Pelangi Hanani

Pelangi Hanani
Part 101 Bantu lahiran


__ADS_3

" Ada rajutan takdir yang tertenun diatas arsNya yang kita tak pernah tau kapan itu terjadi, namun takkala itu terjadi maka pasti akan ada hikmah dibaliknya."


...... " Pelangi Hanani 🌹 "......


Hari ini Hana memutuskan untuk berjalan-jalan ke taman bermain.


Ya, pastinya dengan mengendarai motor Ranti.


Sebenarnya Hana awalnya mengajak Ranti, namun ajakan Hana ditolak Ranti, sebab dirinya tengah membucin dengan Rayhan via telepon.


Hana yang memang sudah sangat ingin bertamasya ke Taman, tetap bertekad untuk pergi meski sendirian tanpa Ranti.


Sebelum pergi Hana terlebih dahulu meminta izin pada pamannya. Dengan segala bujuk rayuan dirinya berhasil meluluhkan hati paman dan bibinya untuk memberinya izin berpergian.


Motor matic Scoopy keluaran baru itu Hana lajukan keluar dari Istana. Menuju ke taman yang lokasinya tidak jauh dengan Istana.


Alasan Hana melakukan ini juga karena ia ingin menikmati sisa-sisa harinya di Malaysia.


Sebab, tidak akan lama lagi ia akan meninggalkan Malaysia.


Hana melajukan motornya dengan kecepatan sedang tak ingin terlalu terburu-buru, ia ingin menikmati perjalanan yang ia lalui.


" Masya Allah rasanya seru banget bisa naik motor keliling kota." senyum Hana merekah di wajahnya.


Senyum Hana mengembang begitu sempurna, meski ia bermotor pandangannya sesekali melirik ke kanan ke kiri untuk menikmati setiap bangunan yang berdiri tegak di sekitar kota.


Teppp.. tongkat motor Hana berbunyi.


Menandakan bahwa motor Hana telah terparkir di halaman taman kota.


" Huhh alhamdulillah sampai juga."


Wah, ternyata pagi-pagi seperti ini taman kota sudah padat akan pengunjung. Bahkan bangku taman hampir semuanya sudah ada pemiliknya.


" Ramai juga ternyata.


Duduk dimana ya ? Kalau ceritanya padat gini."


Kaki Hana berjalan menelusuri jalanan taman, mencari-cari bangku kosong di taman.


Sampai pada akhirnya ia pun menemukan bangku kosong yang berdekatan dengan air pancur.


" Ah itu dia bangku kosong." Hana pun melangkah menujunya.


Untung saja bangkunya masih kosong.


Kalau tidak Hana bakalan berdiri di sepanjang ia berada di taman.


Hana meneguk botol minuman yang ia bawa dari rumah tadi." Alhamdulillah, lega."


Hana pun merentangkan tangannya, dan memenjamkan matanya. Menghirup udara segar di taman. Untuk menikmati paginya tanpa adanya pengacau. Taulah ya, siapa pengacau Hana hehe.


" Jangan lupa dikeluarin." ujar seseorang yang tiba disebelah Hana.


Mata Hana yang terpejam pun terbuka.


" Ha ? Terkejut batinnya.


" Kaget ya ?


Hana hanya terdiam, dan menyebikkan bibirnya.


Baru saja Hana merasakan tentram dan damai, eh sekarang pengacau dirinya sudah tiba.


" Ngapain sih disini ? Ganggu aja." cibir Hana.


Arga tersenyum sok manis dihadapan Hana.


" Suka hati gua lah.


Ini kan tempat umum siapa aja bebas dong kesini." sahutnya.


Iss... Hana berdengus kesal.


Dan pergi meninggalkan pria gila disebelahnya.


Tiba-tiba saja, ada sosok badut yang hadir tidak jauh dari keberadaan mereka. Menghibur para pengunjung taman.


Hana tersenyum melihat sosok badut yang mulia, dengan senang hati menghibur banyak orang.


