Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Pemuda itu bernama Kai


__ADS_3

Bertukar keresahan bersama Fay, setidaknya sedikit meringankan beban di dada. Usai mendengar kisah sang gadis manis, Fay barulah berkomentar. Ya, seperti inilah Fay. Saat kau sedang bercerita dan berkeluh kesah di hadapannya, pemuda satu ini akan mendengarkan alih-alih menyalip setiap perkataan mu. Di saat kisah telah selesai, barulah dia berkomentar. Menanggapi masalah dalam kisahmu dan sebisa mungkin memberikan masukan yang dapat membantu.


"Hemmmm, sebenarnya salah satu sumber uang ku dari hasil ngendorse."


Heh!!, Nari menatap Fay lekat-lekat.


"Kamu... ngendorse?."


Fay mengangguk.


"Eh, jangan bohong!. kamu nggak pernah kelihatan jualan di akun Instagram!. ngendorse di mana?."


"Aku bukan bintang utamanya. Sepupu aku tuh yang ngajakin kerja sama. Jadi, aku sering bantuin di ngendorse, sering masuk frame juga pas lagi bikin Video, cuman nggak selalu."


Sorot mata yang semula mengintimidasi, kini berubah berbinar"Jadi...kamu ngerti banget dong sama pekerjaan itu?."


Fay lagi-lagi mengangguk.


Spontan Naria menarik lengan Fay, dan merengek seperti anak kecil"Fay~~~, temenin ngendorse!!."


Nggak seperti biasanya yang akan membalas sikap manja Nari. Fay mendorong kening Nari hingga terciptalah jarak di antara mereka"Duhai Nona muda, kamu yakin mau terima endorse tanpa izin dari om dan tante?."


Ups!. Senang karena kemungkinan besar Fay bisa membantu, Nari melupakan mereka berdua lagi. Ckckck, beginilah Nari sang Nona muda juga seorang pelupa.


"iya yah, Mamah sama Papah." Ujarnya menunduk lesu.


Wajah sedih Nari membuat Fay ikut bersedih. Lantas, dia pun segera memikirkan cara untuk menarik minat Nyonya Sook tentang menjajakan barang di akun media sosial.


"Gini deh----" Fay mulai mengungkapkan ide yang terbesit di otaknya.


Meninggalkan Fay dan Naria yang sedang mengatur strategi. Siang itu Kai telah menyelesaikan kewajibannya di kampus. Niat hati ingin menjemput Nari saat pulang sekolah, namun teringat kue jualan Ibunda yang belum di jenguk, Kai mengurungkan niat tersebut.

__ADS_1


Lagipula Nari belum mengirimkan pesan padanya, meminta menjemputnya ke sekolah.


Memarkirkan motor di tepian jalan, Kai berjalan kaki memasuki area sekolah menengah pertama. Sekolah swasta yang memiliki kantin, yang menerima kue buatan Ibu Karlina. Bukan sembarang orang yang bisa menitipkan jualan di kantin tersebut, hanya karena Karlina orang yang baik, pernah menolong kepala sekolah di sana saat naik kendaraan umum, maka kesempatan itu dia dapatkan.


Entah mengapa, akhir-akhir ini Kai merasa sedang di awasi. Seperti hari ini, dirinya berkali-kali menoleh ke belakang, memeriksa apakah ada seseorang yang sedang mengikuti dirinya. Saat di periksa, ternyata nggak ada. Mungkin itu hanya perasaan Kai saja.


"Eh nak Kai, mau ke kantin ya?" tanya pak satpam.


"Iya pak, saya boleh masuk?" sungguh sopan pemuda ini. Sejauh ini nggak pernah sekalipun sang satpam bernama Joko ini melarang Kai untuk masuk. Namun setiap kali datang dia selalu meminta izin seperti itu. Ada yang ingat dengan pak satpam ini??. Ya! ini adalah sekolah Ghina dulu, dan pak satpam ini salah satu sahabat Ghina.


"Masuk aja nak Kai. Kalau ada sisa kuenya bapak siap menampung kok." Cengiran pak satpam membuat Kai ikut tertawa. Sehingga wajah tampan pemuda ini terlihat lebih tampan.


Seraya meletakan telapak tangan di atas alisnya"Siap pak!" sahutnya di iringi tawa bersama mereka.


