
" Tak ada penolakan dalam hal rezeki.
Ini berkah dari kejujuranmu, yang tak takut menyuarakan kebenaran."
......" Pelangi Hanani 🌹"......
Hana, dan Ranti mencari Arga di Caffe yang mereka kunjungi tadi.
Sementara Rahmet mencari Arga di stasiun angkot terdekat dari Caffe tadi.
Cukup lama mereka berpencar mencarinya.
Sesekali mereka menanyakannya ke orang-orang yang berada disana.
" Permisi mbak, ada ngelihat cowok tinggi, putih, bacanya gak terlalu kurus gak mbak di sekitar sini ? Tanya Hana ke salah satu pengunjung di sana.
" Gak kak." Jawabnya.
" Ah iya, makasih ya mbak." Ujar Hana.
Hana melirik ke langit yang mulai menggelap, namun Arga belum juga mereka temukan keberadaannya.
Khawatir..
Ya, Hana sangat mengkhawatirkan pria itu.
Rasa gelisah mulai berkecemuk di hati Hana.
" Han, kenapa kita gak hubungi handphone Arga ? Ujar Ranti yang baru teringat akan hal itu.
Hana memukul jidatnya, merasa bodoh.
Bagaimana bisa dia tidak mengingat hal itu ?
Ya, benar saja kekhawatiran yang menyelimutinya.
Membuatnya tak memikirkan hal ringan itu.
Dengan cepat Hana meraih ponselnya di kantongnya.
Menscrool kontak, dan menekan tombol panggil pada kontak Arga Kutub di layar handphonenya.
Aywafikum minnina....
Ya, panggilan berhasil masuk ke nomor Arga.
Arga merogoh kantongnya, menggenggam dan melihat Handphonenya.
Tertera satu panggilan dari Hanani Syaufa di layar handphonenya.
" Hana.." Ujarnya.
" Hm, apa sebaiknya aku angkat aja." Arga tengah berpikir.
" Gak usah deh..
Tapi, entar aku mala buat mereka makin repot lagi." Arga bimbang keputusan apa yang harus ia ambil.
Sesekali ia menghembus nafasnya.
Masih sibuk dengan pikirannya.
Dan detik selanjutnya.
Ia menggeser tombol hijau di layar handphonenya.
" Alhamdulillah, akhirnya kamu angkat juga." Ujar Hana lega di sebrang telpon.
" Assalamu'alaikum." Ucap Arga.
" Ah, waalaikumussalam..
Ga, kamu dimana ? Aku khawatir banget sama kamu. Ini kita lagi nyari kamu dari tadi belum ketemu.
Kamu dimana, Ga ? " Tanya Hana dengan nada khawatirnya.
Arga tercengang mendengar suara Hana yang di penuhi dengan kekhawatiran.
" Hm, aku lagi di daerah apa ya, namanya ini." Arga tengah mencari petunjuk nama tempat yang ia berada saat ini.
" Jalan Petran Han." Arga membaca spanduk warung nasi yang tidak berada jauh darinya.
" Ah Petran, iyaiya kamu tunggu di sana.
Biar kita jemput, assalamu'alaikum." Ucap Hana padanya.
Memutuskan panggilan.
" Waalaikumussalam."
" Sebelum gua benar-benar yakinin perasaan gua. Gua gak boleh berlebihan ke Hana.
Gua gak mau dia tersakiti sama kelabilan gua." Tekad Arga yang belum bisa memastikan perasaannya dan tak ingin Hana tersakiti.
.
.
.
" Ran, kita buruan ke Petran deh.
Arga disana." Ujar Hana pada Ranti.
Rantipun mengangguk dan naik ke motornya Hana agar segera di bonceng oleh Hana.
Dan tak lupa Ranti mengirimkan pesan ke Rahmet bahwa Arga berada di Petran.
Dengan kecepatan maksimal yang Hana gasfull, membuat mereka tak memakan banyak waktu.
Sekitar setengah jam, mereka sampai di Petran.
Hana menepikan motornya diparkiran.
Mereka berdua beranjak dari langkahnya.
Mencari sosok pemuda berdarah bangsawan itu.
Hana terus menelusuri setiap sudut daerah Petran. Meski hatinya panik, namun Hana masih bisa menstabilkan dirinya.
" Astaghfirullah tenang Han." Batin Hana.
" Han, udah ketemu ? Tanya Ranti.
Hana menggeleng, belum melihat atau bahkan ketemu.