" Han kamu tau gak siapa yang hamilin badut itu ? tanya Arga asal.


Ha ? Hamil ?


Apaan sih.


Hana hanya menaikkan kedua bahunya, enggan untuk merespon pertanyaan bodoh Arga.


" Kemarin aku lihat pak mamad yang hamilin, Han.


Stres dia habis ditinggal sama si Ting-ting."


Pak Mamad merupakan tukang kebun di Istana.


Sementara Ting-ting adalah monyet yang kerap kai mengganggu pak Mamad saat berkebun, yang beberapa minggu lalu mati ketabrak mobil tamu Istana.


" Arga gak boleh nuduh, dosa tau !!


" Serius Han.


Gak mungkin kan aku ? Kalau aku mah entar kan ngehamilin kamu hahaha..


Mata Hana melotot sempurna, tangannya terangkat hendak melayangkan pukulan pada Arga yang akhir-akhir ini seringkali ngelantur ngomongnya.


" Astaghfirullah..


Dosa apa sih aku bisa ketemu makhluk kasat mata,manusia aneh, lain dari penduduk bumi." kesal Hana dengan mengeram giginya.


Arga hanya tersenyum, semakin senang dengan raut kesal di wajah Hana." Emang kamu gak mau ngandung anak aku ? godanya lagi.


Ihhhh... Hana berdecak kesal.


" Arga gila !!


Kita musuhan ! Gak mau temenan sama kamu."


" Maunya nikahkan sama aku haha.."


Ya, Allah Arga kenapa sih guys ?


Dari kemarin kok ngawur gini.


Perlu di rukyah kali.


Hana memelas matanya malas untuk berbicara lagi pada lelaki gila di sebelahnya.


Hana pun pergi beranjak dari taman.


Niatnya ingin berlama-lama menikmati taman telah pupus, karena kehadiran pria bernama Arga yang ngeselinnya kebangetan.


Arga pun hanya tersenyum sembari mengikuti Hana ke parkiran. Sebelum Hana memasang helmnya, tiba-tiba saja ada suara perempuan yang menghela nafasnya berat meminta tolong.


" Dek tolongin ibu dek !! teriaknya pada Hana.


Hana pun menoleh ke samping, dan ternyata suara minta tolong itu berasal dari seorang ibu hamil.


Terlihat jelas bahwa ibu itu sudah tidak mampu lagi untuk berjalan.


Hana pun meletakkan kembali helmnya di motornya, kemudian menghampiri ibu hamil itu.


" Ya Allah ibu, kenapa buk ?


" Perut ibu rasanya sakit sekali dek, kayak mau keluar gitu." jawab ibu itu kesakitan.


Mendengar kata lahiran,mata Hana membeliak seakan-akan hendak copot dari tempatnya,

__ADS_1


Hana pun panik, jangkan bantu orang lahiran. bahkan melihat orang lahiran saja Hana tidak pernah.


Apa yang harus dilakukan ? Tidak mungkin kah ibu ini lahiran disini.


" Kenapa Han ? tanya Arga yang melihat Hana bersama ibu-ibu hamil.


" Ga ibu ini mau lahiran, kamu bawa mobil kan ?


Arga mengangguk." Alhamdulillah, sekarang bantuin aku bawa ibu ini ke mobil, kita bawa ke rumah sakit sekarang." intruksi Hana.


Kening Arga mengerut." Lahiran ? Ibu emang mau lahiran buk ? tanyanya lagi, padahal sudah jelas-jelas ibu hamil ini sudah mengeram keras dihadapannya.


" Arga cepetan !! Jangan nanya lagi."


Arga pun membantu Hana membawa ibu hamil ini masuk ke dalam mobilnya.


" Bukain pintu belakangnya, Ga."


Arga pun membuka pintunya, dan segera membantu Hana memasukkan ibu hamil ini ke dalam mobil.


Hana memilih duduk di belakang, untuk menjaga sang ibu hamil. Dan Arga di bangku kemudi sebagai setirnya.


