Pelangi Hanani

Pelangi Hanani
Part 129 Ujung Tombak Pelangi Hanani


__ADS_3

" Mati syahid di jalan Allah adalah impian setiap hamba-Nya, lantas bagaimana dengan aku yang belum mengucapkan dua kalimat syahadat ?"


..... " Pelangi Hanani 🌹".....


Suara riuh tembakan bom tengah berdentum di telinga. Banyak manusia yang berlarian untuk menghindari tembakan yang melesat kearah mereka.


"Nug!" Anugrah menoleh saat Fian memanggilnya.


" Jet Zionis Israel udah kedengaran.


Berarti mereka udah deket ke sekitar kita." ujar Fian.


Anugrah mengangguk mengerti, ia pun segera keluar dari tenda pemukiman. Beberapa relawan berlarian bersama dengan petugas medis yang sudah siap sedia dengan peralatannya.


Fian yang melihat Anugrah keluar mengikuti langkahnya. Anugrah meraih ponselnya melirik jam di sana


Beberapa menit lagi, waktu salat magrib akan tiba.


" Sitt ! Anugrah berdecak kesal.


" Biad*b kalian !" upat Anugrah.


Benar saja, Zionis Israel kerap kali menyerang diwaktu-waktu salat akan tiba. Tak memberikan ketenangan untuk warga melaksanakan salat dengan tenang.


Anugrah dan Fian yang merupakan orang asing menjadi relawan di bagian tim medis. Bertugas membantu tim medis untuk mengangkat korban-korban yang berjatuhan.


" Nug !


Anugrah menoleh.


" Astaghfirullah." Pekik Anugrah, saat melihat balita perempuan di gendongan Fian.


" Bawa masuk, Yan." ujar Anugrah.


Fian pun membawa gadis kecil yang bajunya sudah dilucuti darah. Tangisnya begitu pecah.


" Abi !


" Abi !" hanya kata itu yang keluar dari mulut mungilnya.


"Sabar ya sayang." ucap Fian, seraya meletakkan dengan hati-hati gadis kecil ini di atas ranjang pasien.


Anugrah pun masuk dengan beberapa obat di tangannya.


"Sus!" panggil Anugrah.


"Iya." sahut suster.


"Tolong obati luka gadis kecil ini." pinta Anugrah, seraya menyodorkan obat.


" Iya, mas.


Kita bakal obati kok."


Suster itu pun menghampiri gadis kecil itu, dengan senyuman serta mata berkaca-kaca.


" Mana yang sakit cantik ?" tanyanya dengan lembut.


"La ( tidak ).


Abiku! tolong abiku paman!" ucapnya, menarik jaket Fian, yang berdiri di sebelahnya.


" Ehh..Iyaaa.


Tenang ya, paman bakal bawa abi kamu kesini." Fian mengelus lembut pucuk kepalanya.


Gadis kecil itu tersenyum memandang Fian, ada rasa kasihan di hati Fian melihat gadis yang seharusnya bermain dengan ceria, harus merasakan hal sepedih ini.


"Sekarang kamu diobati suster dulu, ya." ujar Anugrah, menghampiri mereka.


Gadis kecil itu pun mengangguk dengan senyuman. Setelah berhasil membujuk gadis kecil itu, suster pun meminta Anugrah dan Fian keluar.


"Nug!" panggil Fian, Anugrah menoleh.


"Kita harus turun nyari ayah gadis kecil itu." seru Anugrah, bergegas pergi meninggalkan tempat.


Namun, langkah Anugrah terhenti oleh tarikan tangan Fian.


"Lo mau keluar dan berada di garis terdepan ?" tanya Fian.


Anugrah tak menjawab pertanyaan Fian, ia melanjutkan langkahnya.


Sejenak Anugrah terdiam, menatap langit yang sudah memerah akibat tembakan-tembakan Zionis Israel. Riuh bisingnya boom yang mereka tembakan seolah menjadi alarm kematian umat Islam.


Ada alasan terbesar kenapa Yahudi ingin merebut tanah Palestina dan menghancurkan Baitul maqdis. Alasan utamanya karena Baitul maqdis, di bagian bawah bangunan Masjidil Aqsha terdapat sebuah kuil Solomon. Kaum Yahudi bertekad untuk membangun kuil kembali. Bagi Zionis Israel, king Solomon merupakan pusat dunia dan pemerintahan segala bangsa.


