
Kejutan demi kejutan membuat Hanan bahagia. Tak menyangka orang seburuk dirinya masih di kelilingi orang-orang baik seperti Charlotte dan William beserta keluarga. Tak ketinggalan si kecil Bae, bocah ini begitu suka di gendong olehnya. Tingkah lucu dan menggemaskan Bae membuatnya spontan berkata"Kalau nanti cucuku perempuan, bolehkah aku mengharapkan kalian berjodoh."
Bicara kepada Bae, namun yang mendengar semua orang yang ada di tempat itu. Nari dengan kadar cinta tak terhingga kepada Kai, tersedak jus yang sedang di minumnya. Hanan seperti memberikan kode kepadanya untuk segera memberikan cucu. Owh~~~~, Nari merasakan wajahnya mulai panas. Dan dia yakin sekarang wajahnya merah seperti kepiting rebus.
Beruntung posisi Joen dan Jung terbilang jauh dari Nari. Kalau dekat, dua Abangnya itu pasti akan menyiksanya. Menarik pipinya, atau mungkin menjitak keningnya. Sedangkan Kai, pemuda ini hanya terdiam dalam rasa malu. Bukan malu dalam artian buruk, siapa yang nggak malu mendapatkan sindiran halus seperti itu.
Sejatinya Hanan hanya sekedar berkata. Dan lucunya dua muda-mudi ini menanggapi berbeda.
"Cepat kasih cucu" bisik Andrea. Kebersamaan dapat menjadikan seseorang meniru perilaku pasangannya. Dan Andrea jelas mulai ketularan usilnya sang suami.
Sungguh, rasa malu itu membuat Nari kehabisan kata-kata. Gadis ini mengulum bibir, ingin rasanya berlari dari tempat ini tapi dia juga masih ingin berada di sini. Nah!! bingung kan apa yang ingin Nari lakukan.
Entah mengerti atau tidak, Bae hanya terkekeh mendengar ocehan Hanan.
Marina mengambil alih Bae, mengajaknya menikmati kue yang di sajikan di Cafe itu. Meski nggak banyak, makanan dan minuman tersaji di sana dengan pelayan yang siap melayani mereka.
"Lihat, Ibu sudah pas menggendong cucu" hei!!. Cleo ternyata juga menggoda Abangnya. Bocah pun dapat mengartikan ucapan Hanan adalah sebuah harapan.
Menyikut sang Adik, Kai berusaha bersikap biasa saja. Mereka yang ada di sana tersenyum, hingga Hanan menyadari mimik wajah mereka semua.
"Apa yang kalian tertawakan?."
Jari telunjuk William mengarah kepada Marina"Lihat, Marina sudah cocok menjadi Nenek. Ucapanmu mungkin bisa di bicarakan lagi bersama Charlotte dan Sook." Saling menggoda, begitulah para orang tua dengan selera humor tinggi ini saat berjumpa.
Tawa Hanan seketika meledak, terlebih saat menyadari raut wajah Nari dan Kai bersemu"Oh!!. Ayah hanya sekedar berkata. Jangan di ambil hati ya" melirik Nari dan Kai bergantian. Nari nggak bisa membalas lirikan itu. Rasanya malu sekali saat kamu kepergok begitu mencintai kekasihmu di depan orang tuanya.
"Bang, cepat tabok mukanya si Nenek lampir!!. Lucu tapi gemas pengen ku bikin nangis" bisikan Joen terdengar oleh Ghina. Sontak saja lengan pria itu menjadi sasaran empuk sang istri.
Jung langsung berdiri, hendak menghampiri Nari. Cukup di goda saja, dan sekarang Nari sudah salah tingkah banget. Kalau harus menjahilinya lagi rasanya nggak tega. Maka Andrea menahan gerak sang suami.
"Sehari ini saja, jangan ganggu kesenangan nya" bisiknya.
Hanya menjulur lidah, dan di balas cibiran bibir sang bontot. Jung akhirnya duduk kembali di samping sang istri.
__ADS_1
Fay, menatap foto sang calon istri melalui ponselnya. Kenapa ya ucapan seorang Ibu itu selalu menjadi kenyataan. Saat Fay menolak perjodohan dengan Arin, sang Mamah bilang"Cinta akan muncul seiring berjalannya waktu."
Rindu, apakah rindu bisa di katakan cinta?. Tapi, Arin hanyalah seorang teman baginya. Yah, meski terkadang rasa memiliki itu muncul, kemudian menghilang kembali. Ck!!. cinta oh cinta, kenapa berurusan dengan mu selalu membuat pusing!!.
