Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Niki dan Rivan


__ADS_3

Malam itu Hendro si adik kelas mendapat banyak vote, sayangnya dia kalah dua vote dari Afdhan, sang bintang di kelas Niki. Alhasil Niki pun menari dengan Afdhan di iringi alunan musik nan romantis, sedangkan Hendro ikut berdansa dan menari bersama Marisa, menemani pasangan menari yang sesungguhnya malam ini.


"Ada yang sakit tapi nggak berdarah" sindir Zaid.


"Ada yang ngilu tapi nggak kejepit" lanjut Fay.


"Ada yang pilu tapi nggak menangis" sambung Kevin.


"Ada yang----" Joen mendapat sikutan Jung.


"Sdah tua, nggak usah ikutan. Entar malah mumet lho ngurusin yang sedang berduka."


"Tumben waras" Joen tertawa menatap Jung yang kini melotot kepadanya. Apa maksud dari perkataan Joen itu? apa selama ini dia menilai bahwa Jung nggak waras?.


"Ada yang ngaku temen tapi kelakuan lucknat semua" Rivan balas menyindir mereka, yang sepertinya sedang bahagia di atas penderitaannya.


Fay nyolot mendengar ucapan Rivan"Ya elah!! mulut apa tong sampah tuh, sekalinya ngebales asem banget dah."


"Lagian siapa juga yang temenan sama kamu manusia labil, di sekolahan sok kuat sok bandel sok playboy. Lah di mari pas ketemu Niki??, nggak jauh beda sama kebo yang di bolongin idungnya kan" cecar Kevin tanpa jeda. Terlihat dadanya bergetar, mengatur napasnya setelah mengeluarkan uneg-uneg di dalam dada, karena kesal dengan sindirian Rivan.


"Mau ngerasain bogem mentah nih?" Rivan menawarkan tinjunya ke arah Kevin. Okh...wajah rupawan Kevin nyaris saja lecet karena ulah Rivan.


"Lecet dikit aku gasak abis kamu, Van!!" Kevin nggak goyah sedikitpun. Modelan seperti Rivan mah nggak bikin dia menciut, meskipun harus bener-bener adu jotos. Mereka di sini benar-benar karena Nari sang pemersatu para pria, kalau nggak buat bantuin Nari terlepas dari Rivan, nggak bakal deh mereka rela dateng jauh-jauh ke sini.


"Lah, malah berantem. Buruan di suruh pulang tu bocah, keasikan joget sampe nggak inget sama waktu" tegur Jung yang sudah nggak tahan berada di sana. Wajah tampannya membuat para gadis nggak bisa berhenti memandanginya. Dan bukannya senang, Jung malah merasa risih di liatin terus sama bocah-bocah betina di sana.


"Au tuh bocah, tebar pesona mulu. Dia menang lantaran aku nggak ikutan pake korsase aja, apalagi kalo si Onta putih ini ikutan pake tu korsase, beh...bisa nggak pulang dia gegara di rebutin cewek cewek" Joen berceloteh.


Di area dansa, Afdhan melirik penuh ketertarikan kepada Niki. Ketua osis itu telah lama menyukai Niki dan itu bukan rahasia lagi.


"Nggak cape mandangin terus?? aku aja yang di pandangi mulai eneg" ucap Niki sinis.


Ujung bibir Afdhan naik mengukir senyuman "Kamu kalau judes makin manis lho."


"Sudah Dhan! aku bisa benar-benar muntah karena ucapan kamu."


"Ya udah muntahin aja, kalau baju aku kotor kan aku nggak punya baju ganti, otomatis kamu dong yang harus tanggung jawab." Lelaki itu menggoda Niki tanpa malu-malu. Hendro yang berada di dekatnya spontan berkomentar.

__ADS_1


"Bro, lancar bener ngegodanya, udah pro yaaa."


"Siapa kamu?? bra! bro! bra! bro!!."


"Idih!!! ternyata selain jago ngegombal mulut kamu juga jorok yah, aku bilang bro eh dia malah bilang bra. Parah kamu bro!" nyinyir Hendro nggak berperasaan. Padahal memang niatan dia aja untuk mencoreng aura cakepnya Afdhan di mata Niki, ataupun cewek-cewek lain yang mendengarkan ucapan mereka. Seperti Marisa contohnya, dia tertawa setelah mendengar ocehan nggak berfaedah Hendro yang mencecar Afdhan.


"Lemes banget sih mulut kamu."


"Kenapa emangnya?? pen tipok?? nih!!". Dengan santainya Hendro memajukan bibirnya lebih dekat kepada Marisa, seperti sedang menunggu ciuman dari gadis itu.


"Kwkwkwkwk gila nih temennya Rivan" seloroh Marisa. Akh!! ya! Rivan----Niki tersadar akan Rivan.


"Udahan dansanya, aku ada urusan penting." Tanpa menunggu persetujuan dari Afdhan, gadis itu meninggalkannya di area dansa.


"Wuaaaahhh Cinderella pergi karena sudah hampir tengah malam" ejek Hendro lagi.