" Yaudah kita cari ke sana." Saran Hana pada Ranti.
Tanpa aba-aba Hana langsung beranjak mencari Arga kembali.
Rantipun ikut menyusulnya.
Cukup lama mereka mencari keberadaan Arga, namun tak kunjung ketemu juga.
Hana kembali berniat untuk menghubungi Arga.
Untuk menanyakan dirinya di Petran di sebelah mananya.
Aywafikum minnina... Dering handphone Arga.
Argapun menggeser tombol hijau di layar handphonenya.
" Assalamu'alaikum Han." Salamnya pada Hana.
" Waalaikumussalam, Ga kamu di sebelah mananya di Petran ? Tanya Hana.
" Aku gak jauh dari masjid Al Hijr Han." Jawabnya.
" Al Hijr ? Yang dekat sama terminal bus ? Tanya Hana.
Arga melirik ke sekitar, ya benar saja.
Ada terminal bus di sebelah kanan Masjid tersebut.
" Ah iya Han betul." Jawab Arga.
Tanpa pamit, Hana langsung berlari menuju Masjid Al Hijr yang dekat dengan terminal bus itu.
" Han mau kemana ? Tanya Ranti yang melihat Hana berlari.
__ADS_1
Tak mendapat jawaban dari Hana, Rantipun memilih untuk menyusul Hana.
Berlari dengan cepat, tanpa menghiraukan kendaraan yang melintas.
Dengan nafas terengah-engah Hana, ia tak berhenti berlari.
Ranti yang mengejar Hanapun kelewahan.
" Aduh Han, tungguin kenapa sih !
Cepet banget, udah kayak ketinggalan bus aja."
Sesampai di Masjid Al Hijr, terlihatlah sosok pemuda tengah berdiri yang diasyikkan dengan handphone di tangannya.
Lengkungan senyuman tercetak di wajah Hana, saat sosok yang ia cari akhir ketemu.
Hana melangkah mendekati Arga.
" Arga." Teriaknya.
Arga menoleh ke sumber suara.
Ya, terlihat Hana dengan senyuman melangkah mendekatinya.
Arga tersenyum simpul.
Bingung harus berekspresi apa.
Ada sedikit rasa tidak enakan di hatinya.
" Alhamdulillah, kamu ketemu juga." Ucap Hana lega.
" Hm, maaf ya udah ngerepotin." Kata Arga.
Bukhh....
Tiba-tiba ada sendal yang terbang ke arah Arga.
" Aww..." Ringis Arga saat sendal itu mengenai kepalanya.
" Mampus." Ucap gadis yang melayangkan sendal itu.
Hana dan Arga melihat sosok gadis itu.
" Ranti." Panggil mereka serentak.
Ranti sama sekali tak menunjukkan ekspresi bersalah.
Ia mendekati mereka berdua.
" Kamu kok lempar Arga pakai sendal sih ?
Tanya Hana.
Ranti menautkan sebelah bibirnya." Itu balasan untuk orang yang udah buat orang lain kerepotan." Jawab Ranti dengan entengnya.
" Gua kira mulut Lo doang yang bar-bar.
Eh ternyata tangan Lo juga bar-barnya tingkat non manusiawi.
Cocok Lo jadi pembogem bayaran." Kesal Arga pada Ranti.
" Diam Lo.
Mau gua timpuk lagi Lo ha ?
Ranti mencopot sebelah lagi sendalnya, hendak melayangkannya kembali pada Arga.
Tak ingin memperpanjang masalah.
Arga memilih diam dan tak ingin berdebat lagi.
Hana hanya tertawa kecil melihat pertengkaran mereka berdua.
" Sudah ah, ini tempat umum.
Malu dilihatin orang, sekarang kita pulang ya.
Setengah jam lagi adzan maghrib bakal berkumandang." Ujar Hana pada mereka berdua.
Arga pun menuruti perkataan Hana untuk pulang.
" Ayo Han, kita balik." Ajak Ranti menarik tangan Hana.
Hana yang ditarik pun, mengikuti langkah Ranti.
" Tunggu dulu Ran.
Arga balik naik apa coba ? Tanya Hana yang melepaskan tangannya dari genggaman Ranti.
" Naik gojek aja.
Kan dia sultan punya banyak uang.
Gitu aja ribet." Ketus Ranti.
Hana berbalik menghampiri Arga.
" Ga, kalau kamu naik gojek gak apa-apakan ?
Tanya Hana dengan santun.
Argapun mengangguk senyum.
" Iya, gak apa-apa Han.
