Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Kediaman baru


__ADS_3

Siang hari di kediaman Wiliam.


Sebuah mobil berwarna hitam terparkir di halaman luas, kehadiran sang Tuan muda yang sangat di nantikan akhirnya benar-benar datang.


"Selamat datang Tuan Jung," sapa Tono, ketika Tuan muda itu keluar dari dalam mobil.


"Terimakasih, Ton. Apa kabar?," tanya Jung seraya mengambil ransel dan tas laptopnya dari kursi belakang.


"Baik, Tuan."


"Bagus deh, mulai hari ini kita bakal sering ngobrol. Kalian sudah tau dong kalau aku dan Andrea di minta tinggal di sini sama Papah." Para pekerja wanita tersenyum, merasa senang bahwa kabar itu bukan bualan belaka. Sempat hendak menyapa, dengan maju ke depan sekedar bersalaman, namun mereka keburu di giring oleh Udin, bergegas ke dapur melanjutkan persiapan makan siang ini.


"Iya Tuan, semoga betah tinggal di sininya. Kalau perlu apa-apa tinggal bilang saya aja Tuan," ujar Udin, setelah berhasil melepaskan diri dari cubitan para pekerja wanita, yang memberengut gagal menyapa secara langsung Tuan muda rupawan itu.


Jung terkekeh, sebab mereka nggak sungkan menunjukkan ketertarikan padanya. Dan dengan suka rela melempar tawa pada mereka, hingga perjalanan kembali ke dapur di sertai tawa malu-malu. Apalagi Atun, wanita itu hampir terjungkal, saking senangnya mendapat senyuman dari Jung.


"Oh ya, tentu saja. Saya nggak akan sungkan merepotkan kalian," gelak tawa mereka terdengar renyah. Baru menyadari Tuan muda ini gemar bercanda juga.


"Saya juga bisa di andalin kok, Tuan," celetuk Jujun, yang muncul dari halaman belakang.


"Saya juga, Tuan," Hana juga ikutan mengacungkan jari telunjuk nya ke atas. Udin memelotot mendapati si anak kepala urusan dapur muncul di sini. Oh! Udin lupa, Hana belum sempat menyala Jung, sebab waktu mereka sibuk menyapa, Hana masih sibuk di belakang.


"Wuidih, oke deh, siap. Kalau begitu saya masuk dulu, ya," ucapan Jung di angguki para pelayan di kediaman Wiliam, yang sekarang juga menjadi kediamannya.


"Ganjen!!," cibir Tono. Bibirnya mereng kekiri dan kekanan, dengan kedua mata ikut kekiri dan kekanan.


"Nyindir nih?!."


"Tersinggung?."


"Hilih! bilang aja cemburu, mbak Atun suka sama Tuan Jung. Bweekk!! ceweknya suka sama cowok lain, kasihan deh!," Hana berjalan meninggalkan Udin dan Tono, dengan berlenggak-lenggok seperti potong bebek angsa.


"Cih, dasar cewek. Coba aja aku cakep seperti Tuan Jung."


Tatapan konyol Tono membuat Udin langsung mingkem. Sedangkan Jujun, hanya geleng-geleng kepala.


"Ojo ngimpi, Udin!!. Memang kalau secakep Tuan Jung kamu bakalan berani nembak si Lela?," ledek Tono.


"Ya nanti tak pikir-pikir dulu. Kalau punya wajah seganteng Tuan Jung, aku juga harus cari cewek secantik Non Andrea dong!," celetuk Udin. Ngebayangin jadi cowok cakep aja dia sudah nyengir sendiri, gimana kalau cakep beneran.

__ADS_1


"Oh!! bener tuh, mas Udin. Cari pasangan teh harus seimbang, cakep ketemu cakep, jelek ketemu jelek," nada bicara Lela sedikit mengintimidasi. Ada rasa tersakiti di dalam setiap kata-katanya.


"Betul tidak Kang Tono?," Lela yang barusan mereka omongin nongol dadakan dari balik pilar besar, yang menopang kediaman William.


Jujun buru-buru kembali ke halaman belakang, kedatangan Lela dengan raut muka merah padam itu, menjadi tanda akan ada pertengkaran sepasang manusia yang saling suka, belum jadian, baru tahap PDKT.


"Eh---anu---," Udin tergagap. Cewek idaman nongol di depan mata, sayang di waktu yang nggak tepat.


"Hmmm, mampvs kamu Din. Aku nggak ikutan, ya!," Tono menyusul Jujun, minggat ke belakang. Menyisakan Udin dan Lela di teras dalam keadaan canggung. Sudah lama Udin naksir si Lela, pembokat tetangga depan. Si Lela sih sudah ngasih kode kalau dia juga suka sama si Udin, tapi si Udin sampai sekarang belum berani mengungkap kan cinta. Ckckck!!!.


