
Tuhan itu seperti apa yang kita pikirkan, dan ketika Bisma berprasangka buruk kepada sang Maha Pencipta maka hal buruk pun akan terjadi kepadanya. Namun kali ini Bisma berprasangka baik terhadap sang Maha Pencipta, maka nomor ponsel sang gadis pujaan hati bunda dia dapatkanmaka nomor ponsel sang gadis pujaan hati pun dia dapatkan.
Digoyang ombak cinta ditiup angin rindu. Itulah yang tengah terjadi pada pemuda satu ini. Puas Menikmati keindahan perkampungan dan menginap di Villa milik dokter Wenhan, rombongan itu pun akhirnya kembali ke perkotaan.
"Aku akan kembali ke sini suatu saat nanti. Untuk sekarang biarlah jarak dan waktu memisahkan kita." Begitu bunyi pesan yang dikirimkan Bisma kepada Azalia.
Sehari, dua hari, rindu itu semakin menjadi. Bisma yang petakilan beubah menjadi sosok lebih tenang. Sungguh ketika cinta bertindak, pesan-pesan kebaikan yang selalu di kirimkan Azalia pada Bisma, membuatnya nggak lagi gemar bolos sekolah.
"Aku aja nih, di tabok Niki gegara langganan ruang BP, nggak kapok buat bolos. Kamu kok kapok?." Rivan berkacak pinggang, kesal karena rekan bolosnya itu tobat.
"Ajakin Keano aja deh, aku seriusan kapok bolos lagi."
"Ah elah si Keano. Kamu nggak tau kabar itu anak? dia sekarang dekat sama Betty Lavender." Satu persatu temannya pada tobat, Rivan jadi nggak ada teman buat bikin kepala pak Ibrahim berdenyut.
"Memangnya kenapa kalau dia dekat sama Betty?."
Rivan menyugar rambut, seraya duduk di samping Bisma"Betty kan langganan kena serangan kaca ajaib di sepatu aku. Dia kalao liatin aku bawaannya marah melulu. Padahal aku nggak selalu usil kok sama dia."
Bisma menatap Rivan dengan kedua mata memicing"Heh, kuda lumping, kamu tau trauma nggak?."
"Ya tau lah, kambing" Rivan balas menghina Bisma.
"Aku yakin Betty trauma tuh sama kamu. Makanya kalau ketemu bawaannya marah melulu. Marah itu salah satu caranya melindungi diri sendiri." Jelas Bisma panjang lebar. Beneran deh, sejak dekat sama Azalia, Bisma jadi sedikit waras pikirnya. Otaknya jadi lebih baik dalam berpikir, alih-alih bikin onar melulu.
Memiringkan kepala, meresapi ocehan Bisma. Kalau benar si Betty trauma, dia merasa bersalah banget tuh. Niatnya cuman bercanda, nggak menduga sampai bikin Betty menjaga jarak dengannya.
Kelamaan mikirin orang lain, bel sekolah keburu berbunyi. Terkejut, jelas saja Rivan terkejut. Waktu begitu cepat berlalu, sampai dia nggak sempat buat bolos di jam pelajaran berikutnya.
"Gara-gara kamu nih!!. Pake tobat segala. Coba kalau dari tadi kita bolos, sekarang udah santai di warung pojok sama secangkir es frenta colla, ngobrol sambil ngerokok." Menarik napas kemudian membuangnya kasar, gagal bolos bikin Rivan kesal.
"Kok nyalahin aku sih. Sudahlah, buruan masuk kelas. Entar ketangkap pak Ibrahim lagi lho." Nggak berniat menunggu Rivan, Bisma sudah ngacir duluan menuju kelas.
"Dasar nggak setia kawan!!" teriak Rivan lari tunggang langgang mengejar Bisma.
...----------------...
Pulang sekolah di jemput Ayang, bikin hati senang dan girang. Tarian kodok Nari nyaris terjadi lagi, kalau nggak cepat di hentikan Febby. Melihat Kai melambaikan tangan kepada saja, Nari melompat senang. Padahal hampir setiap hari mereka bertemu.
Febby nggak habis pikir, cinta jenis apa yang Nari miliki, kok kayaknya Sayaaaangg banget. Cintaaaaa banget sama Kai.
__ADS_1
"Nggak cape nyengir melulu?" Febby menarik pipi Nari. Gemas karena senyum itu nggak kunjung pudar.
"Nggak tuh. Justru kalau ketemu Kai aku langsung semangat."
"Cinta banget sih sama Kai."
