
....." Pelangi Hanani 🌹".....
Sesuai keputusan sidang pertama.
Hisya diberi kesempatan untuk mengumpulkan bukti-bukti selama satu pekan, untuk mengajukan banding.
"Alhamdulillah, mbak.
Kita punya waktu untuk ngumpulin bukti." ujar Hana padanya.
Hisya hanya termenung sibuk dengan pikirannya, bagaimana nasibnya ke depan. Akankah dia berhasil mengumpulkan bukti-bukti atau mala sebaliknya?
"Mbak!
Jangan pernah ragukan skenario Allah, mbak.
Karena apapun yang diputuskan oleh pena-Nya sudah bekerja dengan keputusan terbaik, mbak." ucap Hana dengan senyumannya.
Hisya hanya tersenyum hampa mendengar perkataan Hana, ia tak menerima perkataan itu namun, tak sepenuhnya menolak.
"Mbak Hisya!" panggil salah satu petugas.
Hana dan Hisya menoleh padanya.
"Silahkan ikut kami!" ucapnya.
Hisya pun menganggukkan kepalanya, menuruti perintah petugas.
"Han!" panggilnya, Hana menoleh.
"Mbak kuat!" satu kalimat itu yang selalu Hana ucapkan untuk menguatkan Hisya.
Hisya mengangguk."Aku pergi, Han." ucapnya, seraya berjalan menuju para petugas.
"Aku bakal nyariin buktinya,mbak.
Mbak nggak perlu khawatir." kata Hana dengan penuh tekad.
Hisya menoleh ke belakang dan mengangguk kepalanya seraya tersenyum pada Hana.
Hana membalas senyuman itu dan hal yang sama ia juga akan memastikan Emrin mendapatkan balasan yang sama atas semua dosa-dosanya.
Para petugas mulai melakukan tugasnya, memborgol tangan Hisya dan kemudian membawanya ikut bersama mereka untuk ditempatkan di tempat sebagaimana tahanan di tempatkan.
"Jika orang lain sibuk meratapi cinta yang tak jelas muaranya. Justru diriku yang bernasib malang, sibuk meratapi takdir yang tak pernah bosan mempermainkanku." Hisya tersenyum tipis mengucapkan kalimat. menyakitkan ini.
_____
"Ga!
Coba lo berhenti di sekitar sini, biar gua turun nanyain ke orang-orang sini." ujar Rayhan pada Arga.
Arga setuju dengan Rayhan, ia pun memberhentikan mobilnya di pinggir jalan.
"Buruan!" titahnya.
Rayhan pun keluar dan segera menghampiri beberapa orang yang sedang berkumpul di sebuah kedai kopi.
"Permisi pak!" izin Rayhan.
"Numpang nanya ni, pak!" ujar Rayhan.
"Nanya apa, dek?" tanya salah satu dari mereka.
"Trixtal Bar di sekitar mana ya, pak?" tanya Rayhan.
Trixtal Bar?
Sentak saja mereka terkejut mendengar pertanyaan itu.
"Kamu mau kesana?" tanya mereka, Rayhan mengangguk.
Mereka pun saling memandang satu sama lain, seraya tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya.
"Anak muda zaman sekarang mah, ngeri ya." cibir salah satu dari mereka.
Ha? Rayhan terkaget mendengarnya.
Aduh udah salah paham mah mereka ini.
"Aduh pak.
Saya mau kesana bukan untuk bermaksiat, tapi saya kesana mau cari teman saya yang culik sama pemilik Trixtal Bar, itu." Rayhan to the point saja, ia tak mau berlama-lama lagi.
"Oooh itu." serentak mereka.
"Kirain!
Trixtal Bar nggak jauh lagi kok dari sini, kalian jalan terus aja, nanti ada simpang tiga nah, kalian belok kiri nggak jauh dari simpang itu, bakalan ketemu tu Trixtal Bar, cuma bangunan itu sendiri mah disana." jawabnya memberitahu Rayhan.
Rayhan pun tersenyum."Makasih ya, pak." ungkapnya.
"Iya sama-sama."
Dengan cepat Rayhan berlari menuju mobil dan memasukinya dengan cepat.
"Ga!
Terus aja, entar di pertigaan belok kiri." ujar Rayhan dengan singkat.
"Yakin lo?"
"Astaghfirullah, nggak! Kalau lo nggak mau ketemu Hana! Buruan brengsek!" cetus Rayhan kesal.
