
Cinta tak bersyarat, cinta yang seperti inilah yang sedang singgah pada hati seorang wanita cantik. Demi dapat melihat aksi sang pria pujaan, gadis cantik ini rela berjemur di bawah terik mentari pagi.
"Sehat kok, kamu kalau nggak suka pergi aja. Aku nggak pa-pa di tinggalin."
Sahabatnya, menatap seolah tak percaya pada gadis itu. Datang dari keluarga kaya raya dengan semua fasilitas mewah, membangun dirinya menjadi sosok yang sangat manja. Lantas, bagaimana dengan udara yang panas? tentu saja dia sangat membenci hal itu. Make up yang melekat di wajahnya bisa luntur, tubuhnya bisa bau matahari, kalau terus-terusan berjemur di bawahnya. Namun kali ini, sang anak manja rela berjemur di bawah sang mentari pagi hanya untuk mendekatkan diri pada seorang pemuda, pemuda yang datang dari keluarga biasa.
"Ya sudah aku tinggal dulu ya aku masih ada tugas lain di perpustakaan."
Alih-alih menjawab, gadis itu hanya mengangguk menanggapi perkataan sang sahabat, sebab kedua netralnya terfokus pada sosok pria di tengah lapangan itu.
Enggak berapa lama setelah kepergian sang sahabat, pria yang sedari tadi diperhatikannya itu terlihat melangkah ke tepi lapangan. Bergegas-gadis itu mendekatinya"Dion, kamu haus kan habis main basket, ini aku bawain minuman dingin" wajahnya terlihat merona saat menyerahkan sebotol minuman dingin itu.
Ya, gadis yang sedang diperhatikan gadis cantik ini adalah Dion, sahabat Kai. Dan gadis ini adalah Evelyn, bermula dari sekedar berkata saja, ternyata hatinya benar-benar terpaut pada sosok Dion. Setelah pertemuan mereka tempo hari Evelyn diam-diam selalu memperhatikan Dion, pria biasa yang selalu terlihat ceria dan selalu membantu sahabatnya, Kai.
Dion menerima minuman dingin itu namun bukannya meminumnya, Dion malah menempelkan minuman itu di salah satu pipi Evelyn, seraya berkata"Kamu sakit?,kenapa wajah mu merah sekali?. Apa karena kamu terlalu lama berjemur di sini?."
Sikap Dion ini membuat wajah Evelin semakin merona, hatinya seperti dipenuhi kupu-kupu sebab, saat mengetahui bahwa Dion menyadari kehadirannya, meski sedang asyik bermain basket.
"Eng--- enggak kok, aku baik-baik saja, lagi pula berjemur di bawah terik matahari di pagi hari bagus untuk kesehatan kan?" ujarnya sempat terbata-bata.
__ADS_1
Dion mengangguk reraya menyugar rambutnya yang terlihat sedikit basah, karena keringat"Oh, ngomong-ngomong terima kasih ya minumannya" pria manis ini segera merenguk minuman yang dibawakan oleh Evelyn. Sungguh, hanya melihat pria ini minum saja hati Evelyn rasanya bahagia sekali, sebab itu adalah minuman yang dia bawakan.
Kai yang saat itu juga bermain basket bersama Dion, memilih mengurungkan langkah hendak menghampiri sang sahabat. Gelagat Evelyn sangat bisa di baca, gadis ini benar-benar terpikat kepada sang sahabat.
Mengambil duduk di kursi lain di tepi lapangan, Kai mengambil ponsel yang tersimpan di dalam tas. Terlihat ada pesan masuk dari Naria. Gadis itu mengirimkan selca, terlihat dirinya sedang berada di ruangan kelas"Semangat kuliahnya, aku juga akan selalu semangat sekolahnya. Kita harus jadi manusia yang berguna bagi Nusa dan Bangsa, alapyu Sayangku!!" nggak lupa Naria menyematkan emot love di akhir judul selca itu. Kai terkekeh geli mendapatkan perlakuan random dari sang kekasih.
"Siap Nona manis, kelak kita akan menjadi pasangan kebanggaan Negara ini" ujarnya membalas pesan random Nari.