Alasan lainnya, mereka menyambut kedatangan Mesias. Dalam keyakinan Yahudi yang sebenarnya sudah melenceng dari ajaran kitab Taurat yang dibawa oleh nabi Musa Alaihisalam. Kaum Yahudi menyakini kedatangan Mesias yang diramalkan dapat mengangkat derajat dan kedudukan bangsa Yahudi menjadi pemimpin dunia. Kuil yang dibangun tersebutlah yang akan nantinya dipersiapkan menyambut Mesias, One World Order, pusat pemerintahan yang akan memimpin negara di seluruh dunia.


Oleh karenanya, Zionis Israel berusaha sekeras mungkin mengusir dan menghabisi warga Palestina. Dari dulu hingga sekarang konflik itu terus berlangsung tanpa jeda.


Ada banyak negara di dunia yang mengecam keras tindakan ketidakmanusiaan Israel, salah satunya negara Indonesia.


Anugrah duduk ke tepian, memandang lurus kearah perbatasan yang merupakan tempat riuhnya pembantaian.


Duarrr !


Terdengar suara ledakan bom yang sangat dahsyat.


" Allahu Akbar." disaat bersamaan, gema takbir adzan magrib berkumandang.


Laknatullah !


Bahkan mereka tak membiarkan sejenak saja, warga Palestina melaksanakan salat dengan damai.


Mereka pun melaksanakan salat meski dalam keadaan terancam. Sementara Anugrah pergi keluar menuju lokasi tempat dijatuhkan bom Israel.


Duarrr !


Satu bom lagi jatuh dari jet Israel.


Bangunan Masjid ikut runtuh akibatnya, dan beberapa bangunan yang lainnya.


Anugrah berlari diantara kepulan asap dan debu yang melebur.

__ADS_1


" Allahu Akbar !" teriakan takbir, dari penduduk yang berlarian.


Ada sebuah tangan yang melambai dari bongkahan bangunan yang runtuh.


" Astaghfirullah, tangan siapa itu ?" pekik Anugrah terkejut.


Anugrah bergegas menuju kesana, untuk menolong sosok yang tertimpa reruntuhan bangunan itu.


Satu persatu, bongkahan bebatuan yang menimpa tubuh lelaki itu berhasil Anugrah singkirkan.


Anugrah menarik tubuh pria yang telah terlungkai lemas, banyak luka sekujur tubuhnya akibat tertimpa bebatuan.


"Paman!" panggil Anugrah, ia meletakkan tubuh pria itu di pangkuannya.


Ia menepuk pelan pipi pria itu.


Rasa khawatir, cemas, takut berpadu menjadi satu dalam diri Anugrah.


Sayup-sayup matanya memandang Anugrah.


"Syukron akhi." ucapnya.


Mendengar suara itu, Anugrah bernafas lega.


Ia pikir nyawa pria itu tak lagi terselamatkan.


" Afwan.


Izinkan saya membawa paman ke tenda perawatan." ucap Anugrah padanya.


Pria itu hanya mengangguk, tak berdaya lagi di pangkuan Anugrah.


" Nak !" panggilnya lirih, Anugrah menoleh.


"Tolong cari kan gadis kecilku !


Pertemukan aku dengannya untuk kali terakhirnya." pintanya pada Anugrah.


Anugrah tercengang mendengar permintaan pria ini. Entahlah, seperti permintaan seorang ayah yang hendak pergi meninggalkan putrinya.


" Iyaa pam-


Duarrr..


Kali ketiganya tembakan dari jet Israel membumi hanguskan tanah Gaza.


Bangunan-bangunan kembali runtuh, kabut asap mulai membersamai.


Tubuh Anugrah tertimpa reruntuhan bangunan,


Punggungnya terluka, menahan benda keras yang menghantam.


" Paman !" meski ia terluka sekalipun, yang ada dalam benaknya adalah pria yang ada di pangkuannya tadi.


Dengan sekuat tenaga, Anugrah menyingkirkan


bongkahan batu dari punggungnya.


