Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"

Naria "Nona Manis Keluarga Charlotte"
I love you


__ADS_3

Sungguh indah masa muda, sungguh indah masa berpacaran. Meski hanya naik motor matic biasa, senyum itu selalu tersungging di bibir sang Nona muda. Memperhatikan mimik wajah sang kekasih melalui kaca spion, Kai jadi bertanya-tanya, ada apa gerangan.


Singgah sebentar di pom bensin, Nari yang sudah hapal betul langsung turun, berjalan ke area samping untuk menunggu Kai. Meski panas-panasan, senyum itu masih saja terukir jelas di wajah Nona muda.


"Kamu kenapa sih dari tadi aku lihatin senyum-senyum terus sendirian. Abis ketiban duren ya?" Kai membenarkan letak helm di kepala Nari, yang terlihat sedikit miring. Pemuda ini juga menyeka keringat yang jatuh di tepian wajah sang kekasih.


Bukannya menjawab, Nari justru semakin tersenyum diperlakukan begitu lembut oleh Kai.


"Hei Nona, kamu kenapa sih??" kali ini hidung sang kekasih menjadi sasaran empuk Kai, dia bahkan mencubitnya gemas.


"Hihihi, Papah udah kasih aku uang jajan lagi."


Sontak kedua alis Kai terangkat naik, dia terkejut namun ikut bahagia. Setidaknya gadis ini dapat kembali menjalani kehidupan terbaik seperti sebelum menjadi kekasihnya.


"Oh ya?. Sukur deh, aku ikut senang mendengarnya. Terus gimana ngendorse nya? lancar?."


"Lancar, selama aku siap ngebayar dua abang durjana itu" sahut Naria sambil menggerutu. Memang gila itu abang bedua, si Joen selain minta bayarin setengah dari harga hape, dia juga doyan nge-babuin Nari. Sebelum ngendorse dia minta di bikinkan ini dan itu. Kemarin malam sebelum ngendorse dia minta jus sama roti bakar, yang di bikin Nari sendiri. Kan ngeselin!!.


Lain Joen lain pula di Jung. Abang jahil satu ini paling doyan di pijit. Sekali ngendorse Nari harus mijitin dia setengah jam. Gila kan?, waktu banyak terbuang buat dia doang. Mau protes, eh setiap ngonten sama mereka viewers nya membludak banget. Nari jadi serba salah.


"Coba deh kamu mau bantuin aku ngendorse, kita kan bisa cari uang sama-sama, biar celeng angsa kita cepat penuh."


Ada-ada aja perkataan Nari ini. Membuat Kai nggak bisa berkomentar.


Mengusap hidung Nari lagi"Sudah, jangan ngomel. Entar makin manis, kasihan kan aku jadi diabetes." Ucapan Kai membuat Nari mengulum bibir, langsung meleleh di hari yang gerah ini.


Usai berbincang sebentar di sudut pom bensin tersebut, Nari pun menaiki motor Kai. Kali ini tujuan mereka ke sebuah SMA swasta di kota itu. Ini kali pertama Nari ikut bersama Kai, untuk mengambil sisa kue jualan sang Ibunda.


Kedatangan Kai di SMA tersebut disambut hangat oleh Pak satpam. Dan seperti biasa para cewek-cewek di sekolah itu melontarkan candaan kepada Kai"Abang cakep udah datang ya. Gimana kabarnya bang" seorang gadis tersenyum manis menegur Kai.


"Aku baik kok" sahut Kai membalas senyum manis itu.

__ADS_1


Nari mencubit lengan Kai, sedikit kesal melihat betapa ramahnya dia kepada wanita selain dirinya. Begitu peka, Kai menarik Nari yang semula berjalan di belakangnya. Kini mereka berjalan sejajar, dengan Kai menggenggam erat jemarinya.


Nari nampak senang, terbukti gadis ini mengayunkan tangan mereka yang saling berpegangan"Kayaknya kamu banyak di sukai cewek di sini."


"Enggak juga. Lagian kalau itu benar bagi aku biasa aja. Akan lain ceritanya kalau kamu yang selalu bilang suka sama aku." Kai tau Nari sempat cemberut melihat interaksinya dengan gadis lain, yang sebenarnya hanyalah basa-basi. Lantas, Kai berniat menggoda sang kekasih, untuk menciptakan suasana ceria kembali di hatinya.


Sepertinya Kai lupa, di balik wajah menggemaskan sang kekasih, Nari selalu lapar akan kata-kata cinta untuknya.


Langkah pemuda ini terhenti, sebab Nari menahannya"I love you." Tiba-tiba mengatakan cinta. Kai menahan tawa, niat menggoda justru dirinya yang di goda.