"Guys, hari ini kita masak rendang. Masalah harga, seperti biasa ya. Kalau ada yang komen kemahalan maaf saja ya. Kita pakai daging sapi impor, harga segitu wajar kali ya." Manda memulai siaran langsung di akun Instagram. Emak-emak dengan bisnis katering ini kerap melakukan promosi melalui media sosial.
"Pagi amat Mah, Fay aja belum berangkat sekolah" percaya diri sekali Fay ini. Pagi?, sepertinya bocah ini nggak memperhatikan jam.
"Segitu dulu ya guys, bagi yang mau pesan bisa melalui kontak biasa ya. Bye-bye all" menyudahi siaran langsung itu, Manda langsung menghampiri Fay.
"Heh!!. Mamah pikir kamu sudah berangkat ke sekolah!."
"Lah ini mau berangkat."
"Kamu tadi kemana? si Bibi manggilin nggak ada jawaban dari dalam kamar."
"Ya masih tidur dong Mah." Membuka tudung saji di meja makan keluarga.
"Lho...kok lauknya ini doang!!" protes Fay melihat telur ceplok di piring kecil.
Mengangkat lengan, berniat memeriksa jam"Eh, jam tangan Fay ketinggalan di kamar. Hari ini terik ya Mah, masih pagi udah segitu terangnya."
Memperlihatkan jam di ponselnya, Manda membuat Fay terkejut"Buset!!. Udah jam delapan??."
"Iya. Dan kamu sudah telat ke sekolah. Nggak minta izin jadi sekarang kamu sudah bolos sekolah."
"Mamah yang salah!."
"Kok Mamah?."
"Anaknya nggak turun sarapan bukannya di cariin."
"Bibi sudah bolak-balik kayak setrika rusak, tapi kamu nggak muncul-muncul. Kami semua mengira kamu sudah berangkat, sepeda kamu kan nggak ada di halaman." Manda balik menyalahkan Fay.
__ADS_1
"Kan sepeda Fay rusak!. Sudah di masukin ke gudang!" pekik Fay kesal.
Manda manyun, oke ini murni kesalahannya.
"Maafin Mamah" ujarnya pelan.
Fay semakin frustasi. Dia sadar betul bahwa hal ini terjadi tak luput dari kesalahannya sendiri. Bayangan Arin terus mengusik malamnya, sampai mau tidur pun rasanya susah. Seingat Fay jam dua dini hari terakhir kali dia melihat jam di dinding kamar.
Merasa salah, Manda menekuk wajah penuh penyesalan. Fay jadi nggak tega melihat wajah sang Mamah. Dia pun mengusap lengan Manda dan berkata"Maaf, Fay marah-marah sama Mamah."
"Mamah juga salah. Seharusnya Mamah memastikan sendiri keadaan kamu, biar nggak kesiangan seperti hari ini."
Usai saling meminta maaf, Fay meminta jatah makan pada sang Mamah. Yah, bangun kesiangan membuat cacing di perut demo, mereka kelaparan!.
Celingukan di depan kelas, Arin di temani Greta sedang bercerita. Tentang Udin yang semakin bucin terhadap Greta, dan tentang Fay yang selalu menyebalkan. Teringat dengan Fay, Arin berkali-kali melirik ke kelas Fay, yang berada di ujung sana. Hanya ada Zaid, tidak ada Fay. Biasanya ketua OSIS dan wakilnya tak pernah terpisahkan.
Memberi kode kepada Zaid agar mendekat. Pria royal ini gegas menghampiri. Nyaris bertabrakan dengan Betty di jalan, untung saja Zaid berhasil menahan langkah. Kalau nggak, mungkin akan ada insiden jatuh bersamaan seperti di drama korea atau india.
Zaid yang hanya suka kepada Nari, sejauh bersekolah di sini, membayangkan di gosipin dengan Betty, auto bergidik.
"Lah, baru datang udah bergidik. Mau pipis?" si Greta, cantik doang tapi kalau ngomong nggak pake filter.
"Nggak!" Zaid langsung menjawab.
Menatap Arin"Kenapa manggil?."
"Fay kemana?."
Zaid menaikan kedua alis"Nggak sekolah dia. Cie~~~. Uhuy, belum juga sehari sudah kangen sama calon suami?."
"Zaid!!" kesal Arin.
To be continued...
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
Salam anak Borneo.