
"Aku memang nggak berhak mengatakan ini kepadamu. Tapi, terlepas dari siapa kamu dan siapa aku, aku hanya ingin bahagia bersamamu tanpa harus memikirkan latar belakang kita."
Nari bengong di hadapan Alex. Niatnya nyamperin Alex hanya untuk mengusir lara dan dukanya, bukan untuk mendengar ungkapan rasa cintanya.Segala bawa-bawa siapa dia, siapa Nari. Sejujurnya hal itu bukan apa-apa bagi Nari, sebab dia bukan Nona muda yang haus akan sebuah penghormatan.
"Alex! aku sudah pernah bilang, bukan? kita sebaiknya berteman saja. Aku nggak mau memicu pertengkaran di antara kamu dan ka Aron."
Wajah si kakak kelas menunduk lesu."Naria, kamu yang sudah bikin aku uring-uringan."
Nari mengejar pandangan Alex, di tariknya wajah Alex tepat ke hadapannya"Aku?."
"Kamu tuh memang nggak peka ya, Nar!! sentuhan kamu yang seperti ini bisa bikin jantung aku copot tau!." Seraut wajah bersemu menahan malu, memandang Nari. Ini adalah jarak terdekat yang pernah mereka rasakan dalam bertatap mata.
"Ah, begitukah??S--sorry," dngan kikuk Nari melepaskan kedua tangannya yang meraup wajah Alex, nampak warna merah bersemu itu menjalar hingga ke daun telinga Alex.
"Sebentar lagi aku akan meninggalkan sekolah ini. Mama akan mengajak ku pindah ke tempat Baba(Nenek) di kota lain, bukan hanya aku, kami semua akan pindah ke sana," yang artinya, Aron juga akan pergi dari kehidupan Nari. Waduh!! Nari akan kehilangan dua penggemar sejatinya, maka kehidupan Nari akan sepi?.
"Kita masih bisa berkomunikasi lewat ini," Nari menggoyangkan sang gawai tepat di hadapan Alex.
"Kamu nggak pernah ngerasain rindu ya??," tanya Alex mulai kesal. Jika itu sebuah perpisahan, maka musuh terberat adalah rindu, ck!!! itu pasti akan sangat menyiksa.
Gimana mau ngerasain rind, jatuh cinta aja nggak pernah. Nari hanya menjawab dengan gelengan kepala.
"Gimana kalo kita coba pacaran sampai akhir masa sekolahku di sini??."
"Aron---."
"Nggak usah mikirin Aron, Nar. Please!."
"Tapi, aku nggak ada rasa berdebar sedikitpun ketika bersamamu, Alex. Maaf," si bontot dari keluarga Charlotte ini memilih untuk berterus terang, dia tak ingin menimbulkan salah pahaman terhadap Alex.
"Ja---jadi, kamu nggak sedikitpun menyukaiku?," tanya Alex lirih. Dia cukup di gemari di sekolah ini. Dia juga juara di lapangan basket, banyak para gadis yang bersorak ketika menonton nya bermain di lapangan. Mengetahui kenyataan itu, ada rasa sakit di setiap kata yang dia ucapkan sang gadis punjaan hati.
Dan anggukan Nari semakin menambah pedih hatinya, sekaligus menjadi jawaban untuk pertanyaannya.
"Gimana dengan perasaanmu, kalo lagi sama Aron?."
Nari menggelengkan kepala. Dia menepis kenyataan bahwa ada rasa berbeda ketika dia bersama Aron.
Alex maju selangkah mendekati Nari. Ruang ganti pakaian siswa laki-laki ini, menjadi saksi perjuangan Alex untuk mendapatkan gadis cantik itu"Kamu bilang kamu nggak mencintaiku??."
Sekali lagi Nari mengangguk menatap ubin-ubin sekolah.
__ADS_1
Jari tunjuk Alex menarik wajah Nari, perlahan lebih mendekat dan berbisik tepat di telinga Nari"Aku mengerti kalo kamu nggak merasakan cinta kepadaku, tapi aku akan membuat kamu menyukaiku. Jadi, aku minta jangan pernah datang kepada Aron lagi."
Kata-kata Alex mengejutkan Nari. Sepasang mata yang menatapnya hangat beberapa menit yang lalu berubah dingin dan tajam.
"A--anu, udara di sini kok gerah banget," ujar Nari spontan"Aku pergi ya, Lex. Ehm! jangan uring-uringan lagi ya," sikapnya mendadak canggung, Nari segera berbalik menjauhi Alex.
Sesekali dia menatap ke belakang, sosok Alex masing menatapnya dari kejauhah"Gila!! tiba-tiba berubah jadi kulkas delapan pintu si Alex itu, orang nggak cinta kok maksa!!," g
umam Nari lagi.
Berlari kecil di lorong"Plak!!plak!, ash!!sadarlah Nariii!!," pekiknya menepuk kedua pipi, demi mengusir rasa panas di wajah.
Tanpa Nari sadari, ada seorang adik kelas yang tersenyum menatap dirinya di muara kelas, sosok itu adalah Rivan. Cowok bernadal yang diam-diam selalu mencuri pandang pada sang Nona muda.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dua sejoli di mabuk cinta ini, masih betah menghabiskan waktu untuk sekedar berbincang dan bercanda bersama. Setelah lelah tertawa dengan beradu gombalan, mereka menghabiskan waktu dengan bermalas-malasan di karpet berbulu milik Jung.