Arga pun melajukan mobilnya sesuai dengan instruksi Rayhan.
Sepanjang perjalanan, Rayhan fokus pada jalanan dan tengah mengingat-ingat tempat yang mereka lewati.
Beberapa menit kemudian, mereka menemui pertigaan.
"Udah di pertigaan ini." kata Arga.
"Ah, belok kiri Ga!" ujar Rayhan.
Arga pun membelokkan mobilnya ke arah kiri sesuai instruksi Rayhan.
Rayhan dengan fokus melihat-lihat keluar jendela.
Benar kata rombongan bapak-bapak tadi, tak ada bangunan di sekitar sini. Hanya ada hutan belantara.
"Lo yakin kita gak salah jalan?" kata Arga, ragu dengan jalan yang mereka lewati merupakan hutan belantara.
"Iya, itu tadi petunjuk dari bapak-bapak itu." jawab Rayhan, mantap.
Hahh...
Arga menarik nafasnya pasrah.
"Kalau salah jalan awas aja lo!" ancam Arga dengan sorot mata tajam.
Rayhan hanya menyebikkan bibirnya merasa kesal dengan Arga. Namun ia memilih diam agar tidak terjadi kegaduhan.
Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya mereka bertemu dengan sebuah bangunan yang bernuansa klasik. Dan tertera sebuah pamplet tulisan " Trixtal Bar."
"Ga!
Beneran ini tempatnya." ujar Rayhan.
Arga pun menoleh ke arah samping untuk memastikannya. Dan ya, ternyata Rayhan benar.
"Kali ini gua percaya." ucap Arga.
Dengan cepat Arga menepikan mobilnya dan segera turun menghampiri bangunan itu.
"Tungguin gua ******!" upat Rayhan, mengikuti langkah Arga.
Gerbang Trixtal Bar terkunci rapat bahkan dijaga ketat oleh beberapa pengawal Emrin.
"Ga!
Gimana cara masuknya?" tanya Rayhan.
Arga melirik Rayhan sejenak, kemudian menganggukkan kepalanya. Rayhan yang tak mengerti maksud Arga hanya bisa mengerutkan keningnya.
Gubrak..
Tanpa aba-aba Arga menendang gerbang itu dengan keras. Membuat para pengawal itu terkejut dan segera menghampiri mereka.
"Ogeb!" upat Rayhan.
"Apa mau kalian?" bentak salah satu pengawal itu.
"Dimana teman kami Hana?" to the point Arga bertanya.
Ucapan Arga berhasil membuat mereka terkejut dan saling menatap satu sama lain.
__ADS_1
"Siapa kalian?" tanyanya.
"Nggak usah bacot!
Lepaskan Hana, brengsek!" maki Arga.
"Ga! Tahan emosi lo!" tegur Rayhan, melihat Arga sudah diselimuti amarah.
"Apa urusan kalian dengan perempuan murahan itu?"
lontar salah satu anak buah Emrin.
Mendengar kalimat itu, membuat amarah Arga semakin membara.
Bughhh...
Sekali lagi Arga menendang amat keras gerbang itu.
"Brengsek!
Hana bukan perempuan murahan!" cetus Arga.
Bukan hanya Arga, tapi Rayhan juga ikut marah mendengar kalimat itu.
"B*ngke!
Ngajak gelud lo emang ya!" ucap Rayhan.
Melihat kedua pemuda itu marah, para pengawal alias anak buah Emrin bukannya mala membuka gerbang. Mereka justru tertawa ria.
"Dasar bocil!" ledek mereka, seraya tertawa.
Arga tersenyum simpul mendengar tawa renyah dari mereka, baiklah permainan akan dimulai.
"Ray!" panggil Arga, kemudian mengedipkan matanya.
Rayhan pun mengangguk, mengerti dengan kode yang dimaksud Arga. Dengan sekuat tenaga mereka pun memulai aksi mereka.
Bugh..
Bugh...
Bugh..
Tiga tendangan yang secara serentak mereka layangkan pada gerbang itu berhasil menggoyahkan pertahanannya, hal itu membuat para pengawal Emrin berhenti tertawa.
"Sekali lagi, Ray!" instruksi Arga.
"Siap, Ga!" sahut Rayhan.
Dengan lafadz basmalah sekali lagi, mereka pun melayangkan tendangannya.
Bughh..
Krakk..
Perlahan-lahan gerbang itu berhasil runtuh.