Apalah daya Hana yang tidak mengetahui hal-hal yang berbau kehamilan. Hana mengotak-atik ponselnya.


Mencari apa-apa saja yang dilakukan saat ibu-ibu hendak lahiran di google.


Sementara ibu hamil di sebelahnya, hanya bisa menghembuskan nafasnya kemudian menariknya kembali, begitu seterusnya.


Arga yang sedikit panik juga, sesekali melirik mereka dari kaca depan, seraya terus melajukan mobilnya ke rumah sakit terdekat.


Tak ada yang Hana dapatkan, ia pun meletakkan kembali ponselnya. Dan memilih untuk menggenggam tangan ibu hamil itu.


" Ibu tarik nafas panjang, kemudian hembuskan perlahan ya buk. Kalau ibu ngerasa ada gerakan di perut ibu hembuskan nafas sambil mengejan, seperti mengejan waktu BAB ya buk." ibu itu mengangguk menurut.


Sementara Arga melongo mendengar Hana mengatakan hal itu, bagaimana bisa Hana mengintruksikan hal itu ? Darimana dia tau coba ?


Batin Arga.


" Arga cepetan !! Jangan ngelongo kamu." teriak Hana.


" Ah iyaiya Han."


Beberapa menit kemudian, mereka pun mendarat di rumah sakit Cindai Muara.


Arga menepikan mobilnya di parkiran.


Dan segera keluar, memanggil para petugas medis untuk membawa ibu hamil yang bersama mereka.


" Suster tolong sus !!


Di dalam mobil saya ada yang mau lahiran." ujar Arga.


Suster yang merasa wajah Arga tidak asing baginya pun menghampiri Arga." Argasyah putranya Raja Nazhanul ya ? tanyanya.


Arga mengangguk." Iya."


" Oh my God." ucap suster itu terkejut kemudian senyum-senyum sendiri melihat wajah Arga.


Membuat Arga bingung, apa ada yang salah dengannya ? Batin Arga.


Arga menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


" Uuhhhh


Mari kita poto bareng !! ajak Suster centil ini, menghidupkan kamera ponselnya sudah sedia berpose. Arga hanya menurut saja dengan-nya.


" Arga cepetan !! Suara Hana berteriak keras.


Membuat Arga tersadar tujuan utamanya ke rumah sakit." Astaghfirullah." ia beristighfar.


" Sus tolongin dong.


Ada ibu-ibu di mobil saya yang mau lahiran."


Suster itu masih berpose ria dengan ponselnya di samping Arga. Membuat Arga ilfiel dengan tingkah lakunya.


Orang lagi mau lahiran lo mala berpose ria." sentak Arga.


Membuat suster itu menghentikan aksinya.


" Gua bilang ada yang mau lahiran di mobil gua.


Tuli lo !! bentak Arga.


Membuat suster itu pun segera pergi memanggil tim medis untuk membawa ranjang pasien.


" Gila ni orang ya.


Bisa-bisanya jadi suster, keburu mati baru kali dia tangani." cibirnya.


" Gua juga bodoh banget sih, ngapain gua mau coba poto bareng dia ihh..." Arga menggurutui kebodohannya.


Detik selanjutnya, Arga kembali menghampiri Hana untuk membantunya mengeluarkan ibu hamil dari mobilnya.


" Kamu darimana sih ? Lama banget ha ?


" Aaaa itu tadi Han.


Susternya gila ngajak poto bareng, taulah ya kan


secara aku kan ganteng, terkesima dong dia sama wajah aku." jawab Arga mengedipkan sebelah matanya.


Ihhh.. Hana bergedik ilfiel.


" Pede !!


" Udah buruan bantuin keluarin ibu ini, gak usah sok kegantengan gitu kali."


" Ahiyaiya Han." Arga pun membantu Hana.


Tidak lama kemudian, datanglah tim medis membawa keranjang pasien untuk ibu hamil tersebut.


