Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Nona Cendol


__ADS_3

Suka duka bertahan hidup dalam kesepian. Kau akan bahagia kalau di terima, namun kau akan semakin menderita saat kau mendapatkan penolakan.


Usai memeluk erat sang Papah, Greta di ajak bergabung bersama mereka di meja itu. Kai dengan suka rela menyerahkan kursi yang dia duduki, bersebelahan dengan Hanan. Baiklah, setidaknya Kai menunjukan perdamaian untuk Greta. Karlina menanyakan kabarnya, Greta mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Meski bukan itu kebenarannya.


"Cleo, perkenalkan ini Kakak perempuan mu." Karlina menarik piring cemilan di tangan Cleo. Mau nggak mau, bocah yang masih duduk di bangku SMP ini menatap Greta. Perbedaan tinggi badan membuat Cleo menanyakannya usia Greta. Di ketahui bahwa Cleo lebih tua beberapa bulan darinya, maka Cleo nggak mau memanggilnya dengan sebutan Kakak.


"Aku sudah SMA."


"Tetap saja usiamu di bawahku!" sahut Cleo.


Ketegangan yang sempat hadir kini perlahan menghilang. Sebab perdebatan dua bocah ini.


"Selamat Karlina, kamu memiliki seorang putri sekarang." Sook mengucapkan selamat.


Senyum ketulusan seorang Karlina, menggambarkan betapa besar hari wanita ini. Sejatinya Greta bukanlah putrinya, juga bukan putri suaminya. Namun mereka bersedia menerimanya masuk ke dalam keluarga sederhana ini.


Lantas, bagaimana dengan Nenek Letta?. Dia tersenyum, sama seperti yang lain. Tapi rasa sayang itu belum juga muncul, sebab teringat Victoria yang mengatakan dirinya telah tiada kepada Hanan.


"Perayaan yang luar biasa. Selain resminya pertunangan Kai dan Nari, Greta pun resmi bergabung dengan keluarga ini. Bukan begitu?" Charlotte menatap Kai sekeluarga secara bergantian. Mereka kompak mengangguk bersama, hingga rasa syukur dan haru itu hadir. Membuat Greta menitikan air mata, nggak menyangka nasibnya nggak seburuk yang dia sangka.


Orang-orang di meja sebelah kiri kembali berbincang dan berbagi kisah. Mereka para orang tua dengan Greta, Cleo, Nari dan Kai sebagai anak muda. Sedang keja sebelah kanan membentuk percakapan tersendiri, Kakak beradik Joen dan Jung berserta istri, juga Yohan. Sementara Amir dan para pekerja keluarga Charlotte berada si meja lain, dengan hidangan yang sama seperti pada majikan.


Yohan mengambil duduk di ujung, menyisakan beberapa kursi antara dirinya dan mereka. Sorot matanya sempat menangkap bayangan seseorang. Sudut bibirnya sempat tersenyum samar, namun tenggelam kembali saat sepasang mata lain menatapnya tajam.


Joen, memandang Yohan seperti singa kelaparan. Di dalam hati, ada sedikit kecewa. Gadis yang dahulu sempat manarik perhatian, kini telah memiliki putra. Itu pertanda dia telah ada yang memiliki. Dugaan ini semakin jelas dengan sorot mata tajam seorang Joen padanya.


Bersikap baik kalau di perlakukan dengan baik. Bersikap menyebalkan kalau di perlakukan nggak baik. Begitulah cara Yohan menyikapi Joen saat ini. Saat Greta dan Cleo berargumen perihal usia, Yohan masih menatap Ghina.


Melihat Joen hendak berdiri, mungkin menghampiri dirinya, lekas-lekas Yohan bersuara"Apa kabar, Nona cendol."


Eh??. Cendol adalah hidangah kegemaran Joen. Selain Joen, Ghina sangat familiar dengan hidangan tersebut. Kenangan masuk ke dalam sungai kecil hanya untuk mendapatkan daun suji, sungguh nggak bisa di lupakan.


"Maaf, siapa nama kamu, Nona?." Sangat jelas dirinya menatap Ghina, itu artinya bertanya padanya.


"Ghi---."


"Nyonya Joen Charlotte." Sambar Joen memutus perkataan Ghina.

__ADS_1


"Dan aku Joen Charlotte." Penuh penekanan dia berkata.