"Minggir!" teriakan anak buah Emrin menghindari gerbang itu.
Arga dan Rayhan tersenyum senang.
Telah berhasil meruntuhkan gerbang itu.
Arga menganggukkan kepalanya pada Rayhan, memberikan kode untuk segera melangkah masuk ke dalam Trixtal Bar itu.
Mereka pun melangkah memasukinya, namun sebelum langkah mereka berlanjut, para anak buah Emrin sudah siap siaga menghalangi mereka berdua.
"Keluar kalian!" teriak laki-laki berbadan kekar itu.
"Minggirlah!
Atau nasibmu sama seperti pintu gerbang itu!" ucap Arga dengan angkuh.
Laki-laki berbadan kekar itu justru tersenyum simpul mendengar ancaman Arga.
"Kau pikir kau sekuat apa?" ia meremehkan Arga.
Arga memalingkan wajahnya, kemudian mengepalkan tangannya.
Bugh..
Satu pukulan ia daratkan di wajah lelaki itu.
Tapi sayang, pukulan itu tak cukup menggoyahkan tubuhnya.
"Ayolah! Ini tidak ada rasanya!" imbuhnya.
Arga menatap tajam lelaki sombong di hadapannya itu. Ia berniat untuk mendaratkan kembali pukulannya.
Namun, ada sesuatu yang membuatnya menghentikan niatnya.
"Lo mau gua bayar berapa?" ungkap Arga tiba-tiba.
Rayhan tidak terkejut dengan temannya anak sultan yang satu itu, hanya saja ia sedikit bingung dengan sikap Arga, yang jarang sekali menggunakan hartanya.
"Kau takut denganku makanya kau menawarkan uangmu yang tak seberapa itu?" lelaki kekar itu, meremehkan Arga.
Arga mengeluarkan dompetnya, dan mengambil sebuah kartu card kemudian melemparkannya pada lelaki sombong itu.
Bugh...
Dan tak lupa satu tendangan tepat mengenai perut lelaki kekar itu Arga layangkan, berhasil membuat lelaki itu tumbang ke lantai.
"Aku tidak pernah takut pada lelaki brengsek sepertimu!" ucap Arga. Ia pun melangkah meninggalkan lelaki itu.
"Ambillah kartu itu, dan berhentilah hidup dengan uang yang asalnya jelas haramnya!" ungkap Arga pada para pria yang merupakan anak buah Emrin.
Arga pun melanjutkan langkahnya, kemudian disusul oleh Rayhan. Mereka berdua menyelusuri lorong-lorong bangunan itu.
"Berapa juta tu di kartu?" tanya Rayhan.
Arga melayangkan tatapan tajam pada Rayhan.
"Ya-iya, sultan mah bebas!" lanjutnya.
Satu persatu ruangan mereka masuki, namun sayang mereka tak kunjung menemukan Hana.
"Apa mereka sudah melakukan sesuatu pada Hana?" tebak Rayhan.
Arga menggeleng."Hana gadis yang kuat." protesnya.
Ia terus berjalan menyusuri bangunan itu. Sampai pada akhirnya, ia bertemu dengan bi
"Eh kalian siapa?
Kenapa bisa masuk kesini?" tanyanya heran pada Arga dan Rayhan.
"Ah, maaf bi! Rayhan mendekati bi
"Bibi pekerja disini?" tanya Rayhan, bi Lasmi mengangguk.
"Ah, bibi kenal gak sama gadis ini?" Rayhan meraih ponselnya dan mencari poto Hana, kemudian memperlihatkannya pada bi.
"Oh, nak Hana." ucap bi Lasmi, membuat Arga dan Rayhan saling memandang.
"Bibi kenal?"
"Kenallah, nak Hana mah selalu bantuin bibi." jawabnya jujur pada mereka.
Arga dan Rayhan tersenyum lega, akhirnya mereka menemukan orang yang tepat untuk mengetahui keberadaan Hana.
"Hana dimana sekarang, bi?" tanya Arga padanya.
"Nak Hana ada di ruangan bawah tanah.
Eh tapi ngomong-ngomong, kalian siapa? Kenapa nanyain nak Hana?" tanya bi Lasmi mulai penasaran.
" Kami temennya Hana, bi.
Kami kesini buat bebasin Hana dari tempat ini." ungkap Arga tanpa sungkan.
"Iya, bi.
