
Postingan Instagram Nari dengan caption @Fay_Radian di penuhi komentar para dedengkot yang doyan berseliweran di sekitar Nari.
@Udinsejagat_Raya : "Dunia yang kejam, penuh dengan ketidak-adilan 😭!!."
"Hentothedro33 :"Manusia alay di masukin Ig, ayo dong Neng Nari please jangan nodai dunia maya ini🙃!!."
@Fay_radian_ @Hentothedro33 : "Makhluk astral ngomen di mar!?!. Bocah kemaren ngajak gelud?. Badan masih bau kencur sudah berani bersaing👊."
@Rivan_gans22 @ Nari_Charllote18 : "Kapan bolos bareng nya, cantik😍😍?."
@Ikbal_safar @ Nari_Charllote18 : "Jangan sampai terpengaruh makhluk durjana selevel Rivan, Nar!. Nggak asik kalau gaul sama dia!!."
@ Rivan_gans22 @ Ikbal_safar : "Kang masak di cariin emak Ijah. Bantuin ngupas bawang sana! Kwkwkwkwkkw🤣🤣🤣🤣!!!."
@ Zaid_Ramadhan : "Rame amat kek pasar ikan. @ Rivan_gans22 "Oh nongol juga ni manusia labil. Surat cinta buat orang tua kamu kenapa di balikin🤨?."
@ Rivan_gans22 @ Zaid_Ramadhan : "Bac*t🤬!!."
@ WangKevinvin_vin05 : "Bidadari nya mana nih?, diem aja di pojokan. Nungguin bang kevin samperin ya ??😍 @ Nari_Charllote18 .
...🐇🐇🐇🐇...
Di sudut perpustakaan, Nari membenam-kan diri di sebuah meja, yang terlindung dari dunia luar. Dia sengaja memilih tempat terdalam dari perpustakaan, demi menenangkan pikiran.
"Ibarat permen, kalau terlalu manis bakal eneg juga," sebuah buku tebal Nari letakan di atas ponselnya.
"Enak banget ngomongin cinta. Makan tuh cinta!!." Gerutu nya sendiri, seraya meraih kembali sang ponsel. Dia menyetel lagu selow BTS untuk menemani waktu senggang nya di perpustakaan, dengan volume minim tentunya. Hari ini dia nggak makan siang bareng dua sahabatnya. Tawaran Bento dari Ikbal juga dia tolak. Entah kenapa beberapa hari ini selera makan nya menurun. Apa ikut terbawa sama dosen edan ya??. Ckckckck!!
Sebuah buku berisi kumpulan puisi-puisi cinta dari sastrawan ternama Indonesia menarik perhatian Nari.
*Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu* Oleh :Sapardi Djoko Damono .
"Ini puisi yang di bacain Fay kemarin. Hehehe somplak memang tu anak. Main ngejiplak aja puisi orang," gumamnya.
Tengah sibuk membaca kumpulan puisi itu, sekilas terbesit bayangan Kai di benaknya. Hati yang masih bergetar kalau teringat Kai, aish!! duhai hati...ayo dong move on!!.
"Hupffhh!!," gadis itu mengusap dada"Terasa sesak banget"Keluhnya memegangi letak jantung.
"Lho, Nari kenapa?," Rivan si raja bolos nongol di perpustakaan. Sungguh suatu keajaiban! murid paling beken dan badung di sekolahan ini menampakan diri di gudang nya buku-buku bersejarah. Waw sekali!!.
"Nggak pa-pa Vin, kamunlagi nyari buku apa? mungkin aku bisa bantu."
Senyum manis dengan mata besar membuat ketampanan Rivan menarik hati setiap wanita, sayangnya enggak untuk Nari"Memangnya kalau ke perpustakaan harus nyari buku, ya?."
__ADS_1
"Terus?."
"Aku ke sini nyariin maling."
"Eh!!! maling?, di mana, Van?," Nari gelagapan. Dan wajah panik gadis ini sungguh menggemaskan, ingin rasanya Rivan mencubit pipi yang chubby itu.
Sebuah cermin bulat Rivan arahkan tepat di hadapan Nari. Oh iya, itu cermin yang di pakai Rivan untuk mengintip CD cewek-cewek kalau lagi gabut. Hehehe.
"Ini nih malingnya!," nampak jelas wajah manis Nari terpantul di cermin tersebut.
"Cih!! aku sudah bosan di giniin, Van. Kamu pergi aja deh kalau cuman mau ngegombal," jengah bosan Nari. Terlalu sering di sanjung dan di godain cowok-cowok, membuat Nari eneg. Apalagi si Rika and the geng semakin nyolot kalo ketemu dia, mungkin mereka merasa tersaingi dengan Nari and the geng.
"Ratu nya para pria bucin. Cantik sih, tapi nggak yakin asli apa palsu. Secara dia kan produk korea!." Itulah kata-kata ajaib Rika kalau berpapasan dengan Nari, yang langsung membungkam mulut Nari. Entah kenapa kalau bawa-bawa Korea dia jadi malas banget berdebat. Papahnya inggris, mamahnya korea, ujung-ujungnya Nari pasti di bilang penjajah. Nggak asik banget kan? ngeselin!!.
