Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Mulai sayang


__ADS_3

Kebetulan bertemu dengan Ikbal di pintu gerbang sekolah, Fay dan anak koki itu berjalan beriringan memasuki area sekolah. Melihat wajah Fay, Ikbal langsung teringat dengan kejadian kemarin, dia pun langsung menggoda sang sahabat.


"Hebat ya sup masakan Arin. Meski rasanya keasinan banget tapi bisa bikin kamu langsung sembuh." Saat tertawa kedua mata Ikbal membentuk bulan sabit. Bagi para cewek-cewek yang sedang melihat mereka saat itu, senyum dan tawa seorang Ikbal menambah kadar ketampanan cowok ini. Tapi itu berbeda bagi Fay. Senyum sang sahabat jelas seperti olokan baginya, sebab hanya dirinya dan Ikbal yang tahu tentang cita rasa masakan yang dihidangkan Arin kepadanya.


"Getarannya udah kerasa ya?." Usil sekali Ikbal, nggak puas-puas menggoda Fay.


Membuang wajah, begitulah cara Fay menutupi semua di wajahnya. Ini baru Ikbal, bagaimana kalau yang lain juga ikut meledeknya?. Masa-masa muda Fay pasti akan cerah sekali, sebab banyak memiliki teman yang usil, termasuk dia sendiri.


"Wah, Arin datang tuh!" Ikbal sengaja meninggikan suara.


Seperti di tarik, Fay sontak menatap arah pandang Ikbal. Hem, nggak ada Arin di sana, hanya ada cewek-cewek lain. Ups!, Ikbal sukses mengerjai nya lagi.


"Hahahaha" renyah sekali tawa seorang Ikbal. Seraya memegangi perut, cowok bertubuh atletis ini menambah rona merah di wajah sang sahabat.


Geram di kerjai sepagi ini, Fay memiting kepala Ikbal. Oho!, Ikbal nggak diam gitu aja. Sebisa mungkin dia melarikan diri hingga terjadilah insiden kejar-kejaran.


Di sudut lain, Arin dan Nari sudah memasuki area sekolah. Kerap datang di waktu yang sama, mereka di kira selalu berangkat bersama. Padahal hanya kebetulan saja. Aksi kejar-kejaran Ikbal dan Fay menarik perhatian dua gadis ini.


"Udah sembuh tuh. Calon suami kamu" Nari berbisik.


Gegas menutup mulut sang sahabat, akan panjang urusannya kalau perjodohan itu ketahuan teman-teman yang lain. Di jaman modern ini masih ada acara perjodohan seperti itu, sungguh memalukan bagi Arin. Di tambah dirinya nggak punya opsi lain, selain menerima Fay sebagai teman hidup di masa depan.


Bruk!!!. Suara tabrakan itu kembali menyita atensi para siswa. Sudah jatuh tertimpa tangga, sungguh indah nasib Fay hari ini. Tubuhnya masih terasa belum segar usai terkena flu, kini dirinya terjatuh saat mengejar langkah seribu Ikbal. Meringis karena siku yang terkena pot bunga, lirikan tajam Pak Ibrahim membuatnya kehabisan kata-kata.


"Jalan itu pakai mata!."


"Pakai kaki kali pak" sahur Ikbal membantu Fay berdiri.


"Ck!. Menjawab pula kamu Ikbal. Kalian sudah besar, sudah SMA. Bukan lagi bocah yang bersekolah di taman kanak-kanak. Aksi kejar-kejaran kalian memuat niat awal saya tertunda!."

__ADS_1


"Maaf pak" sahut Ikbal dan Fay bersamaan.


Emosi itu harus segera di padamkan. Ibrahim pun langsung meminta maaf pada dua bocah di hadapannya. Keluarga Fay salah satu pendonor tetap di sekolah ini, sama seperti Tuan Charlotte. Nggak lucu kan kalau aliran dana itu harus terputus karena emosi sesaat ini. Jadi, demi kedamaian bersama Ibrahim pun menyudahi amarahnya.


Usai saling memaafkan, Ibrahim bertanya pada mereka berdua"Kalian melihat Rivan?."


Kompak menggelengkan kepala"Enggak pak."