Kita jauh-jauh dari Turki, buat ngeluarin Hana." sambung Rayhan.
Bi Lasmi terhenyak mendengar perkataan mereka.
Ia memang tau, bahwa Hana bukanlah termasuk gadis perbudakan Emrin, melainkan Hana gadis yang mereka sekap di Bangunan ini.
"Kalian pasti orang baik." pujinya.
"Mari bibi antarkan ke Ruangan bawah tanah." ujarnya.
"Terimakasih bi, sebelumnya." ucap Rayhan.
__ADS_1
Bi Lasmi pun melangkah mengantarkan mereka menuju ruang bawah tanah.
Hanya cukup dengan waktu tujuh menit, mereka sampai di ruangan bawah tanah.
"Trixtal Bar Girl." Rayhan membaca pampletnya.
"Ini ruangannya." ucap bi Lasmi.
Rayhan dan Arga mengangguk mengerti.
"Terima kasih bi, bantuannya." ungkap mereka santun.
"Iya sama-sama, kalau perlu sesuatu panggil bibi aja."
kata bi Lasmi menawarkan diri.
Arga dan Rayhan semakin mengembangkan senyumnya, merasa bersyukur bertemu dengan bi Lasmi.
"Bi! panggil Arga tiba-tiba.
"Iya, nak." sahut bi Lasmi.
"Boleh saya tanya sesuatu?" tanya Arga, hati-hati.
Bi Lasmi tersenyum."Boleh, nak." jawabnya mempersilahkan.
Arga mendekati bi Lasmi, seraya menatap lekat wajah wanita paruh baya itu.
"Kenapa bibi bisa bekerja di tempat hina ini?" tanya Arga, ia tau pasti ada alasan yang membuat seseorang mau bekerja di tempat bejat ini.
Sentak membuat bi Lasmi terkejut, ia menatap heran Arga. Bisa-bisanya pertanyaan itu terlontar dari mulutnya.
"Bi!" panggil Arga membuyarkan Bi Lasmi.
"Ah, itu nak." bi Lasmi awalnya ragu mengungkapkannya, Arga semakin mendekat.
"Tak ada hal yang perlu bibi tutupi." ujar Arga, menyakinkannya.
Haa...
Bi Lasmi menghembuskan nafasnya sejenak.
"Tujuh tahun yang lalu, suamiku ikut bermain judi dengan Emrin. Ada banyak hal yang Emrin katakan untuk membuat suamiku tergiur dengan permainan haram itu." bi Lasmi mulai mengungkapkannya.
Rayhan dan Arga saling memandang satu sama lain.
Kemudian kembali menatap bi Lasmi.
"Tak sekalipun suamiku menang, namun hal itu pulalah yang membuatnya tak berhenti bermain.
Sampai akhirnya, semua aset dan harta kami habis tak tersisa, dan lebih bengisnya Emrin masih belum puas dengan kemenangannya. Ia tetap membujuk suamiku untuk tetap bermain dengan modal pinjaman darinya." bi Lasmi mulai menitihkan air matanya.
Rayhan mendekati bi Lasmi, dan menyentuh lembut pundaknya.
"Aku lelah berulangkali mengingatkan suamiku bahwa permainan itu sama seperti mengundi nasib merupakan hal yang diharamkan Allah, tapi sayang nasihatku hanya dianggap celotehan lebah."
Arga terus menatap bi Lasmi, ia sekarang mengerti bahwa ada luka yang cukup dalam yang dialami bi Lasmi.
"Suamiku terus kalah, dan hutangnya dengan Emrin bahkan menumpuk. Membuatnya stres dan memutuskan bunuh diri." bi Lasmi menutup sejenak matanya, terlalu berat sebenarnya ia mengingat kejadian ini.
"Dan akulah yang harus membayar hutang itu dengan cara bekerja di tempat ini." lanjut bi Lasmi.
"Berapa nominal hutang yang suami bibi punya?" tanya Arga.
Bi Lasmi perlahan membuka pejaman matanya, dan menatap Arga yang berada di hadapannya.
"Tersisa 4 miliar, nak." jawab bi Lasmi.
Ha ? Padahal bi Lasmi sudah bekerja selama 7 tahun dan hutangnya masih saja bernominal kan sebesar itu.
"Bibi sudah bekerja selama 7 tahun, hutang suami bibi masih sebanyak itu?" Rayhan tak habis pikir dengan keadaan bi Lasmi ini.