Ow, Yohan membulatkan mulut, seraya mengangguk samar.


"Apa kita pernah bertemu?."


"Ya, hanya sekali. Saat kamu menyerobot antrian membeli cendol. Dan saat itu kamu masih mengenakan seragam SMA."


"Waktu itu-----" Ghina memaksa diri untuk lebih mengingat.


"Kang cendol dekat sekolah kamu." Tambah Yohan.


"Sekali bertemu tapi kamu sudah tau di mana sekolahnya?." Joen nggak bisa menyembunyikan rasa penasaran. Hubungan pemuda tampan ini dengan sang istri di masa lalu, harus dia pastikan bersih, tanpa adanya getaran cinta di antara mereka.


"Tentu aku tau, aku sempat bersekolah di sana. Meski hanya satu tahun di akhir masa SMA." Akh! rasa penasaran itu berganti dengan rasa cemburu. Kenapa Yohan harus menjadi kakak kelas Ghina? kenapa enggak dirinya saja?!. Begitulah penyebab kecemburuan di hati Joen saat ini.


"Setelah ku ingat-ingat, Nona ini penerima pita merah yang ku berikan, saat menjalankan orientasi sekolah."


Bae mulai bertingkah, dia hendak kembali berjalan ke sana dan kemarin. Ghina gegas menggendong bocah ini, entah apa yang menarik dari Yohan, sebab Bae ingin mendekat padanya.


"Lagi tegang, kok senyum" bisik Andrea.


"Anggap saja kita sedang menonton drama cinta segi tiga" jawaban Jung terdengar jelas oleh Joen, meskipun sekedar berbisik pada Andrea. Senyum Andrea membuat Joen semakin kesal. Dasar pasangan edan, begitulah hati Joen menggerutu.


Benteng nan tinggi sangat jelas di bangun Ghina antara dirinya dan Yohan. Pemuda itu tersenyum masam, bahkan sekedar untuk berteman pun sepertinya Ghina nggak mau. Ya sudahlah, apa hendak di kata. Madu tak hanya segentong, kumbang tak hanya seekor, Yohan menyerah pada Ghina. Lagipula perasaan itu hanya sekilas. Sempat beberapa kali memperhatikan Ghina sejak insiden cendol tersebut, Yohan kehilangan jejak. Ternyata saat itu Ghina telah menjadi Nyonya Joen.


Di kediaman lain, Fay tengah uring-uringan. Keputusan tak terbantahkan juga mengharuskan dirinya mengantar dan menjemput Arin.


"Nggak ngendorse?". Tanya Manda saat mendapati sang putra termenung, di tepi kolam renang.


"Nggak" menyahut singkat.


"Ngambek?."


"Mana berani!!" ujarnya lagi.


"Tapi itu lagi ngambek" Manda menahan tawa.

__ADS_1


Fay hanya diam. Hatinya panas saat sang Mamah meledeknya seperti itu. Pemuda ini membuka baju, bersiap masuk ke dalam kolam renang.


"Kalau masuk angin jangan ngadu sama Mamah ya."


"Orang sakit tu ke dokter, bukan ketemu Mamah. Emang Mamah dukun betina?!."


Manda hendak mencubit lengan Fay, pemuda ini langsung masuk ke dalam kolam renang.


"Ayo sini Mamah cantik, kalau berani tangkap Fay!."


"Mamah masih waras!. Nanti kalau Mamah sakit kamu makin ngeledekin Mamah."


"Wuu, Mamah cemen. Bisanya memaksa orang. Pake mengancam ini itu, sok keras!. Giliran berenang malam-malam nggak berani."


Sadar diri nggak lagi muda, Manda menulikan telinga dari ejekan sang putra.


"Awas ya, mau kamu bertingkah seperti apa Arin akan tetap jadi menantu Mamah" mendengus.


"Anak Mamah kan bukan cuman Fay."


"Yang belum laku kan cuman kamu doang!" Manda membalas ucapan Fay.


"Mamah!!"


"Mamah!!" Manda balas menirukan ucapan Fay. Dia tau betul bocah ini paling nggak suka di ledek seperti itu.


"Aish!! Mamah!!."


"Aish!! Mamah!!." Balas Manda lagi.


Akh!! Fay masuk ke dalam air, membuat Manda terkekeh.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya...


Salam anak Borneo.

__ADS_1


__ADS_2