"I love you!!" ulang Nari, namun ada sedikit nada penekanan.


"Aku juga cinta kamu" untung jalan menuju kantin terbilang lengang, jadi Kai nggak malu-malu amat mengatakan cinta.


"Akh!! kamu manis banget sih. Jangan keseringan kayak gini ya. Nanti aku mimisan" memang seperti kodok. Nari meloncat-loncat kecil seperti bocah di hadapan Kai.


Memegang pundak sang kekasih"Sudah cukup senangnya. Kita harus segera mengambil kue titipan Ibu. Hari semakin sore, aku harus segera nganterin kamu pulang."


Seperti Ada rindu yang tertahan, melihat kehadiran Kai gadis ini langsung berdiri"Hei abang-abang kue. Kok hari ini telat ambil kue nya?." Nada bicara Dila yang semula bersemangat, perlahan mereda di ujung kalimat. Sebab kemunculan Nari bersamanya.


"Jemput pacar abang dulu." Sahut Kai.


Nari seperti ditelanjangi, kedua bola mata Dila menatapnya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Sekali pandang saja gadis ini sangat tau, bahwa Nari bukanlah gadis biasa. Seragam yang dikenakannya saja, sudah dapat mengungkapkan dari kalangan mana dia berasal.


"Widih abang-abang kue, ceweknya anak orang kaya nih."


Terlihat dengan jelas gadis itu sedang menyindir kekasihnya, Nari pun langsung angkat bicara"Sebenarnya dia juga anak orang kaya, cuman lagi iseng aja jualan kue."


Dilla terdiam. Diperhatikan dari setiap penampilan Kai, pemuda ini memang selalu keren. Meski hanya mengenakan pakaian sederhana saja, namun auranya berbeda dari kebanyakan cowok yang Dila kenal.


"Oh ya?."

__ADS_1


"Iya, dia hanya terbiasa hidup sederhana. Sebenarnya dia orang kaya lho."


Mulut Dilla membulat, ternyata Kai bukan cowok sembarangan. Niatnya untuk mendapatkan cowok ini sempat semakin ingin, namun melihat sosok Nari, rasanya bersaing dengannya adalah suatu hal yang sia-sia. Apalagi melihat sikap Kai yang begitu hangat kepadanya. Sebelum duduk di bangku kantin saja, Kai menyeka bangku itu, barulah mempersilahkan Nari untuk duduk. Sementara dirinya langsung sibuk dengan Bibi kantin menghitung jumlah kue Karlina yang laku di jual.


Sadar diri, Dilla pun angkat kaki dari situ. Sungguh lucu, gadis ini salah paham. Kai menyeka bangku karena ada noda air mineral di bangku itu, namun ternyata Dilla salah mengartikan. Tapi bagus sih, Nari sempat nggak suka kepadanya, rada songong sih sama Kai, giliran tau Kai bukan cowok biasa dia langsung kalem.


Di perjalanan, Kai berkata"Kamu yakin bilang aku cuman iseng bantuin Ibu jualan Kue."


Kai merasakan pegangan erat di pinggang, Nari menggosokkan kepalanya di punggung Kai. Sontak dia merasa geli, bertepatan dengan tibanya mereka di kediaman Charlotte, Kai langsung berbalik setelah menurunkan standar motor.


"Geli Nar!!."


Langsung turun, namun tangannya langsung meraih jemari Kai"Maaf, aku merasakan aura kesombongan dari perkataan gadis itu. Cara dia ngeliatin kamu juga, aku nggak suka. Makanya aku bilang begitu" memainkan kakinya di tanah, seraya menunduk.


Mr.Jae menahan tawa. Nari selalu bertingkah menggemaskan kalau bersama Kai, sedangkan bersama dua abangnya, auto nge-reog.


Siapa yang akan marah kalau Nari sedang menunjukkan sikap seperti itu. Kai pun merapikan rambut sang gadis, usai melepaskan helm dari kepalanya"Jangan sedih. Aku nggak marah kok."


Mengangkat wajah dengan mata berbinar senang"Beneran?." Tanya itu di jawab anggukan dari Kai.


"Satu lagi. Lain kali kalau mau ngendorse aku mau kok nemenin kamu."


"Serius??" kali ini nada bicaranya lebih ceria.


"Iya. Tapi lihat barang yang mau di endorse dulu. Masa iya aku bantuin kamu ngendorse baju tidur cewek, nggak lucu kan."


Nari tertawa, sungguh memiliki Kai adalah suatu kebahagiaan tersendiri di dalam hidupnya.


To be continued...


Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya.

__ADS_1


Salam anak Borneo.


__ADS_2