Tapi tolong pesankan ya Han." Pinta Arga pada Hana.
Hana pun mengangguk, dan meraih handphonenya, segera memesan gojek untuk Arga.
Tingg.... Pemesanan berhasil.
" Alhamdulillah..
Udah, Ga." Ucap Hana.
" Terima kasih ya Han."
" Iya sama-sama.
Ran, kita nungguin sampai gojeknya Arga datang ya." Ujar Hana pada Ranti.
Dengan kesal Ranti menghampiri Hana kembali.
Dengan langkah yang terhentak-hentak.
Dengan wajah yang penuh raut kekesalan.
Ranti bersuara pada Hana." Dia cowok loh Han, biarin aja nunggu sendiri. Gak usah ditemenin."
Kata Ranti menunjuk Arga.
Arga mengerutkan keningnya." Hm, iya Han.
Kalian pulang aja luan.
Biar aku nunggu gojek sendirian.
Gak apa-apa kok." Arga setuju dengan Ranti.
" Hm, yaudah kami tinggal ya, Ga.
Assalamu'alaikum." Pamit Hana.
" Waalaikumussalam, hati-hati Han."
Hana dan Ranti meninggalkan Arga di stasiun bus. Kembali ke parkiran untuk mengambil motornya.
Tak lama dari kepergian Hana.
Sosok gojek yang tunggu, akhirnya muncul juga.
Kang gojek tersebut sibuk melirik sekitaran sana. Seperti mencari seseorang.
Argapun menghampirinya.
" Bang, atas nama Hanani Syaufa ya ? Tanya Arga.
Kang gojekpun menoleh." Ah iya dek, kamu tau Hanani Syaufa ya ? Tanya kang gojek.
__ADS_1
" Kenal bang, dia mesan gojek buat saya bang." Ucap Arga padanya.
" Oh pentesan abang cari-cari cewek sekitar disini gak ada. Abang pikir pesan gojeknya untuk dia. Eh, ternyata untuk kamu ya." Sekarang kang gojek itu baru mengerti.
" Kalau dia mah, gak bakalan mau bang.
Bukan muhrim katanya." Jujur Arga..
" Ah Masya Allah iyalah dek.
Yaudah ayuk abang anter." Argapun mengangguk dan naik ke motornya.
Selama perjalanan, Arga sesekali mengajak kang gojek ngobrol. Untuk memecah keheningan dan menghangatkan keadaan.
" Udah lama ngojol bang ? Tanya Arga.
" Sudah dua tahunlah.
Semenjak abang pindah kesini." Jawabnya.
Arga manggut-manggut." Oh, abang baru dua tahun kesini, hm emang gak ada kerjaan lain ya bang selain ngojek ? Tanya Arga.
Kang gojekpun tertawa kecil." Hehe, cari kerjaan di sini sulit deh. Ngelamar dimana-mana ditolak, ya biasalah kalau gak ada 2 D mah emang gitu."
Arga tak mengerti 2 D yang dimaksud kang gojek itu." 2 D apa bang ? Tanyanya penasaran.
" Daking alias orang dalam, dan duit.
Bahkan lebih parahnya dek, orang pribumi banyak yang nganggur justru orang aseng-aseng banyak dikasih peluang kerja.
Entahlah, negara ini rasanya semakin lama semakin ngawur, semakin hancur.
Kalau gak bisa mensejahterakan rakyat, setidaknya jangan memporak-porandakan rakyat. Ya, ibarat kata membunuh tanpa menyentuh." Jujurnya dari relung hatinya pada Arga.
" Koruptor semakin di depan, hukum semakin berkarat. Para pejabat bersikap laknat bukan hormat.
Arga ikut prihatin dengan kondisi negara ini setelah mendengar cerita Kang gojek itu.
Terlintas dalam benaknya, ingin mengajak kang gojek ini merantau ke Malaysia. Untuk mendapat kerjaan yang pendapatan lebih layak.
" Ternyata Indonesia jauh lebih buruk dari negara ku." Batin Arga.
" Ah, kok aneh gitu ya bang.
Di Indonesia, pemerintah bukannya berjuang demi rakyat. Mala justru menterpurukkan rakyat ya bang." Kata Arga berterus terang.
" Ya, gitulah dek.
Udah muak dek sama pemerintah.
Rakyat kecil mah gak di gubris.
Sama terjungkal juga mereka gak bakal peduli."
Arga mengerti dengan keluhan kang gojek terhadap pemerintah.