"Lah emangnya kenapa?. Kamu nggak capek sendiri melulu?." Nari balas meledek Febby yang masih sendiri.
Memanyunkan bibir"Capek sih. Habisnya nggak ada yang mau, aku bisa apa dong?." Sungguh kasihan, Nari mengusap pucuk kepala Febby.
"Sabar ya. Cinta itu nggak perlu di kejar, dia bakal datang sendiri kalau sudah waktunya."
"Ya sudah, aku pulang duluan ya. Kamu serius nggak mau nebeng?."
"Enggak. Sebentar lagi jemputan datang kok."
"Tapi langitnya mendung."
"Nggak pa-pa. Aku pasti nggak akan kehujanan kok. Jemputkj sudah di jalan."
Setelah yakin dengan keamanan Febby, Nari pun masuk ke dalam mobil yang di kemudian Kai. Hei, kemana motor butut Kai?. Motor sejuta kenangan itu ada kok, keadaannya juga baik-baik saja. Kali ini Kai menggunakan mobil milik sang Ayah, untuk mengantar pesanan kue-kue ke pelanggan Ibunda Marina dalam jumlah banyak, sekalian jemput Nari.
"Senang deh di supirin kamu" celetuk Nari. Dasar Nona random, dia sering bicara hal nggak jelas seperti sekarang ini. Untuk Kai sudah paham betul dengan kekasihnya, jadi dia nggak kaget lagi.
"Mau!! mau!! mau!!" seru Nari bersemangat.
Mengusak rambut Nari, Kai gemas ingin mengunyel-unyel pipi gadis ini, tapi dia takut Nari berubah jadi kucing garong"Nanti ya kalau uangnya sudah cukup. Aku bakal beli mobil sendiri."
"Mau aku bantu?. Sejauh ini aku sudah punya banyak uang." Berkata dengan mata genit, Kai mendorong kening Nari hingga gadis itu memundurkan kepalanya.
"Katanya buat bikin rumah. Kok aku mau beli mobil kamunya mau bantu juga. Sebenarnya kamu mau kita punya rumah duluan apa mobil duluan?."
"Nikah duluan" jawabnya.
"Jelas harus nikah dulu. Tapi maunya punya rumah dulu apa mobil dulu?."
Nari memperbaiki duduknya, kini menyamping mengandap Kai"Begini, nanti setelah kita menikah, pasti Papah nanya aku mau hadiah apa. Nah, waktu itu aku bakal minta hadiah mobil aja."
Lihatlah, pikiran gadis ini berubah-ubah bukan. Dengan ide yang gila pula.
__ADS_1
"Ah!! gini aja deh. Aku minta hadiah rumah sama Papah aku, kamu minta hadiah mobil sama Ayah kamu."
Kai nggak jadi menyalakan mesin mobil. Pemuda ini tertawa mendengar ocehan sang kekasih.
"Terus sama bang Joen dan Jung, kamu nggak minta hadiah?" Kai sengaja meladeni angan-angan Nari.
"Oh iya!" Nari menjentikkan jari.
"Aku hampir lupa sama dua Abang durjana itu.
"Hemmm, kalau minta hadiah sepeda listrik sama Bang Jeon asik juga kali ya. Sore-sore kita bisa sepedaan keliling komplek."
"Kita?. Kamu aja. Kan sepeda listrik nya cuman satu."
"Siapa bilang?. Aku kan minta sama Bang Jung juga. Jadi satu buat kamu, satu buat aku" begitu riang, khayalan Nari membuat Kai tak hentinya tertawa.
Mengangguk-angguk, Kai memikirkan hal apalagi yang akan dia lontarka, untuk meladeni khayalan sang kekasih.
"Jadi setelah menikah kita udah punya rumah sendiri?."
Nari mengangguk.
"Mobil sendiri?."
Nari mengangguk.
"Sepeda listrik dua?."
"Hu-um" jawabnya seraya mengangguk.
"Naria Sayang. kamu yakin Bang Jeon dan Bang Jung akan langsung memberikan hadiah itu?."
Teringat dua Abang durjana itu super duper jahil, Nari menggaruk keningnya.
"Iya juga ya. Mereka nggak pelit sih, tapi aku harus di siksa dulu sama mereka, baru deh di kasih hadiah."
Kai lagi-lagi tertawa. Nari oh Nari, kamu terlalu polos!!.
To be continued...
__ADS_1
Selamat membaca jangan lupa like fav dan komennya ya.
Salam anak Borneo.