
Usai ngampus di pagi hari, Kai melanjutkan aktivitas sebagai kang paket. Mengantarkan paket ke sana dan ke sini dengan jaket berwarna Oren.
Identitasnya mulai di ketahui warga dunia maya, dan itu karena Dewa. Pemuda ini bahkan memberi tahu di mana Kai menuntut ilmu. Dia juga membocorkan pekerjaan sampingan Kai kepada para Netizen.
Ternyata terlihat tampan bisa menutupi kekurangan dalam diri manusia. Profesi sebagai kang kurir ternyata di maklumi para Netizen. Alih-alih merendahkan, mereka justru memuji kegigihan Kai.
Lantas bagaimana dengan status sebagai kekasih dari Nona muda keluarga Charlotte?. Ada manis ada pula pahit, ada yang mendukung ada pula yang mencaci. Predikat sebagai lelaki pengincar harta kekayaan sempat di berikan kepada Kai. Gelar itu tersemat di kolom komentar video ngendorse bareng Nari.
Jung, selaku manager Nari tentu sudah melihat komentar tersebut. Tanpa basa-basi, Jung mencari seorang mahasiswa jurusan Teknik informatika.
Seorang pemuda yang taat beragama, meski kerap memakai masker dan baju koko saat ngampus, pesonanya sungguh tak terbantahkan. Sedang duduk di bawah pohon yang rindang, dengan sebuah mushaf di tangan.
"Arjuna" suara panggilan Jung yang melangkah mendekat, membuat pemuda ini menyudahi bacaan dan menutup mushaf nya.
"Iya Pak, ada yang bisa saya bantu?."
Setelah duduk berhadapan dengan Arjuna, Jung menatap pemuda ini lekat-lekat. Merasa di tatap seperti itu, Arjuna segera membuka maskernya"Maaf Pak. Terbiasa memakai ini saya jadi lupa membukanya saat berhadapan dengan anda."
Ada seulas senyum di wajah Jung"Aku sebagai lelaki, menilai wajahmu sangatlah tampan. Kenapa Kamu selalu menggunakan masker?. Wajahmu juga nggak ada cacat sedikitpun, sebutir jerawat pun nggak ada."
Teringat gosip yang sempat di sebarkan Andrea, bahwa Jung penyuka sesama jenis, bulu kuduk Arjuna sempat meremang.
"Saya hanya sudah terbiasa memakai masker Pak" melihat pemuda ini mengusap tengkuknya dan tertawa canggung, Jung mengerti apa yang sedang dia pikirkan.
"Haya~~, gosip penyuka sesama jenis itu masih menyebar ya?. Itu hanya akal-akalan Andrea saja biar aku nggak di dekati cewek-cewek."
Mengantupkan kedua tangan di dada"Maaf Pak. Bukan bermaksud seperti itu. Saya juga sudah mendengar bahwa itu hanya kabar dusta."
Saling berpandangan, akhirnya Jung dan Arjuna tertawa bersama. Akh! sungguh pemandangan yang indah. Ketika dua pria yang sangat tampan saling bertegur sapa dan tertawa. Melihat wajah Arjuna secara langsung, para cewek di sekitar mereka merasa beruntung. Apalagi dengan hadirnya Jung bersamanya, semakin lengkap indahnya pemandangan di taman kampus hari ini.
Di kenal pendiam, ternyata Arjuna anak yang ramah. Jung hampir melupakan tujuannya mencari Arjuna, sebab asik berbicara.
"Bisa kamu menghilangkan komentar kebencian di postingan ini?" seraya memperlihatkan komentar buruk pada video Nari dan Kai.
Menggulir layar gawai sang dosen, sepasang manik tajam Arjuna menelisik, ternyata bukan hanya satu komentar buruk pada Video tersebut.
"Akun yang berkomentar pun bisa saja hilangkan, semuanya" ujarnya masih memperhatikan layar gawai.
__ADS_1
Sontak kedua alis Jung terangkat naik"Permanen??."
Arjuna mengangguk.
Kabar itu ternyata benar, Arjuna memang mahasiswa ter-jenius di jurusan Teknik informatika. Nggak sia-sia dia menemui bocah itu"Saya serahkan kasus ini padamu."
"Kasus?."
"Kamu tau Adik bungsu saya kan."
Arjuna menggeleng. Seketika hati Jung merasa geli. Selama ini semua mahasiswa di kampus ini telah mengetahui siapa Adik bungsunya, gadis bar-bar yang terperangkap dalam tubuh mini berparas cantik jelita. Sekilas terlihat anggun dan lembut, namun hanya Jung dan Joen yang paling tau bagaimana sadisnya si bontot itu. Sangat tak di sangka, hari ini Jung menemukan seseorang yang nggak mengenal Naria. Sungguh lucu baginya. Ini akan menjadi senjatanya kalau Nari menyombongkan diri atas popularitasnya di kampus ini. Ternyata ada seorang Arjuna yang nggak mengenal siapa dia.
