
" Palestina adalah tempat pertama yang ingin aku jadikan sebagai saksi keislamanku."
......" Pelangi Hanani 🌹"......
Canada.
Jam istirahat telah tiba, Anugrah memutuskan untuk pergi keluar sekolah untuk mencari angin segar, alibinya.
Tak lama kemudian, tergemalah suara adzan.
Yang berasal dari Masjid yang tidak terlalu jauh dari sekolah Anugrah.
Allahuakbar...
Allahuakbar...
" Udah adzan ternyata." Gumamnya.
" Anugrah !! Tiba-tiba ada sosok gadis yang memanggilnya.
Ia menoleh ke arah sumber suara.
Dan ya, perempuan itu melambaikan tangan padanya, seraya mendekatinya.
Hahhh... Anugrah menghela nafasnya berat.
Ya, lagi-lagi perempuan bernama Alena ini, bak penguntit yang selalu saja menstalker Anugrah.
" Nugrah.
Kamu mau kemana sih ? Ngapain kesini ?
Bentar lagi kan kita ada kelas." Cercah Alena.
Anugrah menatap melas gadis yang berada dihadapannya ini.
" Bisa diam gak, Len ? Adzan tu."
" Apaan sih !! Cuma adzan juga." Protes Alena.
Membuat Anugrah sedikit kesal.
" Len.
Hargai agama lain Len ! Adzan itu seru...
Anugrah menjeda perkataannya, mencari alasan yang lain, yang lebih tepat untuk bisa membuat Alena mengerti.
" Seru apa ? Sahut Alena.
" Ya, seruan untuk umat Islam beribadah.
So, kita harus hargai Len." Peringatanku padanya.
Ia pun hanya melemparkan tatapan sebal padaku,
seraya memilih duduk di bangku taman dekat Masjid itu berada.
Seusai adzan bergema.
Akupun beranjak dari posisiku, berniat kembali ke asrama. Karena sebentar lagi, kelas Psikologi akan tiba.
Namun, tidak jauh dari tempat kami duduk.
Anugrah melihat ada dua perempuan yang tengah mengobrol asyik disana.
Entahlah, entah apa yang mereka bicarakan.
Awalnya Anugrah tidak peduli dengan itu.
Akan tetapi, pandangan Anugrah tertuju pada buku yang digenggam oleh salah satu dari perempuan itu.
Karena penasaran.
Anugrahpun melangkah menghampiri mereka.
" Eh Nugrah !
Kamu mau kemana lagi sih ? Alenapun mengikuti langkah Anugrah.
" Excuse me." Ucap Anugrah sopan.
Seketika obrolan mereka berhenti, dan kini mereka berdua menoleh pada Anugrah.
" Yes, WhatsApp ? Tanyanya
Alena menyenggol lenganku.
" Kamu mau ngapain, Nug ? Bisiknya.
Aku hanya melototkan mataku, sebagai jawaban atas pertanyaannya.
" Kalian seorang muslim bukan ?
Kedua perempuan itu saling menatap dan tersenyum.
" Ya, of course." Jawab mereka serempak.
Aku hanya tersenyum simpul." Ironis ya."
Mereka mengernyitkan dahinya.
Bingung.
Ya, bingung dengan perkataanku.
" Ironis kenapa ?
" Ya, di Palestina, Uygur, Rohingya, Bangladesh, Suriah.
Ada banyak Muslimah yang tinggal disana berjuang mati-matian mempertahankan jilbabnya.
Lah, kalian yang diberi kebebasan untuk beribadah, berpakaian islami. Bisa-bisanya tanpa tampang berdosa, tanpa sungkan kalian mengumbar aurat kalian. Gak bosan apa ketemu dosa mulu." Anugrah menatap sinis kedua perempuan itu.
Perkataan Anugrah membuat mereka tertunduk malu. Keduanya terdiam membisu tak punya jawaban atas pernyataan Anugrah.
" Nugrah !
Kamu apa-apaan sih." Protes Alena yang merasa tidak enakan dengan kedua perempuan itu.
