
" Sejauh apapun perjalananmu, janahn sampai pertemuanmu lima waktu dengan Allah, engkau abaikan begitu saja."
....." Pelangi Hanani 🌹".....
Kokokan ayam yang menggema di telinga, angin pagi yang berhembus kencang menemani keberangkatan Hana.
Ya, ini masih jam setengah tujuh pagi.
Hana sudah siap siaga untuk berangkat.
Dengan satu koper, dan juga tas genggam yang berisikan oleh-oleh untuk keluarganya di Indonesia.
" Hana pamit pulang ya paman." Hana menyalim tangan Vikri, pamannya.
" Iya nak, hati-hati ya.
Sampai salam paman pada bapak dan ibu."
Hana mengangguk, kemudian beralih menyalim tangan Istrinya Vikri." Aunty, Hana Pamit ya." ujarnya.
Auntunya memeluk Hana." Iya nak.
Maafin Aunty ya, selama kamu tinggal disini kamu selalu saja berada dalam masalah." permohonan maaf mama Ranti.
Hana menggeleng." Tak aunty.
Selama Hana berada kat sini, justru ada banyak pelajaran yang Hana dapatkan. Itulah yang membuat Hana senang tinggal kat sini." ucap Hana dengan senyuman tulusnya.
Membuat sesiapapun selalu merasa nyaman berada di dekat gadis bernama Hanani Syaufa itu.
Hana berjalan mendekati Wardah dan menyalim tangannya." Aunty, terima kasih atas segala kebaikan yang telah dilimpahkan pada Hana." Hana langsung memeluk Wardah. Wardahpun membalas pelukannya.
" Kami yang seharusnya berterima kasih padamu nak. Jasamu terhadap kesultanan ni sangat-sangat berharga. Terima kasih nak."
Hana pun mengangguk dalam dekapan Wardah.
Kemudian dengan perlahan melepaskan pelukannya.
Wardah pun menangkup wajah Hana.
" Aunty berharap kamulah yang akan bersanding dengan Arga." ucap Wardah dengan sorot mata berbinar.
Deg... Detak jantung Hana mulai abnormal.
Seperti tersengat listrik, sekujur tubuhnya kaku, ketika mendengar perkataan itu terlontar dari Wardah.
Sementara yang lain tersenyum seraya mengangguk menyetujuinya." Benar nak.
Istana ini butuh perempuan sepertimu." sahut Nazhanul.
Semakin membuat Hana mati kutu, ia masih diam tak bergeming. Sampai pada akhirnya, sosok lelaki yang di comblangkan dengannya mendekatinya.
Ehemn.. terdengar suara dehemen Arga.
Menyadarkan Hana dari diamnya.
" Nafas Han.
Jangan kaku gitu dong.
Gitu aja kena serangan baper, gimana entar waktu nikah." ceketuk Arga yang mengundang tawa.
" Cie udah dapat golden tiket aja ni." goda Ranti.
Isss.. membuat Hana malu sekaligus kesal.
" Tak uncle, Arga itu gamon dari Jihan."
Ha ? Jihan ?
Semuanya terkaget mendengarnya.
" Benar, Ga ?
Kamu suka sama almh.Jihan ? tanya Nazhanul penasaran.
Sorot mata Wardah juga tengah mencari jawaban dari Arga." Iya, yah.
Tapi ini Arga udah ikhlasin Jihan kok."
Hahhh... lega dengan jawaban Arga.
Bukannya apa-apa, hanya saja Nazhanul takut Arga hanya akan mencintai gadis yang sudah tiada. Dan akan membuatnya melajang seumur hidup.
" Ah iya.
Sudah kita cukupkan obrolannya, kamu dan Ranti antar Hana ke Bandara ya." pinta Nazhanul.
" Assalamu'alaikum semuanya." ucap Hana melangkah ke mobil dengan Ranti.
" Waalaikumussalam."
" Arga nganterin Hana dulu ya, bun, yah.