"Panjang ceritanya kalau aku kisahkan dari awal. Intinya, aku mau kamu hapus semua komentar buruk di Video ini."
"Sekarang?."
"Kalau bisa sekarang, itu lebih bagus."
Membuka laptop nya, kemudian fokus sebentar untuk beberapa menit ke depan.
"Aku ke kantin dulu. Nanti ponselnya kamu antarkan ke sana ya."
Heh!?. Jung kembali duduk. Menatap Arjuna dengan jemari menari di atas keyboard laptopnya.
"Serius?."
"Ini sudah selesai Pak."
Lagi-lagi Jung di buat melongok. Pintar betul pemuda satu ini.
...🌸🌸🌸🌸...
Para orang tua benar-benar berniat memberikan kejutan untuk Hanan dan keluarga. Sebuah ruko tingkat dua di tengah kota telah di beli atas nama Hanan. Di lantai bawah akan menjadi Cafe untuk usaha Marina. Sementara di lantai atas mereka sepakat membuka butik, yang menjual pakaian hasil rancangan Hanan. Namun untuk butik ini mereka harus mengkonfirmasi dahulu kepada Hanan. Semoga saja Hanan setuju.
"Kita bakal nikah dalam waktu dekat ya?" Nari datang dengan senampan roti hangat olahan Ayah Arin. Ya, dua sejoli ini sedang berkencan di kedai Arin.
"Bukannya jalan kita masih panjang. Se-enggaknya setelah kamu lulus kuliah, baru kita menikah."
__ADS_1
"Tapi malam ini orang tua kita akan bertemu lagi. Pasti mereka akan membahas hubungan kita."
Terkekeh, Kai sudah terbiasa dengan pikirin random sang kekasih.
"Aku nggak mengetahui hal itu. Sudahlah, kalau memang harus menikah aku siap kok. Tapi kalau menikah dini bagaimana dengan kamu?. Bukankah masih banyak cita-cita yang ingin kamu kejar?"
"Alih-alih hanya menjadi wanita rumah tangga" lanjutnya menyuapi Nari dengan roti tersebut.
Sambil mengunyah"Iya ya. Meskipun menjadi wanita rumah tangga, juga Mamah dari anak-anak kita kelak, aku mau ngerasain jadi wanita karir dulu."
Mengantupkan bibir, hingga lesung di pipinya terlihat, Kai menarik hidung Nari gemas"Nikmati rotinya dengan benar. Masalah pernikahan bisa kita bicarakan nanti."
"Oke baiklah. Tapi nanti kalau kita menikah, kamu mau anak berapa?."
Bukan Nari yang tersipu malu, tapi Kai. Mengusap wajahnya demi menetralkan getar di dalam dada"Semampu kamu aja" ujarnya akhirnya menjawab.
Menggoyangkan kakinya di bawah meja, Nari terlihat seperti bocah yang sedang girang"Aku mau anak banyak."
"Iya, iya. Nanti kita bikin sepuluh."
Nari tertawa, barulah telihat rona merah di wajahnya. Dengan kedua tangan berusaha menutupi rona di wajah itu, dan Kai sangat suka saat melihatnya tersipu.
Seperti penguntit, Dewa memperhatikan interaksi Nari dan Kai di meja pelanggan. Terletak cukup berjarak dengan meja Nari dan Kai, Dewa sangat menikmati kecantikan yang dimiliki Nari meski dari kejauhan. Nggak peduli apa yang mereka bicarakan, rasa tertarik itu semakin menjadi, membuatnya semakin ingin berdekatan dengan Nari. Karena Kai adalah sahabat baiknya, tentu Dewa menahan diri untuk melakukan pendekatan itu. Dengan kamera ponsel berharga fantastis, sudah ada beberapa gambar Naria dia abadikan dalam ponsel tersebut. Semakin di pandang semakin menawan, Dewa semakin menyukai Nari.
Sengaja memesan apa yang Nari pesan, Dewa tersenyum menikmati roti yang sama dengan Nari. Juga minuman yang di pesan Nari, kini telah hadir di hadapannya.
...****************...
...***Cinta......
...Kau akan selamat jika kau berhasil mengendalikan nya....
...Dan Cinta......
...Kau akan celaka saat dia yang mengendalikan segalanya***...
To be continued...
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
Salam anak Borneo.