Anugrah menepuk pelan pipi pria ini, namun tak ada respon darinya. Anugrah beralih menggoyangkan tubuh pria ini, tetap tak ada respon darinya.


" Innalilahi wa innailaihi Raji'un." ucap Anugrah, ketika memeriksa urat nadi pria ini tak lagi berdegub.


" Selamat jalan paman !


Engkau telah jihad di bumi Palestina." Anugrah menitihkan air mata, terharu sekaligus terpukul melihat pria syuhada ini tersenyum meninggalkan dunia yang fana ini.


Melihat hal ini, membuat tekad Anugrah semakin kuat untuk berada di barisan Intifada'.


" Insya Allah, aku akan berada di barisan Intifada'." ungkap Anugrah dengan penuh tekad.


...🍂🍂🍂...


" Pergi !


Biarkan aku bersenang-senang dengannya." ucap Emrin, memerintahkan anak buahnya untuk pergi meninggalkannya berdua saja dengan Hana.


Ketiga anak buahnya pun pergi, sesuai instruksi Emrin.


Emrin tersenyum licik, memandang Hana yang tengah terbaring tak sadarkan di ranjangnya.


Ia mendekati Hana, kemudian mengelus lembut wajah Hana.


" Kalau saja kau tidak ikut campur dengan urusanku, kau tak akan terlibat sejauh ini gadis cantik." ungkapnya, sembari hendak melepaskan jilbab Hana.


" Kalau saja, kau tidak menceritakan apapun pada putraku ! Putraku takkan membenciku."


ia mencengkram erat dagu Hana.


Sementara sosok Hisya di luar tengah mencari cara untuk bisa masuk ke dalam ruangan itu.


Alma memberitahu Hisya, bahwa anak buah Emrin menarik kasar Hana menuju suatu tempat. Ya, Hisya tau tempat apa yang di maksud. Ia pun bergegas menuju ke tempat yang tidak lain ialah ruang pribadi Emrin.


Kalau sudah seperti ini, Hisya tau apa yang akan dilakukan Emrin kepada Hana.


Hisya berjalan mundar-mandir, tengah berpikir keras bagaimana cara agar dirinya bisa memasuki ruangan ini, dan menghentikan aksi Emrin.


" Aku nggak bisa hal yang serupa denganku terjadi pada Hana." ucapnya.


Hisya melihat guci besar di hadapannya, satu ide muncul dalam benaknya.


Casshhhh..


Suara guci terjatuh, menyita perhatian para pengawal yang berjaga di depan pintu ruangan Emrin.


Ya, Hisya yang melakukannya.


Ia yang menjatuhkan guci itu.


" Ada seseorang disana." ucap salah satunya, mereka pun mendekati sumber suara.


Setelah melihat para pengawal itu menjauh dari pintu ruangan Emrin. Hisya dengan cepat dan hati-hati memasuki kamar Emrin.


Langkah kecil demi kecilnya tak membuat mereka sadar akan kehadirannya.

__ADS_1


Sesampai di kamar Emrin, Hisya melihat sosok pria tua bangka itu sudah mulai membuka bajunya, dan Hana sudah tak lagi mengenakan jilbabnya.


" Dasar lelaki biadab !" gumam Hisya pelan.


Ia mencari sesuatu yang bisa dipukulkan ke Emrin, sampai akhirnya matanya tertuju pada vas bunga di meja rias minimalis.


Dengan hati-hati, Hisya mengambilnya.


" Jangan sampai ketahuan." batin Hisya.


Emrin sudah mulai membuka resleting gamis Hana. Melihat hal itu, amarah Hisya semakin membeludak, tak menunggu waktu lama Hisya memukulkan vas bunga itu ke bagian kepala Emrin.


Brak...


Pukulan Hisya tepat sasaran.


Kepala Emrin terluka, bahkan vas bunganya juga ikut pecah.


" Bi*dab !" teriak Hisya, mengupati Emrin.


" Hisya." Emrin terkejut dengan kehadiran Hisya yang berani melukai dirinya.


Rahang Emrin mengeras, tangannya terkepal membara emosinya. Namun hal itu tak membuat Hisya takut, ia justru melemparkan tatapan tajam, seolah menantang Emrin.