...☘☘☘☘...


Kembali pada Jung yang kini telah masuk ke kediaman baru.....


Bangunan berwarna putih dengan kombinasi emas itu nampak seperti istana, dengan Jung dan Andrea sebagai sang Ratu dan Raja.


Masih nampak sama dengan terakhir kali Jung ke sini beberapa minggu yang lalu, untuk mengunjungi Papah Wiliam.


Kehadiran Jung jelas di sambut gembira ria oleh para pekerja di sana, apalagi geng rempong bagian dapur.


"Oh Tuhan!! pangeran tak berkuda benar-benar sudah datang," pekik Atun mengintip dari arah dapur.


"Hehehe, hai juga Tuan. Makin cakep aja sih Tuan," begitulah Atun, nggak bisa mengontrol diri kalau melihat Jung. Hal ini pula yang menyebabkan Udin mendorong para pekerja wanita tadi untuk kembali ke dapur, takut lepas kendali.


"Selamat siang, Tuan Jung," Bi Ida ikutan nongol, tentu saja dengan senyum terindah.


"Semoga betah di sini ya, Tuan."


"Betah kok, apalagi tinggal sama kalian yang ramah banget seperti ini. Nggak mungkin saya nggak kerasan tinggal di sini," Jung bicara sambil menyugar rambut ke belakang. Hais!! dasar Jung! tau banget bergaya di depan para wanita.


Atun rasanya ingin pingsan. Bi Ida yang sudah tua saja terus memegangi dada, takut jantung nya copot. Ck! lebay banget dua pembokat ini kan.


"Saya naik ke atas dulu ya. Selamat bekerja," nggak lupa pria ini melambaikan tangan.


"Iya Tuan, silahkan," sahut mereka bersamaan.


Semakin di ajak ngobrol, Atun semakin deg-degan. Menjadi gisah sendiri seperti cacing kepanasan. Apalagi sebelum lanjut naik ke atas, Jung melempar senyum manis padanya.


Sesampainya di kamar, Jung mendapati Andrea sedang tertidur pulas di antara pakaian yang berantakan. Beberapa sudah berpindah ke dalam lemari, namun sebagian besar masih tersimpan rapi dalam koper yang terbuka lebar, di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Cup!!," sebuah kecupan mendarat di kening Andrea. Namun sang empu masih betah terlarut dalam tidur.


"Kepompong~~~," bisik Jung di telinga Andrea. Sang Istri hanya menggeliat dan berbalik ke arah lain. Sepertinya karpet bulu itu sangat nyaman untuk nya.


"Sayang~~," panggilnya lagi.


"Hm....," kedua mata cantik itu mengintip bergantian.


"Kamu sudah datang? sini," ujar wanita ini menepuk tempat kosong di sampingnya.


"Berantakan begitu," acuh Jung beranjak ke balkon. Duduk di ayunan dan membuka laptop nya. Tugas-tugas para siswanya perlu di periksa lagi.


"Imah!!," panggil Andrea. Dengan langkah lunglai dia berteriak dari depan pintu kamar.


"Hei, nggak gitu cara memanggil orang. Yang lembut dong, sayang," Tegur Jung.


"Ups!!, oppa mianhae ," Andrea tertawa malu.


"Bi Imah, tolong naik dong," ulang Andrea lebih dekat ke arah tangga, dan kebetulan si Imah sudah keburu naik ketika mendengar panggilan pertamanya.


"Iya Non."


"Tolong bantuin beres-beres barang di koper yah. Pakaian aku masukin ke lemari coklat, punya Tuan Jung masukin ke lemari hitam, ya."


"Siap, Non," sahut Imah. Ada rasa berdebar ketika memasuki kamar Andrea. Aroma berbeda tercium dari dalam sana"Ini pasti aroma parfume Tuan Jung, menyatu dengan aroma Non Andrea jadi lembut banget aroma nya," batin Imah. Namun beberapa detik kedepan dia menggetok kepala nya sendiri.


"Kucrut!! duhai otak, kamu nggak sopan!!," merutuki diri sendiri di dalam hati.


...🎢🎢🎢🎢...


Di kantor..


"Maaf, Tuan. Sepertinya Nona Nari bolos sekolah," sebuah telepon dari sekolah Nari, mengejutkan Tuan Charllote.


To be continue...


~~β™‘β™‘ Happy reading . Jangan lupa like vote fav dan komen ya teman ^,^.


Salam anak Borneo.

__ADS_1


__ADS_2