Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Sedikit harapan


__ADS_3

Kenyataan bahwa Hanan masih hidup, telah di ketahui Charlotte dan Sook. Mereka berdua mendatangi kediaman Nenek Letta di sore hari.


Karlina, tubuh wanita ini bergetar, melihat sebuah video yang menampilkan gerak-gerik sang suami.


"Charlotte, dari mana kamu mendapatkan video ini?" bertanya dengan perasaan campur aduk. Bahagia? tentu saja bahagia. Dengan melihat melalui Video saja wanita bernama asli Marina ini, sangat yakin bahwa lelaki di dalam video itu adalah suaminya."


"Kedekatan anak kita membuatku penasaran dengan sosok putramu. Awalnya aku nggak terlalu peduli dengan raut wajah nya, yang mirip dengan Hanan. Rasa cinta putriku yang teramat dalam kepadanya lah yang membuat ku penasaran, lelaki seperti apa yang mampu menjinakan putri nakal ku."


Nenek Letta tersenyum, ternyata gadis manis itu di kenal nakal oleh kedua orang tuanya. Meski begitu, kesan pertama saat bertemu sudah teranam dalam benak Nenek Letta, Naria adalah gadis cerita, rendah hati dan cantik pastinya.


"Lantas kamu mematai-matai kami?" tanya Karlina lagi.


"Maaf" lekas Sook bersuara, meminta maaf.


Manik indah Karlina menatap Sook, wanita sebaya dirinya"Setidaknya utusan kalian nggak mengganggu aktivitas kami. Bagiku itu bukan hal buruk."


Seulas senyuman di wajah Karlina membuat Sook tenang, juga Charlotte. Mereka nggak mau Karlina salah sangka, hingga marah kepada mereka.


"Mengetahui bahwa Kai adalah putramu, kami pun mencari keberadaan Hanan. Meski kabar mengatakan dia telah mati, kami ingin mencoba mencari alih-alih menyerah, sebab jasadnya nggak pernah di temukan."


Karlina mengangguk"Ya, hal itu juga selalu mengusik hatiku, hingga hari ini. Aku selalu berdoa pada sang maha kuasa, kalau memang terah tiada setidaknya tunjukkan di mana pembaringan terakhirnya. Dan kalau dia masih hidup, tolong pertemuan kami" ada genangan air mata yang berusaha di tahan, agar nggak menggenangi kedua pipi nya. Sungguh, Karlina sudah lelah menangis, terlebih di setiap malam dalam hati memeluk rindu.


"Dan kini dia kami temukan" ujar Sook, meraih pundak Karlina, dia tau wanita ini sedang menahan tangis, kedua matanya terlihat berkaca-kaca dan merah.


Ada sosok wanita dalam video tersebut"Siapa ini?." Hal inilah yang menjadi keresahan di dalam dada.


"Victoria" ujar Charlotte.


Sedikit memaksa otaknya untuk mengingat, Karlina pun menemukan memori tentang Victoria dalam ingatannya. Seorang putri keluarga kaya raya, teman satu kampus Charlotte dan Hanan.


"Kenapa dia bersama suamiku?."


Sebelum menyampaikan kabar selanjutnya, Charlotte menelan saliva. Mungkin ucapannya ini akan melukai hati Karlina"Victoria mengaku sebagai istri Hanan."


Hah!!. Baik Letta dan Karlina, dua wanita ini terkejut. Ada banyak tanya yang belum mereka lontarkan, karena Charlotte dan Sook belum bercerita secara keseluruhan.


Di temani teh hangat, dan sepiring kue buatan Karlina, kisah tentang Hanan pun mulai di ceritakan. Cukup lama kisah itu di ungkap Hingga langit mulai jingga, kisah tentang jalan hidup Hanan belum jua usai.


Hanya sebentar, Victoria langsung membawa Hanan menghilang dari balkon lantai dua kediaman mereka. Waktu sekejap itu sungguh mengusik hati Kai, sebab dia belum jelas betul Memperhatikan sosok Papah Greta. Namun, entah mengapa hatinya sangat yakin bahwa dia adalah Ayahnya yang telah tiada.

__ADS_1


Telah tiada...., kenyataan itu menyadarkan Kai dari kegelisahan hati.


"Ayah telah tiada!" hardik sang hati, saat dirinya begitu ingin menjumpai lelaki di atas balkon itu.