Detik selanjutnya, kedua perempuan itupun memilih untuk beranjak pergi.
Namun, sebelum kaki mereka melangkah Anugrah kembali membuka suara.
" Gak sholat dulu mbak ? Tanyanya.
Mereka lagi-lagi saling menatap dan menggeleng secara bersamaan." Nanti aja mas."
Membuat Anugrah tersenyum masam.
" Ironis banget ya.
Di Palestina jutaan manusia beribadah meski tembakan bom melayang ke arah mereka, mereka tetap bisa kyusu' banget.
Lah, mbaknya disini bisa aman sentosa ngerjain sholat mala nunda-nunda." Lagi-lagi Anugrah mencibir mereka.
Membuat salah satu mereka kesal.
" Gak usah nyindir orang mas !!
Mas sendiri juga kenapa gak langsung ke Masjid aja sholat." Ketusnya pada Anugrah.
Membuat Alena menarik tangan Anugrah.
"Hehe, maaf mbak.
Kami ini nonis mbak bukan muslim." Sahut Alena.
Sahutan Alena membuat perempuan itu diam mematung, entahlah mungkin hatinya sedikit tertampar. Melihat Anugrah yang nonis bisa bersikap islamnable seperti itu.
" Sekali kami minta maaf ya mbak." Lanjut Alena.
__ADS_1
Ia pun menarik tangan Anugrah untuk menjauh dari kedua perempuan itu.
" Nugrah !
Kamu kenapa sih ngomong kayak gitu sama mereka ?Mana bawa-bawa Palestina lagi." Alena menatap heran pria berpostur tinggi yang bersamanya itu.
" Ya, gak apa-apa.
Gua cuma mau gampar batin mereka aja."
" Iya.
Tapi gak perlu bawa-bawa Palestina.
Gak guna juga bagi kamu yang protestan." Cibir Alena.
Anugrah melepaskan tangannya kasar dari Alena.
" Sorry ni ya, Len.
Palestina itu bukan tentang Islam doang.
Lo gak lihat gimana b*jiangan-b*jingan itu nindas warga Palestina yang gak bersalah.
Mata lo udah buta sampai gak ngelihat bayi-bayi tak berdosa jadi korban kebiad*ban israil ha ? Tuli lo !
" Iya tau tapii...
" Gua heran sama lo, Len.
Lo itu perempuan atau gak sih ?
Perasaan lo, lo taruh dimana ? Di Got ?
Sampai gak bisa ngerasain perihnya penderitaan mereka.
Cercahan demi cercahan yang Anugrah lontarkan, membuat Alena diam tak bergeming sama sekali.
" Kenapa lo diam ha ? Bentak Anugrah.
Baru kali ini, Alena melihat Anugrah semarah ini.
Biasanya pria yang berada dihadapannya ini, selalu saja bersikap lembut.
" Kalau lo gak bisa memanusiakan tingkah lo !
Minimal manusiakan deh hati nurani lo." Tekan Anugrah.
" Dan asal lo tau !
Palestina adalah tempat pertama yang pengen gua jadiin sebagai saksi keislaman gua." Tegas Anugrah.
Perkataan Anugrah membuat Alena terkejut.
" Nugrah !!
" Kenapa lo mau lapor sama bokap gua ? Kalau selama ini gua sekolah di sekolah Protestan terbesar di Canada cuma sia-sia ?
Lapor aja, Len !! Lapor sana."
Alena menatap tak percaya pada Anugrah.
Ia tak menyangka Anugrah berani melangkah sejauh ini." Nugrah ! Kamuu sad..
" Sekeras apapun semesta mempersulit gua, menggapai syahadat.
Secepat itu pula hati gua dengan cahaya Islam semakin dekat, Len." Ucap Anugrah dengan lirih.
Ia pun pergi meninggalkan gadis yang terdiam mematung, yang tak hentinya memandanginya.