Raut wajah Afdhan terlihat sangat kesal"Diem kamu!!" sentaknya, juga meninggalkan area dansa. Kini menyisakan pasangan Hendro dan Marisa di area itu.


"Lanjut nggak?" tanya Marisa.


Marisa kembali tertawa, malam ini dia bertemu cowok yang mungkin tercipta tanpa menanggung beban. Dari awal ketemu sampai bertemu lagi di area dansa ini, dia selalu ceria. Diam-diam Marisa mulai tertarik kepada Hendro.


...💎💎💎💎...


Setelah melalui beberapa drama percintaan melepas rindu, Rivan dan Niki akhirnya berbaikan. Pasangan yang sebenarnya masih sangat mencintai satu sama lain itu. Demi menjaga hubungan yang tlah kembali baik, Rivan dan Nari berterus terang kepada Niki tentang status mereka.


Rivan menjemput Niki dan mengajaknya ke kedai Arin untuk bertemu Nari.


"Kamu kalau udah punya calon bini ngapain dateng ke aku lagi?? mau pamer?? atau bangga seolah-olah kamu doang pria terganteng di muka bumi ini?" cecar Niki nggak memberikan celah untuk Rivan dan Nari menjelaskan hubungan mereka lebih dalam.


"Gila ya! aku jauh-jauh ke sini cuman untuk menyaksikan kalian pamer tentang pertunangan kalian?."


"Kita udah terlanjur baikan ya, Van!. Aku nggak akan nyerahin kamu ke dia" telunjuknya sangat dekat di wajah Nari.


"Buset!! sayang banget kamu sama ni cowok!! ambil dah sono. Permasalahan belum jelas kamu udah nyolot aja. Nih ambil lelaki nggak bertulang ini, aku ogah banget sama ni anak." Nari bergidik memandang Rivan yang senyum-senyum bangga, karena di pertahankan Niki.


"Lha kalo ogah kenapa tunangan Nona!!," hardik Niki dengan kedua tangan terlipat di dada.

__ADS_1


"Kaga sengaja Nona!!" balas Nari menatap tajam ke arah Niki.


"Ceritanya panjang, Nik. Intinya kita tunangan buat mengelabui orang tua kita doang, dia juga udah punya cowok kali" jelas Rivan mencoba menetralkan suasana. Bisa kacau urusannya kalau Nari dan Niki bertengkar, atau malah jambak-jambakan gegara dirinya. Kwkwkkwkwk merasa jadi cowok paling ter-ehem dong Rivan nanti.


Nari yang geram memukul lengan Rivan"Dari tadi kek ikutan ngejelasin, menikmati banget kamu di sayang-sayang sama Niki."


"Sayang??, aku sayang sama dia?" kini telunjuk Niki mengarah pada dirinya sendiri.


"Asal tau aja ya, Nar! dia sekedar budak buat aku. Selama ini aku mencari pengganti budak seperti dia tapi nggak ketemu. Jadi mau nggak mau aku harus menerima kedatangan dia lagi dong. Kasihan juga sih ngeliat dia sedih semenjak kami berpisah."


"Lagian kalau lagi perlu atau di suruh-suruh, dia paling cepet lho" tambah Niki.


Rivan bukannya marah dia malah menopang dagunya memandangi Niki yang berkoar-koar tentang dirinya kepada Nari.


"Wuaaahhhh, kalian memang cocok" dua jempol Nari acungkan kepada Niki dan Rivan.


"Jadi begini cara kalian saling mencintai, aku salut sama kamu, Niki."


"Akh terserah kamu deh menanggapinya seperti apa. Jadi sekarang status kalian apaan nih??" rasa penasaran terus memaksa Niki untuk memastikan dengan jelas status mereka.


"Tunangan palsyuuuuu!!!" seru Nari dan Rivan bersamaan.


Niki tertawa, jujur saja dia merasa lega sebab nggak ada tanda-tanda saling ketertarikan di antara mereka. Dengan seksama dia menatap Nari dan Rivan secara bergantian.


"Awas aja kalau kalian tiba-tiba sampai ke jenjang pernikahan, aku culik kalian, aku gantung kalian di pohon beringin sampai darah kalian mengering. Terus setelah darah kalian mengering bakal aku giling terus aku sebarin sisa-sisa tubuh kalian di lautan, biar menyatu sama buih di lautan terus menghilang" ancam Niki sembari menunjuk nunjuk Nari dan Rivan.


Nari terperangah!! nggak salah kalau ini cewek di bilang psyco, imajinasi membantainya liar banget.


"Kamu yakin nggak bakal di apa-apain kalau masih berhubungan sama ni cewek, Van?" bisik Nari. Tiba tiba dia mengkhawatirkan Rivan sebagai kekasih Niki.


Dan bahlulnya si Rivan menggeleng dengan tegas"Kalau sama aku dia bisa di jinakin kok Nari, percaya deh sama aku" senyum lebarnya membuat Nari yakin bahwa mereka memang di takdirkan untuk bersama. Yang satu bahlul yang satu gila. ckckckkcc.


To be continued...


~~♡♡ Happy reading, jangan lupa like vote dan komen ya 🤗


Salam anak Borneo.

__ADS_1


__ADS_2