Meninggalkan rumah perkebunan milik keluarga Greta, Kai terus mensugesti diri agar melupakan Papah Greta. Bukankah di dunia ini ada manusia dengan tujuh wajah yang sama, yang tersebar di berbagai belahan dunia. Entah itu di negara yang berjauhan atau di suatu tempat terdekat sekali pun.


Plak!!!!, sebuah tamparan menghantam pipi Amir. Dan pelaku pemukulan itu adalah Victoria.


"Aku sudah bilang, kemana pun Tuan pergi kamu harus selalu melaporkan nya kepadaku!" bergetar seraya menahan emosi. Victoria nggak mau berteriak meskipun ingin, sebab khawatir suaranya akan terdengar oleh Hanan di ruang baca.


Amir memohon maaf. Ini adalah kesalahan pertama selama dia bekerja. Dirinya nggak menyangka, Victoria yang lemah dan lembut mampu membuat wajahnya panas.


"Ingat Amir, jangan pernah lagi mengulangi kesalahan ini!!."


"Iya Nyonya" lirih Amir menunduk.


"Pergilah!."


Perawat pria ini segera angkat kaki dari ruangan itu.


Sedangkan Hanan, lelaki tua ini mendapati alat pelacak di bawah kursi rodanya. Pantas saja Victoria segera tau di mana dia berada, membawanya pergi balkon belakang.


"Apa Victoria memarahi mu?."


Amir tersenyum"Enggak Tuan. Nyonya hanya sedikit menasihati saya."


Wajah Amir terlihat segar, tentu saja, karena dia membasuh wajahnya sebelum menjumpai Hanan. Namun, saat Amir berpindah posisi, rona merah itu masih dapat terlihat, tepat di pipi kirinya.


"Maaf Amir."


Amir mendekat, berjongkok di hadapan Hanan. Di pandanginya wajah tua Tuannya ini.


"Tuan nggak salah apa-apa, untuk apa meminta maaf. Sekarang mari aku pijat kaki Tuan, agar nggak kaku."


Seperti biasanya, Amir selalu memijat pelan kedua telapak kaki Hanan. Di saat seperti inilah Hanan kerap mengajaknya berbicara banyak. Seperti hari ini.


"Bagaimana keadaan adikmu?. Apa dia sudah kembali bersekolah?."


"Hem, sudah Tuan. Beruntung dia hanya terkilir, dan ada sedikit memar di bagian lutut" Ujarnya. Kabar duka sempat datang dari kampung halamannya, sang adik mengalami insiden buruk, terjatuh dari pohon saat sedang mengambil layangan putus.

__ADS_1


"Ayah mu, apa dia baik-baik saja?."


"Ya, baru kemarin dia mengabarkan, sudah menebus obat di puskesmas."


"Amir, apa kamu nggak memiliki keinginan untuk hidup berdampingan dengan mereka?."


Amir tersenyum hambar"Tuan, berjumpa dengan keluarga anda adalah sebuah anugerah, meksi harus berjauhan setidaknya imbalan yang ku dapatkan cukup untuk membiayai Ayah, Adik dan Nenek ku di kampung."


Hanan tersenyum"Begitukah? meski kamu harus berpisah dari mereka?."


"Awalnya terasa berat. Tapi kebaikan keluarga anda membuat saya betah bekerja di sini."


Lagi, Hanan tertawa"Sepertinya kamu sangat mencintai Ayah mu, hingga nggak mengizinkan dia bekerja keras."


"Tentu saja Tuan. Aku sangat mencintai keluargaku. Biarlah aku saja yang bekerja, membiarkan mereka menjalani kehidupan yang layak di sana."


"Andai aku bisa memilih jalan seperti mu."


Ucapan Hanan membuat Amir menghentikan aktivitasnya.


"Maksud Tuan?."


"Seandainya, Ayah yang sangat kamu cintai itu terpisah dari keluarga mu, apa yang kamu rasakan?."


"Tentu saja aku pasti akan menderita, Tuan."


Hanan diam sejenak. Sepertinya orang tua ini sedang merencanakan sesuatu. Selang beberapa menit, dia pun berkata"Apa kamu bersedia menolong seorang Ayah yang malang ini?."


Kedua bola mata Amir berkedip-kedip.


Hanan mengeluarkan selembar kertas untuk di lihat Amir. Dan betapa terkejutnya Amir, mengetahui kenyataan di atas selembar kertas itu.


"Jadi...."


"Kecurigaan ku selama ini benar. Tolong bantu aku Amir." Lirih Hanan penuh harapan.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya 🤗.

__ADS_1


Salam anak Borneo.


__ADS_2