Meninggalkan para anak-anak muda yang sedang dimabuk cinta. Nyonya Sook terdiam di depan lemari pakaian mewahnya, yang memajang koleksi pakaian terbaik dan teristimewa miliknya. Penyelidikan orang-orang suruhannya kembali membuahkan hasil, sebuah foto tergeletak di atas meja tak jauh darinya.
Di sana memperlihatkan seorang wanita sebaya dirinya, sedang berbelanja di pasar tradisional. Ada juga gambar wanita itu sedang membawa beberapa keranjang yang terisi penuh kue-kue, di bantu bocah lelaki berusia 10 tahunan.
Foto lain menampilkan gambar wanita itu sedang menaiki motor matic, di bonceng seorang pemuda dengan belanjaan yang cukup banyak. Sungguh, rasa penasaran mereka pada sosok pujaan hati sang putri, menuntun mereka pada keluarga yang telah lama mereka cari.
"Mamah..." suara derit pintu di iringin suara yang sangat dia kenal, dialah Tuan Charlotte.
Hanya menoleh, namun nggak menyahut panggilan sang suami. Manik abu Tuan Charlotte tersita pada gaun yang beberapa saat lalu di pandangi istrinya. Hati itu mencelos, rasa ngilu seketika menyelimuti sang hati, ada rasa haru yang tertahan, sangat terlihat jelas pada manik abu yang mulai berkaca-kaca.
"Pah, carilah dia. Aku tahu dia sangat berarti bagimu. Bukan hanya kamu, William pun berhutang budi padanya."
__ADS_1
"Aku segera memerintahkan orang suruhan kita untuk menyelidiki masalah ini. Itu sudah sangat lama, mungkinkah masih bisa mencari kebenarannya? apa dia masih hidup? apa memang sudah mati?."
Matanya terlihat merah"Jasadnya nggak pernah di temukan!."
"Dia terjatuh ke dasar lautan, di saat ombak sedang mengamuk marah" sahut Tuan Charlotte.
"Bahkan tulang belulangnya nggak di temukan, Pah!" hardik Sook.
"Satu lagi, kenapa Marlina mengganti namanya menjadi Karlina?. Apa yang terjadi kepada mereka?, meski hanya seorang perancang busana pengantin yang baru merangkak naik, keluarga Hanan sangat kaya raya waktu itu. Mengapa sekarang anak dan istrinya jatuh miskin. Aku yakin, hartanya nggak akan habis sampai generasi ketujuh sekalipun!."
Charlotte meraih tubuh sang istri, yang sekarang hampir terjatuh ke lantai. Sosok Hanan, sahabat sang suami yang sangat berjasa dalam kehidupan mereka, terlebih kepada Jung, putra pertama mereka. Kebaikan Hanan sangat membekas di hati Sook, sebab hanya dirinya yang mampu menyelamatkan Jung saat itu, alih-alih dirinya sang Ibu dari Jung sendiri.
"Kita akan mencarinya, aku berjanji pasti akan menemukannya, hidup atau pun mati" gumam Charlotte.
Berbeda dengan Sook yang sangat mengenali wajahnya, Karlina justru belum pernah bertemu dengan Sook. Dirinya hanya tahu bahwa Charlotte, sahabat sang suami yang petakilan itu sedang menjalin hubungan asmara dengan seorang gadis berdarah Korea. Di hari pernikahan mereka dirinya sedang berada di kampung halaman, hal itu menjadi penghalang untuknya hadir di pesta kecil-kecilan itu. Melihat sosok Sook hanya melalui foto pernikahan mereka, Karlina tersenyum senang atas pernikahan mereka.
Nggak berapa lama setelah pernikahan Charlotte, Karlina beserta kedua orang tuanya di haruskan pindah ke kota asalnya, jarak jauh menjadi jalan berliku untuk cinta Hanan dan Karlina. Namun meski begitu, dua tahun kemudian mereka berdua pun juga menikah dan menetap di kota asal Karlian.
To be continued...
__ADS_1
Happy reading, jangan lupa like fav dan komennya 🤗.
Salam anak Borneo.