"Sayang, rindu itu seperti apa ya?," Andrea merebahkan diri sambil membuka lembaran komik romantis koleksi Jung.
"Yaaaa, rindu itu berat." Sahut Jung santai. Dia mulai menyalakan ponselnya yang sengaja dia matikan, sejak kedatangan Andrea di rumahnya.
"Itu mah kata Dilan, sayang!," terkadang Andrea heran, kok bisa kekasihnya ini menjadi salah satu dosen terbaik di kampus ternama. Apakah Jung memiliki dua kepribadian? yang satu jenius, ceria dan ramah, yang satu lagi hanya bisa melucu, membual dan menggombal?.
Tring!!...
Tring!!...
"Wuah, begini nih susahnya jadi cowok ganteng, baru matiin ponsel beberapa jam aja pesan yang masuk udah ngantri padat."
"His, masih aja sok ke gantengan. Sudah tua juga!, upss!!," Andrea keceplosan.
Ponsel yang semula berada di tangannya kini tergeletak di tempat tidur. Lengannya menjulur menarik tubuh kecil Andrea dalam sekali tarikan.
"Rindu itu seperti angin, nggak bisa di lihat tapi kehangatannya dapat di rasa," bisiknya pelan dengan tatapan lembut
Andrea diam terpaku, helai rambut Jung menyentuh wajahnya. Lelaki itu kini tepat berada di atas tubuhnya, mengkungkung dirinya.
"Kamu nanya masalah rindu sama dosen sastra, bercanda ya!," "ujar Jung lagi.
"Yang ngebet duluan sama orang tua ini siapa?," Jung memangkas jarak bicara antara dirinya dan Andrea. Jemarinya bermain dengan helaian rambut panjang Andrea.
__ADS_1
Gadis itu masih terpaku..
"Lihat deh, baru juga di jelasin tentang rindu, kamu udah nggak bisa berkutik seperti ini. Gimana kalau aku menjelaskan masalah cinta?," puas menyusuri wajah sang kekasih dalam jarak yang sangat dekat, Jung sedikit mengangkat wajah. Menatap Andrea dengan hangat.
"Maaf pak dosen. Sa--saya memang sempat meragukan kemampuan anda sebagai dosen," perlahan Andrea hendak bangkit dan melepaskan diri dari dekapan Jung.
"Kamu mau kemana? posisi kita sudah sangat nyaman," Jung menahan tubuh Andrea agar tetap berada di bawahnya, dia menarik sebuah bantal dan meletakannya di kepala Andrea.
"Kepala ini jangan sampe eror lagi ya, aku nggak capek sih kalau harus memperkenalkan diri setiap hari sebagai kekasih kamu."
''I--iya deh. Aku menjaga kepala ini baik-baik kok," Andrea spontan mengalungkan lengannya di leher Jung.
Saat itu terbesit sebuah pertanyaan di pikiran Jung"Apa yang pertama kali kamu ingat tentang aku."
"Hm," Andrea memutar bola mata, dan bagi Jung wajah sang kekasih yang sedang berpikir ini sangat menggemaskan"sebenarnya sebelum ke belanda, bayangan kamu selalu muncul secara tiba-tiba. Membuatku berusaha mengingat siapa diriku, sebelum akhirnya aku pingsan."
"Bayangan kamu yang selalu mengatakan bahwa aku ini milikmu! hal itu selalu muncul dalam pikiranku."
Jung mengusap lembut pucuk kepala Andrea, merebahkan diri dalam satu bantal dan menjadikan lengannya sebagai sanggahan Andrea.
Mereka pun mengobrol sangat dekat, bahkan Andrea bisa sangat jelas melihat bayangannya di bola mata milik Jung"Bola mata kamu bening banget," ucapnya di sela bercerita tentang kemunculan Jung dalam ingatannya.
"Biasa aja mandanginnya, Kalau aku nggak bisa menahan diri lagi, bisa bahaya kamu."
"Nggak papa...!," selalu begitu. Gadis ini masih saja menggoda Jung untuk bertindak lebih jauh kepadanya. Dia seolah nggak peduli dengan usaha Jung yang mati-matian menahan diri, biar nggak melewati batas ketika bersamanya.
"Jadi, gimana kamu bisa yakin dan akhirnya menelponku?."
Senyum manis kembali terukir di wajah Andrea..."Sudahlah, sayang. Nggak usah mikirin masa lalu pedih itu," tukas sang gadis.
"Saat aku hilang ingatan, saat kenangan tentangmu telah terhapus, aku kembali jatuh cinta padamu lagi. Jadi apabila kamu khawatir di masa depan nanti aku hilang ingatan lagi, aku akan menemukanmu, dan aku akan jatuh cinta padamu lagi."
Jemari kecil itu menyusuri tiap lekuk pahatan sang maha kuasa dalam menciptakan wajah rupawan sang kekasih.
"Jangan sampai ada bayangan gadis lain di dalam bola mata mu ini," ujarnya ketika jemarinya berhenti pada kedua indra penglihatan Jung"Ingat! sekali kamu bersamaku, jangan harap kamu bisa lepas dan melepaskanku."
Bibirnya menyentuh kelopak mata Jung dengan lembut. Namun bergegas Jung membenamkan wajahnya di ceruk leher Andrea, sebab naluri lelakinya sangat bergejolak!!!
Akh!! Tuhan!! tolong kuatkan imanku!!!
To be continued...
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗🤗🤗
Salam anak Borneo.