" Udah secinta itu kamu sama Islam, Nug." Alena tersenyum getir menatap punggung pria yang sudah menjauh darinya.
...🍂🍂🍂...
Satu hari telah berlalu.
Tak ada perubahan sedikitpun pada Arga.
Berulangkali doa tercurah dari mulut-mulut orang terkasihnya.
Namun, Sang Pemilik semesta belum kunjung memulihkannya.
Hana.
Gadis itu memilih menyendiri di Rooftop rumah sakit.
Ia berdiri dengan tangan diatas penyangga Rooftop.
Langit biru yang bersinar cerah.
Menjadi objek penglihatan netra berwarna coklat itu.
Tak ada senyuman yang terukir.
Hanya ada mata yang sembab, penuh dengan bendungan air mata.
" Kamu masih tidur juga, Ga ?
" Kamu gak kangen sama kita semua ?
Buliran-buliran hangat mulai menetes satu demi satu, menguasai pipi Hana.
Hikss..Hikss...
Lutut Hana terduduk menyentuh lantai.
Berulangkali ia memukul dadanya, untuk menghilangkan sesak yang tertumpuk disana.
Entahlah, ia tak mengerti kenapa bisa sesakit ini ?
Bahkan juga seperih ini ?
Hana menenggelamkan wajahnya di kedua sisi lututnya, untuk meluapkan segala kesesakan didadanya.
Dari kejauhan sosok Haiko menatap senduh wanita yang tertunduk lemah di lantai Rooftop itu.
Pria yang telah jatuh hati pada Hana sejak pertemuan. pertama mereka.
Hatinya sebenarnya cemburu.
Melihat gadis yang ia cintai, menangis karena pria lain.
Ia bisa melihat dari tatapan Hana, bahwa hanya Argalah yang berada disana.
" Merelakan juga bagian dari cinta, Haiko." Gumamnya.
Dengan jiwa yang besar, iapun beranjak melangkah mendekati Hana.
Dengan membawa kotak yang berisikan makanan.
" Han !! Panggilnya.
Hana mengangkat kepalanya.
Melihat sosok Haiko berada dihadapannya, membuat Hana refleks menjauh.
Hana menyerka air matanya, tak ingin terlihat sehancur ini didepan orang lain.
" Makan dulu, Han.
Kamu dari kemarin belum makan." Ujar Haiko.
Benar saja, dari selepas Arga tertusuk belatih.
Hana memang sama sekali belum makan sesuap nasipun.
Hana menggeleng." Aku gak lapar." Tolaknya.
" Kalau Arga tau kamu kayak anak kecil gini, dia juga bakalan sedih ngelihatnya." Cibir Haiko.
" Aku bakalan makan saat Arga membuka matanya." Tegas Hana.
__ADS_1
Haiko menatap Hana lekat, membuatnya tersenyum simpul. " Dasar keras kepala !! Upatnya dalam hati.
" Kalau Arga mati gimana ? Tanya Haiko.
Membuat Hana melayangkan tatapan tajamnya pada Haiko." Kamu yang terlebih dahulu akan aku bunuh."
Ha ? Hana kenapa ?
Haiko terbelalak mendengar pernyataan Hana.
Dengan ekspresi galak yang Hana perlihatkan padanya.
Haiko pun ikut berjongkok di depan Hana.
Memandangi awan yang berseri putih itu.
" Awan putih itu tak selamanya putihkan ? Ucap Haiko.
Membuat Hana menoleh dan mengangguk.
" Bakalan ada masanya ia menggelap."
Ya, emang iyalah...
Hana menatap kesal pria sok bijak dihadapannya ini.
" Begitu juga dengan manusia.
Tidak selamanya manusia itu berada di fase atas.
Ada masanya manusia berada di fase down.
Untuk mengajarkan bahwa manusia itu lemah, ia masih memburu istirahat untuk bisa memulihkan segalanya."
Ucapan Haiko membuat Hana tertegun.
Ya, meski Haiko menyebalkan.
Akan tetapi, setiap ucapan yang terlontar dari mulutnya dapat menyenggol hati.
