
Tanpa berbasa-basi Charlotte menunjukkan ketertarikannya terhadap Kai. Begitu pula dengan Sook. Karena perbedaan kondisi ekonomi mereka sekarang, membuat Hanan dan Karlina sejenak merenung. Apalagi sejak kembalinya Hanan, kebutuhan keluarga ini selalu di penuhi oleh keluarga Charlotte.
"Kamu meresahkan sesuatu yang nggak penting, Hanan" tukas Charlotte.
"Ini tentang perasaan cinta putra-putri kita bukan tentang harta."
"Tapi cinta nggak akan bisa membuat perut kenyang."
Ucapan Karlina sontak membuat Sook terkekeh geli"Yah itu memang benar. Tapi sepertinya hal itu nggak berlaku untuk putriku. Nyatanya dia semakin cinta pada putramu, yang notabennya hanya seorang pengantar barang kan."
"Maaf, aku nggak bermaksud merendahkan pekerjaan Kai, justru kerja keras putramu itulah yang membuat kami yakin padanya." Lanjutnya.
Charlotte pun menceritakan tentang celengan angsa, tabungan Nari dan Kai untuk pernikahan mereka kelak. Alih-alih kasihan, para orang tua ini mentertawakan tingkah dua anak muda itu.
Melihat tawa dua sahabatnya Charlotte pun semakin menekankan keinginannya untuk menikahkan Nari dan Kai. Namun karena Naria masih bocah, setidaknya untuk saat ini mereka berdua harus terikat tali pertunangan.
Akh! lagi-lagi pertunangan. Tapi pertunangan kali ini sepertinya akan membuat nari terkekeh. Bahkan mungkin berguling-guling di atas ranjang empuknya. Karena terlampau bahagia, akhirnya hubungannya dengan sang kekasih mendapatkan restu.
Sekali lagi Karlina dan Hanan menekankan akan ketidakberdayaan mereka dalam perekonomian. Dan sekali lagi pula Charlotte meyakinkan, bahwa hal itu bukanlah apa-apa bagi mereka.
"Prestasi putramu juga cukup bagus, meski kuliah sambil bekerja, nyatanya nilainya cukup memuaskan. Prediksiku, di masa depan dia akan menjadi seorang arsitek terbaik di negara ini.
Karlina terkekeh, begitu juga dengan Nenek Letta"Ayolah Charlotte, jangan terlalu berharap kepada cucuku."
"Nyonya Letta, berkeinginan itu bukan sebuah dosa bukan. Katakanlah untuk menjadi seorang arsitek ternama itu terlalu jauh, setidaknya kelak putriku akan tinggal di sebuah rumah, dengan Kai sebagai perancangnya."
__ADS_1
Andai Nari ada di sini mungkin dirinya akan tersipu malu ketika para orang tua membahas hubungan dirinya dengan Kai. Rasa cinta itu semakin menjadi, semakin menghangatkan hati, seiring berjalannya sang waktu rasa cinta di hati mereka semakin besar.
Kesepakatan itu seperti tak terbantahkan. Setelah melalui berbagai candaan dan gurauan akhirnya Kai dan Nari pun mengantongi restu dari kedua belah pihak. Sempat menolak hubungan mereka, kali ini Charlotte ingin memberikan kejutan kepada dua anak manusia yang sedang di mabuk cinta itu.
Hari pertunangan telah ditentukan. Atas permintaan Nenek Letta acara tersebut akan dilangsungkan di kediaman mereka, kediaman sederhana namun selalu terasa hangat.
Tak berbeda dengan Charlotte, Karlina pun semula menolak hubungan mereka, tentu karena adanya perbedaan status sosial. Apalah daya, kita manusia hanya sekedar berharap, karena pada akhirnya Tuhanlah mang maha menentukan. Kejadian yang baru saja mereka lewati justru membuka jalan untuk mereka bersama.
Di belahan bumi yang lain, nampak dua keluarga kini juga sedang berkumpul, membahas tentang perjodohan putra-putri mereka. Dugaan Fay dan Arin memang nggak salah. Nyatanya mereka berdua memang telah dijodohkan sejak kecil oleh para orang tua. Di sini di kediaman Arin, bangunan yang berada di atas kedai keluarga Arin, Fay beserta Papah dan Mamah sedang membicarakan hal yang serius.
Setelah mendapati rantang Tupperware milik sang Mamah berada di tangan Arin, Fay langsung mengirimkan foto rantang itu pada sang Mamah. Sungguh memang sudah nggak bisa berkelit lagi, sebab Arin mengatakan bahwa salad itu dikirim langsung oleh sang calon mertua.