Assalamu'alaikum."
" Iya hati-hati nak, waalaikumussalam."
" Waalaikumussalam."
Dengan sigap Arga mengangguk dan meraih mobil sportnya. Membukakan pintu belakang untuk Hana
" Lebay !! ketus Hana pada Arga.
Membuat semuanya terkekeh, mendengar perkataan Hana. Hana pun ikut tertawa menyadari bahwa perkataannya terdengar oleh yang lainnya.
Arga pun melajukan mobilnya keluar dari Istana. Hana melambaikan tangannya pada mereka semuanya.
Dengan begitu cepat mobil meninggalkan Istana.
Tersisa satu jam lagi keberangkatan Hana.
Membuat Arga mendadak menjadi pembalap hedon.
Ia membelah kemacetan di balai kota, memotong setiap kendaraan yang menghalanginya.
Membuat Ranti berdecak kesal.
" Lo mau ngajak kita mati ha ? sentak Ranti.
Arga tak menghiraukan Ranti, ia tetap fokus melajukan mobilnya. Sementara Hana hanya menikmati pemandangan yang berlalu-lalang dihadapannya.
CK...Ranti berdecak kesal.
Dan memilih memasang aerphon nya dan menyalakan musik untuk sedikit menghibur dirinya yang sedikit kesal dengan Arga.
Arga pun melirik dari kaca, merasa heran kenapa tidak terdengar lagi suara ocehan Ranti.
Dan ternyata anak itu sedang asyik dengan musiknya.
Arga pun tersenyum simpul, kemudian pandangannya beralih pada Hana yang sibuk melihat keluar cendela mobil dengan raut senyuman yang begitu meneduhkan
Arga pun ikut tersenyum menatapnya.
.
.
.
Dua puluh menit perjalanan berlalu, Arga menepikan mobilnya tepat di parkiran mobil Bandara.
Hana dan Ranti pun keluar mobil, dengan membawa barang bawaan Hana.
__ADS_1
" Empat puluh menit lagi.
Ada lagi gak yang mau dibeli Han ? ujar Arga.
Hana pun berpikir sejenak, kemudian menggeleng.
" Gak, Ga." jawabnya.
Arga pun mengangguk, kemudian mengajak Hana memasuki gedung bandara menuju terminal keberangkatan.
Beruntung kursi disana masih kosong, sehingga mereka bisa beristirahat sejenak disana.
Tttt... tiba-tiba saja ponsel Hana berbunyi.
Dan ya ada sebuah panggilan dari Anugrah.
" Anugrah." Sentak membuat Arga menatap Hana.
Hana pun menggeser tombol hijau.
" Merhaba Hana." ucap Anugrah antusias di sebrang telpon.
" Merhaba ? ulang Hana.
" Iya, akukan gak bisa ngucapin salam ke kamu, ya biar keliatan islamnable jadi aku pakai Merhaba aja." jawab Anugrah.
Hana pun tersenyum, seraya manggut." Ohiya."
Arga yang menatap Hana tersenyum karena Anugrah pun, menyebikkan mulutnya.
" Han, kalau aku yang protestan sholawatan hukumnya gimana ? tanya Anugrah.
Membuat Hana tersenyum simpul, sementara Arga yang berada disebelah Hana mendengar pertanyaan Anugrah pun terkekeh kecil.
" Ya, tanya pastor lo lah hukumanya, ngapain nanya orang muslim. Aneh !! sahut Arga, meski via telpon Anugrah masih dapat mendengar jawaban Arga.
Hana membeliak matanya, terkejut dengan Arga yang diam-diam mencuri dengar obrolannya.
" Nguping !! upat Hana menjauhkan ponselnya.
Arga yang ketahuan menguping langsung pura-pura sibuk dengan ponselnya.
" Hm, jangan didengerin ya.
Ohiya emang kamu mau sholawatan buat apa ? tanya Hana penasaran.