Setelah ibu hamil tersebut di naikkan di ranjang pasien, ia pun dibawa ke ruang persalinan.


" Abang, akak tunggu diluar ya." ujar suster itu.


Hana dan Arga mengangguk mengerti.


Dan memilih duduk di kursi tunggu pengunjung.


" Korang berdua keluarganya ? tanya salah satu suster.


Arga menggeleng, sementara Hana mengangguk.


" Han !!


" Iya sus.


Kita tetangganya." jawab Hana.


" Ahiya silahkan isi formulir di bagian administrasi ya." intruksi suster itu sekaligus memberi secarik kertas pada Hana.


Hana pun mengangguk dan meraih kertas yang diberikan padanya.


" Biar aku aja yang ngurus." sahut Arga." Kamu tunggu aja disini, jangan kemana-mana." titah Arga dan menarik kertas dari tangan Hana.


Hana pun menuruti nya dan kembali menyandarkan tubuhnya di kursi." Haaaa.." Hana menghela nafasnya.


Merasa sedikit lega, melihat ibu hamil itu sudah ditangani dokter. Hana tak menyangka bisa mengalami kejadian ini dalam hidupnya.


" Ya Allah hari yang begitu mengesankan hehe."


" Ada rajutan takdir yang tertenun diatas arsNya yang kita tak pernah tau kapan itu terjadi, namun takkala itu terjadi maka pasti ada hikmah dibaliknya."


Hana tertawa sendiri mengingat kejadian yang baru saja ia alami. Ini jalan takdir Allah tak ada yang bisa menjangkaunya.

__ADS_1


Owwee... owweee... terdengar suara tangisan bayi dari bilik kamar ruang persalinan.


" Alhamdulillah.. Udah keluar." ucap Hana sentak berdiri mengintip dari balik pintu, seraya tersenyum lebar dan sesekali melompat kegirangan.


Arga yang sudah selesai dengan urusan administrasi pun kembali menghampiri Hana.


Pandangannya langsung tertuju pada gadis itu, Arga pun tersenyum." Senang banget ni kayaknya." ucapnya.


Hana mengangguk." Bayinya udah keluar, Ga."


Arga juga ikut senang mendengarnya." Alhamdulillah."


Tuttttt... Ponsel Arga berbunyi.


" Siapa sih ? Arga melihat layar ponselnya, ada sebuah panggilan masuk dari Ranti.


" Uncle Nazh ? tanya Hana, Arga menggeleng." Ranti." jawabnya, menggulir tombol hijau.


" Heyyy kutub Hana ada sama lo gak ? Teriak Ranti begitu keras.


Membuat gelendang telinga Arga nyeri.


" Gila lo ya !! Lo kalau mau teriak jadi kernek bus aja udah joki tu kerjaan buat lo." ketus Arga.


" Hehe sorry-sorry."


" Hehehe pala lu !


Pake salam dulu gitu kek, ini main nyosor aja mulut lo, untung telinga gua berkualitas gak gampang rusak."


" Hm assalamu'alaikum.


Udahkan ?


" Waalaikumussalam, iya Hana sama gua lagi lahiran."


Ha ? Lahiran ?


Ranti terkejut.


" Hana melahirkan ? Gimana ceritanya Hana melahirkan ? Hamil aja belum." pekik Ranti


" Eh maksudnya bantu ibu-ibu lahiran." ralat Arga.


" Ya Allah, gua udah spot jantung ni.


Berarti kalian lagi di Rumah Sakit kan ? Rumah sakit mana ? Biar gua susul."


" Elo kalau ngomong satu-satu bisa gak sih ?


Cocok lo debat sama Nikita Mirzani.


Kita lagi di rumah sakit Cindai Muara, diruang persalinan, bukan persidangan."


" Oh oke-oke.


Gua kesana sekarang, bye." Ranti mengakhiri panggilan.


Haahh.. Arga menghela nafasnya berat.


" Sepupu lo itu ya, tengkurepnya kebangetan tau gak.


