Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
Persembunyian Jung


__ADS_3

Persiapan pernikahan semakin mendekati kesuksesan. Ghina meletakan rangkaian bunganya di meja taman dan melangkah mendekati sang mamah mertua.


"Ghin, sembunyi di lubang semut kali ya si Jung. Betah amat ngumpet nya," ucap sang mamah mertua.


"Gimana ya mah, Ghina juga nggak lihat bang Jung. Lagian, masih bisa di ganti kan MUA nya."


"Ya enggak dong, Ghina!. Mamah nggak enak sama tante Wijaya. Dia yang merekomendasikan anak nya itu. Lagipula apa salahnya sih sama pria solehah? belum ada kabar mereka bisa makan orang, kan?, Jung aja yang berlebihan," Nyonya Sook berbincang bersama Ghina sembari mengatur meja-meja tamu di taman bunga.


"Ngomong-ngomong, si Bae masih sama Nari?."


"Iya mah," sahutnya"Ah, Joen udah pulang, Ghina samperin dulu ya, mah."


"Iya, kamu urus dulu suamimu. Kalau Nari ada kerjaan, Bae biar sama mamah."


Ghina mengangguk dan segera menyambut kedatangan Joen"Selamat sore papah Bae,"sambut Ghina dengan gelayut manja di lengan Joen.


"Sore, sayang," Joen nampak kelelahan. Memegangi tengkuk dan menyerahkan tas kerjanya kepada Ghina.


"Capek banget ya? mau di pijat dulu apa langsung makan?," tangan kecil Ghina berusaha meraih dan memijat pundak Joen yang tinggi, kakinya berjinjit sebab tinggi badan Joen begitu jauh darinya.


Tersenyum samar, Joen sedikit merunduk agar jemari sang istri sampai di pundaknya "Kalau kecil ya kecil aja, kalau nggak sampai bilang dong," urusan tinggi badan Joen memang paling suka meledek Ghina, seperti saat ini ,Ghina langsung memasang wajah bebek manyunnya di hadapan Joen.


"Aku udah berbaik hati nawarin pijatan, malah ngomongin tinggi badan."


"Jangan manyun, sayang. Bibirnya minta di tipok, ya?," goda Joen lagi seraya mencubit kedua pipi Ghina pelan.


"Udah sayang, malu di lihat mereka," ya, bukan hanya mereka berdua di situ, para pelayan kerap menjadi saksi interaksi manis pasangan suami istri ini.


Joen dan Ghina kini telah sampai di lantai atas, area kamar tiga bersaudara itu. Dan, ekspresi wajah Nyonya Sook menimbulkan tanya dalam benak mereka, ada apa ini?


"Kenapa mah? senyum-senyum sendiri."


"Syuuutt!," meletakan jari telunjuk di depan bibir, sontak pasangan itu merendahkan nada bicara. Nyonya Sook memandu mereka untuk menengok ke dalam kamar Nari, di sana terlihat Jung dan Bae sedang tertidur pulas. Juga Nari, gadis itu tertidur di ujung ranjang dengan kaki Bae bertengger di perutnya.


"Ternyata sembunyi di sini tu anak," bisik Nyonya Sook.


"Siapa yang sembunyi?," tanya Joen, seharian di kantor dia melewatkan kesibukan para penghuni di kediaman ini mencari Jung.

__ADS_1


"Bang Jung, dia kabur dari mamah karena nggak setuju sama MUA nya besok."


"Mamah kok maksa? kalau abang nggak mau pasti ada alasannya."


Sempat melirik sang mamah, Joen kini mengalihkan pandangan sebab Nyonya Sook balas melirik nya, dengan tatapan tajam pastinya"MUA nya Selena, anak tante Wijaya. Gimana mamah mau nolak? teman akrab mamah lho itu, kalian semua tahu betul kan."


"Bukan Selena yang jadi masalah, mamah."


"Iya, mamah tahu kok Ghina!," sambar sang mamah mertua.


"Lantas, masalahnya apa? mamah sudah tahu kok masih maksa?," Joen bertanya lagi.


"Asistennya lelaki solehah, sayang."


Kedua mata Joen membulat, mendengar kata lelaki solehah. Lelaki jenis apa itu? bukannya cuman perempuan yang di sebut solehah? sedangkan laki-laki di sebut soleh.


"Maksudnya...?," tanyanya lagi untuk lebih memastikan.