"Lagi badmood ya? mau ikut nggak?," Rivan mulai meracuni pikiran Nari. Sebab ada seringai tawa di wajahnya, pertanda otak licik sedang bekerja.
"Nggak ada waktu, Van. Pulang sekolah aku mau langsung istirahat aja."
"Sekarang, bukan nanti pas pulang sekolah."
Ekor mata Nari melirik sepasang mata bulat Rivan"Bolos?," karena julukan Rivan si badung raja bolos, Nari dapat menerka dengan mudah.
Rivan mengangguk sambil nyengir kuda.
"Ajibuset!!!, seumur-umur aku nggak pernah bolos, Van!!," pekik Nari.
Gadis itu meletakan jari telunjuk dan jempol di bawah dagu, sedang memikirkan hal gila yang....mungkin akan membuat semua orang gempar.
"Ayo!! mau lewat gerbang apa manjat tembok belakang?," tawaran Rivan menggelitik nyali Nari.
"Tapi aku takut, Van," cicit Nari. Dia takut tapi penasaran, gimana dong?.
"Masa kamu nggak pernah bolos sih, Nar?, Jadi cewek jangan terlalu sempurna dong," usap Rivan di pucuk kepala Nari.
"Somplak!! jangan pegang-pegang!!," Nari jarang berkomunikasi dengan Rivan, dia merasa aneh di belai-belai sama Rivan ini.
"Cih, aku kardusin juga kamu, Nar!. Gemes banget!," kali ini kedua pipi tembem Nari menjadi sasaran cubitan gemas Rivan.
"Kamu nakal banget tangan nya, Van!!. Aku protolin juga tangan kamu tuh," tepisnya pada kedua tangan Rivan yang melekat di pipi empuknya.
"Kamu kira jari aku terong pipit pake di protol-in!," sekarang hidung mungil Nari yang jadi sasaran cubitan Rivan.
"Sumpah!! Tangan nya tolong di kondisiin dong broo!!," Nari meninju dada Rivan spontan.
"Jangan di dada dong, sudah mau meledak inih gegara ngobrol banyak sama kamu!," goda Rivan lagi.
__ADS_1
"Memang aku bom?!," toyor nya di jidat Rivan, bukannya membuat pemuda ini marah tapi malah tersenyum.
"Kamu friendly banget. Pantesan para kecoak sekolah suka deketin kamu. Sudah cantik, baik hati dan tidak sombong," ujar nya dengan nada mengejek.
"Hahaha, kalau mereka kecoak sekolah kamu apa dong?," Nari meraih ponselnya. Menyusun kembali buku-buku yang dia baca di meja tadi.
"Aku----babang tamvan dong."
"Wuuu!!! dasar kemaruk!!," seru Nari.
"Jadi gimana nih? mumpung baru jam sepuluh. Di sekolah sampe jam tiga sore tuh bikin otak mendidih lho. Mending kita ke taman hiburan," dasar syaitonirrojim, berbisik di telinga Nari dalam wujud Rivan yang rupawan.
"Ajakin yang lain dong, masa berdua doang, sahut Nari. Takut tapi mau si Nari ini.
"Kalau sama yang lain nama nya bolos berjamaah neng Nari. Dan sesuatu yang berjamaah itu berarti dalam jumblah yang besar, nggak asik tau!," jelas Rivan.
"Atau kita ke pantai deh, bensin aku penuh kok. Masalah duit nggak usah di pikirin, tadi pagi pas minta duit jajan di suruh mamah bukan dompetnya sendiri. Aku nemu yang merah segepok, ya aku bawa aja tu duit sekalian."
Nari terbelalak" Hah!! kamu maling duit mamah kamu, Van?."
"Mana ada maling nyolong ngasih surat cinta, Nar!," lirik Rivan ngedip-ngedipin mata dengan nakal. Pengen di tabok ni anak, santai banget abis maling duit emaknya.
"Maksud nya!," Nari si kalem baru sekarang ketemu manusia se-gesrek Rivan. Pake acara nawarin duit haram lagi.
"Aku ngasih catatan di dompet mamah aku yang mendadak kempes itu," elak Rivan. Dia tau arti tatapan penuh tanya Nari.
"Mamah ku tersayang terkasih dan tercinta, Rivan nggak nemu duit receh di dompet mamah jadi duit segepok nya Rivan bawa aja semua," ujar Rivan seolah sedang membacakan pesan yang dia tulis pada secarik kertas, kemudian dia masukan ke dalam dompet sang mamah.
"Terus aku gambar love yang banyak juga di surat cinta buat mamah aku," jelas nya dengan senyum pasta gigi, kinclong sekali gigi Rivan ini.
Ikbal bener banget! ini cowok beneran racun kalo dekat-dekat Nari. Bisa merusak kepolosan Nari kalau berteman akrab dengannya.
...🐄🐄🐄🐄...
Nama : Rivan Rames Rahendra .
Kelas : 12 IPS
Tinggi : 1'83 .
Kamut"Persahabatan itu seperti spongebob sama patrik, sama-sama o'on, sama-sama begoo, sama-sama gila, juga saling sayang satu sama lain. Tapi sayangnya aku nggak punya sahabat."
To be continued...
__ADS_1
~~♡♡Happy reading . Jangan lupa like vote fav dan komen ^,^
Salam anak Borneo.