Pengen gua tampol." Arga sudah mengepal tangannya kesal.


Hana hanya menggeleng tersenyum, melihat tingkah bocah Arga dengan sepupunya. Yang memang kerap kali bertengkar." Udah ah ngalah sama cewek juga."


Arga hanya memelas mata malas, jika sudah berurusan dengan Ranti, maka itu sama dengan berurusan dengan musuh di meja perdebatan, yang tak akan ada habisnya.


Suster pun keluar untuk meminta mengadzankan bayi laki-laki tersebut.


Karena ketidakhadiran ayahnya disini, sedang sibuk bekerja di luar kota. Dengan suka rela akhirnya Argalah yang mengadzankannya.


" Ga.


Kamu aja yang ngadzanin." kata Hana dengan senyumannya.


Arga pun tersenyum simpul, dan mengikuti suster itu keruangan dimana bayi itu akan diadzakan.


Terdengarlah suara adzan Arga yang begitu merdu bergema ke sudut ruangan rumah sakit. Begitu menyentuh, bahkan sayup-sayup berbisik meneduhkan hati siapapun mendengarnya.


Hana tersenyum haru mendengar suara adzan yang dikumandangkan Arga. Merasa bangga memiliki sahabat seperti Arga.


" Masya Allah, cantik sekali ya suara adzannya." ucap orang-orang yang melewati ruangan itu.


Seusai bayi itu diadzakan Arga pun mengembalikannya pada suster.


Dan tak lama kemudian, sosok Ranti datang menghampiri mereka.


" Hana." panggilnya.


Hana menoleh dan lekas menyambut kehadiran Ranti.


" Siapa sih yang lahiran ?


" Ibu-ibu ketemu di taman tadi.


Kasiha gak ada yang nolongin, untung aja Arga tadi bawa mobil."


" Ah yaudah.


Udah keluar bayinya ? tanya Ranti yang dijawab anggukan oleh Hana.


" Yaudah kita lihat bayinya yuk, penasaran ni." ajak Ranti.


Mereka pun menghampiri bayi tersebut, di ruang bayi.


Dan ya, Arga masih berada di ruangan itu.


" Ga. Udah selesai ? Arga mengangguk.


Ranti yang melihat bayi laki-laki yang menggemaskan itu pun langsung menghampirinya." Ya Allah lucu banget, Han."


Hana pun ikut melihatnya." Iya Ran."


" Hm kalau aku entar punya bayi bakalan aku kasih nama yang ala-ala medis gitu, biar keren uhhh." gemas Ranti melihat bayi mungil itu.


Hana pun tersenyum." Ala-ala medis, ada-ada aja kamu Ran."


" Iya kayak Rubella, Geriatri, Meningitis." ucap Ranti sumringah, mengkhayalkan dirinya sedang memiliki bayi di masa depan.


Astaga bisa-bisanya kasih nama bayi seperti itu.


Hana dan Arga saling menatap, serempak menepuk jidat mereka." Astaghfirullah."


" Lo selain cerewet, bobrok, ogeb juga.


Paket komplit." cibir Arga.


Ranti tak menggubris cibiran Arga, tengah sibuk memandangi bayi mungil yang berada di Inkubator tersebut. Hana hanya menggeleng terheran-heran melihat sepupunya itu.


" Kenapa gak sekalian aja lo kasih oskadon panca oye, geger otak, kanker serviks stadium akhir, leukimia, gagal ginjal, sekalian aja borong tu penyakit semua."


Hana tertawa nyaring mendengar sekaligus melihat Arga yang sudah gedeg dengan Ranti.


" Wah ide yang bagus tu hehe.


Boleh dicoba."


Arga hanya menggeleng, merasa memang benar gadis bernama lengkap Ranti Azlani itu sedang bermasalah otaknya.


" Nyesel entar yang jadi anak lo..


Punya mamak stres kayak lo."


Bersambung..

__ADS_1


Sevimli 02 Juni 2021


Salam hangat dari Author 🌹


__ADS_2