Anugrah pun tersenyum." Iya buat sholawatin kamu terus, biar Tuhan kamu mau jadiin kamu sebagai Zainab binti Muhammad untuk aku." jawab Anugrah.
Membuat memory Hana kembali berputar, pada kejadian beberapa tahun lalu saat mereka berpisah di Bandara. Setetes buliran hangat tercurah dari sudut matanya.
" Anugrah." ucapnya.
" Hm, iya Han.
Maaf ya harapku terlalu dalam.
Doakan anak Tuhan ini segera menjadi hamba Allah ya Han, pergi ke Masjid untuk beribadah bukan lagi hanya sekedar melihat orang-orang damai dengan sholat, melainkan turut serta merasakannya. Mempelajari syariat untuk diamalkan bukan lagi hanya sekedar menyimpannya sebagai pengetahuan."
Hana tertegun mendengarkan semua keinginan Anugrah. Ia tau bahwa Anugrah memang benar-benar ingin menjadi seorang muslim.
" Allahumma aamiin.
Jangan membuatku semakin merasa bersalah, Anugrah !! Percayalah, akan ada wanita yang jauh lebih baik dariku yang kelak akan menjadi sosok Zainab binti Muhammad untukmu."
Anugrah tersenyum di balik layar ponselnya.
" Aku ragu untuk hal itu Han." lirih Anugrah.
Membuat Hana semakin merasa bersalah.
" Hm, by the way mau lanjut kemana ? Hana mencoba mengalihkan pembicaraan.
Anugrah yang mengetahui maksud dari pertanyaan Hana, hanya bisa tersenyum lirih.
Hana tersenyum hambar, mengerti bahwa William akan terus memantau Anugrah, terus menerus membuatnya berada dalam lingkungan yang kental dengan Protestan, hal itu William lakukan agar Anugrah tidak lagi berhubungan dengan yang namanya Islam.
Namun sayang, justru putra satu-satunya itu justru semakin membulatkan tekadnya untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.
Keheningan mengambil ahli diantara mereka berdua.
Keduanya saling diam dengan pikirannya masing-masing. Sampai akhirnya terdengarlah jadwal keberangkatan ke Kualanamu, Indonesia.
" Han, udah waktunya kamu berangkat." ujar Arga menyadarkan Hana dari lamunannya.
" Ah iya.
Anugrah aku akhiri dulu ya.
Soalnya pesawatku udah mau berangkat ni, lain kali kita lanjutkan ya." ucap Hana sopan.
Pesawat ? kening Anugrah berkerut.
" Emang kamu mau kemana ? tanyanya.
" Aku mau balik ke Indonesia.
Minggu depan balik lagi ke Malay, terus setelah itu aku bakalan berangkat ke Mesir buat lanjutin Study." ungkap Hana.
" Ooooh, jadi kamu bakalan kuliah di Mesir ?
Widih keren banget tau gak, Han.
Yaudah deh, semangat ya and safe flight Hana." kata Anugrah.
" Iya, kamu juga semangat ya.
Insya Allah, Allah punya rancangan takdir yang spesial untuk kamu, bye Anugrah." tutup Hana.
" Iya Han."
Panggilan pun berakhir.
Hana memasukkan kembali ponselnya ke dalam tasnya, kemudian menarik handel kopernya dan membawanya bersamanya.
" Aku berangkat ya, Ran." ujarnya sembari memeluk sepupunya itu.
" Iya, hati-hati ya.
Sampai ketemu minggu depan, kalau udah sampai langsung call me !! Pap rumah kamu, pap adek aku si Rahmet wah pasti bocah itu semakin tampan." ucap Ranti membayangkan wajah orang yang ia ucapkan.
" Ihh dasar cewek unik, spesies langka." kata Hana, mencubit pipi tembem Ranti.
" Jangan lupa !! Ingat."
Hana pun mengangguk, kemudian beralih memandang Arga yang juga menatapnya.