"Banci, tapi dia nggak nakal kok," sahut Nyonya Sook.


"Hilih, nggak nakal dari mana? bang Jung cerita aja udah pucat pasih mukanya, gimana dengan kejadian sebenarnya?."


Ghina bersembunyi di balik tubuh Joen"Bu...bukan mau gagalin rencana mamah, se-enggaknya mamah bilang sama Selena buat jinakin asistennya besok. Jadi kita tinggal bujuk bang Jung, kita harus meyakinkan dia bahwa tu banci aman, nggak bakal colek-colek bang Jung."


"Nggak ikutan! wajar aja bang Jung kabur. Dengerin bakal ada banci aja Joen udah merinding."


Melihat Joen bergidik ngeri, Nyonya Sook semakin berpikir, apa setakut itu kaum lelaki dengan lelaki solehah?. Lambat laun hatinya menjadi luluh, tapi sangat nggak mungkin membatalkan perjanjian dengan Selena.


"Ya sudah, nanti mamah akan bicara sama Selena. Kamu sama Nari yang jagain Jung pas di rias besok, kalau bencong itu macam-macam langsung masukin botol aja!."


"Buset!," Joen menutup mulutnya"Memangnya jin, pake di masukin botol."


"Iya, mereka kan kerasukan jin, yang suka sama cowok."


"Oke deh mah, Ghina sama Nari bakal jagain bang Jung," persetujuan Ghina menambah percaya diri Nyonya Sook.


"Aku nggak ikutan!," ulang Joen lagi, takut mendapat tugas untuk menjaga Jung dari lirikan si pria solehah itu. Menjaga jarak dari mereka, hal itulah yang akan Joen lakukan hari esok.

__ADS_1


Usai berdiskusi, mereka keluar akan meninggalkan kamar Nari.


"Ayo kita pergi, Bae kalian bawa, sedangkah dua bocah ini biarin di sini."


"Mah, itu kunci apa?," Ghina menunjuk Sebuah kunci di tangan sang mamah.


"Kunci kamar Nari. Mamah tadi pas mau masuk pintunya di kunci dari dalam, curiga dong mamah. Pas mamah intip dari balkon ternyata ada si Jung di dalam."


"Jadi mamah masuk lewat balkon?."


"Iya."


Joen kagum dengan kegigihan sang mamah"Mantap mah, jadi mamah loncat pagar balkon?."


"Hahaha, itu mah nggak seberapa buat mamah," ujarnya tertawa kecil. Sepasang suami istri itu ikut tertawa karena ulah sang mamah.


Untuk sementara Nari sama Jung di kunci aja di dalam kamar, sedangkan si Bae di bawa keluar oleh Joen. Jam tujuh malam penyergapan atas Jung akan segera di lakukan, bahkan Tuan Charlotte pun di ikut sertakan dalam penangkapan Jung.


"Papah lho nggak tau apa-apa mah, kok di bawa-bawa."


"Kalau sama papah dia nggak akan berani ngelawan, ayolah pah, demi kelancaran hari esok," bujuk sang istri seraya memainkan lengan sang suami. Mengayunkan dengan manja seraya menatap nya mesra.


"Cuma bantu meyakinkan Jung sama MUA nya aja!," lanjut Nyonya Sook.


"Mamah juga salah, yang mau nikah kan Jung. Seharusnya konfirmasi dulu sama Jung semua persiapannya. Dia sudah dewasa mah, bukan anak kecil lagi," wejangan sang suami di dengar baik-baik oleh nyonya Sook sembari mengangguk patuh.


"Iya mamah ngaku salah, tapi nggak mungkin di batalin kan. Mamah sudah Acc sama Selena dan Wijaya," ujarnya membela diri.


"Sudahlah, tapi ingat lain kali jangan bertindak sendiri lagi ya, mah. Untuk kali ini papah bantu deh, biar lancar acara besok nya."


"Akh!! papah memang yang terbaik," Nyonya Sook mengusap pipi Tuan Charlotte berkali-kali. Seolah gemas dengan pipi pria paruh baya itu.


Kelakuan menggemaskan sang istri membuat Tuan Charlotte tertawa geli. Jarang-jarang istrinya bertingkah manis seperti itu.


To be continued...


~~♡♡Happy reading.jangan lupa like dan komen ^,^

__ADS_1


Salam anak Borneo.


__ADS_2