Ayahnya yang berstatus raja, bahkan tak pernah inginkan ada rakyatnya yang kelaparan.
Meski, dua tahun belakangan ini ada fitnah yang membuat ayahnya dibenci rakyatnya sendiri. Itulah tekad kuat Arga untuk menuntaskan sampai ke akar-akarnya permasalahan ini.
Rakyat mana yang tak kecewa ? Melihat negaranya kini dipenuhi antek-antek aseng.
Koruptor semakin bermonopoli.
Para pejabat berpesta pora diatas tangisan rakyat.
Entahlah, belum lagi musibah yang terus silih berganti menghampiri.
Banyak korban yang berjatuhan.
Namun, meski demikian.
Masih ada banyak tangan orang baik yang mengulurkan bantuan.
Seiring dengan obrolan mereka di perjalanan.
Tak terasa mereka sudah sampai di rumah Hana.
" Hm, bang kalau nak kerja ke Malay.
Saya ada tawaran baik untuk abang." Ujar Arga sebelum masuk ke rumah Hana.
" Ah kamu ini, ada-ada saja." Jawabnya tak percaya dengan tawaran Arga.
Arga menunjukkan kartu identitasnya.
Yang mengatakan bahwa dirinya Keluarga Istana di Malay. Tapi, Arga tidak langsung memperlihatkan bahwa dirinya adalah anak Raja.
Kang gojekpun terkejut melihat kartu yang diberikan Arga." Kamu orang Malaysia ? Plus keluarga dari Istana. Tapi kenapa aksen kamu Jakarta banget." Tanyanya.
Arga mengangguk." Hehe, Iya bang. Soalnya saya punya temen deket anak Jakarta. Dan juga beberapa teman saya orang Indonesia.
Dan kami lebih sering gunai bahasa Indonesia.
Makanya saya bisa tawarin abang sebuah pekerjaan, jadi supir pribadi di Istana atau nanti biar saya cari lagi yang lebih baik lagi bang.
Hm, bolehlah abang pikir-pikir lagi.
Kalau udah ambil keputusan, hubungi aja nomor saya, ada di kartu itu." Ujar Arga dengan baik padanya.
Dia tersenyum." Baiklah, abang akan pikirkan lagi secara mateng.
Kamu ini memang orang baik.
Semoga Allah selalu memberkahimu dek.
Terima kasih ya." Balasnya pada Arga.
Argapun tersenyum sembari membayar biaya gojeknya." Ini bang, terima kasih kembali."
Kang gojek itu menolak uang Arga.
" Gak usah dek, abang ikhlas nganterin orang baik seperti kamu." Tolaknya mengembalikan uang Arga.
Arga juga menolak." Tak ada penolakan dalam hal rezeki. Ini berkah dari kejujuran abang, yang tak takut menyuarakan kebenaran." Ungkap Arga memberikan kembali uang bayaran pada Kang gojek.
Argapun segera melangkah menuju rumah Hana.
Kang gojekpun melirik uang pemberian Arga, yang begitu besar jumlahnya.
Bahkan tiga kali lipat dari harga jasa gojeknya.
" Hm, dia pemuda yang baik.
Benar-benar baik. Tanpa memandang siapapun, ia tetap menyebarkan kebaikan.
Ya Allah balaslah segala kebaikan pemuda yang bernama Argasyah Nazhanul Hakim itu."
Kang gojekpun menghidupkan mesin motornya. Dan kembali melajukannya meninggalkan rumah Hana.
Ya, begitulah seharusnya manusia.
Saling membantu dalam kebaikan.
Sudah sepantasnya harta yang Allah titipkan, disedekahkan untuk orang yang lebih membutuhkan.
Jangan takut miskin, sebab semakin banyak sedekah. Semakin banyak pulalah tabungan di akhirat kelak.
Jangan takut menyuarakan kebenaran.
Selagi itu tidak menentang syari'at, tak ada yang salah.
Ya, memang benar rakyat semakin di bungkam habis-habisan.
Yang memberi kritik dan saran yang membangun seolah-olah adalah musuh.
Sementara yang pro seolah-olah teman yang wajib untuk di rangkul.
Entahlah, satu hal yang pasti.
Hukum Allah itu adil. Tak ada negosiasi sekecil apapun. Silahkan buat sesuka kalian.
Tapi ingat, semua perbuatan ada balasannya.
Sevimli 7 Januari 2021.
Salam hangat dari Author 🌹
Jangan lupa like and Votenya ya :)
__ADS_1