Mau nggak mau Mamah Fay menceritakan perjodohan itu, dan calon istri Fay memanglah Arin. Gadis yang selalu ringan tangan terhadap Fay. Begitu juga dengan Fay, dia adalah sosok berisik di mata Arin.
Lantas, Fay meminta perjodohan itu di batalkan. Bocah itu sangat memaksa, hingga terjadilah pertemuan dadakan di kediaman Arin ini.
"Kok Papah setuju. Bukan ini yang Fay mau!. Masa Fay nikah sama dia?" tak ayal jari telunjuk itu sangat nggak sopan mengarah kepada Arin. Gadis itu sedang mengintip di balik tembok.
Oho! ingin rasanya menyambar tangan durjana itu. Emosi yang membuncah membuat Arin keluar dari persembunyiannya"Heh! kamu pikir aku mau nikah sama kamu?!. Manusia kelebihan baterai, nggak bisa diam!. Pecicilan, berisik!!" dada gadis ini terlihat turun naik, usai berceloteh dalam sekali tarikan napas.
Hanggini menahan napas, menyaksikan sikap arogan putrinya. Sorot mata nan tajam itu nggak di hiraukan Arin. Wanita berdarah jawa dengan sikap dan tutur kata lemah lembut ini sungguh merasa malu, sejatinya watak Arin seperti sang Ayah, akan mudah marah kalau di singgung.
"Sayang, peringati putri kita" bisiknya pada Carlos.
Carlos memang di kenal sangat mencintai istrinya, dahulu dia di kenal pemarah, namun setelah menikah dengan Hanggini, emosinya dapat di kontrol dengan baik. Memanggil Arin dengan jari telunjuk"Sini!."
__ADS_1
Jari itu menunjuk tempat duduk di samping Manda, Mamah Fay. Meski sangat enggan, Arin nggak bisa menolak perintah Ayahnya. Dia pun berjalan dan mengambil duduk di samping Manda.
Fay memelotot, melihat Manda merangkul pundak Arin. Sangat kentara bahwa dia menyukai Arin. Wah!! kalau sudah cocok dengan sang Mamah, kemungkinan perjodohan ini di batalkan sangat sedikit.
Menyugar rambutnya seraya menggeretakkan gigi, Fay rasanya ingin kabur ke dasar bumi. Rasa cinta itu nggak ada, bagaimana bisa dia harus menjalani kisah asmara bersama Arin?!. Lain halnya kalau untuk hubungan pertemanan, untuk urusan bermain dan bercanda mereka sangat cocok.
Arin pun sama, meski Fay banyak di sukai cewek di sekolah, di matanya cowok dengan gigi kelinci ini biasa-biasa saja. Senyumnya memang menawan, namun nggak sampai membuat hatinya bergetar.
"Perjodohan ini sudah di putuskan oleh Kakek kalian. Ini wasiat orang tua, yang bahkan sudah nggak ada di dunia ini. Seharusnya kalian bersikap baik, menerika keputusan ini dengan lapang dada. Jadilah anak-anak yang berbakti pada orang tua." Prana seperti seorang ustadz, yang sedang memberikan ultimatum pada kedua bocah, yang kompak saling memberengut.
"Nggak mau!" bersamaan, Fay dan Arin berseru.
"Kalian mau di berikan hukuman seperti Nari dan Rivan?" Manda bersuara. Sementara Hanggini hanya menyaksikan.
"Maksud Mamah, Fay akan di usir?" menatap Manda dengan rasa tak percaya.
"Arin nggak akan di kasih uang jajan?" giliran Arin yang bertanya, kepada Ayah dan Ibunya.
"Semua keputusan ada di tangan kalian. Kalau ingin hidup damai, terima perjodohan ini. Kalau ingin hidup menderita, silahkan saja." Kali ini Carlos yang bicara. Arin jelas nggak berani bersuara, sebab yang bicara adalah Ayahnya. Sedang Fay beradu pandang dengan Prana.
"Aku akan menyuruh Papah Zaid untuk mengusirmu, kalau datang dan mengadu kepada Zaid, seperti yang di lakukan Rivan."
Fay kesulitan menelan saliva. Bagaimana ini?!. Masa harus menghabiskan waktu seumur hidup bersama orang menyebalkan!!!. Batin Arin dan Fay.
To be continued...
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya.
Salam anak Borneo.