Setelah pamit untuk masuk ke area sekolah itu, Kai di sambut candaan para gadis-gadis. Selalu tersenyum, dengan sikap yang baik, Kai kerap mendapat godaan dari para cewek di sekolah ini. Kai tau mereka hanya bercanda, sebab itulah dia nggak pernah menanggapi serius godaan mereka.


Syukurlah, hari ini kue Karlina habis. Kai segera membawa lima keranjang kue itu, dengan mengikatnya menggunakan tali rafia.


kai tersenyum lagi"Enggak. Aku akan malu kalau mencuri keranjang ini."


"Wuuuu!!!." Sontak jawaban Kai membuat gadis itu di ledek teman-temannya. Kerap berbalas ledekan, kali ini dia kalah dari Kai.


Kai berlalu dengan gagahnya, seolah candaan yang mungkin sebenarnya adalah hinaan itu bukan apa-apa.


Setelah Kai berlalu, siswa perempuan itu masih mendapat ledekan.


"Untuk sekarang puas-puasin aja dulu ngeledekin aku. Entar kalau itu cowok berhasil aku takhlukan, kalian harus bayar mahal ya!."


"Hilih! yang mau taruhan sama kamu juga siapa?!."


Gadis bernama Dira itu bergumam"Ya, aku memang nggak berniat menjadikan cowok itu taruhan, sebab perasaanku serius dengannya."

__ADS_1


"Hah? kamu ngomong apa?."


Dira menggelengkan kepala"Aku nggak ngomong kok."


Di perjalanan menuju kediaman mereka, lagi-lagi Kai merasa di awasi. Meletakan semua bawaan di teras, Kai berniat memeriksa keadaan sekitar untuk lebih memastikan.


"Kai, kenapa keranjangnya nggak di bawa ke dalam dulu? kamu mau kemana lagi?" Nenek Letta menegur sang cucu, saat langkah pemuda itu hendak menjauh dari teras.


Kai sedikit terkejut, sebab kedatangan Nenek yang tiba-tiba. Kalau dia mengatakan ingin memeriksa area kediaman mereka, pasti Nenek Letta akan menanyakan sebabnya. Demi menjaga ketenangan hati si cantik ini, Kai mengurungkan niat itu.


"Aduh! Nenek ku yang cantik! kenapa muncul mendadak" seraya memegangi dada.


"Nenek tadi di balik pintu saat kamu datang. Katakan, kamu mau kemana lagi?, barang-barang itu letakan di dapur dulu."


Meraih bawaan itu, Kai menuruti perkataan sang Nenek"Enggak kok, Kai cuman mau jemput seseorang aja. Eh hampir lupa sama keranjang-keranjang ini. Terimakasih Nenek ku yang cantik, sudah mengingatkan cucu tampan mu ini."


Letta menarik cuping telinga Kai saat dia hendak tegak berdiri"Berhentilah memanggil ku cantik. Aku bukan Nenek yang nggak tau diri, aku sadar diriku sudah nggak lagi muda!."


Kai akhirnya duduk di teras sebab Letta nggak melepaskan telinganya"Ampun Nek. Habisnya Nenek beneran cantik. Bagaimana bisa aku berhenti memanggil Nenek cantik sedangkah itu kenyataannya." Nggak sakit sih cubitan Letta di telinganya, hanya saja Kai memang nggak mau melawan sang Nenek. Saat mengomel seperti ini wajahnya lucu sekali bagi Kai.


"Bohong!!. Nenek sudah tua kamu masih memanggilku cantik. Jangan ajari orang tua ini menjadi nggak tau diri!."


Akhirnya Letta melepaskan cubitan itu, Kai terkekeh"Nenek, di mataku Nenek adalah seorang wanita cantik yang terjebak di tubuh tua ini saja. Sampai kapanpun Nenek tetap yang tercantik di mataku!."


Oh, sungguh gombal sekali Kai ini. Wajah Letta merona, seperti memakai pewarna pipi secara berlebihan. Sedangkan Kai, dia semakin senang saat Letta ikut tertawa, dengan wajah merona itu.


Seperti apa yang di rasakan Kai, memang ada seseorang yang sedang mengawasi dirinya. Orang tersebut mengabadikan interaksi Kai dengan sang Nenek, kemudian mengirimkan Video tersebut kepada seseorang.


To be continued...


Selamat membaca, jangan lupa like fav dan komennya 🤗.

__ADS_1


Salam anak Borneo.


__ADS_2