"Berapa total keseluruhannya, bi?" tanya Arga dengan sungguhan.
"8 miliar." jawab bi Lasmi.
Arga manggut-manggut mengerti sekarang
Itu artinya selama 7 tahun bi Lasmi digaji sebanyak empat miliar. Dalam setahun berarti bi Lasmi di gaji sekitar lima ratus juta kurang lebih.
Untuk pekerjaan yang mungkin cukup berat.
"Apa saja pekerjaan bibi disini?" tanya Arga lagi.
"Semuanya, nak." jawab bi Lasmi lagi.
"Baiklah, saya akan lunasi semua hutang-hutang bibi." jawab Arga, sang sultan.
Mata bi Lasmi melotot, ia tak mengira pemuda tampan di hadapannya itu melontarkan kata-kata yang sebenarnya sulit dipertanggungjawabkan itu.
"Nak!
4 miliar itu bukanlah jumlah sedikit." ujar bi Lasmi, menatap lekat Arga.
"Itu bukan masalah besar, bi." ucap Arga, menyakinkan bi Lasmi. Kemudian mengeluarkan sebuah kertas cek kosong.
"Silahkan isi,bi." ujar Arga, memberikan kertas cek tersebut.
"Nak!" bi Lasmi mengembalikan cek kosong itu.
"Kamu terlalu baik, nak." ucapnya.
"Justru saya akan menjadi jahat jika ibu menolak pemberian saya." Arga kembali memberikan cek kosong itu.
Netra coklat bi Lasmi mulai berbinar-binar, tengah menatap haru Arga. Di zaman seperti ini, masih ada pemuda sebaik Arga ?
"Dia anak sultan, bu.
Uang segitu gak ada apa-apanya." sahut Rayhan.
Arga menyebikkan bibirnya, ia paling tidak suka jika statusnya di bawa-bawa.
"Perkenalan doang." Rayhan tau, bahwa Arga sedikit marah padanya.
"Sekarang kita ketemu sama Tuan Emrin itu, bi.
Biar kita bisa bayar, agar bibi segera keluar dari tempat hina ini." instruksi Arga pada bi Lasmi.
Bi Lasmi menggeleng kepalanya, bukan tidak setuju sebenarnya. Akan tetapi ada hal lainnya.
"Kenapa, bi?" tanya Arga.
"Tuan Emrin sedang kritis di rumah sakit, nak." kata bi Lasmi memberitahukan kabar Emrin.
"Sakit?" serentak Rayhan dan Arga.
"Ya, sebulan yang lalu ada seorang gadis yang menusuk tuan Emrin dengan belati.Tusukannya itu tepat mengenai bagian lambungnya." bi Lasmi, menceritakan singkat kronologis kenapa Emrin bisa kritis.
Gadis ? Kening Arga dan Rayhan serentak berkerut tengah bertanya-tanya siapa gadis itu ? Satu gadis yang ada di kepala mereka berdua.
Hana, gadis pemberani.
"Apa gadis itu Hana, bi?" tanya Arga penasaran.
"Bukan, Hisya.
Temannya Hana, ia menusuk tubuh Emrin demi menyelamatkan Hana yang hampir saja dilecehkan Emrin." ungkap bi Lasmi dengan jujur.
"Hana?
Dilecehkan? mendengar perkataan itu, tangan Arga mengepal erat, amarahnya seketika tiba.
"Dimana Emrin sekarang, bi? teriak Arga mulai emosi.
Rayhan langsung menepuk pundak Arga dan mencoba menenangkannya.
"Ga! Tolong netralisir emosi lo!" ujar Rayhan.
"Bi!
Siapa gadis yang menyelamatkan Hana, itu?" Rayhan penasaran.
"Hisya, salah satu gadis PSK di Trixtal Bar."
"PSK? Bagaimana mungkin seorang PSK mau menyelamatkan gadis lainnya?"
Rayhan masih belum percaya ada seorang PSK yang membantu gadis lain dari pria hidung belang. Jarang sekali hal ini terjadi.
"Jangan liat dari pekerjaan yang ia lakukan, nak.
Kita tak pernah tau, doa yang tersering apa yang ia bisikkan dalam sujudnya. Bisa saja perihal agar membuatnya mampu terus bertahan hidup." ucap bi Lasmi, ia mengenal dengan baik Hisya.
Bersambung..
Sevimli 28 Januari 2022
__ADS_1
Salam hangat dari Author 🌹