mereka, mabuk-mabukan di area ini sampai penduduk sekitar nggak berani keluar malam. Penghasilan kami jadi berkurang." Ucap abang-abang ojek itu, yang langsung di angguki rekan-rekannya. Mereka berjumlah empat orang.
Malam itu Zaid dan Rivan di temani abang-abang ojek menyerbu perumahan terbengkalai itu. Berbekal kekesalan masing-masing, mereka bersiap melumpuhkan komplotan sampah masyarakat itu. Semoga Niki baik-baik saja.
To be continued...
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗.
Salam anak Borneo.
__ADS_1