"Anak nakal. Pintar sekali bersembunyi" mengeram Ibrahim karena sulit mencari keberadaan Rivan.


"Maaf pak. Kenapa bapak mencari Rivan pagi-pagi begini."


Menatap Fay lekat-lekat"Teman kalian itu berulah lagi. Dia mengintip dalaman Rika."


Hais si Rivan, kayak nggak ada kapoknya mendapat hukuman baik di sekolah maupun di rumah.


Hupf!!, Ikbal dan Fay menahan tawa. Kemudian memasang wajah datar kembali"Oh begitu. Maaf pak kami belum ketemu Rivan."


"Kamu mau lembur?, tapi kok wangi sekali." Sang Nenek tersenyum manis. Kai nggak tahan untuk nggak menggodanya.


"Kai mau ajakin Nari makan di luar Nek."


Letta mengangguk. Wajahnya biasa saja, tapi Kai langsung berkata"Nenek jangan sedih begitu. Posisi Nenek di hati Kai nggak akan terganti kok. Nenek tetaplah wanita tercantik di mata Kai."


Menepuk pelan lengan sang cucu"Hei, Nenek nggak bilang apa-apa."


"Tapi raut wajah Nenek seolah cemburu kepada Nari" tertawa hingga hidungnya menyerngit. Kai sungguh nakal menggoda sang Nenek.


Menarik pelan daun telinga Kai"Dasar gombal. Awas saja kalau di luaran sana kamu menggoda cewek lain seperti ini. Bukan Nari yang akan menghukum kamu, tapi Nenek!!."

__ADS_1


Merangkul tubuh renta Letta"Enggak akan Nek. Wanita yang bisa ku goda hanya Nenek dan Ibu."


"Lantas bagaimana dengan Nari?" bertanya tentang cucu menantunya, Letta bukan nggak tau betapa sang cucu mencintai gadis rendah hati itu.


Menatap pada langit-langit ruangan itu"Hemmm, kalau Nari beda cerita Nek."


Jawaban itu di iringi tawa. Hingga terlihat lesung pada salah satu pipinya.


Letta berlagak hendak memukul Kai dengan remote televisi, dan pemuda itu langsung kabur ke keluar. Di beranda di bertemu Hanan dan Karlina. Ibu dan Ayahnya itu sedang menikmati udara di malam hari.


Mewanti-wanti sang putra untuk lebih berhati-hati saat di jalan, mewanti-wanti sang putra untuk selalu menjaga Nari, Hanan dan Karlina pun memberikan izin pada Kai untuk pergi bersama Nari malam itu.


Bukan di sebuah restoran mahal. Justru di sebuah kedai pinggir jalan, Kai mengajak Nari untuk makan malam itu.


Di sana sudah ada Riko, Dewa dan Dion, merekalah teman-teman Kai. Berbeda dengannya dan Dion, Dewa adalah anak orang kaya yang juga kuliah di universitas Charlotte. Kabar tentang Nari yang bertunangan dengan Kai tentu telah sampai di telinga Dewa. Mengingat visual Jung dan Jeon, Dewa sungguh penasaran ingin melihat Nari secara langsung, meski sudah sering melihatnya pada laman media sosial.


Bertubuh kecil namun berisi, dengan rambut sebatas bahu. Kulit putih dan memiliki bola mata bulat nan indah. Senyuman seorang Nari saat berkenalan dengannya membuat Dewa terpana. Dia nyaris melupakan untuk menutup mulutnya, terkejut akan pesona seorang Nari.


Di ajak makan di pinggir jalan, Nari terlihat baik-baik saja. Sedangkan Dewa sangat menyayangkan perlakuan Kai pada gadis itu. Seharusnya dia memangnya makan di tempat yang romantis, seperti restoran mewah misalnya.


"Bakso super pedas" Nari memesan makanannya.


"Kamu suka pedas?" tanya Dewa.


"Ya" sahut Nari singkat. Ada ketidak nyamanan saat bertemu Dewa, sebab pemudah ini menatapnya terus, sejak mereka berjabat tangan untuk berkenalan.


Kai nggak menyadari hal itu, dia merasa semua baik-baik saja.


To be continued...

__ADS_1


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.


Salam anak Borneo.


__ADS_2