" Eee aku berangkat ya, Ga.
Assalamu'alaikum." dengan sepenuh jiwa Hana memberanikan diri untuk berbicara dengan Anugrah.
Entahlah, ia juga tidak mengerti kenapa dia bisa segugup ini ?
Arga pun mengangguk." Fii amanillah ya, Han.
Sampai ketemu minggu depan untuk perpisahan empat tahun diantara kita."
Ucapan Arga membuat Hana, kembali menyadari bahwa mereka akan berpisah untuk meraih asa masing-masing. Setelah bersama-sama berjuang menenggakkan kebenaran, kini keduanya harus terpisah untuk sebuah salah satu tujuan hidup masing-masing.
" Waalaikumussalam." lanjut Arga.
Hana hanya mengembangkan senyumnya, tak ingin membahas tentang hal yang dibicarakan Arga barusan.
Perlahan Hana berjalan meninggalkan mereka berdua, dan melambaikan tangannya sebagai salam kepergiannya.
__ADS_1
Seusai punggung Hana mulai tak terlihat lagi.
Arga dan Ranti pun pergi meninggalkan bandara dan kembali ke Istana.
Arga melajukan mobilnya keluar dari wilayah bandara.
" Lo kalau balap lagi, gua tikam kepala lo." ancam Ranti.
Arga menatapnya sinis." Sok bar-bar lo !! ketusnya.
Ranti hanya mengejeknya dengan mulutnya.
" Eh si Anugrah itu sebenarnya emang beneran mau masuk Islam ? tanya Arga yang penasaran dengan sosok Anugrah.
Ya, diam-diam Arga mendengar obrolan mereka berdua tadi, mengenai Anugrah yang ingin masuk Islam.
Hana menyebikkan bibirnya." Dasar kepo !! cibirnya.
Ha ? Kepo.
Arga menggeleng." Gua gak kepo, cuma nanya kali." protes Arga.
" Yaudah kalau gak kepo.
Kalau gitu gua gak perlu jawab." jawab Ranti singkat, memasang aerphonnya ke telinganya.
Arga hanya menatap kesal wajah gadis yang tengah memikat hati sahabatnya itu." Kok bisa sih Rayhan suka sama gadis mulut ember kayak lo, Ran." upat Arga.
Bersyukur Ranti tidak mendengarnya.
Mungkin kalau dia mendengarnya, bakalan terjadi sambar geledek di telinga Arga.
.
.
.
Dua jam kurang lebih perjalanan yang Hana tempuh, ia pun mendarat di bandara Kualanamu.
Kepingan memori di kepalanya mulai beredar, memutar kembali kenangan suka cintanya bersama orang-orang yang menyayanginya.
Kedua orangtuanya, adiknya.
Ranti, Arga, Sanju bahkan juga Anugrah.
Pandangannya tertuju pada gerbang terminal keberangkatan. Ucapan Anugrah kembali berotasi di ingatannya.
" Senantiasa Allah lekas memberikanmu izin untuk memeluk Islam, Anugrah Pota Mendrofa." ucapnya.
Hana pun melangkah membawa barang-barangnya, keluar dari gedung bandara. Dan pergi ke stasiun bus, dan mencari bus yang hendak berangkat ke Labuhan batu.
Ia pun menghampiri sebuah Bus Medan Jaya.
" Pak mau ke Labuhan batu ? tanya Hana.
" Iya dek.
Mau naik ? Hana mengangguk.
" Iya pak." jawab Hana.
Kernek supir itupun, menunjukkan bangku untuk Hana.
Kemudian meletakkan koper Hana di bagasi bus.
Hana menyadarkan punggungnya di bangku bus, dan mengirimkan sebuah pesan pada Rahmet bahwa ia sudah sampai di Medan. Dan beberapa jam lagi ia akan mendarat di Labuhan batu.
Ting.. sebuah pesan masuk.
" Oke kak.