" Jal*ng !" upatnya, ia pun bergegas mendekati Hisya.


Hisya mundur ke belakang, untuk menjauhi Emrin. Meski kepala Emrin terluka, pria itu masih saja bisa melakukan penyerangan.


" Jangan pernah kau kotori gadis itu !" ucap Hisya dengan lantang.


Emrin tertawa mendengar perkataan Hisya.


Siapa perempuan ini, berani memerintah nya.


" Kau pikir kau siapa ?" ucap Emrin.


" Selangkah saja kau berani mendekatinya kau akan ku habisi !"


Entah apa yang terjadi, sampai Hisya bisa seberani ini. Dulu untuk membela dirinya sendiri saja, ia tak senekad ini. Tapi ini, ia dengan penuh keberanian meneriaki Emrin menyentuh Hana.


" Punya keberanian juga kau meneriaki ya ?" Emrin tersenyum simpul.


" Kau melarangku mendekatinya ?" Emrin justru semakin mendekati Hana, bahkan berniat membuka gamis Hana.


Membuat emosi Hisya semakin memecah.


Ia pun berlari menghampiri Emrin, dengan cepat Emrin menolaknya dengan kuat, sampai membuat Hisya tersungkur ke lantai.


" Kau mau menyaksikan adegan panas ?" ucapnya, tak tau malu.


Hisya menatapnya jijik.


Ingin sekali Hisya menghabisi pria ini sekarang juga.


"Berandalan!" upat Hisya.


Emrinpun turun ke bawah, untuk melihat dekat wajah Hisya yang tampak begitu galak.


Ia meraih dagu Hisya "Kau sudah pernah ku cicipi, sekarang waktunya temanmu." ucapnya, tanpa sungkan


Hisya menghempaskan tangan Emrin dari wajahnya "Bajing*n!"


Detik selanjutnya, mata Hana perlahan terbuka. Tangannya juga ikut bergerak.


"Ha? Aku dimana?" Hana mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar Emrin.


"Kau sudah terbangun sayang?" kata Emrin, menoleh ke Hana.


" Astaghfirullah." Hana menyentuh kepalanya, ia menyadari bahwa ada yang melepaskan jilbabnya.


Emrinpun tersenyum smirk, kemudian mendekati Hana.


"Pergi! Jangan mendekat!" titah Hana.


Emrin tak mendengarkannya, ia justru mengkunci tubuh Hana. Membuat Hana tidak bisa berbuat apa-apa.


Melihat hal itu, dengan cepat Hisya memukul tubuh Emrin. Tapi sayang, sebelum hal itu terjadi Emrin menendang kuat perut Hisya, membuat tubuh Hisya terpental ke lantai.


Dengan brutal, Emrinpun mencium leher dan pipi Hana, sekuat tenaga Hana mencoba menghindari Emrin, tapi sayang tetap saja tidak bisa.


"Lepaskan!" Hana berteriak memberontak.


Hisya yang merasakan sakit di bagian perutnya, mendengar suara Hana yang sedang berusaha memberontak membuatnya bangkit tidak lagi memperdulikan rasa sakitnya.


Dengan degupan dadanya yang kencang, tangannya bergetar hebat. Hisya bangkit berdiri, matanya tertuju pada pisau yang berada di keranjang bersama buah


Tanpa aba-aba, ia meraih pisau tersebut.


Dan menusukkan pada punggung Emrin


"Argh!" teriak Emrin, saat merasakan pisau menusuk tubuhnya.


Emrin menyentuh punggungnya, beberapa detik selanjutnya. Tubuhnya terjatuh lemah di ranjang, penuh dengan lumuran darah.


" Mbak !" panggil Hana.


" Astaghfirullah." pekik Hana, terkejut dengan pisau yang berada di tangan Hisya.


Hisya tersenyum tipis, detik selanjutnya air matanya menetes membasahi pipinya dan pisau yang penuh dengan darah di tangannya terjatuh ke lantai.


" Aku membunuhnya, Han ?" ucapnya lirih.


Bersambung...


Sevimli 28 November 2021


Salam hangat dari Author 🌹


Bersambung..


Sevimli 23 November 2021


Salam hangat dari Author 🌹

__ADS_1


__ADS_2