" Arga itu pemuda yang kuat dan baik.
Insya Allah, ada banyak manusia yang mendoakannya.
Dan pasti salah satu diantara doa itu, akan Allah kabulkan. Termasuk doamu Han."
Ujar Haiko dengan senyumannya.
Hana hanya menatap langit yang biru dengan gemuruh awan yang bergerak.
" Lihatlah bagaimana hebat dan kuat Umar bin Khattab ? Tetap sajakan ia pernah mengalami sakit."
Haiko mengedarkan pandangannya pada gadis yang berada dihadapannya.
Dengan cepat Hana menoleh kearah lain, agar netra mereka tidak saling bertemu.
Haiko tersenyum simpul." Kita boleh bersedih.
sah-sah aja kok. Apalagi nangis sampai keluar ingus gitu gak apa-apa kok."
Ha ? Refleks membuat Hana menyentuh hidungnya.
Apa ingusku keluar masuk ? Benaknya.
Haiko yang melihat Hana seperti itu, terkekeh kecil.
" Ingus kamu gak keluar kok." Ujarnya.
Membuat Hana menatapnya kesal.
" Isss...
Kamu reseh banget sih kulkas dua belas pintu." Cibir Hana.
Hahaha..
" Bukannya, kulkas dua belas pintu yang selalu jadi rebutan para cewek ya ? Dengan pedenya Haiko mengatakannya.
" Ya, cewek-cewek norak." Ketus Hana.
Haiko masih saja tertawa, membuat Hana merasa jengkel." Ih, lima menit yang lalu aku ngerasa damai sentosa banget disini. Gak ada yang berisik, gak ada yang reseh." Hana menjeda ucapannya dan menatap tajam Haiko.
" Tapi setelah datang pria sok bijak.
Kedamaianku langsung tercabik-cabik.
Kejengkelanku semakin membuncah.
Kamu pergi aja deh sana !!
Jauh-jauh, hus hus." Usir Hana selayaknya mengusir anak ayam.
Bukannya pergi mendengarkan perkataan Hana.
Tawa Haiko mala semakin keras.
Hahaha...
" Seorang Nusaibah binti Ka'ab.
Ternyata bisa jengkel juga ya." Ujarnya.
" Haiko pergi gak !! Teriak Hana.
" Gak mau."
Tak ingin semakin jengkel, Hana beranjak dari duduknya." Oke, biar aku yang pergi." Ucap Hana seraya menepuk-nepuk punggungnya untuk membersihkan roknya yang terkena debu lantai Rooftop.
Haiko pun beranjak berdiri.
" Iyaiya aku aja yang pergi.
Tapi makanlah, jangan egois Han.
Tubuhmu gak selamanya bisa menuruti keras kepalamu."
Ucapan Haiko, membuat langkah Hana terhenti.
Hana berbalik arah, menghadapnya.
Dan ketika itu pulalah Haiko juga berlalu meninggalkan Hana.
" Makanlah.
Aku tidak memasukkan pelet topcer dimakanan itu."
Ucapnya sebelum saat melewati Hana.
Isss... Hana berdengus kesal.
" Dasar psychopat !! Upat Hana dengan seulas senyuman.
Merasa benar apa yang diucapkan Haiko tadi.
Bahwa tubuh Hana juga butuh makan, Hana tidak boleh bersikap egois terhadap tubuhnya.
Tidak selamanya, tubuh itu harus menuruti keras kepalanya. Melainkan Hana juga harus mengerti kondisi tubuhnya.
Hanapun meraih keresek yang berisikan kotak nasi itu. Dengan cepat Hana membukanya.
Seusai berdoa Hanapun melahap makanan dari pemberian Haiko.
" Dasar keras kepala !! Upat Haiko dengan senyuman dibalik tembok yang tidak jauh dari Hana.
Bersambung...
Sevimli 17 Mei 2021
Salam hangat dari Author 🌹
Jangan lupa like and Votenya :)
__ADS_1