Nanti Rahmet jemput di simpang, kabari aja kalau udah sampai." pesan dari Rahmet.
" Okee." balas Hana kemudian.
Bangku penumpang sudah hampir penuh, akhirnya supirpun memutuskan untuk melajukan busnya membawa penumpang ke tempat tujuan masing-masing.
Ya, sudah menjadi kebiasaan.
Mendentumkan lagu batak di bus selama perjalanan, adalah ciri khas bus lintas Sumatera Utara.
Banyak diantara kita yang mengira bahwa jikalau sudah dikatakan lagu Batak, pasti berkaitan dengan lagu rohani Kristen. Padahal sebenarnya ada banyak lagu Batak yang tidak mengandung unsur rohani Kristen. Ada tentang percintaan, persahabatan, keluarga, bahkan lagu-lagu Batak jauh lebih mewakili perasaan kalau kita mengerti artinya hehe.
Selang beberapa jam kemudian, waktu dzhuhur pun tiba. Beruntungnya supir yang mengendarai bus ini adalah orang yang taat untuk melaksanakan sholat.
Jarang-jarang ada supir bus seperti ini.
" Isoma, isoma !! teriaknya.
Istirahat, sholat makan !!
Hana pun membawa tasnya dan turun, menuju masjid yang tak jauh dari tempat busnya berhenti.
" Alhamdulillah, untung aja supirnya baik.
Padahal tadi bingung gimana sholatnya, takut-takut supirnya gak mau berhenti buat sholat." ucap Hana lega.
Baru saja, kaki Hana melangkah memasuki masjid tiba-tiba saja, salah dari penumpang di bus yang Hana tumpangi mengoceh dengan temannya.
" Lagi buru-buru juga.
Kalau gini ceritanya kita bisa terlambat tau!! Bisa-bisa gaji kita dipotong. Ngapain sih pakai berhenti sholatkan bisa entaran aja." ocehannya itu terdengar sampai di telinga Hana.
Membuat telinga Hana serasa gatal mendengarnya.
Tanpa diundang Hana pun menghampiri perempuan yang sedang mengoceh itu.
" Permisi ya mbak." ujar Hana.
Kedua perempuan itu pun menatap heran Hana.
" Iya, ada apa ya ? tanya perempuan yang mengoceh tadi.
" Maaf sebelumnya, mbak.
Jika saya lancang, saya cuma mau bilang.
Kalau mbak terlambat sampai di kerjaan, hanya gaji mbak yang dipotong itupun hanya beberapa persen.
Tapi kalau sudah sholat yang mbak lewatkan, bukan hanya rezeki mbak yang terpotong, tapi juga jaminan surga mbak yang kepotong.
Apa mbak yakin, selama perjalanan menuju Labuhan batu mbak masih hidup ? ucap Hana.
Kedua perempuan itu terdiam mendengarnya, bahkan menunduk merasa malu dengan Hana.
" Gak ada yang jaminkan, mbak.
But, kalau kita sudah melaksanakan pertemuan kita dengan Allah. Insya Allah semuanya akan jauh lebih tenang, permisi mbak." Hana pun melangkahkan kakinya menuju Masjid, meninggalkan kedua perempuan yang masih menatap punggungnya.
Keduanya pun menyadari bahwa apa yang dikatakan Hana benar, adanya. Mereka pun pergi ke tempat wudhu untuk segera berwudhu dan melaksanakan sholat.
Ya, benar saja.
Sejauh apapun perjalanan kita, jika sudah waktunya sholat masuk maka, tepikan kendaraanmu sholatlah.
Jika memang perjalananmu sudah memenuhi kriteria menjama' tak ada masalah silahkan lakukan.
Yang terpenting jangan sampai kesibukan duniawi membuat kita meninggalkan sholat.
Sevimli 13 June 2021
Salam hangat dari Author 🌹
__ADS_1
Terima kasih yang selalu stay dikaryaku ini 🤗